
...🌻Happy reading 🌻...
Pria itu menggigil dibawah selimut tebalnya. Giginya pun bergeletuk dan badannya terasa sangat panas, di sertai oleh kepala yang terasa berkunang-kunang
Flashback On
"Sudahlah Mas, jangan mengiba begini. Itu tak akan mengubah keputusanku," ucapnya mengangkat badan Addry agar berdiri dan tersenyum manis kepada pria yang sebentar lagi bukan lagi suaminya
"Aku mohon! Mungkin ini sudah takdir dari Allah. Mungkin hanya sebatas ini jodoh kita Mas," menangkupkan kedua tangannya di dadanya
"Kita jalani kehidupan kita masing-masing. Biarlah semuanya terjadi dengan alur yang telah dibuat oleh Sang Pencipta nanti,"
"Aku mohon talak aku Mas!" kali ini wanita itu yang mengiba dengan Addry yang berdiri membeku setiap mendengar kalimat demi kalimat yang sudah Fatimah katakan
"Apakah kita bisa kembali lagi nanti ?" ucapnya dengan pandangan kosong
"Jika itu semua sudah di takdir kan, kita hanya mengikuti ya kan !" jawab Fatimah
"Apakah kamu benar-benar tak ingin mengubah keputusan itu ?" tanya kembali dengan suara bergetar berusaha kuat
"Iya" jawabnya dengan pelan tapi tegas
"Baiklah, jika itu mau mu. Aku akan kabulkan Fa-" ucapnya terhenti saat Fatimah memberhentikannya. Hatinya gembira mungkin saja wanita itu akan mengubah keputusannya pikir Addry, tapi ternyata semuanya itu hanya keinginan Addry saja
"Untuk terakhir, aku mau mencium tanganmu dulu Mas, sebelum semuanya terucap,"
Fatimah langsung mengambil tangan Addry dan menciumnya sedangkan Addry kembali merasakan sesak tak karuan
Setelah selesai Fatimah pun menjauhkan diri dengan menundukkan pandangannya, menyiapkan diri menerima talak dari suami yang sebentar lagi menjadi mantan suaminya
"Fatimah," panggil pria itu
"Iya," Fatimah mendongakkan kepalanya untuk menatap Addry dan
Hap !
Mata Fatimah membulat, Addry memeluknya sambil terisak dan itu berhasil membuatnya juga ikut menangis dalam diam
Tidak tau kah mereka, semua itu tak luput dari pandangan Ayah dan Bundanya Fatimah. Mereka juga ikut meneteskan air matanya. Melihat kejadian itu membuat mereka juga merasa sesak dan sedih sekaligus
__ADS_1
"Ah! Maaf," ucapnya baru sadar dan melepaskan pelukan itu seraya mengusap air matanya dan diangguki oleh Fatimah
"He he, maaf ya. Aku kelihatan cengeng heh!" masih mengusap air matanya yang tak dapat di hentikan
"Sekali lagi maafkan pria ini yang selalu membuatmu selalu menangis dan membuatmu selalu sakit akibat ulahnya," tunjuk ya kepada dirinya sendiri
"Maaf juga belum bisa membahagiakanmu. Maafkan aku, Fatimah. Aku belum bisa menjadi suami yang baik yang selalu wanita impikan,"
"Aku hanya manusia egois dan kejam-"
"Sudah Mas, jangan menyalahkan diri sendiri," menyelah Addry yang masih saja menyalahkan diri sendiri
"He he," pria itu kembali terkekeh
"Banyak omong ya aku,"
"Fatimah !"
"Ya !"
"Bolehkah aku meminta dua hal ?" menunggu Fatimah yang masih diam
"Apa Mas ?"
"Bolehkah aku yang memberi namanya untuk putri kita ?" Fatimah hanya bisa mengangguk
"Shakinah Barack ya Shakinah namanya," ulangnya
"Baiklah," jawab Fatimah
"Terima kasih,"
"Satu hal lagi," lanjutnya
Detik kemudian !
"Fatimah, setelah ini terucap aku mohon kamu jangan bersedih ya. Biarkan aku saja yang menyesalinya, aku ingin satu kamu harus tetap tersenyum dan bahagia. Aku senang jika kamu dan anak kita selalu dilimpahkan kebahagiaan yang selalu menghampiri kalian,"
Hati Fatimah berdenyut sakit, entah kenapa rasanya keputusan yang sudah bulat tadi agak goyah karena mendengar setiap tutur kata Addry yang begitu memiluhkan hatinya
__ADS_1
"Oh iya, maaf jika aku banyak maunya,"
"Apa !" Fatimah masih meneladani pria yah ada di depannya itu
"Jika kamu sudah dapat pengganti ku, tolong jangan lagi kamu mendapatkan pria yang ada di hadapanmu ini,"
"Carilah pria yang dapat membimbing mu dengan benar,"
Sebenarnya Addry tak sanggup mengatakannya, tapi ini harus dia ucapkan
"Sudah, sudah. Nanti aku malah nangis lagi.." ucapnya sedikit mencairkan suasana yang begitu sedih itu
"Baiklah,"
Pria itu pun menarik napas dalam-dalam untuk mengisi kekosongan
Bismillahirrahmanirrahim
"Hai istriku, mungkin setelah ini kamu bukan lagi istriku. Jadi izinkan aku memandangku sekali lagi.." tersenyum melihat Fatimah yang jaraknya mungkin dua meter darinya
"Fatimah Az-Zahra, mulai saat ini. Kamu bukan lagi istriku dan mulai hari ini juga aku haramkan kamu menyentuhku, begitu juga diriku.."
"Aku lepas dirimu dari belengguhan pernikahan ini,"
"Terima kasih Mas," ucapnya begitu pelan nyaris terdengar
"Ah iya! Aku harus bertemu Ayah dan Bundamu dulu. Aku akan membicarakan kepada mereka dengan baik-baik,"
"Kenapa begitu-"
"Apakah sebegitu senangnya kamu berpisah dariku," ledeknya kepada Fatimah
Dia harus tegar !
"Aku memintamu dengan baik-baik begitu pula memulangkan mu juga harus baik-baik kan ? Ya walaupun kamu bukan siapa-siapa aku lagi he he,"
Setelah berbicara baik-baik kepada ibu dan Ayahnya Fatimah. Addry pun pamit undur diri, tapi sebelum itu dia mengucapkan sesuatu kepada Fatimah
"Ingat selalu tersenyum dan bahagia, assalamu'alaikum.." tanpa menunggu jawabannya Addry langsung berjalan dengan lambat setelah mendengar pintu tertutup, dia pun memberhentikan langkahnya sejenak menatap rumah istri ah bukan tepatnya mantan istri yang baru saja dia talak tadi
__ADS_1