Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
128


__ADS_3

Hari-hari berlalu penuh drama dalam kehidupan Bumi. Hal sekecil apapun bila membuat hatinya kacau maka akan jadi masalah besar. Kadang dirinya sendiri tidak mengerti mengapa bisa menjadi sangat emosional.


Seperti pagi ini, setelah drama penolakan suaminya tentang keinginan memiliki kucing. Ibu hamil itu kembali membuat drama gara-gara sebuah video yang tak sengaja ia lihat dalam laman sosial medianya. Di mana ia melihat seorang Ibu muda melahirkan secara operasi namun karena sebuah kesalahan prosedur, pasien tersebut mengalami koma.


"Aku takut, Kak." Bumi terus merajuk di balik selimutnya.


"Nggak akan ada apa-apa, Sayang. Kamu pasti bisa." Akash memeberikan semangat, mengalirkan kenyamanan pada istrinya itu.


"Aku nggak mau kesakitan, aku nggak mau." Rintihnya seraya menutupi wajahnya dengan bantal membuat Akash terkekeh. Bukannya kesal dia malah merasa lucu dengan tingkah istrinya itu.


"Kamu lupa seberapa besarnya pahala yang Allah berikan untuk seorang istri yang mengandung dan melahirkan?" Akash berupaya menyingkirkan bantal yang menutupi wajah istrinya.


"Aku nggak lupa, tapi kalau takut kan wajar." Kilah Bumi, wajahnya yang sudah tidak tertutup bantal terlihat basah oleh air mata.


"Daripada memikirkan hal yang belum jelas terjadi, gimana kalau kita melakukan kegiatan yang menyenangkan?" Akash berusaha membujuk, ia usap air mata yang membasahi pipinya menggunakan telapak tangannya.


"Iish, Kakak. Orang lagi sedih diajak gituan." Omel Bumi seraya memukul dada suaminya yang merebahkan diri di sampingnya.


"Aku bukan mau ajak kamu buat itu," Elak Akash, menangkap tangan Bumi yang sedang memukulinya. "Kita mending cari-cari nama yuk buat Dedek?" ajak Akash dan berhasil membuat Bumi tersenyum. Melupakan segala gundah gulananya.


Bumi duduk dari berbaringnya, ia segera merapikan hijabnya. Akash membantu merapikan beberapa anak rambut yang masih terlihat. Cinta keduanya memang unik, entah apa sebabnya si batu yang diberi nyawa itu sekarang justru yang paling menunjukan cintanya pada Bumi.


Sedangkan Bumi, dia lebih sering marahnya daripada manisnya. Tapi hal itu justru membuat suaminya gemas. Dia justru sering memancing amarah istrinya. Bagi Akash, hidupnya tidak berwarna jika Buminya tidak marah dan merajuk padanya.


"Bersandar di sini!" Akash menepuk dadanya agar Bumi bersandar di sana.


Ia mulai berbicara banyak hal, mengungkap arti namanya sendiri. Lalu menanyakan pula arti nama Bumi. Namun, karena calon anak mereka adalah laki-laki. Keduanya sepakat untuk memberikan nama pada anak mereka sesuai dengan nama Akash.


"Jadi artinya sama kaya nama Kakak? Langit?" tanya Bumi setelah Akash menyebutkan dua buah nama yang sudah keduanya sepakati sebagai nama tengah anak mereka.


"Iya, nggak apa-apa kan?" Akash mengelus perut istrinya, tak pernah bosan melakukannya.


"Tapi nanti jadi keras kepala seperti Ayahnya." Keluh Bumi, tak sadar bahwa dirinyapun sama keras kepalanya.


"Setiap manusia itu tidak ada yang sempurna, tapi menurutku karakter anak itu bisa kita yang membentuk. Ibarat kue, anak itu seperti adonan. Akan dibuat menjadi apa nantinya, hanya kita sebagai orang tua yang bisa mencetaknya. Sifat mereka akan tergantung bagaimana cara kita mendidiknya." Papar Akash membuat Bumi terdiam meresapi kata-kata suaminya.

__ADS_1


"Aku mau melimpahkan mereka dengan kasih sayang, nggak mau sedetikpun melewatkan pertumbuhan mereka. Aku nggak mau anakku kehilangan kasih sayang dari Ayah dan Bundanya." Tutur Bumi, ia tak ingin anaknya bernasib sama dengan dirinya di masa kecil.


"Aku percaya, kamu pasti bisa jadi Bunda terbaik buat mereka." Akash menumbuhkan semangat pada diri istrinya, ia berharap obrolan ini akan mengalihkan perhatiannya dari rasa takut saat proses melahirkan nanti.


"Aku jadi nggak sabar nunggu mereka lahir." Suara Bumi kembali riang gembira.


Akash menghembuskan nafasnya, lega karena berhasil menghilangkan rasa takut dalam diri istrinya. Bumi terus saja kembali membicarakan nama anaknya. Ia mulai memikirkan pula anaknya nanti akan dipanggil dengan sebutan apa.


"Jangan disebut langsung namanya, biar mereka merasa kita menghargainya." Usul Bumi saat Akash bertanya kenapa harus menyiapkan sebutan bagi kedua anaknya.


"Mungkin yang satu kita panghil Mas, dan yang satu Abang. Gimana?" Bumi meminta pendapat suaminya.


"Berarti nanti ada adiknya?" alih-alih menjawab setuju atau tidak, Akash malah menggoda istringa.


"Kakak, kenapa setiap ngobrol ujungnya selalu ke situ? ini dalam perut aja belum keluar." Omel Bumi, seraya beranjak dari tempat tidur.


"Mau ke mana?" Akash ikut beranjak.


"Makan, lapar, kamu ngajakin ngobrol terus nggak ngasih aku makan." Keluhnya seraya pergi meninggalkan suaminya yang terkekeh.


***


Hari-hari berikutnya Bumi semakin merasa kesulitan untuk tertidur ketika malam hari. Dia sudah sulit mendapatkan posisi yang nyaman ketika berbaring. Alhasil semua itu membuatnya selalu kesiangan saat bangun shubuh.


Tahajudnya sudah sering terlewat, bahkan Akash selalu kesulitan membangunkannya.


Hari itu dia shalat shubuh di jam 05.30, membuat Akash sedikit memarahinya.


"Makanya kalau aku bilang bangun itu bangun, buka matanya." Omel Akash sembari melipat sarungnya.


"Kamu nakal sih suka mencuri-curi minum kopi kalau malam," tuduh Akash membuat Bumi enggan menjawab. Sebab memang itu kenyataannya.


"Coba hari ini jangan makan karbohidrat terlalu banyak, jangan suka mencuri-curi minum kopi." Akash mengabsen apa saja yang tidak boleh Bumi konsumsi.


"Ayok, sekarang mandi biar hilang ngantuknya. Jadi nanti malam bisa tidur." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Akash berlalu begitu saja.

__ADS_1


Bumi yang sedari tadi duduk mengenakan mukena di tempatnya sholat, gontai berjalan menuju kamar mandi. Sebwlumnya, ia membuka tali mukenanya.


"Kakak kalau aku telat sholat marahnya bikin takut." Gumamnya seraya memasukkan mukena ke dalam keranjang pakaian kotor.


Pikirannya terusik saat ingat selama beberapa waktu ini suaminyalah yang mencuci pakaian. Bumi mulai mengabsen kebaikan-kebaikan Akash yang membuatnya pusing sendiri karena terlalu banyak. Dia sepertinya harus meminta maaf dan berterima kasih.


"Tapi barusan dia marah, nggak jadi deh bilang terima kasihnya." Gumamnya seraya beranjak menuju kamar mandi. Jika boleh memilih, ingin rasanya kembali tidur saja. Selimut dan bantal seolah mengajaknya kembali merajut mimpi.


***


Bumi tak mendapati Akash saat dirinya menghampiri Ayas yang sedang sarapan. Sang Mama hanya sendiri menikmati sepotong roti bakar dan coklat panas.


"Mama, mauu dong." Rengeknya seraya mengambil begitu saja roti yang sedang dipegang Ayas.


"Astagfirullah, Bumi." Tegur Ayas, bukan masalah rotinya tapi Ayas kaget dengan kedatangan Bumi yang tiba-tiba.


"Aku lapar, Mam. Pagi-pagi bukan dikasih makan malah dimarahin sama suami." Adu Bumi. Masih belum puas dengan roti yang dimakannya. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh meja makan namun tak ada lagi tanda-tanda roti di sana.


"Kakak ke mana sih? dia nggak buatin aku sarapan?" cecarnya membuat Ayas menggelengkan kepala.


Namun, baru saja akan dijawab oleh Ayas. Akash sudah terlanjur datang dengan membawa roti bakar dan segelas susu.


"Makan sendiri, ya. Aku harus ke Jakarta." Ucapnya seraya mencium kening istrinya kemudian beranjak kembali.Marah Akash hanya sebatas mulut saja. Ia tak seperti Bumi yang bisa berlarut-larut bila sedang merajuk.


"Kak, kenapa mendadak?" Lirih suara Bumi menghentikan langkah Akash. Dia lupa tak pamit terhadap putranya.


Akash berbalik kemudian membisik di perut istrinya seraya menciuminya.


"Mam, aku pamit. Titip Bumi ya, Mam." Pesannya pada Ayas dan mendapat anggukan.


"Kak, aku bicara tidak dianggap." Rengek Bumi, Akash tak menghiraukannya dia terus melangkah tanpa kembali menoleh.


"Mama tahu sesuatu?" tanyanya pada Ayas. Namun sang Mama hanha menggeleng. "Pasti ada sesuatu, Mam." Desaknya seraya mendekat ke arah Ayas.


"Mama, bilang ada apa?" cecar Bumi dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.

__ADS_1


"Restoran suami kamu kebakaran dini hari tadi."


__ADS_2