Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 8


__ADS_3

Addry dan Bianca sudah sampai dimeja makan. Dimana Fatimah tambah sakit hatinya melihat perhatian suaminya yang manis dengan menarik kursi untuk Bianca. Setelah Addry memastikan Bianca telah duduk dengan manis. Ia pun langsung menarik kursinya dan ia langsung duduk juga. Dimana sekarang posisi Bianca di samping kanan Addry dan Fatimah di sebelah kirinya Addry. Fatimah langsung bergerak cepat, ia berdiri untuk melayani suaminya


“Mas mau sayur yang mana..?”


“Saya mau sayur capcay dan sambal ikan itu..” ucapnya sambil menunjuk yang ia mau


“Ini mas..” setelah melayani suaminya Fatimah juga mengambil makanan untuk di sendiri


“Hei! Ambilkan aku juga dong!” ucapnya tak tau malu


“Maaf mbak kan bisa ngambil sendiri mana yang mbak mau..” dengan nada yang sopan


“Mas! Kamu lihatkan istri kamu itu…” Bianca merengek kepada Addry agar melakukan sesuatu kepada Fatimah. Lantas saja Addry langsung tersulut emosi melihat istri tercintanya bersedih


“Kau dengarkan, apa yang di mau oleh istri saya !” bentaknya kepada


Fatimah. Fatimah langsung terlonjak kaget mendengar bentakan suaminya. Hampir saja


air mata Fatimah meluncur dari mata indahnya


Tapi mas aku juga istrimu mas, sampai kapan kamu akan menganggap aku ada mas! ucap Fatimah menangis didalam hati


“Kau dengarkan, kau tidak tuli ahh…”


“Ah iya mas..” tapi Fatimah tidak melakukan apapun, ia seperti orang linglung. Tak tau apa yang harus ia lakukan, hingga suara suaminya kembali lagi membentaknya


“Dengar tidak!..” ucap Addry sambil berdiri karena marah melihat Fatimah seperti orang yang tak memiliki akal. Sedangkan Bianca menikmati pertujukan yang ia ciptakan tadi


“Iya mas, mbak mau makan yang mana mbak?” ucap Fatimah gemetar, melihat kilatan marah dari wajah suaminya


“Ah mas, aku mau makan diluar saja mas. Udah malas aku makan dirumah..” Bianca langsung berdiri menghampiri Addry


“Ya sudah ayo!..” Addry dan Bianca meninggalkan Fatimah seorang diri di meja makan yang mematung melihat sepasan suami istri yang berlalu menuju pintu utama. Setelah sepasang suami istri itu tak terlihat lagi. Fatimah berdiri dari tempat duduknya . ia berjalan membawa makanan yang ada dimeja tadi dan meletakkannya di kulkas. Fatimah tidak berselera lagi untuk makan


Fatimah memilih tidur, setelah mengaduhkan hati yang sedih kepada sang Khaliq. Ia berharap semoga, besok akan lebih indah dari hari ini


******

__ADS_1












Fatimah tersenyum melihat hasil karya masakannya yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Sudah puas dengan hasil karyanya. Fatimah langsung menuju dapur lagi untuk membuat kopi untuk suaminya, ia menaruhnya di meja ruang tapi. Biasanya sang suaminya itu akan meminumnya di situ, karena Addry akan duduk di situ dulu sebelum makan sambil memeriksa laporannya


Setelah ia yakini telah selesai semua. Fatimah langsung menuju kamarnya untuk membersikan diri, karena ia sudah tak nyaman dengan badannya yang sudah terasa lengket. Akibat kesana kemari di dapur tadi


Sesudah mandi Fatimah langsung keluar, ia melihat sang suami dan madunya belum juga turun, Fatimah berjalan menuju tangga demi anak tangga tujuannya hanya satu ia ingin membangunkan suaminya agar bangun. Karena sebentar lagi akan masuk jam kerja. Ia tidak ingin suaminya bertambah marah kepada dia


Tapi kan ada mbak Bianca, jadi untuk apa aku kesana membangunkan mas Addry. Nanti malah aku yang kena imbasnya.. Fatimah merasa ragu untuk mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat


Ah jangan Fatimah, kamu harus tetap membangunkan suamimu sekaligus didalam sana ada mbak Bianca. Siapa tau mereka kesiangankan!..


Setelah mengumpulkan keberaniannya Fatimah akan mencoba membangunkan sepasang suami istri yang belum juga bangun dari tidur mereka


Tok tok…


“Mas bangun! Kamu berangkat kerjanya nanti kesiangan…” Addry yang terlebih dahulu membuka matanya. Lantas ia tersenyum melihat istri yang dicintainya itu masih tertidur pulas. Akibat kegiatan tadi malam, selepas dari


restoran

__ADS_1


“Mas! Kamu dengar nggak?” dengan hati hati Fatimah berbicara


Ceklek


“Ada apa hah?..” lantas saja Fatimah menundukan kepalanya melihat penampilan suaminya yang hanya memakai boxer saja. Sempat Fatimah melirik sedikit didalam, ia melihat jelas Bianca yang masih tertidur pulas dengan bahu yang polos karena tidak tertutupi oleh selimut


“Hei! Kenapa sih kau ini sering melamun. Ingin kerasukan hah!” Addry kesal melihat Fatimah seperti orang bodoh saja


“Astaghfirullah…” ucapnya sambil mengelus dadanya “Aku kesini ingin membangunkan mas, karena Fati lihat jam tadi hampir masuk jam kerja mas dan Fati juga lihat pintu kamarnya mas masih tertutup rapat, jadi Fati memutuskan


untuk memangil mas..”


“Sudah biacaranya..”


“I…ya mas..” ucap Fatimah dengan gemetar takut suaminya marah karena membangunkannya


“Saya tidak akan masuk kerja selama 1 minggu..” setelah mengucapkan itu Addry langsung menutup pintu kamarnya. Meninggalkan Fatimah yang masih bingung kenapa suaminya mengambil cuti sampai 1 minggu lamanya


Ada apa ya, mas Addry sampai ngambil cuti selama 1 minggu..


Fatimah memilih pergi kehalaman depan rumah dari pada ia bersedih melihat keadaan didalam kamar suaminya tadi, sambil menunggu suami dan madunya turun kebawah. Jadi ia memilih kegiatan menyiram bunga-bunga yang ia rawat selama ini. Inilah yang Fatimah sangat senang yaitu pagi hari karena Fatimah sangat senang melihat ibu-ibu komplek yang sibuk ngobrol sambil menunggu mamang sayur yang lewat. Ada juga ibu ibu yang lewat melewati depan rumahnya


“Eh mbak Fati ini rajin banget..”  ucap Ibu A memuji Fatimah


“Iya beruntung banget mas Addry dapet mbak Fati ya, mana cantik, rajin solehah dan terutamanya sopan santun pada orang..” timbale Ibu C


“Iya, kalau saja mbak Fati belum menikah, pasti sudah saya jodohkan kepada anak saya loh.. mbak itu benar benar menantu idaman..” ucap Ibu B, ia memang sangat senang melihat Fatimah


“Sudah buk, saya nggak sebaik itu juga lo ibu ibu.. jangan terlalu memuji saya, nanti telinga saya terbang loh..” ucap Fatimah dengan bercanda, sebenarnya kalau boleh jujur Fatimah agak risi karena ibu ibu kompleks sering memujinya


Bukannya iya tidak senang. Tapi ia berfikir bahwa kesempurnaan itu hanya milik yang di atas yaitu Allah SWT. Ia hanya makhluk yang tak pernah luput dari dosa


“Haha ini ni yang kami suka dari mbak Fatimah, ramah tamah orangnya..” ucap ibu A tadi, Fatimah hanya membalasnya dengan senyuman saja


“Ya sudah kalau begitu, kami permisi ya mbak Fati. Assalamuallaikum..!” ucap mereka dengan serempak


“Waallaikumsalam..” setelah melihat ibu ibu komplek telah pergi dan juga pekerjaanya telah selesai. Fatimah pun membereskan pekerjaannya tadi

__ADS_1


__ADS_2