
Seorang wanita berdiri didepan jendela memandang hamparan bunga yang ditanam oleh Bundanya di halaman depan
Rintikan hujan yang lumayan deras mengguyur apa saja yang ada di dunia. Seakan menandakan apa yang dia rasakan hari ini dan mungkin seterusnya
"Kamu harus yakin karena semua ini adalah pilihanmu Fatimah,"
"Kamu harus kuat, harus kuat agar bisa menjaga putri kecilmu hiks hiks,"
"Maafkan aku Mas Addry, jika diri ini egois dan gegabah dalam mengambil keputusan,"
"Dengan tegas meminta talak darimu, padahal semua kejadian itu belum tentu benar,"
Sebenarnya boleh dikatakan hatinya belum bisa menerima talak dari Addry, tapi mulutnya malah mengiyakan bahkan meminta talak tersebut
Wanita itupun menguatkan dirinya, dia berpikir jika ini semua tak di restui oleh Allah pasti akan susah, tapi ini lancar. Jadi dia harus mengikuti jalan takdir yang telah di tentukan oleh Sang Pencipta
"Semoga kamu juga bisa menerimanya Mas, maaf jika selama aku menjadi istrimu aku belum bisa menjadi istri yang baik,"
"Aku berharap kamu cepat meraih kebahagiaanmu,"
"Maafkan Bunda Nak, tidak bisa mempertahankan keluarga kecil kita,"
"Tapi Bunda, janji akan selalu menjadi Bunda dan Ayah sekaligus untuk kamu putriku. Shakinah,"
Nama itu sudah Fatimah tetapkan untuk menjadi nama anaknya. Sesuai permintaan Addry sebentar lagi resmi menjadi mantan suaminya
*
*
*
"Mas,"
"Iya ada apa sih Yang ?" tanya pria itu begitu kesal. Sejak tadi wanita itu terus memanggilnya
"Kamu kenapa sih !"
"Kayak pusing sekali, ada apa ?" lanjutnya kali ini berbicara lembut, duduk di samping pria tampan itu
"Aku lagi pusing ini, banyak sekali kerjaan menumpuk dan tak ada henti-hentinya," keluhnya membuat senyum Dinda terbit di wajah cantiknya
"Haduh, aku kira apa. Sampai-sampai aku berpikir, apakah aku ada salah.." ungkapnya
"Bukan dong," jawabnya dengan cepat
"Mas,"
__ADS_1
"Iya, apa sih ?" tanpa mengalihkan penglihatannya
"Boleh enggak-" belum sempat Dinda mengucapkannya, Azmi langsung memotong ucapannya membuat wajah Dinda cemberut
Gadis itu memilih pergi, setelah dipatahkan dan berhasil membuat Azmi berhenti memeriksa berkas dari tadi dia pegang
Pria itu keluar dari ruangannya, menghampiri gadis yang merajuk kepadanya tadi
"Emangnya apa yang ingin kamu mau sih Yang ?" ucapnya begitu lembut selembut sutra 🤣
"Enggak jadi," ketusnya
"Jangan gitu dong Yang,"
"Baiklah, aku akan diam. Jadi kamu ngomong lah apa yang ingin kamu mau tadi," ucapnya seraya menghelah napasnya
"Ayo dong !" serunya
"Baiklah, tapi aku mohon ya izinin untuk hari ini aja ya ?" ucapnya memelas agar sang kekasih iba kepadanya
"Iya,"
"Aku mau menemui sahabat aku, Mas.."
"Fatimah ?" tebaknya
"Kok tau sih !"
"Iya-iya ah, enggak habis-habisnya jika debat sama kamu tau.."
"Baiklah, kamu boleh izin, tapi hanya hari ini saja.." izinnya
"Terima kasih.."
Gadis itu langsung beranjak pergi meninggalkan Azmi yang diam melongo. Dia tak percaya jika hari ini dia benar-benar jatuh sedalam-dalamnya dalam pesona Dinda
Padahal awal pacaran mereka, Azmi belum memiliki perasaan kepada Dinda. Bisa dikatakan hanya pelarian saja, tapi rencana Tuhan itu indah. Kini dia benar-benar cinta dan sayang kepada gadis itu
*
*
"Hai, assalamu'alaikum.." lambaian tangan Dinda kepada Fatimah
"Waalaikumsalam "
"Udah pesan minum belum ?"
__ADS_1
"Belum," jawab Fatimah
Setelah selesai minum dan bercerita berbagai hal. Kini suasana mulai serius, Dinda mendengar setiap kata apa yang sudah Fatimah alami selama ini
Mulai dari perubahan sikap Addry, setelah Mama Mirna meninggal dan menuduhnya membunuh mertuanya sendiri. Meskipun dia tak membicarakan langsung kepadanya
Karena Fatimah tau, setelah Bianca mengatakannya kepada kedua orangtuanya
Setelah itu waktu dia mendorong Fatimah. Padahal saat itu dia sedang hamil. Untung saja anaknya selamat ya meskipun kini masih dalam perawatan
Dan terakhir dia tak mau mengatakannya kepada Dinda. Lebih baik dia sendiri yang tau dan mengenang luka itu dengan sendirinya
"Jadi, apa mau mu Fat ?" ucap Dinda menatap Fatimah dengan tatapan iba
"Aku mau, kak Azmi yang mengurus cerai aku dan Mas Addry,"
"Aku mohon tolong aku Din,"
"Apakah keputusanmu sudah kamu pikir-pikir dengan baik.." dengan cepat Fatimah mengangguk
Dinda mengehela napas
"Baiklah,"
"Terima kasih,"
"Hem,"
**Hai teman-teman, maaf ya 🙏 jika tidak sesuai dengan ekspektasi kalian karena ini sesuai dengan prolog nya
Jadi jangan khawatir, nanti akan ada kok bahagia yang akan dinikmati oleh mereka ❤️
Jangan mudah bosan ya dengan karya ku. Novel ini tak akan ada apa-apanya, jika kalian tak mendukungnya. Jadi,
Jangan lupa
Like
Vote
dan
Hadiahnya
Hehe maaf jika Author banyak maunya, tapi jika kalian berkenan aja kok 😁
Dadah 👋
__ADS_1
Salam dari Author 🥰
Assalamu'alaikum ❤️**