
Ting…..(Bunyi pesan masuk)
Fatimah memberhentikan kegiatannya yang ingin menyalakan motor scupy nya. Dia pun membuka tas selempang nya dan mengambil handphone yang berbunyi tadi. Seulas senyum yang terbit di bibir tipis Fatimah
(Suamiku)
Assalamuallaikum, kamu perginya naik apa dek..?
(Balas Fatimah)
Waalaikumsallam, aku bawak motor mas..
(Suamiku)
Ya sudah hati-hati. Apa mau mas suruh sopir dulu buat ngantar kamu dek…?
(Balas Fatimah)
Enggak usah mas. Fati bawak sendiri aja. Fati hati-hati kok bawak nya..
(Suamiku)
Hati-hati ya. Assalamuallaikum..
(Balas Fatimah)
Iya Mas, Waalaikumsalam
Setelah membalas pesan dari suaminya. Dia pun menyimpan hp nya kembali di tas selempang nya. Fatimah langsung menyalakan motor kesayangan menuju tempat janjian nya sama Dinda
Setelah sampai di kafe A. Fatimah langsung masuk dan dia sudah dapat melihat sahabatnya yang duduk di pojok dekat jendela. Tapi Dinda tak melihat Fatimah karena Dinda sibuk dengan Handphone nya dan….
Dor…..
“Eh kodok lompat….” Ucap Dinda hampir saja handphone nya jatuh gara-gara Fatimah yang mengagetkan nya
“Ha..ha..ha…”
“Ah! Fati kenapa kamu sudah mulai jahil sih..” gerutu nya Dinda dengan cemberut
“Din… jangan marah dong..” Fatimah duduk di samping Dinda dan dia pun dengan jahil nya mencolek dagu sahabatnya ini
“Iya-iya aku maafin. Tapi jangan diulangi lagi..” Fatimah langsung menganggukan kepalanya
Aku senang melihat kamu senang sahabatku. Semoga tak ada lagi yang membuat mu sedih. Ucap batin Dinda sambil melihat Fatimah yang sekarang sudah kembali menjadi Fatimah yang ia kenal dulu
Mereka langsung memesan makanan. Setelah selesai makan. Mereka langsung menuju mall untuk mencari-cari buku tentang kehamilan. Agar Fatimah memudahkan apa saja yang harus ia lakukan dalam kehamilannya untuk menjadi ibu yang siaga
__ADS_1
“Kamu capek enggak Fat..?” ucap Dinda yang sibuk dengan mengelap peuh di dahinya
“Lumayan Din..” Fatimah pun sama dengan apa yang dilakukan oleh Dinda
“Kita pulang yuk. Sebentar lagi sore ni..” sambil melihat jam ditangan kirinya
“Iya-iya bumil. Tau yang punya suami..” ledek nya
“Makanya cepat nikah. Biar tau rasanya seperti apa..” Fatimah pun meledek Dinda juga
“Ish makanya cariin biar sahabatmu ini tau bagaimana caranya mengandung..” mereka pun tertawa
“Ya Allah semoga sahabatku yang jomblo ini cepat-cepat dapat jodoh….”
“Aamiin..” ucap mereka dengan serempak
Titttt…
Sontak saja Fatimah dan Dinda langsung melihat kearah sumber suara. Mata Fatimah terbelalak melihat suaminya yang baru saja keluar dari mobil mewahnya dengan berjalan cool serta tak lupa memakai kaca mata hitamnya
‘Wow suami kau tampan benar si Fat..” Fatimah tidak menjawab perkataan Dinda. Bukannya tak mau menjawab tapi dia masih dalam keadaan terpesona. Dinda hanya menggelengkan kepala. Dia tidak berniat membangunkan Fatimah dari keterkejutan sekaligus terpesona dengan suaminya sendiri
“Hei…” Addry menjentikan jarinya tepat didepan muka Fatimah
“Astaghfirullah…” Fatimah kaget sejak kapan suaminya telah sampai di hadapannya. Dia melihat jarak mobil ke tempat duduknya Fatimah itu lumayan jauh. Tapi kenapa suaminya sangat cepat sampai itulah dalam pikirannya
“Hemm..” bunyi mulut Addry yang saat itu masih ditutup mulutnya
“Din yuk kamu bareng kami saja pulangnya..” Fatimah menawarkan tumpangan kesahabat nya. Tapi Dinda menggelengkan kepalanya
“Enggak Fat. Aku kan naik mobil sendiri..” ucap Dinda tersenyum meledek karena Fatimah kenapa menjadi orang yang linglung. Sontak saja Fatimah menepuk kening nya
“Oh iya aku lupa. Kamu kan bawak mobil dan aku juga bawak motor..” Fatimah berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Dinda menuju parkiran
“Dek biar supir saja yang bawak motor kamu..”
“Tapi mas..”
“Enggak ada tapi-tapian..” tegasnya
“Ya sudah. Din aku duluan ya! Assalamuallaikum…” Dinda menjawabnya dan menganggukan kepala
Di dalam mobil
“Mas kita mau kemana. Ini kan bukan arah rumah..”
“Hari ini mas ada perjamuan bisnis dek dan kamu harus ikut mendampingi mas ya..” Addry langsung mengambil sebelah tangan Fatimah dan mengecup nya. Sontak saja wajah Fatimah memancarkan semburat warna merah jambu di wajahnya
__ADS_1
“Kamu lucu dek kalau malu…”
“Ih mas…” Fatimah langsung saja memukul lengan Addry. Mereka sangat bahagia semenjak kejadian waktu itu membuat hubungan mereka menjadi dekat. Tapi mereka tidak tau akan ada apa lagi yang akan menerpa rumah tangga yang harmonis sekarang untuk menguji iman mereka
Terima kasih Ya Allah atas kebahagian yang telah Engkau berikan. Semoga kebahagian ini tidak akan dirusak oleh badai yang menerjang. Aamiinn.. ucap Batinnya
Fatimah hanya tersenyum melihat Addry yang sekarang tambah tampan dan penyayang kepadanya. Ia tersenyum
manis ke arah suaminya yang masih sibuk mencium tangannya
“Mas kita kok ke butik..?” ucapnya dengan heran
“Ya elah dek. Kenapa sih istri ku ini lambat tanggap perkataan mas tadi. Mas tadi kan bilang kalau kita nanti malam akan nada perjamuan bisnis…”
“Makanya kita kesini. Biar bisa pakai pakaian yang cocok untuk malam nanti…”
“Tapi mas, baju Fatimah kan masih banyak..” Jujur saja Fatimah merasa belum lazim ke butik. Karena kalau dia membeli baju pasti hanya ke pasar saja. Walaupun keluarganya itu merupakan keluarga yang mencukupi. Tapi tidak
membuat seorang Fatimah boros
“Oh iya! Mulai besok baju yang di lemari kamu itu di bagikan saja kepada yang membutuhkan ya. Kamu ganti baju baru saja ya dek..”
“Fati terserah mas saja..” ucapnya dengan pasrah
“Nurut banget sih jadi istri. Tapi mas bersyukur…” ucapnya sambil mencubit ujung hidung mancung nya Fatimah
“Aww..”
“Maaf mas gemes lihat nya..” Fatimah hanya mengganggukan kepala saja
“Ya sudah ayo kita masuk..” setelah mereka masuk mereka langsung diberi ruang khusus. Maklum pejabat tinggi ha ha
Mereka telah sampai bangunan yang menjulang yaitu perusahaan Barack. Seluruh karyawan menundukan kepala menandakan hormat kepada sang Presdir mereka. Fatimah terkagum kagum melihat ruangan Addry yang sangat manly
“Bagus banget mas ruangan mu..” Fatimah duduk disamping Addry
“Maaf dek mas baru kali ini membawamu ke perusahaan ini..” lirih nya Addry merasa malu kepada istrinya ini. Fatimah tersenyum mendengar ucapan suaminya
“Tidak usah di ungkit lagi mas. Fati sekarang sangat bahagia sekarang. Karena mas sudah mau menerima Fati..” ucapnya dengan tersenyum manis
“Mas mohon jika nanti ada terjadi apa-apa kamu jangan pernah pergi ninggalin mas ya dek..” mata Addry berkaca-kaca memandang kearah Fatimah
“Iya mas Fati tidak akan pernah ninggalin mas. Kecuali mas sendiri yang mengusir Fati dari kehidupan mu mas..” mereka berpelukan dan tertidur di sofa besar yang berada di ruangan kerjanya Addry
“Dek sudah belum…” ucap Addry yang sudah lama menunggu Fatimah di ruangan televisi. Tapi tak juga ada jawaban dari istrinya. Addry pun panik takut terjadi apa-apa terhadap istri dan calon bayinya. Sehingga Addry pun ingin menyusul istrinya di kamar mereka. Tapi baru saja meninjakkan kaki dan
Deg…….
__ADS_1