
Entahlah, Aku tak tau persis penyebab dari kegelisahan ini apa. Entah itu rindu atau luka. Yang dimana akan membuat aku semakin tak berdaya. Entalah, Aku hanya berserah diri kepada Allah. Sebagai HambaNya, Aku hanya
mengikuti sekenario dari Sang Pencipta. Tapi Aku masih berharap, semoga saja ini awal dari kebahagianku
“Aku sudah selesai…” Addry pun langsung melenggang pergi menuju ruang tamu
“Iya mas, Alhamdulillah. Setidaknya kamu pernah makan masakanku mas..” lirih Fatimah, tersenyum melihat masakannya yang sudah habis mereka makan
Fatimah langsung membawa piring kotor ke tempat pencucian piring.Ia langsung mencucinya, setelah bersih. Fatimah langsung menyusunnya, ia melihat dari dapur. Apakah Addry masih di ruang tamu apa sudah pergi kembali
kekamarnya
“Ini mas,,kopi sama cemilan..” Fatimah pun langsung menaruhnya di meja depan Addry
“Hemm..” Addry hanya mengehlah nafas dengan kasar, Ia masih bingung bagaimana cara ngomongnya. Sebenarnya ia tak terlalu membenci Fatimah. Tapi karena pengaruh dari Bianca, jadi ia sering berlaku kasar dengan istrinya “ Huhh.. aku mau ngomong”
“Ngomong aja mas, nggak usah sungkan atuh..” Fatimah tersenyum manis kearah Addry. Addry pun langsung di
buat salah tingkah melihat senyum manis istrinya. Ia baru kali ini melihat senyum semanis dan tulus dari orang yang sering ia sakiti
“Aku akan menikah lagi..” dengan tegas dan tanpa rasa bersalah
Deg deg…
Sakit dan perih itulah yang ia rasakan kini. Ingin rasanya Fatimah menangis sejadi jadinya, tapi apa daya itu hanya ia pendam didalam hatinya saja. Fatimah memang sudah mencintai suaminya setelah mereka menikah, Fatimah sudah memutuskan untuk seluruh hidupnya ia akan mencintai dan berbakti kepada suaminya. Tapi apa yang ia dapatkan, hanya rasa sakit yang terus mengiringinya. Ia tersenyum kecut menangisi rumah tangga yang baru seumur janggung tapi sudah terpa oleh angin badai yang sangat kencang
Addry melihat kearah Fatimah, ia penasaran kenapa Fatimah tidak menjawab perkataanya tadi. Saat ia menoleh, melihat kearah Fatimah yang memandang kearah depan dengan tatapan kosong dan diiringi oleh senyum yang entah apa arti dari senyum itu. Addry pun tak ambil pusing, ia tidak ingin menambah pemikiran dalam otaknya itu. Cukup Bianca yang terus-menerus meminta tanggung jawaban darinya
“Hei.. kau mendengar perkataan, aku tidak sih..?”
“Ahh iya mas, maaf Fati tadi melamun. Mas ngomong apa tadi. Oh iya mau menikah lagi ya ?..” Fatimah tersenyum diiringi oleh mata yang berkaca-kaca
Bismillah…“ Aku ikhlas mas, kalau itu memang keinginan mu..” walaupun dadanya terasa sesak, hati seorang istri mana yang mau bersedia untuk di poligami. Tidak ada yang rela bagi mereka untuk berbagi suaminya
"Bagus ternyata kau cukup tau diri juga ya..."ucapnya dengan sinis dan langsung meninggalkan istrinya, seorang diri di ruang tamu. Sedangkan dia kembali kekamar. Tak lama kemudian Addry sudah berpakaian dengan kasual. Ia berjalan melalui Fatimah yang masih duduk di ruang tamu dalam keadaan diam dan menerawang, bagaimana nasib rumah tangganya setelah ini. Selama menjalani bahtera rumah tangga, Fatimah dan Addry saja, tidak seperti suami istri pada umumnya. Ditambah lagi dengan masalah baru
Addry hanya melihat sekilas saja kearah Fatimah, tanpa mau pamit. Ia langsung menuju mobilnya dan menyalakan mobil. Setelah itu ia pun langsung menjalankan mobil, menuju apertemen Bianca
Waktu sudah masuk shalat Isya, saat adzan berkumandang dengan jelas. Fatimah sadar dari lamunannya. Lantas ia langsung berdiri, berjalan menuju kamarnya. Fatimah pun langsung melaksanakan shalatnya, setelah mengambil wudhu terlebi dahulu
‘Ya Allah, maafkan Hamba yang lemah ini dan juga sering mengeluh kepada Engkau. Berilah kepada Hamba ketabahan dan kesabaran lebih dalam menjalani cobaan yang Engkau berikan kepada Hamba, Ya Rabb. Hamba juga meminta kepada Engkau Ya Rabb, semoga suatu hari nanti suami Hamba mencintai hamba dengan tulus Ya Rabb. Hamba juga percaya bahwa rencana yang Engkau berikan kepada Hamba, pasti adalah yang lebih terbaik juga untuk Hamba. Aamiin Ya Rabbal Alaminn..’
__ADS_1
Setelah shalat, Fatimah memutuskan untuk membaca kitab Al-Qur’an sebentar. Sudah setengah jam ia membaca
kitab Al-qur’an dan ia mengakhirinya. Fatimah langsung membereskaan mukenah dan sajjadahnya. Ia memutuskan untuk tidur, tapi sudah 1 jam ia bolak balik dari tidurnya. Tapi ia belum juga menutup matanya sama sekali. Akhirnya Fatimah mengambil gitarnya dan memulai memetik senarnya. Ia bernyanyi sambil duduk di jendela kamarnya, melihat jalan yang ramai dilalui oleh orang banyak
Saat pertama ku mengenalmu
Ku rasa sesuatu yang berbeda
Ku ingin mendekatimu
Tapi ku takut kau menjauh
Semakin lama rasa ini terpendam
Semakin aku ingin mendekatimu
Dari kejauhan ku melihatmu
Ku berharap kau pun merasakan
Iman dan takwamu yang meluluhkan
Rasa ini menjadi cinta
Kekasih idaman yang ku harapkan
Semoga cinta ini menjadi nyata
Ku mencintaimu karena allah
Jika dia yang terbaik untukku
Dekatkanlah hati kami ya allah
Semakin lama rasa ini terpendam
Semakin aku ingin mendekatimu
Dari kejauhan ku melihatmu
Ku berharap kau pun merasakan
__ADS_1
Iman dan takwamu yang meluluhkan
Rasa ini menjadi cinta
Kekasih idaman yang ku harapkan
Semoga cinta ini menjadi nyata
Ku mencintaimu karena allah
Jika dia yang terbaik untukku
Dekatkanlah hati kami ya allah
Setelah menyanyikan lagu, Fatimah pun menitikan air mata. Mengingat bagaimana keadaan rumah tangga yang ia bina selama 5 bulan terakhir ini.. Seandainya kisah cinta mereka seperti yang ada di lagu tersebut. Pasti Fatimah akan menjadi wanita yang sangat beruntung memiliki suami yang ada di bait lagu yang ia nyanyikan tadi. Tak lama kemudian hpnya berdering menandakan bahwa ada panggilan masuk
Kringgg kringgg….
Fatimah langsung mengambil hpnya di atas nakas meja riasnya dan mengangkatnya
“Halo, Assalamualaikum ma..”
“Waallaikumsallam,, kamu apa kabar nak?” ucap wanita di seberang sana
“Alhamdulillah sehat ma, kalau mama?”
“Ah syukurlah, Alhamdulillah mama juga sehat nak..” mama mertua Fatimah terdiam sejenak sebelum melanjutkan pembicaraanya, Fatimah bingung kenapa, mama mertuanya belum juga mengeluarkan suaranya. Tapi tak lama kemudian”Nak, maaf ya. Mama minta apapun yang terjadi nanti. Kamu harus tetap di sisi Addry ya nak?” ucapnya dengan permohonan
“Ah mama, iya ma. Mas Addry kan suaminya Fatimah. Tempat Fatimah mengais ladang pahala ma..” Fatimah dengan nada bergetar sambil menggigit bibirnya
“Makasih ya nak, kamu memang menantu idaman banget deh..” nada mertuanya yang memuji anak menantunya ini
“Ya mama, Fatimah masih banyak kekurangan ma. Fatimah bukan orang yang sempurna..” merendahkan diri
“Ah jangan sedih dong nak, oh iya Addry nya ada nak?” mama mertuanya pun langsung mengahlikan pembicaraan
“Oh mas Addry tadi pamit katanya ia ada perlu keluar untuk bertemu sama teman lamanya ma..” Fatimah terpaksa berbohong, ia tidak ingin mama mertuanya marah kepada suaminya ini. Itu sebabnya iya menutupi dimana keberadaan suaminya sekarang
“Ya sudah kalau begitu nak, mama akhiri ya. Assalamuallaikum..”
“Waallaikumsallam…” panggilan pun berakhir, Fatimah langsung menuju kamar mandi ia mencuci muka dan
__ADS_1
menggosok gigi sebelum tidur. Setelah selesai ia pun lantas mengambil wudhu juga, agar ia selalu dalam keadaan bersih dan insya Allah suci