
"Beneran Dek..!" pekiknya langsung berdiri dan ingin menggenggam tangan Fatimah
"Eh! Tahan duda enggak jadi. Jangan langsung pegang-pegang.." ucap Papa malu melihat tingkah anaknya yang seperti anak ABG yang baru saja jatuh cinta
"Ah! Iya ya, maaf soalnya tadi refleks akunya.." menggaruk-garuk pipinya dan kembali duduk di tempat semula
"Refleks, kata itu terus yang kau pakai. Basi Nak.." meledek anaknya kembali, sedangkan orang-orang yang ada disana hanya menggeleng-gelengkan kepala karena lucu akan pertengkaran kecil yang ditimbulkan oleh Papa dengan anaknya sendiri
"Eh! Dek, anak kita mana..?" ucapnya dengan mengahlihkan pembicaraan karena Addry sudah tau watak Papa yang tak mau kalah
"Masih tidur Mas.."
"Astaghfirullah lazim, anak gadis bangunnya kesiangan.."
"Maklum lah Mas masih bayi.." Jawa Fatimah
"Iya itu Dek.."
"Bagaimana, kapan kalian mau menikah kembali..?" tanya Ayah kepada kedua insan tersebut
"Kapan saja Ayah kalau bisa hari ini juga boleh.." celetuk Addry tanpa beban membuat mata semua orang melotot dibuatnya, sedangkan Tomi merasa ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah cuek sang atasannya
"Dasar otak kau ini isinya apa sih Ad! Ngomong enggak mikir dulu.." jawab Papa merasa gemas melihat tingkah anaknya yang seperti anak bujangan saja
"Iya Pa, soalnya otak aku udah terkontaminasi dengan Fatimah dan anakku saja.." jawabnya menatap lurus memandang calon istrinya yang malu. Akibat perkataan Addry
"Dasar, makanya mikir dulu. Kami juga mau, kalian menggelar resepsi pernikahan untuk kalian berdua.." ujar Papa dengan tegas karena memang mereka dulu menikah hanya dihadiri oleh kerabat saja. Tanpa sepengetahuan media.
Sebenarnya, kedua orang tua belah pihak ingin sekali merayakan pesta pernikahan anak mereka di samping mereka hanya memiliki anak tunggal. Juga ingin memperkuat tali kekeluargaan, agar semua tau bahwa anak mereka sudah menikah
__ADS_1
"Baiklah aku terserah Papa, Ayah dan Bunda saja yang penting aku menikahi kembali bidadari ku.." godanya, lagi-lagi wajah Fatimah bersemu merah mendengar gombalan dari Addry
Sejak kapan pria itu bisa menjadi orang yang lebay dan suka menggombal itulah yang ada dalam pikirannya saat ini
"Sudah Ad, sejak kapan kau menjadi pria yang begitu alay dan lebay begitu.."
"Sejak cintaku tumbuh bersama dengan Adek Fatimah.."
"Uwekk.." ucap mereka dengan serempak merasa mual mendengar ocehan Addry yang tidak hentinya
*
*
*
"Iya Yang, mau kan kamu menerima lamaran ku ini..?"
"Hem...."
"Aduh Yang jangan kebanyakan mikir ya. Masa enggak kasian sama aku Yang..!"
"Iya Mas, aku mau.."
"Beneran..?"
Azmi langsung memeluk tubuh Dinda saat melihat anggukan dari wanitanya itu
"Mas berhenti, aku susah napas.."
__ADS_1
Benar saja muka gadisnya itu sudah memerah karena pelukannya yang begitu erat
"Maaf Yang, Mas sangat bahagia rasanya mendengar kesetujuan dari dirimu.."
Dinda tersenyum mendengarnya
"Jadi kapan kita bisa nikah Yang..?"
What!
Dinda terperangah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Azmi. Secepat itukah pikirnya
"Iya Yang, soalnya Mas takut nanti kebablasan. Bagaimanapun kamu tau kan Mas adalah pria dewasa..!"
Seketika muka Dinda memerah mendengarnya, dia tau arah kemana perkataan dari sang kekasih
"Baiklah Mas, aku ikut kamu saja. Lagian juga benar katamu. Kita sudah dewasa, jadi takutnya ya-"
"Nah itu Yang.."
"Tapi Mas, aku kan anak yatim piatu.."
"Bisa kok Yang, nanti kita wali saja.."
"Iya sudah terserah kamu Mas.."
"Baiklah kita menikah dua Minggu lagi.."
"APA!"
__ADS_1