Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
68


__ADS_3

Bumi memasuki rumah dengan menghentak-hentakan Kaki dan terus menggerutu Yudis. Yudis yang mengikutinya dari belakang hanya tertawa sebagai jawaban.


"Paman tuh ngeselin banget," Bumi memukul lengan pamannya.


"Hei kenapa kalian ini?" tanya Ayas. Semuanya sedang berkumpul di ruang tamu termasuk Ayesha yang sudah terlihat lebih segar.


"Aku dibikin malu sama Paman," adu Bumi pada Ayas seraya mendudukan diri di sampingnya.


"Malu gimana? yang penting kan bayar!" Yudis membela diri.


"Iya tapi dibayarin orang lain, paman tuh iih.... " Bumi menggeram kesal.


"Kenapa sih?" tanya Laut penasaran.


"Ditraktir cowok bersarung di hari pertama kenalan kan lucu," ujar Yudis yang langsung mengubah air muka Akash saat mendengarnya. Wajahnya tadi tersenyum tipis melihat tingkah Bumi. Sekarang menjadi bermuram durja.


"Paman, Aku nggak niat ya kenalan sama Dia!" bentak Bumi.


"Bumi, koq bentak-bentak?" Laut mengingatkan.


"Sudah Kamu kenalkan dengan Hafidz?" tanya Uti menyelidik Yudis. Yudis mengangguk.


"Aku nggak mau ya kalian jodoh-jodohin," suara Bumi mulai bergetar. Dia beranjak dari duduknya, "Aku permisi," lanjutnya kemudian menatap Akash sekilas, mengiba.


"Aku nggak tahu Dia akan semarah itu." Yudis membela diri saat Ayas dan Laut menatapnya tajam.


"Biar Aku yang bicara," usul Ayesha.


"Jangan Sha, Dia nggak akan terima omongan siapapun kalau lagi kayak gitu." Cegah Akash, dadanya sedang bergemuruh cemburu. Kemudian katanya lagi, "biarin sendiri dulu."


Laut yang mendengar hal itu terucap dari Akash menyesali satu hal, Akash lebih mengerti adiknya daripada dirinya sendiri. Suasana jadi hening seketika. Satu persatu Mereka meninggalkan ruangan. Menyisakan Akash dalam kebisuan dan kegundahan. Urusan Sandi belum selesai kenapa sekarang ada lagi urusan lain.


****


Di kamarnya Bumi merebahkan diri memeluk guling. Lelehan si bening dari pelupuk matanya terasa hangat mengalir di pipi. Menggulirkan ponsel di bagian kontak. Ingin membuka blokiran pada nomor Akash tapi kembali di urungkan.


Ingatannya tertuju kembali pada kejadian beberapa menit lalu itu.


Flash back on


"Saya, Hafidz." Pria itu memperkenalkan diri.


Bumi tidak menjawabnya, toh tadi sudah dikenalkan oleh Yudis. Hafidz sendiri merupakan adik sepupu calon istri paman Yudis yang baru diketahui Bumi bernama Siti Rikhamah, biasanya dipanggil Lili.


"Mas Yudis berternak bebeknya jago ya," puji Hafidz.


Sebenarnya pria itu sangat menarik dipandang lama-lama. Tidak setampan Akash memang. Tapi wajahnya terlihat ramah. Bagi Bumi tetao saja wajah itu tidak dapat memalingkan dunianya.


"Kebetulan saja, Alhamdullillah berhasil."

__ADS_1


Pertemuan Yudis dan Lili memang unik. Saat itu paman Yudis sering mancing di kali dekat perkebunan yang dimiliki Kiayi Ma'sum, Ayah dari Hafidz sekaligus paman Lili. Lili yang sering mengantar makan siang bagi Paman dan para santrinya akhirnya bertemu dengan Yudis. Singkat cerita, Yudis jatuh cinta pada Lili.


Sempat minder karena tidak memiliki pekerjaa tapi tetap mau berusaha. Akhirnya niatan baiknya itu dia utarakan pada Kiayi Ma'sum. Dayung bersambut, Kiayi Ma'sum nyatanya menanggapi positif niatan Yudis.


Jadilah semenjak itu Yudis gencar memikirkan usaha apa yang cocok. Berternak bebek menjadi pilihannya. Bahkan ternak bebeknya sangat didukung oleh Kiayi Ma'sum dengan menyediakan tempat di dekat kediamannya. Di sana juga terdapat rumah yang masih dalam tahap penmbangunan kala itu. Kini sudah rampung dan akan menjadi tempat tinggal Yudis bersama Lili selanjutnya.


Lili tumbuh dan besar dalam pengasuhan Kiayi Ma'sum dan istrinya yang biasa dipanggil Wa Endah. Kedua orang tua Lili yang mana adalah Ibunya Kakak dari Kiayi Ma'sum meninggal saat terjadi longsor berpuluh-puluh tahun lalu. Saat kejadian Lili memang sedang menginap di kediaman Kiayi Ma'sum. Dan itu rencana Allah untuk tetap memberikan kehidupan bagi Lili.


"Bumi masih kuliah atau kerja?" tanya Hafidz beramah tamah.


"Kerja, perawat, di Jakarta." Jawab Bumi, singkat pada, jelas dan jutek.


Hafidz sampai tidak berani lagi bicara. Setelah itu Yudis mengajak keduanya untuk makan bakso yang berada tak jauh dari warung kopi itu.


Kepulan uap saat sang tukang bakso membuka tutup pancinya memang sangat menggiurkan. Membuat cacing dalam perut meronta meminta jatahnya.


Seperti biasa, Bumi memesan bakso tanpa mie ataupun sayur namun, dua porsi dalam satu mangkuk.


"Kecil-kecil makannya banyak," sindir Yudis yang langsung mendapat cebikan dari bibir Bumi.


"Cewek biasanya makannya malu-malu," ucap Hafidz seraya mengelap saus di ujung bibirnya. Lalu katanya lagi, "Kamu malah cuek banget."


Bumi tak menjawab, hanya tersenyum mengangguk dengan pipi mengembung penuh bakso.


Setelah selesai makan dengan perut kenyang, Bumi meminta uang pada Yudis untuk membayar bakso. Namun, nyatanya Yudis lupa membawa dompet. Sedangkan Bumi sendiri memang tidak mengantongi uang sepeserpun. Dompetnya sengaja tidak dia bawa.


Alhasil hal tersebutlah yang membuat Bumi uring-uringan pada Yudis. Terlebih saat perjalan pulang, Yudis berkata bahwa Uti akan menjodohkannya dengan Hafidz. Jadilah suasana hati Bumi kacau.


Flash back off


******


Sanak keluarga yang lain seperti adik dan keponakan Uti mulai berdatangan sore itu. Sementara Bumi masih enggan meninggalkan kamar. Sedari shalat dhuhur Dia hanya mengambil wudhu, bahkan asharnya belum Dia laksanakan karena malas sekali bertemu Yudis.


"Laut, Kamu panggil Bumi sana!" titah Ayas.


"Nggak berani, Mam." Tolak Laut yang sedang menghias kotak kue dengan pita.


"Aku saja yang manggil, boleh?" tawar Akash.


"Iya, boleh. Suruh makan dulu lalu sholat ashar." Jelas Ayas.


Akash beranjak menuju kamar Bumi. Sebelumnya Dia pergi ke kamarnya mengambil bungkusan kecil dari dalam ranselnya.


Ketukan pertama di pintu kamar tak mendapat respon. Ketukan berikutnya masih tak ada jawaban. Ketukan ketiga Akash sengaja seraya berteriak, "Bumi, buka pintu. Ini Aku," dan berhasil.


Bumi yang masih mengenakan hijab membuka pintu. Wajahnya masih ditekuk.


"Sholat ashar dulu!" titah Akash. Suaranya lembut, menenangkan saat didengar.

__ADS_1


Bumi mengangguk seraya beristighfar. Dia ketiduran serelah shalat dhuhur tadi.


"Ini buay Kamu," Akash menyodorkan bungkusan yang dia ambil dari tasnya itu.


"Apa ini Kak?" tanya Bumi penasaran.


"Shalat aja dulu, nanti keburu akhir." Saran Akash yang langsung diangguki Bumi. Bibirnya kini mengukir senyum.


Bumi menaruh bungkusan itu ke atas tempat tidur kemudian kembali ke luar kamar menuju belakang rumah untuk wudhu.


Setelah menyapa dan bersalaman dengan keluarga Bumi cepat-cepat melakukan tujuannya. Rasa penasaran dan takut waktu asharnya habis membuatnya berlari-lari kecil menuju kamar.


Setelah acara shalat selesai, Bumi segera menyambar bungkusan tadi. Dibukanya secara perlahan. Kain berbahan platinum buble crepe dengan ukuran 215x75 nampak dari balik bungkusan itu. Sebuah pashmina instan berwarna pink nude dengan desain sederhana. Pet nya yang antem, alias anti tembem pasti akan sangat nyaman saat dipakai.


Bumi tentu senang, dilepasnya mukena lalu segera memakai hijab itu dan mematut di depan cermin. Dada hingga perutnya tertutup sempurna. Sangat simple namun nyaman dipakai. Kedua sisi bibir Bumi tertarik ke atas menyuguhkan senyum manis yang menawan.


Tanpa membuka hijabnya, Bumi melenggang keluar kamar setelah sebelumnya mengambil hijab yang Ayas berikan tadi. Dia langsung menghampiri Ayas dan yang lain yang baru selesai menghias kotak kue di ruang tamu.


"Kak, makasih ya," Bumi tersenyum ke arah Akash. "Aku suka banget," imbuhnya.


Akash hanya tersenyum mengangguk. Hijab itu Dia beli saat menemani Laut membeli tespack. Di samping apotik yang mereka kunjungi ternyata terdapat herai pakaian muslim dan Akash langsung inisiatif membelikan hijab untuk Bumi.


"Ooh jadi tadi bikin Gue nunggu di mobil itu beli hijab buat Bumi?" todong Laut.


Akash hanya mengangguk lagi-lagi tersenyum. Sementara Laut mendengua kesal. Pasalnya cukup lama tadi Dia menunggui Akash pergi.


"Kakak koq bisa milih model simple gini?" tanya Bumi.


"Aku tanya ke penjualnya, hijab buat pemula supaya gampang dipakai." Jawab Akash, membuat Bumu kembalu berseru senang.


"Kamu calon suami idaman banget, Kak."


"Calon suami orang, dek." Ralat Laut kembalu menghadirkan muka masam di wajah Bumi.


Bumi mengembalikan hijab milik Ayas, tanpa patahan kata Dia kembali ke kamar dengan bermuram durja. Hatinya menjadi sensitif belakangan ini.


"Lo sih pake ngomong gitu," gerutu Akash. "Marah lagi kan Dia," tambahnya. Laut hanya menggaruk tengkuk.


"Sayang, Aku juga mau." Rengek Ayesha.


"Mau apa?"


"Mau kayak Bumi."


"Mau merajuk?"


"Mau pashmina, sekarang." Rengek Ayesha dengan mata berkaca-kaca.


Laut menepuk jidatnya sendiri, benarkah istrinya memang hamil? dan mengidam pashmina instan?

__ADS_1


__ADS_2