Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 99 "Pekerjaan Yang Mengesalkan"


__ADS_3

...🌻Happy Reading 🌻...


Drttt.....


Drttt.....


Fatimah langsung bangun dari tidurnya dan mengambil ponselnya yang ada didalam saku gamisnya. Disana tertera nama Bundanya


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam, Nak sepertinya Ayah dan Bunda tidak bisa menemani mu untuk menjaga cucu Bunda !"


"Iya Bun, biar aku saja yang jaganya. Lagian juga disini ada Mas Addry Bun !" saat mengucapkan nama Addry Fatimah agak pelan karena takut kedengaran dengan pria itu


"Ah, syukurlah jika kamu ada yang nemenin," ucap Bunda dengan lega


"Ya sudah, Bunda tutup ya. Kembalilah istirahat lagi Nak !"


"Iya Bun,"


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Setelah panggilan berakhir, Fatimah melihat jam kini sudah pukul sebelas malam. Dia pun mengahlihkan penglihatannya kearah box anaknya. Dimana Addry yang tertidur dengan posisi duduk


Sudah dapat dipastikan, jika pria itu terlalu lama tidur dengan posisi begitu. Pasti besok pagi, badannya nanti akan kram semua


"Mas," panggilnya, tapi yang di panggil tak juga mendengar

__ADS_1


"Mas, bangun tidur di sofa aja. Nanti badanmu sakit,"


Benar saja, setelah di sentuh bahu Addry dengan ponselnya. Addry terbangun


"Astaghfirullah lazim," ucapnya dengan nada serak khas suara bangun tidur


"Kenapa ?" Fatimah khawatir mendengar Addry mengucap


"Aduh-duh, he he.." ucap Addry dengan cengengesan, malu setelah melihat wajah Fatimah yang ada di hadapannya


"Sakit ?"


"He he, enggak kok. Cuma sedikit kesemutan,"


"Kita gantian aja, biar aku saja dulu yang tidur disini. Kamu saja tidur di sofa," tunjuk ya dan Addry melihat sofa yang di tunjuk Fatimah


"Tapi kamu ?"


Addry bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Fatimah memilih duduk di tempat duduknya Addry tadi


"Masya Allah, anak Bunda. Imut banget sih, "


Fatimah tersenyum miring, melihat wajah putrinya yang begitu mirip sekali dengan wajah Addry. Seperti sebelas dua belas dari wajahnya Addry, kayak versi perempuan begitu


"Jadi anak yang Solehah ya Nak," mengelus pipi anaknya


"Uh, anak Bunda," ucapnya dengan gemas dan sedikit mencubitnya


"Anak aku juga loh. Ingat !" timbalnya dan duduk di seberang Fatimah

__ADS_1


"Tapi aku yang melahirkannya ya !" ucap Fatimah tak mau kalah


Aku baru tau jika kamu juga bisa melawan Dek he he. Batin Addry tertawa melihat wajah kesalnya Fatimah


"Iya, tapi jika bukan aku yang memberi bibitnya. Juga enggak akan jadikan !" celetuk Addry tanpa rasa malu malah mengucapkannya dengan penuh kepercayaan diri


Pipi Fatimah kembali merona, antara marah dan malu bercampur aduk


*


*


Sudah dua hari, Shakinah di rawat dengan penuh intensif, Fatimah selalu menjaganya. Tak pernah luput dari perhatian wanita itu


Begitu juga Addry, pria itu juga hanya bisa sesekali menjaganya itupun hanya sebentar. Setelah satu hari dia menginap kemarin


Hari ini juga membuat Addry begitu marah, bagaimana tidak. Hari ini, pria itu di sibukkan dengan berbagai berkas yang tiada hentinya karena sudah menuju ujung bulan. Jadi begitu banyak laporan yang harus, ia tanda tanganin


"Arghhhh," teriaknya dengan frustasi saat melihat tumpukan map yang masih begitu banyak


"Sabar Pak, ini ujian. Begitulah kalau ingin dekat. Selalu saja ada yang ganggu," godanya, Tomi tau bosnya itu frustasi karena tak bisa jauh dari Fatimah


Dia juga tau bahwa bosnya itu masih mencari celah agar bisa mendapatkan kembali hati wanita, ibu dari anak bosnya


"Dasar ! Iya tukang ganggu ya kamu," ucap Addry langsung mencampakkan pena yang ada di tangannya kepada Tomi


Untung saja asistennya itu langsung menghindar kalau tidak bisa lecet wajah tampannya itu


"Dan juga, situ kayak udah pernah coba pacaran, heh!" ucapnya dengan tersenyum smirk

__ADS_1


"Wah, galak sekali sih Bos. Nona Fatimah enggak akan lari kok.."


Iya, kini tidak ada lagi batas dan jarak dari mereka. Setelah Addry menganggapnya adiknya sendiri, hubungan mereka kini begitu dekat, tapi jangan salah. Mereka selalu serius dalam bekerja


__ADS_2