Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
151


__ADS_3

Waktu melesat bak anak panah. Hari, minggu dan bulan berlalu. Ketiga anak Bumi dan Akash sudah selesai mengikuti UN sejak seminggu yang lalu. Kini, tinggal Atar yang sedang menanti ujian sekolah dasarnya. Anak itu meski baru akan lulus Sekolah Dasar, namun tingginya sudah melebihi Ara.


Sore itu keempatnya sedang berkumpul di halaman belakang sambil menikmati bubur kacang hijau buatan bunda. Beberapa menit sebelumnya sudah melakukan panggilan video pada uti dan juga Jida. Sudah lama memang tak bertemu, membuat kedua nenek itu protes sebab mereka tak pernah datang berkunjung.


"Jadi ke rumah siapa dulu, Bang? uti atau Jida?" tanya Atar yang duduk di sebelah Ara. Bicara dengan mulut penuh bubur kacang hijau.


"Adek, kalau makan jangan sambil ngomong!" seru Ara seraya mengelap pinggir bibir Atar yang belepotan. Membuat anak baru gede itu membulatkan mata.


"Teteh, kenapa manis banget sih? aku makin suka," seloroh Atar dan dihadiahi lemparan tisu bekas dari Ara.


"Lagian lo sih, Pil. Anak kecil lo baperin juga. Nggak ngotak lo," omel Aro membuat abangnya ikut geram dan angkat bicara.


"Kamu tuh kalau ngomong sama Ara bisa halus nggak sih, Mas?"


"Enggak, kenapa?" tantang Aro seraya memukul meja.


"Idiih kok jadi berantem sih, kabuuur ah ...." Atar beranjak membawa mangkok kosongnya dan berlari ke dalam rumah. Tak peduli apa yang akan terjadi dengan kedua kakak kembarnya yang memang selalu ribut setiap hari.


"Namanya tuh Ara, bagus-bagus bunda kasih dia nama kamu malah manggil dia upil!" sentak Akhza, telunjuknya terangkat tepat di depan wajah Aro.


"Abang, udah Bang. Nggak enak kalau bunda denger," lerai Ara, dirinya beranjak mendekati Akhza. Sementara Aro tak terima dirinya ditunjuk seperti itu. Apalagi penyebabnya adalah Ara.


"Lo lebih belain anak pungut dari pada adik lo sendiri, Bang?" tuduh Aro seraya berdiri dan mendorong bahu Ara agar menjauh dari Akhza.


"Ini bukan siapa belain siapa, ini masalah kamu yang selalu kasar sama Ara." Akhza ikut berdiri. Keduanya berhadapan dengan dada saling membusung.


"Abang, udah, Bang!" Ara menarik pergelangan tangan Akhza agar tak tersulut emosi oleh Aro.


"Gila, keren lo berdua. Romantis," cibir Aro membuat emosi Akhza semakin tersulut.

__ADS_1


Akhza menarik tangannya yang masih dipegang Ara. Kemudian tinjunya mengudara tepat di wajah mulus Ara. Kenapa Ara? ya, Ara langsung sigap berdiri menghalangi Aro saat dirinya melihat tinju Akhza melayang.


Ara refleks mengaduh memegangi pipinya yang terasa sakit dan panas. Akhza tak lagi peduli pada Aro, ia panik memeriksa keadaan adik perempuannya.


Akhza menangkup pipi Ara. Tonjokkannya mengakibatkan pipi mulus itu merah.


"Kamu kenapa halangin dia?" panik Akhza mengusap pipi sebelah kanan Ara. Binar sesal terpancar dari sorot mata Akhza saat menatap wajah Ara.


"Gila, pengen muntah gue lihatnya. Inget woy! kalian berdua tuh masih di bawah umur," sungut Aro seraya pergi, sudah tak peduli lagi pada bubur kacang hijaunya yang masih tersisa di mangkuk. Mungkin sudah dingin, sedingin pemiliknya.


"Abang nggak usah kayak gini cuma buat belain aku," protes Ara seraya menepis tangan Akhza agar melepaskan pipinya.


Akhza menarik napas dalam seraya beristighfar, menyesali perbuatannya.


"Abang minta maaf ya, sama Mas Ar," ujar Ara, " aku duluan ke kamar," imbuhnya seraya pergi meninggalkan Akhza yang masih merutuki kesalahannya. Dia memandangi kepergian Ara dengan hati penuh tanya. Mengapa Ara selalu terkesan membela Aro? mengapa dirinya tak pernah marah padahal Aro selalu menyakitinya? bahkan dengan senang hati selalu mencucikan sepatu Aro.


"Kamu suka sama Aro, Neng?" gumam Akhza dengan perasaan sedih.


Aro juga mengobrak-abrik meja belajar Ara. Buku tulis beserta novel yang awalnya tersusun rapi berhasil diacak Aro hingga berantakan di atas lantai bahkan ada beberapa yang sampulnya sobek.


Begitu Ara sampai di kamarnya, ia kaget melihat kamar sudah diacak-acak oleh Aro. Matanya nanar memandang tumpukan novel kesayangannya tergeletak di atas lantai. Bahkan al-Qur'annya juga.


"Mas Ar ...." pekik Ara langsung mengambil al-Qur'an dan memeluknya.


Aro berjalan ke arah pintu lalu menguncinya dan segera beranjak kembali ke hadapan Ara yang sedang memunguti novel-novelnya.


"Kapan lo mau angkat kaki dari sini?" sentak Aro mendorong bahu Ara.


"Mas Ar kenapa sih jahat banget sama aku? salah aku apa, Mas? aku selama ini selalu baik sama Mas Ar. Tapi kenapa Mas Ar nggak pernah sedikit pun lihat kebaikan aku? kenapa, Mas?" cecar Ara dengan suara lirih menahan tangis.

__ADS_1


"Salah lo itu udah bikin ayah dan bunda membagi kasih sayang mereka buat lo, bahkan bunda sering muji-muji lo daripada gue. Gue benci sama lo!" tegas Aro kembali mengambil novel di tangan Ara dan melemparnya ke lantai.


"Lo tahu, lo itu cuma anak haram. Itu yang bikin gue jijik sama lo!"


Aro pergi setelah memastikan Ara menangis dan terluka. Namun, baru membuka pintu dia kembali menghampiri Ara yang sedang bersimpuh menatap buku dan novel yang berantakan.


"Kalau lo mau tahu, hati gue lebih berantakan dari ini," tunjuk Aro pada tumpukan buku dan novel. Kemudian segera berlalu, sakit kupingnya mendengar rintihan tangis Ara.


Beberapa saat Ara hanya diam menikmati tangis, belum berniat membereskan kamarnya yang berantakan. Hingga akhirnya, Bumi datang ke kamarnya.


"Sayang, ada apa ini?" Bumi kaget, melihat kamar dan si empunya sama-sama berantakan.


"Sayang, ada apa?" Bumi kembali bertanya seraya memeluk tubuh putrinya.


Ara kembali menumpahkan tangisnya dalan pelukan bundanya. Bumi mengusap punggung Ara, memberinya ketenangan.


"Sudah, Sayang. Jangan nangis terus," bujuk Bumi, mendorong pelan bahu Ara agar dapat melihat wajah putrinya.


"Bunda, aku mau pindah aja ya?" pinta Ara. Sekuat apa pun Ara bertahan, Aro nyatanya tak pernah suka. Sebaik apapun Ara padanya, Aro hanya menganggapnya upil. Kotor dan tak ada gunanya.


"Sayang, nggak boleh. Bunda nggak mau jauh dari Ara." Bumi menangkup kedua pipi Ara, menghujaninya dengan kecupan. Terasa asin sebab wajah Ara banjir air mata.


"Ara nggak mau bikin Mas Ar nggak nyaman dengan keberadaan Ara." Ara mengiba, dia hanya ingin keluarga ini selalu utuh. Bila memang kepergiannya bisa membuat Aro nyaman, ia rela pergi walau itu berarti akan jauh dari ayah dan bunda.


"Kalaupun harus ada yang pergi, Bunda lebih ingin mas Ar dan abang yang pergi." Ucapan Bumi membuat Ara terkejut.


"Bunda, mas Ar bisa makin benci kalau kayak gitu." Ara tak setuju dengan perkataan Bumi.


Bumi menarik tangannya dari wajah Ara. Dia tangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya. Ingat dengan apa yang dulu diucapkan oleh Zahra dan Ummi. Putra putrinya kini seolah terjerat sebuah perasaan yang membuat mereka sulit menerima keadaan.

__ADS_1


Bumi diam bukan berarti tak tahu apa yang terjadi antara Akhza dan Ara. Dia hanya tak ingin membuat anak-anaknya tak nyaman. Bumi menghela napas dalam. Kali ini dirinya harus mengambil keputusan. Benar kata Ummi, nyatanya tidak baik menempatkan anak-anaknya dalam satu rumah.


__ADS_2