Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 52


__ADS_3

"Dek, bangun sudah subuh.." ucapnya menyentuh wajah sang istri


"Sudah subuh ya mas..!" bangun dan langsung duduk


"Mas mau ke masjid..?" tanyanya kepada suaminya yang sudah rapi dengan baju Koko, sarung dan peci serta tak lupa sajadah yang disandarkan di bahu sebelah kanan


"Iya dek, mas mau ke masjid dulu ya. Papa di bawah sudah nunggu mas dan maaf untuk hari ini mas nggak bisa jadi imam mu shalat subuh ini.." mengecup kening sang istri


Fatimah tersenyum


"Enggak papa mas, sudah mending mas cepat turun kasian Papa lama nunggunya.."


"Iya, mas pergi dulu ya! Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Saat pintu telah tertutup, Fatimah langsung berdiri menuju kamar mandi. Dia akan membersihkan diri terlebih dahulu sebelum menghadap kepada sang pencipta langit dan bumi beserta isinya


"Ya Allah, hamba kembali mengadu keluh kesah hamba kepadaMu. Hamba mohon semoga mimpi hamba yang tadi tak akan menjadi nyata. Hamba mohon kepada Engkau. Tapi jika itu memang hal yang terbaik untuk hamba nanti. Maka lapangankan lah hatiku untuk menerimanya. Hamba yakin jika rencana Mu adalah yang terbaik untuk hambanya. Aamiin.."


Fatimah mengusap air mata yang masih setia menetes membasahi mukenah putih yang ia gunakan. Dia sedih, jika benar mimpi yang dia mimpikan tadi malam terwujud. Maka dia harus melapangkan dada untuk menerimanya


"Assalamualaikum Mama dan semuanya." ucap Fatimah menghampiri sang mertua yang sudah sibuk berkutat di dapur bersama bibi


"Waalaikumsalam.." jawab mereka dengan serempak


"Eh! Nak nggak usah. Kamu duduk saja..." cegah Mama Mirna


"Tapi Ma.."


"Sudah kasian calon cucu Mama. Nanti capek.."


"Mama ini ada-ada saja.."


"Masa iya cuma bantu capek.."


"Sudah turutin kata Mama ya..!" Bujuknya


"Iya deh, kalau sudah begitu Fati bisa apa.." tersenyum meledek


"Assalamualaikum..." ucap dua suara bariton yang baru saja masuk kedalam rumah


"Waalaikumsalam.." jawab Mama dan Fatimah


"Masya Allah, bidadari ku cantik sekali ..!" ucap Papa


"Papa kira bidadari Papa saja yang cantik. Ini bidadari Addry juga cantik kok.."


"Apalagi sedang mengandung buah hati kami. Tambah cantik, Alhamdulillah..." muka Fatimah langsung bersemu merah mendengarnya


"Sudah-sudah jangan goda lagi menantu Mama ini. Lihat itu mukanya bersemu merah.." menambah ledekan


"Ah! Mama..." mereka semua tertawa


Di dalam mobil


" Mas nanti mau kekantor sebentar ya dek..!"


"Iya mas.."


Sampainya di rumah Addry tak turun. Dia hanya mencium kening Fatimah saja sebagai salam untuk pergi


"Mas pergi ya! Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."

__ADS_1


Tinnnn... (Bunyi klakson mobil Addry tadi sebelum pergi meninggalkan rumah)


Fatimah masuk kedalam rumah. Setelah tak terlihat lagi mobil suaminya


"Assalamualaikum.." ucapnya seraya membuka pintu rumah


"Waalaikumsalam.." jawab Bibi Sum dengan terbirit-birit berlari


"Maaf Non, bibi tak membuka pintunya untuk Non.." menundukkan kepalanya pertanda merasa bersalah


"Ah! Bibi kek siapa saja. Jangan merasa bersalah gitu BI.." ucapnya dengan menenangkan sang Bibi


"Makasih non.." dijawab anggukan dan senyum manis oleh Fatimah


"Non mau makan atau belum non..?" tanya Bibi Sum


"Saya sudah makan BI. Bibi simpan saja atau kalau nggak Bibi makanlah kalau belum bi..."


"Iya non.."


"Kalau begitu saya keatas ya BI.." menunjuk keatas dimana disana terletak kamarnya


"Iya non.."


"Wah! Nyaman sekali kasur sendiri.." merentangkan kedua tangannya


Fatimah bangun dan mengambil ponselnya yang ada di tas selempang tadi


"Halo! Assalamualaikum.." jawab orang yang diseberang sana


"Waalaikumsalam. Bunda!" seru Fatimah, saat mendengar suara wanita yang sangat di sayangi nya


"Masya Allah nak, suaramu membuat gendang telinga Bunda hampir pecah.." candanya


"He he maaf Bun.."


"Alhamdulillah Bunda sama Ayah baik nak, kalau kamu dan suamimu..?"


"Alhamdulillah juga Bun.."


"Maaf ya Bun belum bisa main ke sana.."


"Iya-iya nggak papa kok nak.."


Hampir 1 jam Fatimah mengobrol dengan Bunda nya lewat ponsel. Akhirnya telponan pun berakhir. Ada dua jam lagi waktu Zuhur. Jadi Fatimah memilih tidur siang dulu


🍃


"Iya pak, terimakasih telah mempercayakannya kepada kami.." ucap Addry menjabat tangan rekan kerjanya


"Tuan sangat hebat.." Ucap Tomi memuji keahlian tuannya saat menjelaskan teori-teori yang disampaikan sangat mudah dipahami dan jangan lupa wibawa serta ketampanan tuannya lah menambah nilai plus untuk perusahan mereka


"Jangan terlalu memuji Tom. Masih banyak yang lebih bisa dari saya.."


"Tuan terlalu merendah.."


Kini mereka telah duduk di ruang ya Addry. Saat ini Tomi sibuk memeriksa berkas. Sedangkan Addry sibuk menanda tangani berkas


"Tom, kamu ingatkan perkataan ku dulu.." di sela-sela pekerjaannya


"Iya tuan, anak buah saya selalu memantau kegiatannya nyonya Fatimah.."


"Bagus.."


"Apakah sampai saat ini kamu belum menemukan keberadaan Bianca Tom..?" kini pertanyaan semakin serius

__ADS_1


"Belum tuan! Entah siapa yang telah menyamarkan identitasnya. Sampai sekarang belum bisa dilacak.."


"Aku yakin pasti laki-laki selingkuhan nya waktu itu..." memutar pena yang ditangannya tadi


"Saya juga begitu tuan.."


"Tidak apa-apa jika tak bisa dilacak yang terpenting jangan sampai lengah.."


"Iya tuan.."


🍃


"Wah! Bapak sangat hebat di persidangan tadi..!" ucap Dinda memuji dan memberi semangat kepada Azmi


"Ha ha makasih Din.." dengan tertawa terpaksa


"Bapak sudah makan belum..?" tanyanya, melihat jam ditangan sudah menunjukan pukul 12 siang


"Belum.." jawabnya dengan lesu


"Ya sudah, kita makan dulu deh pak.."


"Hemm.."


Kini mobil mereka telah terparkir di tempat penjual makanan kaki lima


"Kamu suka makan di sini Din..?" sebelum keluar


"Iya pak, kenapa? Apa bapak nggak suka..?"


"Suka kok. Malah saya sering jajan disini.."


"Wah kebetulan nih..!"


"Eh mas Azmi. Loh kok sama neng Dinda..?" tanya penjual bingung, karena selama mereka membeli tak pernah berdua


"Kami memang kenal pak..!" ucap Azmi memperjelas nya


"Itulah, bapak bingung tadinya.."


"Eh! mas sama neng, mau apa..?"


"Saya mau mie ayam sama es teh saja pak.." kali ini Dinda menyampaikan pesanannya


"Kalau mas Azmi..?"


"Saya samakan saja deh kek Dinda.."


Penjual tadi menganggukkan kepala dan pergi membuat pesanan mereka tadi. Dinda merasa bingung, karena suasana kembali diam


"Pak!" Dinda buka suara


"Iya Din.." mengalihkan pandangannya kearah Dinda


"Bapak masih sedih. Kenapa harus kerja langsung hari ini..?"


"Karena aku tak mau. Jika di rumah aku akan terlarut dalam kesedihan Din"


"Di rumah aku akan terus ingat sang Mama.."


"Maaf jika saya mengungkitnya lagi pak.."


"Iya nggak apa-apa.."


Akhirnya pesanan mereka tadi telah sampai. Kini mereka berdua sibuk meracik makanan agar tambah enak saat dimakan

__ADS_1


Diperjalanan pulang Azmi masih saja diam. Kini Dinda tak mau lagi buka suara. Nanti tambah membuat atasannya sedih kembali. Akhirnya dia lebih baik memilih diam saja


__ADS_2