
‘Hufftt…’ Mas, Fati berharap semoga suatu saat. Dimana nama Fati sudah terpatri didalam hatinya mas. Fati hanya ingin mas juga akan memperlakukan Fati selayaknya istri”
Tanpa diduga air mata Fatimah meluncur tanpa diizinkan. Ia pun langsung berlari kedalam kamarnya dan mengunci pintu. Fatimah menangis sejadi-jadinya, ini sudah 6 bulan lebih pernikahan yang mereka jalani. Tapi tak ada perubahan, Addry hanya menganggapnya sebagai teman
Didalam kamar Addry
“Ah!........ Kamu dimana si sayang, kenapa enggak pernah mengangkat telpon dariku. Arghhh” malam ini dalam kamarnya Addry sangat kacau dan malam juga Fatimah tak makan menunggu Addry turun untuk makan. Tapi ternyata tidak ada tanda-tanda suaminya itu turun. Sampai-sampai Fatimah ketiduran di meja makan
*****
“Astaga.. Fatimah kau kenapa tidur disini..” Addry pun khawatir melihat keadaan wajah Fatimah yang pucat
“Kamu sudah bangun mas. Ini jam berapa..?” Fatimah memegang kepalanya terasa sangat berat dan matanya terasa sedikit buram
“Sudah jam 7 pagi. Kau belum menjawab pertanyaan ku Fati..!”
“Fati hanya ketiduran saja di sini mas. Ya sudah, Fati pamit masak dulu ya!..” sambil berjalan dengan sedikit sempoyongan
“Enggak usah, kau cepat kembali ke kamar…” ucap Addry dengan tegas
“Sebentar saja mas, nantikan mas mau kerja. Jadi harus sarapan dulu..” kekeh Fatimah
“Aku bilang tidak usah, kau dengar..” bentak nya sambil memegang tangan Fatimah dengan sangat kencang
“Maaf mas…” lirih Fatimah kembali takut dengan sifat Addry yang seperti dulu
Ada suara yang sangat mereka kenal, orang tersebut berteriak saat memasuki rumah. Padahal saat ini suasana di ruangan dapur dalam keadaan tegang dan sunyi
“Halooooo” Bianca berteriak sangat kencang saat memasuki rumah. Tapi itu tak mengganggu Addry yang masih memegang tangannya Fatimah
“Lepas mas! Nanti mbak Bianca marah. Kalau melihat mas seperti ini…” Fatimah masih berusaha melepaskan tangannya yang di genggam oleh Addry. Tapi Addry seolah tak mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Fatimah
“Mas kumohon lepaskan. Nanti mbak Bianca marah..” ucap Fatimah sekali lagi, saat ini matanya sudah mengeluarkan beningan air mata yang berjatuhan
__ADS_1
“Kau juga istriku Fati. Bukan Bianca saja…” ucap Addry dengan sangat tegas. Entah mengapa ia merasa sakit melihat Fatimah yang berusaha melepaskan dirinya dari Addry karena takut Bianca marah dan Addry merasa khawatir melihat keadaan Fatimah yang memperhatikan
Deggg! Jantung Fatimah berdetak lebih kencang saat ini Addry mengakui bahwa ia merupakan istrinya juga. Di satu sisi Fatimah sangat senang ini baru pertama kalinya Addry mengatakan kalimat yang sangat dinantikan oleh
Fatimah dan di satu sisi lain ia merasa Addry cuma refleks saja mengatakan kalimat tadi
“Masss!...” ucap Bianca dengan berteriak saat melihat Addry yang memegang tangan Fatimah
“Oh jadi gini ya, kamu selama aku tinggalkan mas..?” Bianca merasa sangat merasa emosi melihat kejadian beberapa menit tadi “Kamu sudah mulai mau menyentuh wanita kampungan ini ya..!”
“Kamu yang seharusnya izin terlebih dahulu kepadaku kalau kamu mau menginap..” ucap Addry tak kalah emosi.. satu sisi ia belum tau apa yang membuat Fatimah tertidur di meja dapur dan di satu sisi lagi ia sudah memendam amarahnya dari tadi malam untuk Bianca. Melihat suasana yang semakin panas. Fatimah pun memilih undur diri, biarkan Addry dan Bianca menyelesaikan urusan rumah tangga mereka. Walaupun Addry merupakan suaminya tapi itu bukan urusannya
“Kamu mengembalikan fakta. Biar aku enggak memperpanjang masalah tadi kan!..”
“Sudah aku malas berdebat denganmu. Lebih baik aku berangkat ke kantor saja..” saat Addry berbalik arah untuk keluar dari rumah. Sebuah suara yang mengurung kan niatnya
“Argghhh…” erangan dari Bianca
“Kamu kenapa sayang…!” ucap Addry yang langsung memangku badan Bianca
“Fat…Fatimah” Addry pun berteriak memanggil Fatimah. Ia merasa sangat khawatir melihat wanita kesayangannya yang kesakitan
“Iya mas, ini ada apa? Kenapa mbak Bianca, kesakitan?”
“Sudah kau jangan banyak bicara, cepat panggil dokter pribadi kita..”
“Baiklah mas, Fatimah akan menghubungi nya dulu..” Fatimah pun berlari menuju telpon rumah. Sedangkan Addry bergegas menggendong tubuh Bianca untuk dibawah ke kamar utama mereka
“Apa yang terjadi dengan istriku dok..?”
“Istri Anda tidak ada masalah apa-apa pak…”
“Terus kenapa dia seperti itu tadi dok..?” Addry masih penasaran
__ADS_1
“Sabar pak, istri anda sekarang lagi hamil muda..” dokter pun tersenyum setelah mengatakan kalimat tersebut
“Apa! Benarkah dok..” Addry pun merasa sangat bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh pak dokter tadi. Sedangkan Fatimah ia merasa bahagia tapi ia juga merasa sedih. Karena sampai sekarang belum juga hamil. Tapi bagaimana juga mau hamil sedangkan ia saja belum pernah di sentuh oleh Addry
“Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan aku jagoan kecil…” ucap Addry dengan sangat gembira sembari mencium puncak kepala Bianca
“Iya mas, sama-sama..”
“Selamat mas dan mbak Bianca nya…” ucap Fatimah dengan tulus. Setelah mengantar pak dokter keluar rumah tadi
“Hemmm..” jawaban dari Addry tanpa mengalikan pandangannya yang masih setia menciumi wajah dan tangannya Bianca. Sedangkan Bianca hanya tersenyum mengejek kearah Fatimah
“Ya sudah mas dan mbak Bianca. Fati pamit dulu..” Fatimah pun keluar dari ruangan tersebut yang tidak menganggapnya ada. Sesampai di kamarnya Fatimah pun menumpahkan kembali kesedihan nya didalam kamarnya yang menjadi saksi bisu nya. Anggap saja, Fatimah seperti wanita cengeng. Tapi hati istri mana yang tidak sakit, apabila melihat suaminya tanpa malu mencium madunya dengan penuh cinta dan kasih sayang
*****
“Mas, mbak bangun yuk. Sarapan sudah Fati siapkan..” tapi tak ada jawaban dari dalam kamar
“Ya sudah kalau gitu, Fati pamit minta izin ya. Fati mau keluar dulu..!” saat tak ada juga jawaban. Fatimah pun memutuskan untuk berangkat. Tapi ia tak lupa memberi catatan kecil yang tertempel di meja makan
Setelah keluar dari rumah, Fatimah pun langsung menaiki motor scopy nya untuk melajukan motor ke tempat yang dituju..
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam, akhirnya datang juga kau Fati..”
“He he he, maaf ya Din buat kau menunggu ku..”
“Iya-iya nggak papa kok. Emangnya kenapa kau sampai telat Fati..”
“Ah! Biasa Din, ibu rumah tangga ha ha ha..” Fatimah masih saja menyembunyikan masalah rumah tangganya
Subhanallah Ya Allah. Mulia sekali hatimu Fat. Sampai-sampai kau tak pernah menceritakan masalah apa saja yang kamu derita…Kalau aku di posisi mu pasti aku sudah meminta diceraikan Fat…ucap batin Dinda
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya Like Vote and coment!
Terimakasih 🤗