
"MAS...!" teriak keras dari mulut Fatimah disebabkan refleks karena perlakuan dari suaminya
"Kamu berteriak di depan suamimu dek..." ucapnya dengan dingin
"Maaf mas, Fati refleks karena belum terbiasa dengan semua ini.." Fatimah langsung menundukkan kepalanya
Fatimah masih setia menunggu sang suami kerja. Hingga jam pulang pun tiba, dimana sekarang Addry sedang beres-beres untuk pulang sedangkan Fatimah masih tertidur di sofa
"Hei! Dek bangun..."
"Ughh..." Fatimah duduk sembari mengucek matanya
"Sudah sore ya mas..."
"Hemm..."
Aduh kenapa dengan mas Addry kembali dingin kepadaku. Apa karena aku berteriak di depannya tadi ya!
"Ayo kita pulang!..."
"Sebentar mas, Fati cuci muka dulu..." Fatimah berjalan menuju ruang pribadi Addry. Ia tau sebelum dia berteriak Addry telah menunjukkan ruangan itu
Sepanjang perjalanan pulang Addry tak kunjung buka suara. Hingga Fatimah khawatir takut jika benar suaminya itu marah akibat dia tidak sopan berteriak depan suaminya. Sungguh Fatimah sebenarnya tak sengaja
Sang Asisten pun ikut bingung. Apa yang membuat kedua majikannya ini tak mengeluarkan suara sedikitpun dan mereka hanya sibuk dengan penglihatan masing-masing. Addry melihat handphone sedangkan Fatimah hanya melihat sisi jalan
Apalagi yang terjadi dengan mereka ini. Tuhan kenapa hamba harus berada di suasana seperti ini....Batin Tomi berteriak menghadapi suasana yang mencekam ini
🍃🍃🍃
Setelah selesai makan malam tadi Addry langsung sibuk dengan laptopnya. Fatimah masih diam saja, setelah adzan berkumandang mereka pun melaksanakan shalat berjamaah. Sesudah itu....
"Aku mau keruang kerja dulu...!" Addry berdiri beranjak berjalan keluar. Setelah Suaminya pergi Fatimah berpikir bagaimana cara membuat suaminya agar tak marah lagi
Tanpa pikir panjang Fatimah berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil tas belanjaan dia tadi dan mengambil sesuatu yang ada didalamnya
Dengan pikiran berkecamuk, Fatimah keluar dari kamar mandi dan menatap dirinya di cermin meja riasnya
"Hufttt.... Akhirnya aku memakai baju ini lagi.." ucapnya dengan lesu
"Tapi apa boleh buat. Siapa tahu nanti mas Addry nggak marah lagi. Lagian juga kan halal..." Fatimah langsung teringat dengan pelajaran waktu di pesantren yaitu:
Siapa saja seorang istri yang menawarkan diri untuk suaminya dengan suka-rela, maka:
Allah akan mengharamkan dirinya dari api neraka;
Memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh;
__ADS_1
Dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan;
Diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga.
Maka malam ini iya akan menyiapkan mental kuat untuk mengajak sang suami menuju surga dunia untuk mengais berkah dan pahala dari sang Khaliq
Tok tok....(Fatimah mengetuk pintu ruang kerjanya suaminya)
"Iya masuk.."
Fatimah sebenarnya kesusahan membawa nampan yang sudah berisi cemilan dan susu hangat untuk sang suami
"Adek!" ucap Addry dengan terkejut. Saat melihat penampilan Fatimah yang hanya memakai baju satin yang berwarna hitam serta memakai sweater rajut untuk menutupi baju yang terbuka itu
"Dek! Kenapa kamu cuma pakai baju beginian..." matanya menatap tajam kearah Fatimah
"Dan ini kenapa kamu enggak pakai jilbab huh..." Addry mendekati sang istri yang sedang menyusun cemilan yang di bawanya tadi
"Mas mohon jangan lagi keluar kaya begini kecuali di dalam kamar kita.." tegasnya
"Iya-iya mas, Fati tau kok batasan. Lagian sekarang kan orang-orang udah pada tidur semua kok..." jelasnya
"Iya, tapi bagaimana kalau ada mang Diman masuk untuk meriksa rumah kan aurat mu kelihatan dengan yang bukan muhrim..."
"Ya sudah Fati minta maaf deh..!"
"Dek mas serius..."
"Daripada mas marah-marah mending Fati pijitin gih..!
Menepuk sofa sebelahnya, Addry menuruti ajakan sang istri. Jujur Addry sangat terpesona melihat tampilan istrinya yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Biasanya istrinya itu pasti akan malu kalau memakai pakaian terbuka. Tapi ini dilihatnya istrinya itu sungguh berani
"Sini Fati pijitin ya.." Addry langsung merebahkan kepalanya di paha istrinya dan Fatimah mulai mengurut kepala suaminya
"Mas!..."
"Hem..." Fatimah tersenyum melihat sang suami yang sepertinya menikmati pijatan Fatimah
"Enak nggak..?"
"Iya enak dek..."
"Mas..."
__ADS_1
"Apa dek..." tapi mata Addry masih setia terpejam
"Mas nggak rindu gitu...?" wajah Fatimah memerah setelah mengucapkan kalimat tadi. Untung Addry masih memejamkan matanya
"Rindu apa dek..?" alisnya berkerut bingung apa yang dimaksud istrinya tadi
Fatimah masih diam. Sehingga Addry membuka matanya dan melihat wajah sang istri masih saja bersemu merah
“Rindu apa sih dek. Mas nggak tau..!” desaknya dengan nada menggoda sang istri
Ih mas Addry kok pura-pura nggak tau sih. Ucap batinnya masih melihat kearah lain. Karena masih di rundung malu
“Hei!...” Addry langsung menarik dagu Fatimah agar menghadap kearahnya
“Rindu apa sih dek..!" dengan menaik turunkan alisnya, masih setia menggoda sang istri
“Sudah eh mas. Fati mau kembali kekamar udah ngantuk. Mas jangan malam-malam kerjanya..!”
Fatimah beranjak dari duduknya. Tapi langsung di cekal oleh Addry
“Mau kemana..” Addry langsung menarik tangan Fatimah. Sehingga sang istri pun jatuh di atas pangkuannya
“Mas Fati malu…” Fatimah langsung menyembunyikan wajahnya di tengkuk sang suami
“Malu kenapa sih dek. Sama suami sendiri..” mengelus surai panjang yang berwana hitam legam itu
“Tapi Fati malu lah mas. Walaupun mas suami Fati, masa wanita yang minta duluan...”
“Ya mas bahagia kalau adek duluan bersedia menyerahkan diri ke mas..”
“Mas juga masih setia menggoda Fati…” Fatimah langsung bergerak menghadap ke depan wajah sang suami
“Habisnya mas suka lihat wajah istri mas merah...”
“Tambah menambah kadar kecantikan adek..!” bisiknya tepat di depan telinga sang istri. Fatimah langsung menutup matanya merasakan harum wangi yang keluar dari mulut suami yang berwangi mint
Serrrr…..
Badan Fatimah merasa tersengat listrik. Saat mendengar suara suaminya yang sangat merdu itu
“Mas Fat…”
Addry langsung membukam bi*** sang istri dan sedikit melum*tnya. Setelah merasa kehabisan, Addry pun melepas ci*m*an mereka. Ditatapnya wajah Fatimah dan usapnya bi*** yang agak sedikit bengkak
“Dek kita lanjutin di kamar saja ya..!” Fatimah hanya menganggukan kepala saja sebagai jawabannya
Dug….
Suara pintu di tutup dengan kencang oleh Addry hanya menggunakan satu kaki. Karena Fatimah masih dalam gendongannya. Mungkin karena tak sabar ya!. Jarang-jarang wanitanya yang meminta duluan
Maaf ya jika masih ada salahnya! Maklum ini karya barunya Author
Jangan lupa tinggalkan Vote, Like and coment
Terimakasih 😊
__ADS_1