
Fatimah terdiam, bulu kuduknya pun berdiri. Dia tau siapa pemilik suara ini
"Tolong hidupkan lampunya.." ucapnya begitu pelan, mungkin jika lampu menyala. Dapat dipastikan mukanya pasti melas memohon
"Jawab dulu, baru aku hidupkan lampunya.."
"Jawab yang mana.."
Ah! Kenapa pakai nanya lagi. Ucap batinnya Fatimah. Padahal dia sudah tau maksud dari pertanyaan pria tersebut, tapi saking berdebar ya. Dia malah bertanya kembali
"Masa enggak tau sih. Jangan pura-pura enggak tau..!" Addry begitu senang menggoda Fatimah dari dulu sampai sekarang tak pernah ada kata bosan baginya
"Iya aku terima kamu..!" ucap Fatimah dengan nada tegas. Dia sudah tak tahan lagi dengan situasi begini, gelap dan orang itu berbicara tepat di dekat telinganya
"Emangnya kamu tau siapa aku..?"
Lagi-lagi Addry kembali menggoda Fatimah. Membuat si wanita kesal di buatnya
"Sudah Mas, aku tau siapa kamu. Mas Addry..!" sengaja menekan kata 'Addry'
"Kalau bukan bagaimana.." ucapnya dengan berbisik dan sedikit mengeluarkan suara cekikik nya. Sudah rasanya Addry tak sanggup lagi untuk meneruskan candaannya ini
"Baiklah, jika kamu masih betah begini. Aku membatalkan niatku. Aku enggak jadi terima kamu lagi.."
__ADS_1
"Eh! Jangan begitu Dek. Tomi tolong hidupkan lampu..!" teriaknya, Addry dibuat kalang kabut oleh Fatimah. Kini keadaan berbanding terbalik yang tadi Fatimah dibuat kesal sekarang malah Addry yang dibuat was-was oleh ancaman dari wanitanya
Tak lama kemudian keadaan kembali terang benderang. Menampilkan semua isi yang ada didalam kafe
Mata Fatimah terbelalak, tak percaya saat melihat bunga-bunga yang begitu banyak begitu cantik dan indah. Meskipun susunannya agak hancur, tapi tak mengurangi keindahan yang di miliki oleh bunga tersebut
Jangan lupa taburan mawar merah juga begitu banyak dengan taburan yang acak-acakan. Seulas senyum samar terbit di bibir mungil milik Fatimah. Tanpa Addry ketahui
"Dek, Mas minta maaf ya. Kamu tarik kembali ya ucapan yang tadi.." ucapnya berlutut di depan Fatimah
"Entahlah, aku agak ragu dengan keputusan itu.."
"APA!" teriak Addry sangat kencang membuat Fatimah menutup telinganya
"Baiklah akan aku maafkan, tapi"
Seketika semangat Addry kembali muncul, dia mendongakkan wajahnya untuk menatap wajah wanita yang begitu dia cintai. Sudah lama dia tak melihat wajah itu, hampir satu Minggu lebih dan sekarang dia akan menikmati ciptaan Allah yang begitu indah di matanya. Meskipun tanpa bisa dia sentuh karena mereka kini telah haram, jika mau berkontak fisik hanya satu syaratnya yaitu melakukan ijab kabul kembali
"Tapi apa Dek..?" desaknya tak sabaran
"Aku mau tanya siapa yang buat ini semua Mas dan dimana Dinda sahabatku..?"
"Ini semua-" Addry bingung ingin mengatakan apa
__ADS_1
"Surprise..!" teriak semua orang dan seketika itu mereka keluar semua dari persembunyian
Membuat Fatimah tak bisa berkata-kata lagi. Saat melihat semua orang yang dicintai dan disayanginya ada semua disana. Setetes air matanya pun jatuh tanpa dapat dicegah. Dia terharu, senang semuanya ada saat ini di dalam hatinya
"Mas, ini semua? Jadi kamu-"
"Iya, ini semua Mas dan mereka yang mempersiapkannya.."
Fatimah kembali menangis mendengarnya. Semua orang pun ikut mendekati kedua insan tersebut
"Apakah kamu suka Dek..?"
"He'em, aku menyukainya.."
"Tapi, kenapa menangis hem!" ucap Addry mendekat lagi kearah Fatimah
"Ini air mata haru, bahagia. Pokoknya ada semua Mas, aku enggak bisa menjabarkannya.." ucapnya dengan nada gemetar
"Jadi, apakah kamu mau menerima Mas. Manusia bodoh ini yang hampir menyia-nyiakan mu..?"
Fatimah dengan cepat mengganggukkan kepalanya membuat Addry begitu senang dengan sepontan dia pun hampir memeluk tubuh Fatimah
"Eh, belum muhrim.." ucap Dinda langsung menarik tubuh Fatimah dan memeluknya, sedangkan Addry malah memeluk dirinya dan hanya angin saja sebagai pengisi pelukannya
__ADS_1
"DINDA!"