Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
118


__ADS_3

Seharian itu Bumi tidak keluar kamar, Ummi sempat memintanya untuk pulang. Namun, Bumi menolak dengan alasan takut tambah pusing jika berkendaraan.


Seperti biasa, dirinya shalat magrib dan shalat isya seorang diri sebab Akash pergi ke masjid. Bumi enggan melepas mukena dan meringkuk begitu saja setelah melaksanakan shalat isyanya.


Pikirannya melayang pada perkataan Ummi tadi siang. Sedikit kecewa dalam hatinya karena Akash malah setuju dengan saran dari Ummi.


Terdengar pintu kamar terbuka, Bumi langsung mendudukkan diri dan tersenyum menyambut suaminya.


"Nggak apa-apa kamu tiduran aja, tapi buka dulu mukenanya." Tutur Akash seraya membuka tali mukena dan membantu melepaskannya dari kepala Bumi.


"Nanti nggak nyaman tidurnya," terang Akash, tangannya terangkat merapikan rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Kak, kita nggak jadi pindah?" tanya Bumi dengan sorot kecewa dan penuh harap. "Tadi sofa pesananku udah datang loh, Kak." Imbuhnya seraya buru-buru mengambil ponsel di bawah bantal untuk memperlihatkan gambar kiriman dari Teh Lina.


Bumi segera mencari gambar itu, dan memperlihatkan pada suaminya begitu ia menemukannya. Sofa berwarna hijau floral, warna kesukaannya. Dua berukuran kecil dan satu lagi berukuran panjang.


"Bagus, 'kan?" Bumi meminta pendapat suaminya.


Akash hanya mengangguk, ia bingung karena dirinya sendiri tidak dapat mengabulkan keinginan istrinya kali ini. Ia setuju dengan pendapat Ummi yang lebih menunda kepindahan mereka.


"Kamu kok diem aja, sih?" merasa tak dianggap, Bumi merajuk. Dia kesal karena merasa diacuhkan, suaminya hanya diam memandanginya.


"Aku nggak suka dicuekin gini," gerutu Bumi, turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi dengan menghentak-hentakan kakinya.


Akash khawatir dibuatnya, dia takut jika berjalan seperti itu akan berdampak pada kandungannya. Menurut dokter janinnya masih berusia 5 minggu. Masih dalam tahap rawan.


Bumi kembali dari kamar mandi dengan wajah yang basah dan bibir cemberut. Dia sudah tak lagi bicara, namun menampakkan sikap permusuhan terhadap suaminya. Tanpa menoleh pada suami yang sedsng memandanginya, ia berjalan menuju meja rias dan mengambil tisu untuk mengeringkan wajahnya.


Setelahnya ia mengambil hijab dan cardigan di balik pintu dan meninggalkan kamar tanpa patahan kata pada suaminya.


Akash menghirup udara dalam-dalam, berharap ada kelegaan yang masuk bersama udara yang dihirup. Dirinya tak mungkin membantah keinginan Ummi. Tapi, tak ingin pula membuat istrinya kecewa.


Dia ikut keluar dari kamar, bertanya pada Nina apakah melihat ke mana istrinya pergi.


"Mau ke rooftop, tapi Bang Akash dilarang menyusul katanya." Tutur Nina dengan wajah memelas. antara takut Akash yang marah atau malah Bumi yang marah.


Tanpa menjawab apa-apa Akash langsung kembali ke kamar dan mengambil selimut kemudian segera keluar kamar lagi, tujuannya adalah rooftop.

__ADS_1


"Bang, jangan disusul. Nanti Mbaknya marah sama saya." Nina mencegah Akash yang baru saja menaiki undakan anak tangga. Akash membawa kembali langkahnya menuju Nina.


"Kamu pikir, wanita jika sedang marah apa yang dia ucapkan benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkannya?"


Nina mengerutkan kening, tak mengerti dengan ucapan Akash.


"Mbak Nina kalau marah sama Bang Roni maunya dibujuk atau dibiarkan?"


"Dibujuk dong."


"Mbak Nina bilang mau dibujuk nggak ke Bang Roni?"


"Enggaklah, saya bilangnya nggak mau dideketin padahal berharap dibujuk juga."


Tanpa berkata apa-apa lagi Akash meninggalkan Nina yang mulai mengerti apa maksud perkataan bosnya itu.


"Udah ganteng, banyak duit, pengertian juga. Rezeki anak sholeh banget punya suami kayak gitu." Gumam Nina menatap punggung Akash yang sedang menaiki undakkan tangga.


***


Di rumah Ummi.


Dilihatnya kembali brosur lomba design yang diberikan Zahra tadi siang. Kakak perempuannya itu berharap Nadia mau turut serta dalam acara lomba yang akan diadakan oleh butik kakaknya itu.


"Biar kamu nggak memikirkan Hafidz terus, Nad."


Begitu bujuk Zahra. Meski seringnya bertengkar dengan Akash, kali ini Zahra mendukung seratus persen ide Akash. Zahra takut adik bungsunya tidak mendapatkan kehidupan yang layak saat pindah ke kampung suaminya nanti.


Sama dengan Akash, Zahrapun khawatir Nadia akan kesulitan beradaptasi dengan kehidupan sederhana Hafidz. Padahal Nadia sendiri berkata akan ikut ke manapun Hafidz membawanya. Nadia bisa belajar menerima keadaan. Nadia bahkan sempat melayangkan protes pada Nadia, mengapa begitu khawatir sementara ada Allah yang Maha Kaya.


Namun kembali Zahra memberinya alasan tentang kuliahnya yang masih belum selesai, hal itu membuat kedua kakaknya memperkuat alasan menunda pernikahan Nadia dan Hafidz.


Meski awalnya menolak. Nadia akhirnya bisa memerima keputusan yang dibuay oleh kedua Kakaknya itu. Dia sadar, itu semua tanda kedua kakaknya menyayanginya.


Pintu diketuk dari luar, Nadia beranjak untuk membuka. Tampak raut wajah dengan senyum hangat menyapanya.


"Masuk, Ummi." Nadia menggandeng tangan Umminya menuju tempay tidur. Keduanya duduk di sana.

__ADS_1


"Gimana kabar Hafidz?" Ummi mengusap lembut kepala putrinya yang terbungkus jilbab biru itu.


"Baik, Ummi. Sedang ikut sertifikasi. Do'akan lancar, Ummi." Tutur Nadia. Mengajaknya membicarakan nama Hafidz, membuat hatinya berbunga-bunga. Jatuh cinta memang sangat memabukkan, hanya menyebut namanya saja jantung sudah tak karuan berdetaknya.


"InsyaAllah, Ummi selalu do'akan untuk kebahagiaan anak-anak Ummi." Tatapan Ummi penuh iba menatap putri bungsunya yang dulu masih kecil sekarang sudah mampu memikat hati lelaki. Meski ada perasaan tak rela, tapi Ummi berusaha melepaskan karena tak ingin putrinya berbuat dosa.


"Semoga jalan Nadia dan Mas Hafidz bisa lancar ya, Ummi."


"Aamiin, Allah pasti menyatukan kalian di waktu yang tepat dan cara yang tepat." Sahut Ummi memberi kekuatan pada Gadis cantik bermata bulat itu.


"Terima kasih, Ummi." Ungkap Nadia, menyandarkan kepalanya di bahu Ummi.


"Bumi sekarang sedang hamil," beritahu Ummi, Nadia terperanjat kaget dicampur bahagia.


"Alhamdullillah, Ummi tahu dari mana?"


"Tadi pagi Ummi ke sana setelah mendapat telpon," tutur Ummi dan menceritakan pada Nadia apa yang Ummi obrolkan pada Bumi.


"Kak Bumi nya mau tinggal di sini?" selidik Nadia tak yakin sebab wajah Ummi terlihat murung.


"Bumi tidak menjawab, tapi sepertinya tidak mau. Ummi hanya ingin mengawasinya. Apalagi ini kehamilan pertamanya." Ungkap Ummi, baginya tak tega bila berjauhan dengan Bumi nantinya. Dulu saja saat Zahra hamil anak pertamanya, Ummi serta merta menyuruh Zahra tinggal dengannya sampai melahirkan.


"Kalau Kak Bumi nggak mau, jangan dipaksa ya, Mi." Nadia tahu betul bagaimana antusiasnya Bumi saat menceritakan kebahagiaan dirinya karena akan menempati rumah di Bogor.


Ditambah rumah mereka berada di antara kafe yang sudah mulai buka itu Bumi meminta tinggal di sana saja agar bisa fokus mengurusi kafe itu.


"Ummi yakin Bumi pasti mau dengar kata Ummi, kehamilan pertama itu mesti ada yang menemani selain suami." Terang Ummi membuat Nadia tak dapat berkata-kata lagi.


***


Rooftop


Bumi duduk melipat kakinya ke atas kursi. Menatap langit yang malam itu sangat indah bertabur bintang. Entah untuk apa dia merasa sedih dan kesal. Diusapnya berkali-kali perutnya yang masih rata.


Tak menyangka secepat ini Allah menitipkan amanah untuk dirinya dan suaminya. Semilir angin membuatnya mengeratkan cardigan tipis yang dikenakannya. Hawa dingin nyatanya tak dapat dilawan oleh kain rajut berwarna hitam itu.


"Sudah tahu dingin, masih saja menantang angin." Akash datang dan menyelimuti tubuh istrinya itu seraya mencium pucuk kepalanya. Kedua tangannya melingkar memeluk erat. Dagunya ia letakan di pundak istrinya.

__ADS_1


"Ingat, sekarang ada makhluk kecil di sini." Akash mengusap perutnya tanpa melepaskan pelukannya. "Harus lebih bisa jaga diri." Bisiknya.


Diperlakukan seperti itu membuat Bumi merasa senang. Perasaan kesalnya menguap begitu saja, mungkin hilang bersama semilir angin malam itu.


__ADS_2