Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 61


__ADS_3

“Ini Dek, silahkan coba..” Addry memberikan mangkok yang sudah berisi soto hasil karyanya yang di buatnya tadi


“Waw enak sekali Mas kan apa yang ku bilang. Kalau masakan kamu itu sangat lezat..” seketika sudut bibir pria tampan itu terangkat. Senang akhirnya sang istri menyukai masakan yang di buatnya, ya walaupun lumayan memakai waktu yang banyak


“Eh! Dek pelan-pelan makannya..” mengambil tisu dan mengelap sisa makanan yang ada di sudut bi**r Fatimah


“Lagian enggak akan ada yang minta Dek, jadi pelan-pelan ya..!” mengusap pelan kepala Fatimah, dia merasa gemas melihat tingkah Fatimah yang seperti anak kecil saja


“He he he habisnya enak Mas..”


“Sudah nanti Mas masakan lagi ya..” dengan cepat Fatimah menganggukan kepalanya


“Mas enggak mau nyicip nya..?” Addry mengelengkan kepala


“Melihat kamu makan dengan lahap saja sudah buat Mas kenyang Dek..”


“Hem, dasar gombal..” Addry terkekeh mendengar tutur kata Fatimah


“Dek, kamu mau kemana. Katanya lagi enggak enak badan..?” Addry bingung melihat sang istri yang memakai baju kebun


“Ini Mas, Fati mau urus bunga yang waktu itu kita tanam. Kayaknya sudah banyak ranting yang mati. Jadi mau Fati potong bagi yang sudah mati..” Addry langsung melepas handphone nya dan berjalan mengahampiri Fatimah


“Ya sudah Mas juga mau ikut kamu Dek..”


“Tapi tadi sepertinya Mas ada kerjaan..!”


Addry terkekeh “Bukan kerjaan kantor Dek..”


“Terus, tapi tadi serius sekali Mas lihat handphone nya..?”


“Mas tadi lagi main game Dek..”


"Segitu seriusnya Mas..” dengan nada menyindir


“Harus dong..”


🥀🥀🥀


“Assalamualaikum..” ucap salam dari Pria. Lantas membuat Dinda langsung mendongakkan kepala guna melihat siapa yang mengucap salam tersebut


Apakah ini nyata atau Cuma khayalan ku saja. Aduh Dinda pasti ini hanya khayalan mu saja


Tak mau ambil pusing Dinda pun melanjutkan pekerjaannya tanpa menjawab salam pria tadi. Pikirnya itu hanya khayalan saja, jadi tak usah di ladani, sedangkan sang pria bingung kenapa wanita ini hanya melihat saja. Seakan dia hanya angin lewat saja


“Hei Din, jawab dong kalau orang ucap salam..” menjongkokkan badan demi mensejajarkan badannya dengan Dinda


Dinda terus mengerjapkan kedua matanya, tapi banyangan ini tak mau hilang. Hingga Dinda pun memilih jalan lain untuk memastikan kalau ini nyata atau tidak dan....


“Awww..”


“Eh! Kamu ini kenapa Din..” memegang tangan tadi dia cubit


“Ya Allah, berarti ini nyata..” langsung menarik tangannya yang di pegang oleh Azmi


“Pantas saja kamu cuek begitu tadi ..”


“Berarti kamu sering membayangkan aku. Sampai-sampai terus kepikiran..” muka Dinda langsung memerah, malu hanya itulah kata yang mewakili dan Azmi tersenyum melihatnya


“Kalau boleh tau, ada apa Bapak ke sini..?” melihat Azmi yang kini memakai style kasual sangat berbeda jika di kantor. Pria itu sang berwibawa

__ADS_1


“Oh ini aku mau ajak kamu jalan Din mau enggak..?”


Apa katanya mau ajak aku jalan. Apa aku enggak salah dengar..?


“Din, kamu harus periksa dulu deh..!”


“Periksa? Aku enggak sakit Pak..”


“Enggak sakit gimana, kamu sering ngelamun..”


“Bukan sakit Pak, lagi suka ngelamun saja..” kesal dengan Azmi yang mengatakan jika dia lagi sakit, cuma karena sering melamun. Hemm sungguh konyol


“Orang sehat gini, di bilang sakit..” gerutunya tapi masih dapat di dengar oleh Azmi. Pria itu tersenyum mendengar umpatan gadis yang ada di depannya ini.


“Mau enggak..?” menaik turunkan alisnya


“Eh! Tapi saya belum mandi Pak..”


“Enggak apa-apa kayak ini aja..” sekali lagi Azmi menggodanya


🥀🥀🥀


“Dek, kayak gini kan caranya..?” Fatimah memperhatikan bagaimana cara Addry memotong tangkai bunga tersebut


“Bukan kayak gitu Mas caranya..”


“Terus kayak mana Dek, Mas kan enggak berpengalaman di bidang ini..”


“Iya Fati tau Mas..” Fatimah memberi contoh kepada Addry supaya memotongnya dengan baik. Agar tumbuhan tak terganggu


“Oh begitu ya caranya..”


“Iya-iya Mas paham Dek..”


Sudah dua jam mereka berkebun,akhirnya ranting-ranting bunga yang mati kini telah bersih. Bi Sum dapat melihat ada dua insan yang kini istirahat di bahwa pohon rindang


“Non dan Tuan, silahkan minuman dan cemilannya..” ucap Bi Sum dengan membawa nampan yang berisi minuman es teh dingin dengan cemilan pudding dingin dan kripik pisang untuk mendampingi minuman dingin


“Wah terima kasih banyak Bi..” ucap Fatimah


“Iya Nyonya..”


“Saya permisi kalau begitu Non..”


“Iya Bi..”


Setelah bi Sum pergi. Fatimah kini yang mengambil ahli menuangkan teh manis itu ke mangkok untuk suami dan dirinya sendiri


“Ini Mas..”


“Makasih Dek..”


“Mas semoga kita nanti bisa sampai menua bersama di sini ya..!” memandang damparan bunga yang tertata rapi berwarna warni


“Aamiin..”


“Dan juga kayak bunga-bunga yang kita tanam. Selalu banyak warnanya..” kini telah bersandar di bahu Addry


Iya Dek, Mas berharap semoga takdir kita bersama sampai tua dan menua bersama. Melihat anak cucu kita nanti. Mas sangat berharap

__ADS_1


“Mas kamu lihat enggak itu…” tunjuk nya ke ranting ujung pohon rindang yang mereka jadikan tempat berteduh ini


“Mana Dek..”


“Itu Mas..”


“Sarang burung..?” ucap Addry saat tau apa yang di lihat oleh istrinya tadi


“He’em..” Fatimah langsung menganggukan kepala dengan cepat


“Terus..?” ingin mengetahui apa yang ingin istrinya mau


“Boleh enggak kalau di ambil..?” berharap menuggu jawaban dari sang suami


“Jangan Dek, mereka juga mau hidup bebas..”


“Hem baiklah kalau begitu..” mengalah, sebenarnya memang benar apa yang di katakana oleh suaminya, tapi Fatimah merasa ingin saja merawat anak burung tersebut. Ya walaupun induknya ada


“Dek..”


“Iya Mas, ada apa..?”


“Mas udah enggak sabar menanti anak kita Dek..”


“Ha ha yang sabar Mas. Ini masih berumur lima bulan. Masih butuh empat bulan lagi..” ucapnya terkekeh sedangkan Addry langsung memasang muka masam saat mendengarnya. Mungkin hanya satu kata saja yang dapat mewakili isi hatinya yaitu ‘lama’


“Ya jangan masam gitu dong mukanya Mas..” kini telah berhadapan dengan Addry


“Lama sekali Dek..”


“Jadi muka Mas masam itu, karena soal ini..?” ucapnya menunjuk ke perutnya


“Ya Allah Mas, itu sudah ketentuanNya..”


“Iya Mas tau Dek, tapi Mas sudah enggak sabar untuk menimang dan di panggil Ayah..” merasakan tendangan yang begitu kuat dari perut sang istri


“Apa ya jenis kelaminnya..”


“Apa saja Mas yang penting sehat..”


“Iya Dek aamiin, tapi Mas sangat penasaran..”


“Nanti juga tau pas waktu dianya keluar..” ledeknya


“Masya Allah Dek, iya lah kalau sudah keluar..”


“Dasar kamu ini, mau jahilin Mas..” mengacak-acak kepalanya Fatimah yang di lapisi oleh hijab yang berwarna biru langit


🥀🥀🥀


“Ayo Pak..!” seru Dinda kepada Azmi yang sibuk memainkan ponsel sedari tadi


“Sudah..?”


“Iya terus mau nunggu lagi..?”


“Enggak papa kok..” jawabnya dengan asal saja


“Ya udah, kebetulan masih ada yang kurang..” ucap Dinda yang ingin berbalik untuk masuk ke dalam rumah kembali

__ADS_1


“Eh! Pak lepas…” kesal kepada Azmi yang saat ini menarik kera bajunya Dinda


__ADS_2