Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 97 "Menjenguk Shakinah"


__ADS_3

...🌻Happy Reading 🌻...


"Pindah ?" ucapnya gemetar


"Iya, Pak.."


"Tolong beritahu saya, dimana ruangannya sus ?"


Addry berlari dengan perasaan gembira, hatinya membuncah senang. Saat mendengar kalau sekarang anaknya sudah memenuhi kriteria


Alhamdulillah, Ya Allah. Akhirnya penantian ku, sekarang terkabul sudah


Tanpa pikir panjang, Addry langsung membuka pintu dan mengucap salam


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam." Jawab orang-orang didalamnya


Fatimah dan Addry sama-sama terdiam. Saat mata mereka beradu pandang. Namun Fatimah dengan cepat memutuskan kontak mata mereka


Addry baru tersadar dari lamunannya dan melanjutkan kakinya untuk cepat-cepat sampai ke box anaknya


Sebelum sampai ke box anaknya. Dia terlebih dahulu bersalaman kepada mertuanya atau bisa dikatakan, sebentar lagi akan menjadi mantan mertua


"Assalamu'alaikum putri Ayah, Shaki.." ucapnya dengan penuh kelembutan


Saat ingin mencubit sedikit pipi anaknya yang kini sudah banyak perubahan daripada sebulan sebelumnya, tapi ia urungkan karena mendengar suara yang lembut itu. Suara itulah yang mengisi hari-harinya dulu

__ADS_1


"Mas, maaf kalau bisa cuci terlebih dahulu tanganmu.."


Fatimah hanya tak ingin, jika nanti anaknya terkena kuman dari luar karena dapat dilihat jika Addry baru pulang dari kantor


"Ah! Iya untung kamu ingatkan Yang," ucapnya tanpa sadar membuat mata Fatimah melotot mendengarnya, sedangkan Ayah dan Bundanya Fatimah hanya tersenyum samar mendengar menantunya masih terbiasa memanggil Fatimah dengan panggilan sayang


Pria itu dengan cueknya berjalan menuju kamar mandi. Entah apa dia tak tau, jika tadi dia memanggil Fatimah dengan sebutan sayang atau memang dengan sengaja. Hem entahlah hanya Addrylah yang tau


"Hai ! Anak Ayah, maaf ya tadi. Hampir saja Ayah lupa cuci tangannya. Untung saja Bunda yang ngingetin !"


Dia dengan penuh gemas mencubit sedikit pipi gembul itu


Bayi itu tersenyum senang, seakan gembira akan kedatangan sang Ayah


"Kenapa nangis, hem !"


Addry mengusap setitik air mata dari bayi mungilnya yang masih tersisa. Ya sebelum Addry masuk, Shakinah selalu menangis


"Hem," Addry berdeheman mencairkan suasana yang sunyi setelah kehadirannya kini


Addry membalikkan badannya menghadap orang-orang yang ada di belakangnya tadi


"Dek !"


"Iya, apa ?" tanya Fatimah


"Aku, izin ya buat gendongnya !" berbicara, tapi tak melihat kearah Fatimah

__ADS_1


Hati Fatimah berdenyut, mendengar permintaan Addry yang meminta izin. Padahal itukan juga anaknya. Pikirnya


Terbalik dengan Addry, pria itu meminta izin karena takut nanti Fatimah tidak menyuruhnya menggendong putri mereka. Terlepas dari sikapnya, sehingga membuat putrinya harus selama ini dirawat


Fatimah hanya bisa menganggukan kepala saja. Tak berselang lama Ayah dan Bunda berpamitan untuk pulang duluan


"Nak, Bunda sama Ayah pulang dulu ya !" pamit kedua orang tuanya


"Loh, kenapa begitu Bun, cepat sekali ?"


"Ada keperluan.."


"Hem, baiklah kalau tidak bisa di tunda.." ucap Fatimah dengan pasrah


Kedua orang tua Fatimah pun juga berpamitan kepada Addry yang sangat sibuk mengajak dan bercanda kepada bayi mungil itu


"Masih sore Bun, Ayah. Kenapa buru-buru pulang ?" tanya Addry dengan kening berkerut


"Ayah, ada urusan Dry.." timbal Ayah


"Baiklah, hati-hati dijalan Yah, Bun.."


Tak taukah mereka. Sebenarnya Ayah dan Bunda Fatimah hanya memberi luang, agar Fatimah dan Addry dapat leluasa untuk mengobrol karena sudah sebulan ini. Mereka belum pernah bertemu


* * *


Seperti tadi, jika Addry ingin menjenguk putrinya, dia akan datang sangat pagi sebelum berangkat kerja atau sangat sore setelah pulang dari kantor agar dia tak bertemu dengan Fatimah

__ADS_1


Sebab hatinya masih belum siap untuk melihat Fatimah, karena semakin melihat wajah ayu itu semakin besar pula rasanya tak rela untuk melepaskan


Fatimah terdiam melihat interaksi antara Ayah dan anaknya. Fatimah bingung melihat anaknya yang begitu senang dan nyaman kepada Addry daripada dirinya. Bukan berarti anaknya tak mau dengan Fatimah ya !


__ADS_2