Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
92


__ADS_3

"Apa kamu mau kembali pada Akash dan membatalkan perjodohan dengan Hafidz?"


Bumi tentu menggeleng, meski ingin melakukannya tapi dia harus bertanggung jawab dengan keputusan yang diambilnya.


"Bumi nggak mau bikin uti dan Ibu Haji kecewa," jawab Bumi sendu, "Bumi harus tanggung jawab dengan keputusan Bumi." Imbuhnya membuat Ayas membawanya ke dalam pelukan seraya berbisik, "Mama bangga sama Bumi, Bumi selalu kuat."


Bumi tentu mengangguk, tidak menangis hanya meringis karena hatinya terasa teriris.


*******


Banyak yang Bumi dapatkan setelah beberapa waktu ini belajar mengaji pada Bu Haji Endah. Sekarang dia hafal surah Al-kahfi ayat 1 hingga 10. Dan, itu wajib Bumi baca tiap selesai shalat fardhu, terutama di hari jum'at.


"Kalau harus baca ayat pertama hingga seratus sepuluh kayaknya belum sanggup, deh." Keluh Bumi saat Bu Haji Endah menyarankannya membaca keseluruhan ayat di hari senin malam selasa.


Bumi juga sekarang sudah hafal bacaan shalawat Nariyah, meski di awal harus dibaca dengan melihat teks sampai Hafidz dengan keisengannya sempat mencibir, "cantik doang, baca shalawat masih lihat teks."


Tentu saja Bumi marah, beberapa waktu dia mendiamkan Hafidz. Baru mau bicara setelah tiga hari kemudian. Disogok bakso gang senggol waktu itu.


Semakin hari Bumi semakin merasa tidak ada yang spesial antara dirinya dan Hafidz. Semua terasa datar, tidak ada getaran meski Hafidz selalu berupaya manis terhadapnya.


Sore itu langit jingga kembali menyapa, bahagialah para penikmat senja. Namun tidak bagi Bumi, dirinya bukan golongan penikmat senja. Bumi sudah dengan mukenanya dan duduk di atas sajadah. Selalu Bu Haji Endah yang mengimami shalat para anak gadis yang mengaji padanya. Tak banyak jumlahnya, dan Bumi tentu murid paling tua, namun spesial.


Adzan terdengar dari kampung sebelah lewat pengeras suara, karena untuk mushola Pak Haji Ma'sum mereka tak memilikinya. Jika ingin mendengar Hafidz mengumandangkan adzan, maka harus berdiam dekat mushola.


Bumi sempat mendengarnya satu kali, suaranya merdu tapi tidak menggetarkan hatinya.


Selesai rangkaian shalat magrib, dilanjut mengaji sampai shalat isya berjama'ah dan diakhiri dengan sedikit tausyiah dari Bu Haji Endah dengan gaya bahasanya yang lucu.


"Jadi perempuan itu harus jual mahal," ucapnya seraya menjentikkan jari " nggak boleh sembarangan mengumbar aurat." Imbuhnya seraya mengusap sajadah dengan telapak tangan sebab ada semut yang menggerayang di atasnya.


Kalimat-kalimat Bu Haji Endah tentang menutup aurat membuat ingatan Bumi terlempar ke waktu di mana dia masih menggunakan celana pendek saat itu. Hatinya berdenyit nyeri, malu campur sesal menyeruak begitu saja dalam diri. Hingga ucapan salam dari anak-anak yang pamit pulang membuyarkan lamunannya.


Bumi beranjak, melipat sajadahnya hendak pamit pula. Namun, tangan Bu Haji Endah menahannya.


"Ibu sama Ayah mau bicara sebentar, tunggu di teras ya!?" titah Haji Endah.


Bumi tersenyum mengangguk, kemudian beranjak setelah Haji Endah masuk ke dalam kamarnya. Saat tiba di teras sudah ada Hafidz di sana, tangannya sedang mengupas kacang rebus.


"Assallamuallaikum," sapa Bumi. Kemudian duduk menghadap meja bulat tersebut.


"Waalikumsalaam," jawab Hafidz, seperti biasa dengan senyum jahilnya.

__ADS_1


"Ayok, makan kacang rebusnya." Tawar Hafidz, menggeser piring berisi kacang rebus yang gendut-gendut ke hadapan Bumi.


"Ntar jerawatan deh makan kacang," tolak Bumi.


"Jerawatan tuh kalo memendam rindu, bukan makan kacang." Sahut Hafidz, tangannya kembali mengupas kacang.


"Tuh kamu ada jerawatnya," Bumi menunjuk dengan dagu ke wajah Hafidz. "Sedang rindu?" tanyanya.


Hafidz panik, tangannya seketika meraba wajahnya. Tidak ada jerawat di sana.


"Hahaha, segitu aja panik," cibir Bumi. "Aku kan berbohong," imbuhnya sekilas menatap wajah Hafidz yang sebenarnya mulus.


"Udah berani usil, ya!?" Hafidz melempar Bumi dengan kulit kacang.


"Iih dasar, menyebalkan!"


Baru akan membalas perbuatan Hafidz, Haji Endah dan Haji Ma'sum lebih dulu datang. Bumi urungkan niatnya. Dibuangnya kulit kacang yang siap ia lemparkan ke wajah Hafidz tadi. Hafidz sempat menjulurkan lidahnya sebelum orang tuanya duduk.


"Kamu digantikan siapa mengajari anak-anak pelajaran tajwid?" tanya Haji Ma'sum.


"Jajang, Yah. Dia bisa diandalkan." Jawab Hafidz menyudahi kegiatan mengunyahnya.


"Kalau gitu Ayah langsung saja ya!?" bergantian melirik Bumi dan Hafidz.


"Kapan kamu siap menikahi Bumi?" pertanyaan tentu ditujukan untuk Hafidz.


Bumi memasang kuping baik-baik. Dalam hati berharap Hafidz memberi waktu yang agak lama. Setelah mendengar Akash bercerai, hatinya kembali gamang.


"Lima bulan lagi, Yah." Jawab Hafidz tegas. Memberikan sedikit perasaan lega pada diri Bumi.


"Itu terlalu lama," protes Haji Endah. "Mau menunggu apalagi?" mulai panas. "Menikah besok saja!" desaknya membuat Bumi membelalakan mata.


"Saya setuju dengan Mas Hafidz," ujar Bumi.


"Kenapa? kamu ragu?" todong Haji Endah.


"Bukan, Bu," elak Bumi, Kemudian segera berkata kembali, "sebagai pasangan yang akan menikah, kami harus kompak kan?" Bumi mencari alasan yang tepat.


"Kamu kenapa harus nunggu 5 bulan lagi?" giliran Hafidz yang mendapat todongan.


"Saya diajukkan pihak sekolah ikut program sertifikasi, Bu." Jawab Hafidz.

__ADS_1


"Apa itu sertifikasi? labih penting mana sama menikah?" desak Haji Endah tak sabar.


"Sertifikasi guru itu pemberian sertifikat pendidikan pada guru yang memberikan nilai kompetensi dan kelayakan seorang guru dalam proses belajar mengajar, Bu." Hafidz mulai menjelaskan dengan berapi-api.


"Bagi guru sendiri, selain ini memberikan manfaat nilai kompetensi dan profesionalisme yang lebih terjamin, secara finansial jika sudah berstatus sebagai guru bersertifikasi tentu akan lebih menguntungkan dengan adanya tunjangan sertifikasi guru." Lanjutnya masih berapi-api, diakhiri nafas yang terengah.


"Jadi ini penting bagi masa depan Saya, Bu." Imbuh Hafidz, telapak tangannya mendarat di atas punggung tangan Haji Endah.


"Saya harap Ibu mengerti," suara Hafidz melemah.


"Memangnya tidak bisa kamu kerjakan sambil menikah?" tanya Haji Endah. Sementara Haji Ma'sum hanya menahan senyum melihat interaksi keduanya.


"Tidak bisa, Bu." tolak Hafidz. "Saya pasti sibuk menyiapkan segalanya, belum nantinya harus ikut penataran selama beberapan hari." Ucap Hafidz mengusap punggung tangan Ibunya dengan penuh sayang.


Haji Endah luluh, ditatapnya wajah putra satu-satunya itu. Baginya, si tampan itu adalah harta paling berharganya.


"Jadi Ibu harus menuruti keinginanmu?"


"Tolong diridhoi, biar jalannya lancar." Pinta Hafidz, membawa tangan Haji Endah menuju bibirnya. Dia ciumi punggung tangan yang putih itu bertubi-tubi.


Pandangan Haji Endah kini beralih pada Bumi.


"Kamu mau menunggu, kan?"


"Iya, Bu. Insya Allah Bumi tunggu." Jawab Bumi mengangguk menerbitkan senyum di bibir Haji Endah.


"Kalau begitu, kalian jangan terlalu sering pergi bersama." Ucap Haji Ma'sum. "Meski ditemani yang lain," imbuhnya lalu menyesap teh dihadapannya dan berkata lagi, "tidak enak dilihat tetangga. Dipikir Ayah tidak memberi tahu."


Bumi dan Hafidz kompak menjawab iya seraya mengangguk, itu artinya mereka akan jarang berinteraksi. Entah mengapa justru Bumi senang mendengarnya.


Setelah itu, tiba-tiba Yudis datang dengan nafas terengah-engah. Ponsel ditangannya menunjukan dia membawa sebuah kabar.


"Bumi, Uti Bumi." Ucapannya tak jelas, nafasnya masih tak teratur.


Bumi beranjak berdiri, pasalnya keseharan Uti memang semakin menurun keadannya.


"Kenapa Uti?"


"Uti semakin parah, ayok pulang!" ajak Yudis.


"Saya siapkan dulu mobil," Hafidz ikut beranjak. "Jangan panik, tenanglah!" bisik Hafidz saat melintas di depan Bumi.

__ADS_1


Bumi mengangguk, segera memakai tasnya kemudian berlarian ke halaman bersama Yudis lalu diikuti Haji Ma'sum dan Haji Endah. Tak lama Hafidz siap dengan mobil kijangnya. Melajukan mobil setelah kesemuanya masuk ke dalam mobil.


Uti, bertahanlah. Yang kuat, Bumi sayang Uti.


__ADS_2