Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 122


__ADS_3

“Ini semuanya kan sudah selesai. Ayo, doa dulu siapa yang mau memimpin doa..?” Tanya Bunda


“Addry saja Bun..” jawab Ayah


Mereka berempat pun makan dengan penuh khidmat, tak ada obrolan saat makan berlangsung hanya suara dentingan sendok dan garpu yang berlawananan dengan piring


*


*


*


Senyum Addry mengembang, saat ini dia sedang menimang-nimang anaknya. Bagaimana tidak perut kenyang, bertemu dengan wanita pujaan hati ditambah nilai plusnya yaitu bertemu dengan putri kecilnya


Inilah yang Addry impikan sejak dahulu. Jika semuanya hancur, pasti Addry akan menjadi orang yag paling menyesal di dunia ini karena telah mengecewakan sang istri yang paling para lagi anaknya yang akan jadi korban


“Mas, diminum teh hijaunya..”


Wanita itu menawarkan teh hujau karena memang kebisaan Addry yang selalu minum teh hijau, jika sempat setelah makan. Fatimah langsung menaruhnya di meja dan duduk di tempat duduk yang ada didekat kolam renang, sambil memandang pemandangan indah yang ada di depan mata. Tak rela rasanya jika melewatkan itu semua


“Terima kasih Dek..” tersenyum manis, Addry beberapa kali bersyukur karena Allah dengan cepat membuka pintu hidaya untuk dia menyadari kesalahannya


“Uh! Senangnya anak Bunda ya. Senyum-senyum terus..” cubitnya di pipi gembul itu


“Aduh sakit Bundaa..” seru Addry meniru-nirukan nada bicara dengan gaya anak kecil

__ADS_1


“Mas, ada yang mau aku katakan..!”


“Iya katakan saja Dek, Mas masih mau main sama Shaki..”


“Hei, omonglah Dek, Mas dengar kok apa yang nanti kamu katakan..” ucapnya karena Fatimah yang sedari tak bicara


“Sahabat aku, Dinda. Dia mau menikah..”


“Wah! Bagus dong kalau begitu karena kan dia sudah pas untuk menikah..” tanggapan Addry


“Bukan begitu Mas, masalahnya mereka menikah hampir sama dengan tanggal kita menikah..!”


“Emangnya tanggal berapa Dek..”


“APA..!” teriaknya dan hampir saja Shakinah terlepas dari tangannya yang saat itu masih menimang putri mungilnya itu, tapi karena mendengar tutur kata Fatimah. Dia merasa syok begitu


“MAS! Kamu ini, untung saja putriku enggak kenapa-napa..”


Langsung mengambil ahli Shakinah dari tangan Addry


“Ralat Dek, dia juga putriku ya kalau bukan bibitku. Mana ada Shaki..” ucapnya setelah sadar dari syok sebentar tadi


Fatimah memutar bola matanya dengan malas, dia tak menanggapi ucapan tersebut. Dia memilih diam saja daripada nanti tak ada ujung-ujungnya. Fatimah berjalan menghampiri tempat dudukyang tadi dia duduki


“Kamu beneran Dek nggak bohong..?”

__ADS_1


Menghampiri Fatimah dan duduk langsung disamping wanitanya


“Secepat itukah Dek..?” tanyanya pelan tak percaya, tapi Fatimah masih diam tak juga mengeluarkan suaranya


“Ah! ini mah keduluan kita Dek..”


Mata Fatimah tak dapat dikondisikan saking terkejut dengan ucapan Addry yang barusan. Apa coba keduluan pikirnya


“Apanya yang keduluan sih Mas, kamu ini suka aneh-aneh saja..”


“Uh, anak Bunda. Jangan dengerin Ayah yah. Biasa lagi kumat hihi..” ucapnya lebih baik berbicara kepada anaknya saja. Fatimah berbicara sedikit di pelankan saat mengucapkan kata ‘kumat’ takut nanti orang yang dibicarakan merajuk lagi. Susah nanti kalau mau membujuknya


“Ya, kita lah keduluan dari mereka..”


“Aku kira apa yang keduluan nyatanya itu. Lagian dulu kita yang duluan menikah Mas. Bukan mereka..”


“Iya sih! Nikah sekarang yuk Dek..” ajaknya sambil menarik baju lengannya Fatimah untuk segera berdiri. Seperti orang jijik begitu, tapi bukan itu maksudnya karena mereka tak mau bersentuhan kecuali nanti sudah halal


“APA!”


Sungguh, kedua orang itu sangat sering berteriak kencang karena merasa konyol mendengar celetukan masing-masing, tapi yang sangat jadi korban disana adalah anaknya yang harus mendengar teriakan cempreng dari sang Bunda yang lebih parah karena ahli-ahli selalu terkejut dengan celetukan yang tak teladan dari sang Ayah


Jangan lupa Vote, komen dan like ya manteman. Terimakasih karena kalian yang selalu mendukung karyaku ini


See you 😍

__ADS_1


__ADS_2