Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 41


__ADS_3

Kini matahari telah mulai tenggelam. Sepasang kekasih halal sedang bersendau gurau di dekat danau yang indah


"Dek, bagaimana kalau kita buat tenda saja disini...?"


"Kita kan nggak bawah perlengkapan tenda mas..?"


"Tenang dek kan ada Tomi. Mau ya..?"


"He'em..." seraya menganggukkan kepala


"Oke sebentar, mas telpon dia dulu..."


Setelah peninggalan suaminya. Fatimah kini fokus dengan cemilan kripik pisang sambil memandang danau yang luas


Drttt....


Fatimah melihat di layar ponselnya siapa yang menelponnya. Ternyata Dinda sang sahabat


"Ya Halo...."


"Assalamualaikum..." jawab Dinda


"Waalaikumsalam.Maaf lupa Din.."


"Enggak masalah Fat, oh iya kamu lagi dimana..?" ucap Dinda saat mendengar suara burung yang berkicau


"Oh ini aku lagi piknik sama mas Addry..."


"Cieee romantis banget..."


"Alhamdulillah Din..." tersenyum


"Terus kenapa belum pulang Fat kan sudah sore...?"


"Ini mas Addry ngajak nginap saja di sini katanya..."


"Ih pengen juga..!"


"Makanya ni-"


"Sudah Fat, doa kan saja nanti aku cepat nyusul..." mendahului Fatimah. Karena Dinda sudah tau apa yang akan di katakan oleh sahabatnya tadi


"Ih nggak sopan tau kayak gitu.."


"Habisnya kamu sering ngomong kayak gitu..."


"Ha Ha Ha. Iya maaf.." seraya tertawa


"Ya sudah ah, aku nggak mau ganggu orang lagi pacaran hihi..." ledeknya


"Ya jangan gitu Din. Emangnya kamu telpon ini mau ngomong apa Din..?"


"Ah! Nggak penting kok Fat. Ya sudah ya! Assalamualaikum..."


Tut tut...


"Waalaikumsalam.." ucap Fatimah walaupun Dinda sudah dulu memutuskan sambungan teleponnya


"Telpon dari siapa tadi dek..?" tanya Addry setelah selesai menelpon Asistennya


"Eh mas!.." kagetnya


"Oh! Ini dari Dinda mas.." saat melihat wajah penasaran suaminya

__ADS_1


"Oke, sebentar lagi Tomi datang dek. Bagaimana kalau kita mandi di sana..." tunjuk Addry menunjukkan kearah pemandian. Karena memang mereka sering membawa pakaian ganti. Siapa tau kan hujan, makanya Fatimah sudah menyiapkan segala keperluan


"Baiklah mas ayo..!"


Mereka berdua berjalan menuju tempat pemandian tadi. Setelah selesai mereka langsung memakai baju. Sebenarnya Fatimah agak kesusahan. Tapi karena di bantu sang suami, akhirnya kelar juga


"Mas!.."


"Iya dek.." seraya berjalan


"Mas kamu ingin anak laki-laki atau perempuan..?" mengelus perutnya. Mendengar itu Addry langsung berhenti melangkah. Dia mensejajarkan dirinya tepat didepan perut sang istri


"Mas nggak punya kemauan lain dek yang penting kalian sehat sampai persalinan nanti.."


"Baby jangan nakal ya nak! Sehat terus di dalam. Ayah nggak tahan lagi ingin melihat mu lahir ke dunia ini..."ucapnya dan mencium perut istrinya serta meneteskan air mata


"Aamiin Ya Allah..."


Mereka melanjutkan langkah menuju tempat piknik tadi. Addry dan Fatimah sudah melihat dari kejauhan kalau Tomi lagi sibuk menegakan tenda untuk tuannya


"Assalamualaikum Tom..!" ucap mereka dengan serempak


"Eh Tuan! Waalaikumsalam..."


"Sini biar ku bantu..."


"Tidak usah tuan. Ini sebentar lagi selesai.."


"Sudah sini.."


Fatimah senang melihat keakraban antara suami dan Tomi. Karena sekarang suaminya itu Alhamdulillah sudah berubah, dia Sekarang menjadi pria yang hangat dan ramah kepada siapapun


Nyonya Fatimah memang luar biasa. Sekarang tuan memang berubah. Dia sekarang menjadi atasan yang ramah dan baik ke sesama karyawan. Semoga keluarga kalian selalu dalam lindungan Tuhan..


"Mari Tom kita makan.." ajak Addry duduk menunggu Fatimah yang sibuk mengisi piring dengan nasi


"Iya Tuan.."


"Ini mas.." memberi piring yang sudah berisi dengan berbagai makanan yang di masak tadi


"Tidak usah Nyonya..." tolak Tomi karena di perlakukan terlalu istimewa


"Enggak papa Tom..." jawab Addry dan Fatimah tersenyum saja


"Kalau begitu. Biar saya saja yang mengisi nasinya Nyonya.."


"Ya ampun mas, sungkan bener. Baiklah ini mas.." beri nya


"Makasih Nyonya.."


"Oh iya mas Tomi, nggak usah panggil Nyonya. Kayak berasa tua mas..!" canda Fatimah


"Maaf Nyonya kalau begitu saya tak berani.." menunduk, Fatimah melirik kearah sang suami yang masih sibuk dengan makanannya


"Mas!.." menarik lengan Addry


"Ada apa sih dek.." berhenti makan. Tomi masih diam, ia belum berani makan duluan. Sedangkan Fatimah saja belum itulah dalam pikirannya


"Mas tolong omongin ke mas Tomi. Enggak usah panggil Nyonya. Berasa tua aku mas.." merengek


"Ya ampun manja bener istriku ini..." gemas dan mencubit hidung kecil yang mancung itu


"Ih mas..."

__ADS_1


"Dek jangan kayak gitu. Mas berasa ingin yang ma*** kamu tau..."


Tomi langsung terbatuk-batuk mendengar kalimat tuannya yang tak ada sensor berbicara di depan seorang asisten apalagi pangkatnya masih jomblo abadi🤣


Setelah selesai makan, Tomi pun pamit untuk pulang. Karena hari juga sudah malam dan dia tak mau mengganggu pasangan yang masih mesra-mesranya


"Dek, ternyata pacaran yang sudah halal itu enak ya..!"


"Iya mas. Jadi nggak ada batas-batasnya karena halal.." tidur bersandar di dada bidang sang suami


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Baby bagaimana kalau hari ini kita ke rumah sakit yuk..!" ajak Pram


"Kayaknya nggak deh honey. Soalnya aku hari ini masih ada job pemotretan.." alasannya


"Ya sudah kalau kamu nggak bisa..."


Pram berjalan menuju kamar mandi tanpa menggunakan apa-apa. Sedangkan Bianca sibuk dengan handphone


"Halo! Mas.."


"---"


"Kamu dimana sih...?" keningnya mengerut, saat mendengar ada bunyi hewan-hewan


"---"


"Beneran kamu masih di rumah. Tapi kenapa banyak sekali bunyi hewan sayang..?"


"---"


"---"


Tut Tut...


Panggilan terputus sepihak dari Addry. Bianca bertambah kesal dengan sikap Addry yang sekarang sangat terkesan cuek. Tapi suaminya itu masih memberikan haknya kepada Bianca


"Lihat saja nanti. Aku akan membuat kalian hancur dengan adanya anak yang ku kandung ini akan menjadi pion ku untuk mu mas.."seraya tersenyum misterius. Semua yang dibicarakan oleh Bianca terdengar jelas oleh Pram. Kedua tangan Pram langsung terkepal mendengar bahwa calon anak yang dikandung oleh sang pujaan cuma hanya menjadi tumbal untuk rencana Bianca saja


"Sayang mending kamu mandi dulu. Katanya mau pergi ada job.."


"Ah! Iya honey..." Bianca langsung bangun dari tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu


Lihat saja, aku akan melakukan berbagai cara agar rencana mu tak berhasil. Tekadnya


🍃


🍃


🍃


"Tampannya suamiku..." ucap Fatimah mengelus wajah Addry. Melihat ciptaan Allah yang kini telah menjadi suaminya


Fatimah mulai menelusuri setiap inci wajah sang suami mulai dari mata, hidung dan terakhir bibir yang dulu tak pernah mau buka suara sedikitpun untuknya. Tapi sekarang, sungguh Allah membolak-balikkan hati itu lebih mudah daripada kita membolak-balikkan telapak tangan. Itulah yang sering Fatimah dengar saat ada pengajian


Fatimah masih melamun seperti memikirkan masa lalunya dulu


"Good morning my wife..."


Jangan lupa tinggalkan Vote Like and coment kalian!!


Terimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2