Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
107


__ADS_3


Ayo chat Kak.


*******


Menjelang magrib acara pengajian itu selesai, ada perasaan haru di hati Bumi melihat perut Ayesha yang diusap dan dido'akan oleh Bu Ustadzah tadi. Serta merta dirinya ingin berada di posisi Ayesha.


Lamunan yang disertai mata berkaca-kaca itu ditangkap oleh pandangan suaminya. Akash segera mendekati Bumi, merangkul bahunya dari samping. "Hei, kenapa?" bisiknya membuat Bumi melayangakan pukulan pada lengannya.


"Kakak tuh jangan kayak gini," protesnya berusaha melepaskan rangkulan Akash. "Malu, Kak." Imbuhnya dengan sedikit merengek. Akash turuti, sebab memang sedari tadi Laut dan Ayas sudah geleng-geleng melihat tingkahnya.


"Eh, habis ini kita disuruh pulang ke rumah Ummi." Beritahu Akash, seraya memperlihatkan layar ponsel yang berisi pesan dari Ummi.


"Oh iya, besok syukuran di rumah Ummi 'kan?" tebak Bumi dan diangguki Akash. "Tapi aku nggak bawa baju," keluh Bumi.


"Nanti pakai bajuku saja," saran Akash disambut anggukan oleh Bumi. "Kalau buat besok, sudah ada dari Kak Zha. Eksklusif dari butiknya, model terbaru." Beritahu Akash dan membuat Bumi berseru riang.


Zahra memiliko butik pakaian muslim yang model pakaiannya memiliki brand nanya sendiri. Style hasil rancangan sendiro kadang dibantu Nadia. Kedua anak perempuan Ummi ini sangat menyukai fashion.


"Dek, makan dulu yuk!" Ayesha tiba-tiba datang menghampiri keduanya.


"Habis magrib aja deh, Kak." Tolak Bumi sambil melirik suaminya meminta persetujuan dan langsung mendapat anggukan.


*******


Sesuai kesepakatan, Bumi malam itu pulang ke rumah Ummi bersama Akash. Ada perasaan sedih di hati Ayas saat melihat punggung Bumi yang menghilang di bawa motor Akash. Ayas benar-benar telah melepaskan anak gadisnya. Titahnya bukan lagi prioritas Bumi.


Setelahnya, Ayas bersama Laut dan Ayesha juga pamit untuk kembali ke rumah. Ayesha yang melihat raut murung Ayas saat perjalanan pulang berusaha menghibur Ibu mertuanya itu.


"Mama tenang saja, Akash itu sayang banget sama Bumi." Ayesha mengusap punggung tangan Ayas yang tertangkup di atas pangkuan wanita paruh baya itu.


"Ummi dan keluarganya juga baik-baik, pasti Bumi bahagia selalu." Tambah Ayesha membuat Ayas malah terisak. Mengingat berapa banyak waktu yang hilang bersama Bumi saat ia masih kecil.


"Mama tenang saja, Akash pasti selalu menjaga gadis kecil kita." Laut ikut bicara, bibirnya tersenyum getir. Gadis kecil itu sudah jadi istri orang. Gadis yang sudah tak perawan itu adalah adiknya yang dulu sering dikucir dua. Jangankan Ayas, Laut saja masih berat melepaskan Bumi. "Bumi...." gumam Laut, bola matanya mengeluarkan butiran ktistal.


Sementara Ayas mulai meredakan tangisnya, diusap punggungnya oleh Ayesha. "Sudah ya, Mam. Kita do'akan mudah-mudahan Bumi selalu sehat dan bahagia.


Ayas mengangguk seraya mengusap perut Ayesha di balik gamis hijau floralnya. Dipandanginya lekat-lekat wajah Ayesha, lalu keduanya saling melempar tawa dan mengundang keharuan di hati Laut.


*******

__ADS_1


Rumah Ummi sudah ramai, sanak saudara sudah mulai berdatangan. Bumi dan Akash langsung dihujani selamat oleh mereka begitu sampau di rumah. Bumi sampai kewalahan saat Akash memperkenalkannya pada keluarga besarnya.


Keduanyapun disambut hangat oleh Ummi. Bumi bahkan mendapat ciuman bertubi-tubi di wajahnya dari Ummi.


"Sudah makan, Sayang?" tanya Ummi dan diangguki Bumi yang duduk di sebelahnya.


"Akash nggak ditanya, Ummi?" protes Akash yang duduk di samping Bumi, merasa tersisihkan.


"Kamu kan sudah besar, kalau lapar pasti makan sendiri." Jawaban Ummi membuat Akash mendengus kecil.


"Besok acaranya jam sembilan pagi." Beritahu Ummi pada keduanya, "jadi jangan bangun terlalu siang," ucap Ummi pada Bumi. Bumi langsung merasa tersindir. Tapi gara-gara siapa pula dia merasakan sekujur tubuhnya sakit dan pegal. Membuatnya merasa lelah sepagian tadi.


"Kalian istirahat saja sekarang, kamarnya sudah dirapikan oleh Bibi." Beritahu Ummi.


Keduanya berpamitan pada Ummi yang juga berkata akan pergi ke kamar. Ada rasa gugup dalam diri Bumi saat memasuki kamar suaminya di lantai dua.


Kamar itu memiliki luas dua kali lipat dari kamarnya. Dicat putih dengan perabotan simple namun elegan. Terdapat beberapa piala di meja belajar Akash yang sudah ada sejak dirinya usia TK.


"Kak, koq aku kangen Mama ya?" adu Bumi sesaat setelah mendudukam diri di tepian tempat tidur. Matanya menangkap sprei putih yang membungkus kasur itu. Diusapnya dengan telapak tangan, lembut dan menyeruakan aroma pewangi pakaian.


"Itu perasaan wajar, besok juga Mama ke sini." Sahut Akash yang kini sudah berganti memakai kaus pendek dan sarung seraya menyerahkan kaus putih besar untuk Bumi berganti.


Sontak jawabannya itu mendapat tonjokkan keras pada kepala belakangnya, "otaknya itu terus sekarang."


"Ini kaosnya gede, kamu pakai bisa jadi daster." Jelas Akash.


Bumi kembali meneliti kaos berlengan panjang itu. Memang besar walau hanya dapat menutupi sebagian atas tubuhnya. Setelah sejenak berfikir, Bumi membawa kaus itu ke dalam kamar mandi. Bisa lain urusannya jika berganti di hadapan suaminya.


********


Pagi sekali Zahra sudah masuk ke dalam kamar Akash, tidak didapati Akash di sana. Hanya ada Bumi yang sedang duduk di hadapan meja rias menyisir rambutnya yang basah. Iya basah, Akash tidak membiarkannya langsung tidur semalam.


"Dek, mana Akash?" tanya Zahra yang membawa papper bag di tangannya.


"Tadi bilangnya mau ke masjid, Kak." sahut Bumi segera beranjak dan menyalami Kakak iparnya itu.


"Kak, Kak, berita heboh nih kak...." Nadia yang baru datang berteriak sambil mengacungkan tangannya.


"Apanya yang heboh?" tanya Bumi penasaran.


"Kamu nonton gosip artis cewek yang jadi pelakor itu?" tebak Bumi, "ituloh yang lagunya religi, pakai kerudung tapi malah menjalin hubungan sama rekannya yang punya istri." Lanjut Bumi.

__ADS_1


"Iih, Dek. Kamu koq ikut-ikut ghibah, sih." Omel Zahra.


"Astagfirullah, habis tiap buka sosmed isinya berita itu terus." Sahut Bumi, mencari pembenaran atas perkataannya.


"Kamu jangan jadi ikut-ikutan juga," Zahra masih mengomel. "Jangan sampai ikut komen di kolom komentar," ancam Zahra.


"Enggak, Kak. Bisa dihukum sama suamiku kalau kayak gitu." Elak Bumi merutuki perkataannya sendiri.


"Ini beritnya lebih heboh," beritahu Nadia.


"Ini juga kenapa jadi bawa-bawa bahan ghibah sih?" Zahra kembali mengomel, kali ini pada Nadia.


"Ini bukan ghibah tapi fakta," jelas Nadia. "Masa' Kak Akash lagi nyuci sprei sih?" beritahu Nadia membuat mata Bumi dan Zahra membulat. "Udah dibilangin biar sama Bibi, katanya nggak usah." Lanjut Nadia. "Sejak kapan Kak Akash jadi kayak gitu?" tanyanya pada diri sendiri.


Sejurus kemudian Zahra menatap Bumi dengan senyum yang tertahan. "Cie, malam pertama apa malam kedua, nih?" bisiknya membuat Bumi bersemu merah.


"Kakak, dia yang mulai." Adu Bumi, sudah sangat merasa malu.


"Kakak tahu, cuma nggak nyangka aja dia sendiri yang cuci bekasnya. Abang aja nggak gitu." Keluh Zahra, kembali berbisik, "pantas pas jauh sama kamu dia kayak orang gila, cintanya dalem banget sama kamu."


Dan perkataan Zahra membuat Bumi mengawang, dia sendiri merasakan betapa Akash memang memperlakukannya sangat manis. Ajakannya selalu penuh kelembutan, tidak menuntut tapu membuat Bumi turut.


"Kalian bisik-bisik apa sih?" Nadia yang penasaran merasa diabaikan. Dirinya ikut mendekatkan diri di antara Bumi dan Zahra.


"Enggak, ini Kakak mau kasih gamis buat Bumi." Nadia mencari alasan, dia belum pantas diajak bicara sesuatu yang belum dialaminya.


"Oh itu, hasil design aku tuh." Ujar Nadia merasa bangga rancangannya akan dipakai Bumi.


"Wah, mana lihat." Bumi antusias dengan mata berbinar. Tak sabar saat Zahra mengeluarkan gamis dan kemeja koko dari dalam papper bag.


Gamis berwarna hijau floral dengan bahan yang sangat lembut, pasti akan nyaman saat dipakai.


"Sudah satu set dengan kerudungnya," beritahu Zahra memperlihatkan pashmina instan dengan topi antem (anti tembem). "Suami kamu loh yang minta, dia benar-benar perhatian sama Kamu. Sampai mengerti selera istrinya." Puji Zahra, merasa bangga memiliki adik laki-laki yang begitu pengertian pada istrinya.


"Terima kasih ya, Kak, Dek," ucap Bumi melirik Nadia dan Zahra bergantian. Ketiganya memilih berpelukkan sebagai tumpahan rasa saling menyayangi.


Bumi merasa beruntung berada di tengah-tengah keluarga Ummi. Menjadi bagian di dalamnya dengan dihujani cinta dan kasih.


(・´з`・)(・´з`・)


Bayar aku dengan like dan komen. Makasih yaaa

__ADS_1


__ADS_2