Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 59


__ADS_3

"Silahkan masuk istriku.."


Fatimah tersenyum mendapat terus sekali tingkah manisnya


Fatimah masuk setelah di buka pintu oleh Addry tadi. Dia berjalan menuju sofa yang cukup besar. Fatimah meletakkan rantang makanan


"Mari Mas, kita makan.." membuka satu persatu kotak makanan


" Iya Dek.."


Sebelum memulai makan, Addry terlebih dahulu memimpin doa makan


“Wah! Lezat sekali Dek..” saat lidah merasakan cita rasa yang membuatnya ketagihan


“Beneran Mas..?”


“Iya Dek, Mas baru kali ini merasa sayurannya selezat ini..” dengan mulut yang penuh dengan makanan


“Berarti selama ini enggak enak gitu..?”


Haduh, salah lagi ceritanya ini. Nasib, nasib…


“Bukan begitu Dek, maksud Mas sayurnya terasa lebih segar gitu..” memperjelas kalimatnya agar sang istri tak marah. Bisa gawat nanti pikirnya


“Oh…”


“Beli di pasar ini Dek..” mengangkat sendok yang berisi sayur kangkung


“Enggak Mas..”


“Terus..”


“Metik langsung ke rumah Bunda..”


“Oh! Saat kamu izin itu berarti dapat rezeki dari Bunda..”


“Iya Mas..”


Setelah tak ada pembicaraan, mereka berdua kini telah diam dan memilih makan. Agar terasa lebih afdol dan lebih nikmat. Selesai makan, Addry kini telah kembali dengan aktivitasnya, sedangkan Fatimah memilih duduk di kursi depan mejanya Addry. Fatimah terpesona, sungguh dia tak habis pikir jika pria tampan ini sudah menjadi suaminya


Masya Allah, tampannya suamiku. Apalagi saat memakai kaca mata dan kemejanya di gulung seperti itu. Kayak di film-film saja. Astaghfirullah Alzim, maafkan hamba yang terlalu memuji ciptaanMu Ya Robb. Isi batin Fatimah , saat menyadari diri. Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Hingga membuat Addry hilang fokus melihatnya


“Dek, kamu kenapa. Apa kepalanya sakit..?” dengan nada khawatir


“Kita ke rumah sakit saja ya..!” Addry bertambah panik, apalagi tak dapat jawaban dari Fatimah. Membuatnya takut nanti terjadi apa-apa dengan istri dan calon anak mereka


“Eh! Eh, Mas mau bawa Fati kemana..?” ucapnya saat tubuh itu melayang keatas akibat di gendong ala bridal style oleh Addry


“Kamu sakit Dek..!”


“Sakit..!” kening Fatimah berkerut mendengar kata sakit. Padahal dia sehat-sehat saja


“Iya Dek, buktinya kamu geleng-geleng kepala terus kencang lagi..” ucap Addry yang masih menggendong tubuh wanita itu, tapi mereka belum keluar dari ruang tersebut


“Astaghfirullah Alazim..” ucapnya menepuk jidatnya


“Tuh kan, ayo ikut kali ini turuti kata Mas. Jangan banyak bantahan..” tegasnya


“Tunggu Mas..”

__ADS_1


Addry seakan tuli. Dia tak memberhentikan langkahnya membawa tubuh wanitanya, hingga akhirnya Fatimah hanya diam saja. Nanti pikirnya menjelaskan kepada sang suami


“Mas..” ucapnya kepada Addry yang sedang memakai seat belt untuk wanitanya


“Hem, apakah masih sakit Dek..?”


“Mas dengar dulu…”


“Iya apa..” diam menunggu apa yang akan dikatakan oleh Fatimah


“Aku sebenarnya bukan lagi sakit, tapi-”


“Tapia pa Dek..”


“Ih! Mas enggak sabaran banget sih..” kali ini Fatimah benar-benar kesal dengan sikap suaminya ini yang begitu over protektif. Tanpa tau apa yang telah terjadi


“Iya-iya, maaf. Mas akan diam, silahkan Adek lanjutkan..!”


“Hufttt..” helaan nafas Fatimah, sebelum memulai percakapannya, setiap kata dan setiap bait, Addry dengarkan. Hingga tertariklah sudut bibirnya membentuk senyuman saat mendengar sang istri itu terpesona dengan ketampanannya


“Jadi, tadi kamu tu-”


“Iya Mas..” jawabnya dengan memotong perkataan Addry dan muka itu langsung merah merona


“Uh! Ngegemesin sekali istri Mas ini..”


🍃


"Makasih Pak atas traktirannya tadi..” ucapnya kepada Azmi yang sedikit lagi memasuki ruangannya


“Iya, aku yang terima kasih banget kamu mau meneriwa ajakan ku..” mengucapkannya dengan tersenyum manis


“Lain kali enggak apa-apa kan ajak kamu makan lagi..”


“Hem, insya Allah Pak..”


“Baiklah, saya keruangan saya ya..!” dibalas anggukan oleh Dinda


Deg!


Deg!


Deg!


Detak jantung keduanya. Ya walaupun yang lebih dominan kencang adalah Dinda, tapi azmi juga merasakannya


“Aduh, kenapa semakin di dekat Mas Azmi buat aku enggak kuat melihatnya..”


“Rasanya jantung ini mau copot..”


“Mana detaknya kuat seperti ini, tapi….”


“Jangan banyak berharap kamu Din. Mas Azmi itu sudah ada yang di cintai. Jadi jangan terlalu mengharap oke..”


“Ah! Beruntung sekali wanita itu jika jadi jangankan istri. Pacar saja sudah pasti bangga..”


“Sudah-sudah ngehalu nya. Lanjut kerja Dinda. Semangat ..”


Di Dalam Ruangan Azmi

__ADS_1


Seorang pria tampan juga merasakan detak jantungnya ya walaupun tak kencang. Pria itu memegang dadanya yang sedang berirama dengan ria nya


“Ada apa dengan ku. Tak mungkin aku telah jatuh cinta sam Dinda..”


“Ini pasti hanya kebetulan, besok aku harus periksa dulu ke dokter. Ya itu adalah ide yang bagus..” tak mau ambil pusing, Azmi langsung melanjutkan pekerjaan yang masih menumpuk tersebut


...----------------...


Di belahan dunia


“Baby, bangun yuk..!” ucap sang pria yang sedang membangunkan wanitanya yang masih terlelap


“Iya sayang, sebentar lagi..”


“Huftttt..” sudah berkali-kali Pram membangunkan Bianca yang masih tidur, tapi tak ada hasilnya juga. Padahal sekarang jam sudah menunjuk angka tujuh


“Hai sayang..” Pram langsung mengahlikan pandangannya yang sedang sibuk memasak


“Hai juga..”


Kini makanan telah terhidang dengan sempurna tinggal disantap oleh mereka. Kini baru peran Bianca yang mengisi makanan di dalam piring


“Ini sayang, makan yang kenyang ya..” menyodorkan piring yang sudah terisi oleh nasi dan lauk pauk


“Iya kamu juga..”


Pram memilih duduk di depan televise sedangkan Bianca kini sedang membersihkan piring bekas mereka makan tadi


“Kamu kenapa si sayang..?” ucap Bianca mengahampiri Pram yang sedang memandang kosong ke depan


“Eh! Sudah cucinya..?”


“Iya sudah, kamu kenapa sih. Sering melamun..?”


“Bi..” menggenggam kedua tangan Bianca, tapi Bianca diam saja


“Kapan kamu mau nikah dengan ku Bi…”


“Aku enggak mau kita terus serumah tanpa ada ikatan..”


“Emangnya kenapa, kita dulu juga sering begini..”


“Itu dulu Bi, aku enggak mau menambah dosa. Sudah banyak kita berdosa Bi, mulai dari kita berselingkuh di belakang suami kamu..” Bianca langsung terdiam dengan muka yang merah padam


“Mau kan kamu jadi istriku Bi..?”


“Atau kamu masih mengharapkan Adrry..?” memastikannya, tak taukah Pram dengan menyebut nama 'Addry' membuat api yang tadi sempat hidup sedikit. Kini telah membara


“CUKUP, AKU SUDAH BILANG JANGAN SEBUT NAMA ITU..”


“AKU BENCI DENGANNYA APALAGI DENGAN WANITA KAMPUNG ITU..”


Wanita itu langsung beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamar dan menutupnya dengan sangat kencang dan tak lupa mengunci pintu tersebut


“Sampai kapan aku menunggu waktu itu Bi. Apalagi kalau bukan kamu masih mencintai, sampai sekarang kamu tak pernah menjawab, jika aku mengajakmu menikah..”


Pria itu menjambak rambutnya dengan sangat kencang. Dia bingung dengan situasi yang kini dia hadapi. Apa mungkin karena karma itulah dalam pikirnya


Tunggu saja kalian. Jika waktunya telah tiba. Aku pasti akan membalas kalian…

__ADS_1


__ADS_2