
Mencuci piring dibantu oleh Sang pujaan hati tentu saja membuat Bumi berharap semakin banyak saja piring kotor. Setidaknya Bumi masih memiliki waktu tiga minggu untuk menghabiskan hari-hari bersama Akash. Selesai semua anggota keluarga makan malam dan cucian piringpun sudah rapi Bumi memutuskan untuk menemui Uti yang sudah berbaring di kamar Sang Mama.
"Utii! Bumi duduk di tepi tempat tidur dan langsung mengurut pergelangan kaki utinya.
"Eeh cucu uti, belum tidur?" Uti beranjak dari temoatnya berbaring. Memilih duduk bersandar pada headboard tempat tidur.
"Aku kangen deh sama Uti, lebih baik Uti di sini saja sama Kita. Biar paman Yudis saja yang jaga rumah." Bumi tak menghentikan tangannya yang sekarang mulai memijat betis Uti. Memberikan kenyamanan.
"Uti besok langsung pulang, lagipula nanti justru Mama yang akan tinggal di kampung bersama Uti." Sang Mama yang baru masuk kamar menjawab permintaan Bumi yang tadi dia lontarkan pada Uti nya.
"Kenapa gitu sih, Mam? Aku sama siapa nanti?" Bumi bertanya sekaligus protes.
"Kan nanti Ayesha tinggal di sini, Lagipula paman Yudis itu mau nikah. Dia nanti pindah ke tempat tinggal istrinya di desa sebelah kan ya, Bu?" Ayas memastikan jawabannya pada Uti.
"Iya, Paman Yudis sebulan lagi menikah. Alhamdullillah Dia berjodoh dengan seorang keponakan Kiayi dari desa sebelah. Usia calon Bibi Kamu memang 7 tahun lebih tua dari Pamanmu. Tapi Uti bersyukur di akhir penantiannya justru Yudis mendapatkan wanita sholehah." Uti panjang lebar menjelaskan tentang Paman Yudis.
Bumi tak menjawab, sejenak memikirkan sesuatu. Pikirannya berkecamuk pada kesiapan hatinya saat nanti melihat Akash mengucap ijab kabul dengan Rere. Tubuhnya tak akan mengeluarkan darah tapi hatinya yang terluka. Bagaimana Bumi menjalani hari tanpa adanya Sang Mama di sampingnya. Laut juga tidak akan bisa terus dijadikan sandaran saat sudah memiliki istri nanti.
"Ini mendadak sekali sih Mam?" Bumi bertanya pada Ayas yang duduk dengan posisi sama seperti Uti.
"Tidak mendadak, hanya Mama belum sempat cerita saja. Lebih baik Kamu tidur. Besok Kita harus berangkat pagi mengantar seserahan ke rumah Ayesha. Sana tidur." Ayas meraih pipi putri tercintanya dengan sebelah tangan lalu mengusapnya lembut. Bumi mengangguk. Bergantian memeluk Ayas dan Uti lalu pergi meninggalkan kamar.
Bumi membuka pintu kamarnya, mengintip sebentar. Ternyata Lila sudah tidur bersama Rina dan Nana. Bumi kembali menutup pintu itu perlahan dan memilih masuk ke kamar Lauy yang masih terbuka. Sangat hati-hati Bumi melewati saudaranya yang tidur menggelar kasur lantai.
"Kak Laut, kenapa nggak cerita sih paman Yudis mau menikah?" Bumi langsung melayangkan pertanyaan pada Kakaknya yang sedang asyik membahas sesuatu bersama kedua sahabatnya. Bumi duduk di tengah-tengah antara Akash dan Laut.
"Di sana masih ada tempat, kenapa mesti duduk di situ sih?" Damar protes dengan kelakuan Bumi.
"Suka-suka Aku dong, protes terus kayak netizen." Bumi mencebikkan bibirnya dibalas Damar dengan melemparinya puntung rokok.
"Iiih jorok banget sih, lagian kenapa sih merokok di dalam kamar?" Bumi membalas perbuatan Damar dengan melemparkan tisu bekas yang sedari tadi dia pegang.
"Jorok ih, bekas ingus Lo pasti tuh." Damar menatap jijik ke arah Bumi.
__ADS_1
"Kalian bisa nggak sih jangan ribut terus?" Akash melerai keduanya.
"Bisa, asal Dia diam." Bumi menunjuk tepat di wajah Damar.
"Diam dulu deh, Mar!" Perintah Laut. Damar menurut. Dia memilih naik ke atas tempat tidur dan membuka aplikasi game kesukaannya.
"Jadi Paman Yudis mau menikah?" Bumi mengulang pertanyaanya. Akash menggeser sedikit tubuhnya. Terlalu menempel dengan tubuh Bumi membuatnya sangat risih.
"Iya, sebulan lagi. Sama persis dengan hari pernikahan Akash." Jawab Laut.
"Jangan bahas pernikahan Gue deh, Gue yakin banget nggak akan terjadi." Akash paling tidak suka jika ada yang menyinggung tentang hari pernikahannya.
"Bukannya surat undangannya saja sudah dicetak ya, Kak?" Bumi malah memperjelas kenyataannya.
"Bumi, Kita kan sudah sepakat buat nggak bahas masalah ini. Kita nikmati saja waktu Kita. Kamu jangan ikut mikirin pernikahan yang bisa saja gagal itu." Akash menatap Bumi dengan mata sayu. Pria itu pasti sedang sedih dan frustasi dengan kenyataan hidup yang harus dijalani.
"Ini kenapa jadi drama sih Kalian berdua. Kamu mau bicara sama Kakak atau Akash sih?" Laut menatap bergatian kedua insan di sampingnya itu.
"Ya sama Kalian berdua, jawab dulu kenapa nggak cerita?" Bumi merengek seraya menarik-narik kaos Kakaknya.
"Kakak juga tahu kalau Mama mau pulang kampung tinggal dengan Uti?" tanya Bumi lagi, kali ini seraya mencubit perut Laut.
"Kamu tuh kasar sekali sih, sakit tahu!" Laut mengusap-usap bekas cubitan adiknya yang padahal tidak sakit. Dia sengaja melakukannya agar Bumi merasa bersalah.
"Maaf, perasaan cubitannya pelan." Bumi membela diri.
"Biarpun Mama pindah, kan ada Kakak ada Ayesha juga. Kasihan Uti kalau sendirian. Rumah itu juga sekarang sedang diproses balik nama atas nama Kamu." Perkataan Laut membuat Bumi semakin heran.
"Mama membayar rumah itu dari hasil tabungannya dan juga uang Kamu," Laut melanjutkan kalimatnya memperjelas duduk perkara.
"Aku punya uang dari mana?" Bumi semakin tidak mengerti. Gajinya saja selalu habis tak tersisa dipakai jajan dan membeli pakaian. Belum lagi membeli skincare yang mahal itu.
"Dari Kakak lah, Kakak tuh dikasih uang 30 juta oleh Rere sebagai kado pernikahan. Tapi Kakak berikan lagi untuk Kamu." ucapan Laut cukup membuat Bumi paham.
__ADS_1
"Kenapa nggak dikasih lihat dulu ke Aku sih uangnya? Pengen lihat Aku juga." Bumi penasaran seberapa banyak sih uang 30 juta itu.
"Nanti Kamu pakai buat pergi ke Korea pastinya." Tebak Laut mengacaka rambut Bumi yang dibiarkan terurai. Aroma shamponya sampai tercium oleh hidung Akash.
"Bilangnya cinta sama Aku tapi masih saja mikirin artis Korea," ucap Akash menyindir Bumi. Bumi tertawa kecil seraya merapikan poni depannya.
"Kamu itu seperti artis Korea. Cuma bisa dikagumi nggak bisa dimiliki." Bumi tertawa lirih. Laut yakin ada hati yang berdarah dibalik tawa yang dibuat Bumi.
"Dan Kamu sama seperti kemerdekaan, sama-sama butuh diperjuangkan." Entah mengapa bisa-bisanya Akash menggombal seperti itu membuat Damar yang sedang bermain game memilih melepaskan ponsel dan kembalu ikut duduk di karpet.
"Sejak kapan Lo bisa gombal gitu. Sejarah banget ini sih." Damar bertepuk tangan Lalu menepuk bahu Akash berkali-kali.
"Bumi, Lo nanti jadi simpenan Akash aja." Damar memberikan sebuah usulan yang menakutkan.
"Enak saja, emangnya adek Gue ada tampang pelakor?" Laut memukul dahi Damar dengan ponselnya.
"Eeh enak lagi jadi simpenan biasanya lebih disayang." Ujar Damar yang kali ini mendapat tonjokan dari Akash di lengannya.
"Nggak mau, nggak enak!" teriak Bumi menutup kedua telinganya. Tidak mau mendengar teriakannya sendiri.
"Nggak enak di mananya? sekarang aja Lo lebih disayang," ucap Damar melirik jahil Akash.
"Nggak enak lah Kak, nggak bakal diajak bikin anak." Bumi langsung berlari meninggalkan ketiga pria yang melongo menatap kepergiannya.
Bumi memang senang sekali menggoda Akash dengan tingkah genit dan jahilnya. Selalu ada gombalan yang Dia lontarkan pada Akash. Tentu saja membuat Akash semakin susah melepaskannya.
"Bumi Bumi, pantesan Lo ngebet banget sama Dia. Berani banget mulutnya kalau ngomong." Damar bertepum tangan.
"Jangan mikir macam-macam Lo, Gue sama Dia nggak pernah berbuat aneh-aneh." Akash bersiap melayangkan tinju jika Damar berani bergosip.
"Percaya dah Gue, baru mau Lo mulai aja pasti dalam bayangan Lo udah ada muka Ummi yang lagi ceramah mimpin pengajian. Belom wajah Abah Lo. Kebayang nggak tuh?" Damar cekikikan seraya kembali ke tempat tidur dan melanjutkan permainan gamenya.
"Gue nggak pernah ya lebih dari meluk Dia, nggak pernah Gue ngapa-ngapain Dia." Kali ini Akash memberi penjelasan pada Laut yang sedari tadi menatapnya tajam.
__ADS_1
"Hahaha Gue percaya, santai saja. Gue becanda." Laut malah tertawa dan dibalas dengan dengusan kesal oleh Akash.
Dia sudah sangat takut dituduh macam-macam nyatanya tatapan tajam Laut hanya pura-pura.