Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 58


__ADS_3

“Bagus Tom saya sangat bangga dengan pekerjaan mu..” ucap Addry setelah meninjau hasil pekerjaan dalam membangun kafe miliknya ini


“Terima kasih Tuan atas pujiannya..” Addry hanya mengangguk-anggukan kepala


“Oh iya Tom..”


“Iya Tuan..?”


“Nanti hias dengan lampu-lampu ya! Biar tambah menarik..”


“Baik Tuan..”


“Ya sudah kita kembali ke kantor..”


Tomi langsung berjalan mengikuti Addry dan membukakan pintu mobil saat mereka sampai di parkiran, sedangkan Fatimah kini lagi sibuk dengan membaca buku yang bertuliskan ‘Ibu Hamil’. Wanita itu hanya guling-guling di atas kasur dengan membaca buku


“Kapan ya Nak kamu hadir di antara Bunda dan Ayah..”


“He he Bunda jadi enggak sabar nunggu kamu hadir..” mengelus perut yang sudah membesar


“Nanti kita masak apa ya Nak untuk Ayah nanti..?”


“Hem lebih baik Bunda masak sayur yang Bunda petik dari rumah Nenek kemarin saja ya enggak Nak..?” masih sibuk mengajak calon anaknya bicara, sedangkan calon bayi merespon dengan bergerak-gerak kadang menendang-nendang perut sang Bunda. Hingga membuat hati Fatimah menghangat. Karena tak lama lagi dia akan menjadi seorang Ibu


🍃


Di Kantor Firma


Kini Azmi sedang termenung memikirkan sesuatu. Hingga suatu ketukan membuyarkan lamunan tersebut


Tok Tok……


“Iya masuk..” setelah mendengar jawaban wanita yang mengetuk pintu tadi pun membukakan pintu


“Permisi Pak..” ucapnya sebelum masuk


“Iya masuk saja..” tanpa mengahlikan pandangan nya dari tablet


“Pak ini ada berkas yang masuk pagi tadi..” memberikan map yang berwarna hijau itu kepada Azmi


“Terima kasih Din..” ucapnya dan langsung mendongakkan kepala untuk meraih map yang masih dipegang oleh Dinda dan Azmi terpesona melihat gadis yang di hadapannya ini. Bagaimana tidak hari ini Dinda tak seperti biasanya.


Karena biasanya gadis itu hanya memakai lepis, kaos dan memakai sweater, tapi ini gadis itu memakai baju blouse berwarna pink muda dan rok sebatas lutut berwarna putih dengan rambut yang di cepol menyisahkan sedikit anak rambut, menambah kesan cantik dan manis


Dinda bingung melihat apakah ada yang salah dalam penampilannya sampai membuat atasan


menatapnya sampai segitu nya


“Pak..”


“Hallo..” ucapnya melambaikan tangan di depan muka pria yang bengong


“Pak..” dengan mengumpulkan keberanian, akhirnya Dinda menyentuh bahu kekar itu. Agar lamunan pria tersebut berakhir

__ADS_1


“Eh! Iya apa tadi..?” tampak sekali jika Azmi salah tingkah dengan perbuatannya sendiri. Hingga membuat Dinda tersenyum melihat tingkah grogi yang Azmi timbulkan


“Ini laporan yang baru masuk pagi tadi Pak..” mengulang perkataan yang tadi tak sempat didengar oleh Azmi


“Oh! Terima kasih Din..”


“Ini memang dari tugas saya Pak..” tersenyum manis


“Kalau begitu, saya permisi Pak mau lanjuti pekerjaan..”


“Iya Din..”


Azmi memandang Dinda yang sudah beranjak dari hadapannya dan melangkah menuju pintu keluar dari ruangan Azmi. Hingga pintu pun tertutup, tinggal lah Azmi seorang diri


Hem sebenarnya Dinda itu cantik, tapi sayang aku tak mencintainya. Apa aku buka saja hati ini untuknya. Lagian Mama kan sangat mengharap bila Dinda bisa menjadi menantunya. Iya coba saja dulu. Batinnya Azmi, kini Azmi akan mencoba membuka hatinya. Percuma saja mencintai orang lain. Apalagi orang yang di cintai itu merupakan istri orang


🍃


Kini jarum jam sudah menunjuk angka sebelas. Menandakan sebentar lagi waktu makan siang. Fatimah kini telah siap dan sudah membawa rantang makanan yang dia masak bersama Bibi Sum tadi


“Maaf Mang Diman pasti lama nunggu nya..” tak enak hati kepada Mang Diman karena terlalu lama menunggunya


“Tidak juga kok Neng. Baru sebentar Mang Diman menunggu...”


“Lagian Mang Diman, sembari menunggu Neng. Sekalian jaga rumah dulu sebentar..” memberi penjelasan agar sang majikan tidak terbelenggu oleh rasa tak enak hati


“Iya-iya deh. Mang Diman memang yang terbaik..” Mang Diman hanya membalasnya dengan tersenyum. Selalu jika Fatimah yang jadi penumpangnya. Wanita itu selalu memuji apa saja yang dikerjakan oleh nya


Mang Diman membukakan pintu mobil untuk Fatimah. Sepanjang perjalanan Fatimah terus melihat ke arah luar. Menatap semua suasana yang di lihatnya. Hingga ada satu yang membuat matanya berbinar-binar melihatnya


“Iya Neng..?” timbal Mang Diman dengan memperlambat laju mobil


“Balik lagi Mang..”


“Apa Neng ada yang ketinggalan..?”


“Bukan Mang, ada yang membuat Fati jadi ngiler rasanya..” lantas ucapan Fatimah menambah kebingungan untuk seorang Mang Diman


Tak mau banyak bertanya lagi. Mang Diman langsung membelok mobil ke arah yang mereka lalui tadi. Kini Mang Diman tau apa yang di inginkan oleh majikannya itu


“Mau yang pedas atau yang manis Neng..?” bertanya sebelum turun


“Pedas aja Mang, kayaknya enak itu..”


“Baiklah Neng, tunggu sebentar..” dibalas anggukan oleh Fatimah. Saat berhenti begini Fatimah selalu sempat membuka buka tentang peran ibu


“Iya halo, assalamualaikum..”


“Waallaikumsalam, kamu sudah jalan ke sini belum Dek..?”


Astaghfirulla Alazim, aku lupa memberitahu kepada Mas Addry kalau kini sedang di jalan..


“Aduh Mas! Maaf ya, Fati lupa kasih tau Mas kalau Fati kini sedang di jalan..”

__ADS_1


“Iya Dek nggak apa-apa kok. Mas kira tadi kamu belum jalan..”


“Terus kalau belum jalan kenapa Mas..?” dengan polos nya bertanya, sehingga menerbitkan senyum sang Pria yang di seberang sana. Karena mendengar pertanyaan sang istri


“Ya! Jemput kamu lah sayang..”


“Jadi gemas deh! Seandainya kamu di sini Mas pasti sudah-” lanjutnya


“Tarik hidung..” timbal Fatimah mendahului Addry


“Kok kamu tau Dek. Apa yang mau Mas katakanan atau kamu cahnayang..?”


“Kamu ini Mas, ada-ada saja deh. Fati sudah tau kebiasaan kamu itu..”


“Cie yang banyak tau..” ledeknya. Hingga membuat Fatimah memutarbola matanya dengan malas


“Ini Neng pesanan nya..!” memberikan satu kantong kresek kepada Fatimah


“Eh! Kamu pesan apa Dek..?”


“Oh! Ini pesan rujak Mas..”


“Oh..”


“Ya sudah Mas tunggu ya My Wife..”


“Iya My Husband..”


“Assalamualaikum..”


“Waallaikumsalam..” jawab Fatimah


🍃


Di Firma Hukum


“Din, kita makan yuk..”


“Eh! Bapak, iya pak silahkan Bapak saja dulu..”


“Ya kamu belum mau makan apa..?” melihat jam yang melingkar di tangannya


“Nanti saya makan Pak, tapi ini masih ada kerjaan yang penting..”


“Sudah nanti saja lanjutin nya. Kamu juga harus isi energi biar punya tenaga untuk menghadapi pekerjaaan ini..”dengan berat hati Dinda menerima tawaran Azmi. Ya walaupun dia sebenarnya juga sudah lapar


“Kita mau makan di mana Pak..?” ucap Dinda masih fokus menyetir, tadi sebenarnya Azmi yang mau mengemudikan mobil, tapi langsung di cegah oleh Dinda. Karena mengingat pekerjaan Azmi yang menumpuk karena musibah yang menimpahnya


“Kita makan di restoran biasanya saja Din..”


Kembali di kantor Barack, kini pria tampan itu tersenyum melihat wanitanya yang baru saja turun dari mobil yang di antar oleh pekerjanya di rumah


“Mas kamu sudah lama nunggu..?” sedangkan Mang Diman kini telah kembali. Setelah selesai mengantar sang majikan

__ADS_1


“Enggak Dek..”


“Bohong..!”


__ADS_2