Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 100 "Semangat 45"


__ADS_3

"Hore, anak Bunda pulang," ucapnya dengan penuh gembira, saat melihat anaknya yang bergerak-gerak membuat sang suster yang memasang Pampers untuk anaknya. Agak kesusahan


"Akhirnya, cucu nenek sehat. Alhamdulillah,"


Bunda Lisa mengucap kalimat syukur atas segala cobaan yang datang kepada anaknya


Sepanjang perjalanan mereka tak pernah luput mengajak anak dan cucunya untuk berbincang. Sehingga, saat menyadari sikap konyol itu.


Akhirnya, mereka berdua tertawa sedangkan si bayi hanya tersenyum melihat interaksi kedua wanita yang ada dihadapannya kini, sedangkan sang supir pun ikut terbawa suasana kegembiraan dari majikannya ini


* * *


"Eh, Nak. Addry kemana, kok enggak jemput Shaki?" tanya Bunda, saat mereka telah sampai dan kini lagi bersantai di ruang tamu


Fatimah menoleh sebentar dari aktivitasnya yang tak pernah puas memandang wajah mungil tersebut


"Entahlah Bun, katanya dia waktu telpon aku dan minta izin tidak menjenguk Shaki karena sekarang lagi sibuk-sibuknya kerja. Mungkin karena akhir bulan ya ?"


"Oh, iya-iya. Haduh pasti dia sangat rindu tidak bertemu dengan putrinya!" Bunda sengaja memancing agar mendengar dengan benar apa yang akan anaknya katakan nanti


"Iya Bun, aku juga sangat kasiaan lihat Mas Addry. Apalagi waktu itu, habis dari pulang kerja. Dia langsung saja menjaga putri kecil ini,"


"Bahkan dia sanggup tidur dudu, demi tetap di dekatnya Shaki," tanpa sadar Fatimah kini malah memuji Addry dan berhasil membuat Bunda Lisa tersenyum mendengarnya


"Iya benar, dilihat dari sudut pandang sih. Kayaknya Addry itu adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan penyang,"


Fatimah hanya terdiam. Kini dia tau maksud dari pembicaraan Bundanya


Suasana hening!


"Eh, Bun. Aku keatas dulu. Naro Shaki ke kamar dulu ya !" ucapnya memecahkan keheningan

__ADS_1


"Sudah tertidur ya Nak ?"


Fatimah hanya menganggukan kepala saja. Takut nanti anaknya terbangun


"Iya Nak, tidurkanlah dulu cucu Bunda ke kamarnya. Agar dia nyaman tidur. Bunda tunggu di sini ya !"


"Iya Bunda,"


Fatimah pun menaiki setiap tangga dengan pikiran melayang-layang. Entahlah apa yang kini sangat menggangu pikirannya


Sampai di kamarnya yang kini sudah di sulap seperti kamar bayi karena Fatimah memilih letak kamar anaknya harus dibuat di dalam kamar miliknya. Agar memudahkan dia untuk mengontrol anaknya, jika putrinya selalu di dekatnya


"Tidur yang nyenyak ya putri Bunda. Bunda kebawah lagi ya, Nak !"


Cup !


Sebelum pergi Fatimah mencium terlebih dahulu wajah anaknya


* * *


"Sudah tertidur Bun,"


"Bunda ingin membicarakan apa? Rasanya tak mungkin tidak serius. Jika dilihat dari mukanya!" lanjutnya


"Kelihatan ya!"


Bunda meraba-raba mukanya. Apakah benar pikirnya, sontak saja Fatimah tertawa melihat Bundanya. Padahal dia hanya mengajak si Bunda becanda. Eh malah dianggap serius oleh Bundanya


* * *


Sebelum pulang, Addry memilih mandi terlebih dahulu di kantornya dan memakai baju ganti yang sudah di siapkannya dari rumah

__ADS_1


Pria itu tak sabar ingin segera menggendong putri kecilnya. Meskipun rasa lelah melanda pikiran dan tubuhnya, tak menyurutkan semangat dia untuk menemui putri kecilnya itu


"Tom, kamu naik taksi saja ya. Biar aku sendiri saja yang bawa mobilnya!" serunya, setelah keluar dari kamar pribadinya dan menghampiri sang asisten yang masih sibuk memandang iPad itu


"Cie yang mau PDKT an,"


"Ish! Jangan ikut campur kamu ya!"


Sibuk memakai jam di tangan dan menyisir rambutnya agar kelihatan rapi dan tak lupa semprotan parfum untuk wanginya


"Terus apa dong, mengejar cinta yang hilang gitu ya ?"


"TOM !"


"Sekali lagi kamu berbicara, aku sumpal mulut mu pakai hamburger,"


"Enak dong,"


Tak lama kemudia mereka berdua pun tertawa, saat menyadari kekonyolan mereka dalam berbicara


"Semangat Pak, semoga sukses. Aku percaya, dibalik kelelahan pasti kebahagiaan akan menanti !"


"Iya Tom, terima kasih atas semangatnya. Insya Allah nanti akan ku bawa dia pulang kembali ke rumah kami," ucapnya dengan sungguh-sungguh


"Kamu juga carilah pendamping. Nanti jadi bujang lapuk baru tau,"


Tak sempat memprotes, Tomi telah di tinggal pergi oleh Addry. Kini tinggallah dia seorang diri di dalam ruangan milik bosnya itu


"Dasar main pergi aja. Semangat sekali sih ha ha!"


"Apa katanya tadi jadi bujang lapuk. Enak aja, umurku saja masih muda. Dasar ya sih bos,"

__ADS_1


"Ini nih jadi nasib bawahan. Ditinggal pulang, padahal perginya bersama-sama tadi,"


Iya tadi pagi, Tomi menjemput sang atasan menggunakan mobilnya Tomi, tapi Addry menolak dan menyuruhnya menyetir mobil Addry saja sebagai asisten yang baik. Dia hanya bisa ikut saja


__ADS_2