
"Aku Rindu masa-masa kecil Kita, Kak. Aku rindu Kak Akash," Bumi akhirnya mengucapkan kalimat yang sedari awal pertemuannya dengan Akash selalu tertahan di tenggorokan.
"Jadi tiga belas tahun di sana itu ngapain aja sampai lupa sholat?" Akas memang tidak pernah bisa basa-basi.
Bumi tertawa kecil seraya merapikan rambut yang menutupi wajah karena tertiup angin.
"Aku seperti seseorang yang diasingkan, Kak. Aku saat itu marah karena satupun doaku gak ada yang dikabulkan. Aku minta supaya papa hidup lagi, gak dikabulin. Aku minta supaya mama jemput Aku untuk kembali ke sini gak dikabulin. Aku minta supaya bisa sedikit aja tahu kabar Kak Akash masih gak dikabulin juga. Jadi buat apa sholat?"
"Laut yang selalu melarangku ikut saat mereka mau ke sana." Akash mulai terbawa perasaan.
"Iya, Kak Laut selalu bilang Aku harus tahu diri. Seperti yang Kakak bilang saat pertemuan terakhir Kita Langit dan Bumi tidak akan bisa sama, Angsa jelek. Nama kita sudah menjelaskan bagaimana seharusnya posisi Kita!"
Bumi kembali mengulang kalimat Akash beberapa tahun yang lalu.
"Itu hanya kalimat yang keluar dari seorang anak yang sedang marah dan bersedih karena ditinggal seorang Ayah. Bagaimana bisa Kamu mengingatnya sampai sekarang," Akash sudah merubah panggilannya pada Bumi tanpa Dia sadari.
"Tapi bagi Kak Laut dan aku artinya beda, Kak. Tapi Aku beruntung sekarang Kakak udah mau bicara lagi denganku. Senggaknya semua terjadi sebelum Kakak benar-benar menikah." Bumi melirik ke arah Akash.
"Apa nggak ada yang melarangmu berpakaian seperti Ini? Maaf, bukannya bermaksud menyinggung bukannya di sana itu kampung dan kental sekali dengan suasana religi?" Akash risih sekali dengan beberapa bagian tubuh Bumi yang menonjol.
"Aku tidak pernah dekat dengan mereka. Saat sekolah Aku hanya berteman dengan dua orang yang satu server dan memiliki kiblat fashion yang sama."
"Kiblat fashion gimana maksudnya?" Akash mengerenyitkan dahi.
"Aku lebih senang nonton drama Korea aja di rumah saat mulai memasuki usia remaja, daripada harus main di luaran dan bergaul sama anak-anak seusiaku. Mereka itu kelihatannya aja alim padahal di belakangku suka ghibahin Aku juga." Bumi kembali teringat dengan beberapa teman mengajinya yang tanpa sengaja Bumi menciduk Mereka sedang membicarakan Bumi. Mereka bilang Bumi itu sangat menyedihkan, ponselnya kurang bagus, malu sebetulnya berteman dengan Bumi yang cuma cucu seorang paraji.
"Apa yang mereka bicarakan?" Akash penasaran.
__ADS_1
"Gak usah tahu. Aku bukan tipe orang yang suka menyebarkan aib orang." Bumi menatap sinis Akash.
"Jadi Kamu suka drama Korea sampai terbawa-bawa berpakaian seperti mereka?" tanya Akas.
"Aku nyaman kayak gini, kalau Kak Akash gak suka juga temenan sama Aku silahkan pergi lagi. Sana menjauh!" Bumi mendorong pelan bahu Akash.
Akash terlihat sedikit berpikir untuk kembali membawa Bumi ke mana seharusnya dia melangkah.
"Sayangnya Aku suka," jawab Akash di luar dugaan Bumi. Bumi sedikit salah tingkah.
"Apaan sih bilang-bilang suka sama anak orang, kalau baper gimana?" Bumi mendelik kesal.
"Kalau baper ya tinggal dipacarin," jawab Akash santai.
"Mana ada santri pacaran? lagian aneh sih udah jadi santri pakaian masih kayak gitu. Pake sarung dan koko sana ajarin anak-anak baca Iqro!" Bumi menjulurkan lidah di akhir kalimatnya.
Akash mulai menceritakan kehidupannya setelah kepergian Bumi itu. Bagaimana akhirnya ia lebih memilih membuat usaha sendiri dan berhasil seperti sekarang. Bahkan Dia juga sudah jarang pulang ke rumah karena sadar sudah sangat jauh membuat Umminya kecewa. Dia juga menceritakan bagaimana akhirnya bisa dijodohkan dengan Rere.
"Aku gak cinta sama Rere!" kalimat itu meluncur tanpa beban dan tanpa rasa bersalah sedikitpun pada Rere.
Bumi sedikit merasa senang mendengarnya. Namun, tetap tidak akan membuat mereka batal menikah kan?
"Tapi Kamu gak bisa kan lari dari perjodohan ini? Aku lihat Rere cinta sama Kakak!"
"Aku lagi mikir gimana buat gagalin pernikahan ini walaupun harus kembali menyakiti keluargaku," ujar Akash. Setelah dirasa pembicaraannya dengan Bumi menemukan titik terang dan mengerti alasan Bumi bisa menjalani hidup seperti ini walaupun tidak bisa dibenarkan, Akash mengantar Bumi pulang dengan motornya walau sangat risih dengan celana pendek yang dikenakan Bumi.
****
__ADS_1
Seminggu sudah Bumi bekerja di rumah sakit itu. Sang Nenek yang selalu merajuk pun sudah pulang dengan kondisi yang membaik. Hari itu Bumi mendapat libur tepat di hari Minggu. Dia sengaja sekali bermalas-malasan dan bangun siang. Ayas sudah mengetuk pintu kamarnya saat sarapan, namun tidak ada jawaban. Sampai pukul 10.00 tidak ada tanda-tanda Bumi sudah bangun. Padahal di bawah Laut dan pasukannya sudah sedari 30 menit yang lalu berkumpul. Termasuk ada Rere di sana.
"Kalian kapan sih nikahnya? Nunggu apalagi coba?" tanya Laut pada Rere dan Akash seperti sengaja sekali agar Akash berhenti mendekati Bumi.
"Aku belum siap, kayaknya butuh mental yang kuat buat jadi seorang istri seorang anak Kiai. Aku belum mau menutup segala keindahan yang ada pada tubuhku ini." Rere mengibaskan rambut panjangnya yang selalu mendapat perawatan mahal.
"Batalin aja kalau emang gak kuat mentalnya," ujar Akash santai tanpa memalingkan tatapannya dari layar ponsel.
"Enak aja dibatalin, Aku udah terlanjur sayang ya sama Kamu!" jawab Rere dengan sura parau seperti hendak menangis antara kesal dan malu karena Akash bicara seperti itu di hadapan teman-temannya bahkan bawahannya jika sedang berada di kantor.
Selama ini Laut, Damar, dan Aldric memang bekerja di perusahaan orang tua Rere. Persahabatan mereka terjalin sudah sedari SMA bahkan hingga kuliah. Kecuali Ayesha yang saat kuliah terpisah dengan Mereka.
"Udah dong, baru juga ngumpul udah gak enak gini suasana. Jangan baper gitu deh!" Aldric mulai mencairkan suasana dengan menenangkan Rere.
"Aku mau pulang aja deh!" Rere bersiap-siap mengambil tas kecil dan ponselnya lalu beranjak. Akash sama sekali tidak peduli.
"Urus bos lo, Al!" Laut menyuruh Aldric untuk mengejar Rere yang mulai melenggang pergi.
"Kenapa gak calon suaminya aja sih?" Aldric enggan beranjak.
"Kalau doi mau juga, gue gak mungkin nyuruh lo. Di sini yang gak ada pasangan kan cuma lo. Kalau gue atau Damar yang urus ini gimana Ibu negara bisa-bisa melayangkan surat peringatan." Laut mencari alasan sambil melirik Lila dan Ayesha bergantian.
"Nyusahin emang punya bos, kalau bukan bos ogah gue selalu jadi tameng saat kalian berantem gini," Aldric berlalu meninggalkan mereka tanpa pamit, trtapi sempat menendang betis Akash dengan pinggiran kakinya.
"Makasih, bro. Ini gak gratis kok!" teriak Akash akhirnya tersenyum penuh kemenangan.
"Pada berisik banget sih teriak-teriak sampai ganggu orang tidur." Bumi duduk di tangga dengan muka bantalnya dan masih memakai piyama pendek yang selalu mengekspos tubuhnya. Rambutnya dikucir kuda dengan wajah sedikit basah habis mencuci muka.
__ADS_1