
Like, Komen dan Vote kalau ada poin lebih boleh dong Kak.... Sengaja Aku tulis di bagian atas biar kebaca. Aku tetap mau lanjutin ceritanya sampai tamat, ya. Semoga suka.
*****
Setelah berpamitan pada Ayesha yang awalnya melarang Bumi untuk menemui Akash, gadis berambut sebahu yang kini poninya sudah panjang hingga menutupi mata itu melangkah dengan senyuman mengembang. Dia harus mengetahui sesuatu. Bukan tidak terima dengan unggahan Akash di media sosialnya, melainkan Dia hanya ingin memastikan sesuatu.
Tiba di restoran Bumi melihat mobil seseorang yang tak asing di pandangannya. Mobil sedan mewah milik Rere sudah terparkir rapi bersanding dengan mobil Kakaknya. Bumi sempat ragu untuk melanjutkan langkah, namun demi memastikan sesuatu Dia menepis segala keraguannya. Rambut sebahunya yang dibiarkan tergerai sesekali ia selipkan di belakang telinga. Telapak tangannya masih sakit, bahkan terlihat membengkak. Setelah menyapa beberapa pegawai termasuk Nina yang sudah sangat akrab dengannya Bumi mulai mencari keberadaan Akash. Menurut informasi dari Nina, Mereka semua sedang berkumpul di ruangan pribadi Akash.
Bumi berhenti sejenak saat sampai di pintu ruangan Akash. Terdengar suara Damar yang sedang tertawa disusul Rere yang mengumpat. Saat mengangkat tangan hendak mengetuk pintu, lengannya tiba-tiba dicengkeram seseorang. Dia menoleh, matanya bertemu pandang dengan tatapan tajam seseorang yang ia kenali.
"Masih berani Kamu menemui lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suami wanita lain?" adalah Ilham yang mencengkram erat lengan Bumi itu.
"Bang, lepasin. Sakit." Bumi berusaha menarik tangannya.
"Saya bisa membuat Kamu lebih sakit dari ini kalau Kamu masih nekad merayu adik ipar Saya!" ancam Ilham seraya membuang kasar tangan Bumi.
"Aku nggak pernah merayu Kak Akash," ucap Bumi seraya mengusap pergelangan tangannya.
Ilham hanya mendengus kesal. Dirinya yang hendak menemui Akash untuk membicarakan beberapa hal tidak sengaja bertemu dengan Bumi.
"Lalu Kamu mau apa ke sini?"
"Aku mau bertemu Kakakku," Bumi mencari alasan dan seperti nya Ilham percaya.
"Awas kalau Kamu bohong," ucap Ilham lalu masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu. Ilham menutup kembali pintu dengan kasar. Bumi terpaksa memilih mengurungkan niatnya. Namun, saat akan menuruni tangga, panggilan Nina untuknya menghentikan langkah.
"Mbak nggak jadi ketemu Bang Bos?"
"Kayaknya lagi pada sibuk, Mbak. Nanti malam saja Aku ke sini lagi." Jawab Bumi hendak kembali melangkah. Namun Nina kembali memanggilnya.
"Ada apa lagi, Mbak?" tanya Bumi dengan terpaksa kembali menoleh pada Nina.
"Mbak Bumi mau Saya buatkan kopi, ngopi di rooftop sambil makan roti yang baru keluar dari oven pasti nikmat kan?" Nina memberikan penawaran.
"Serius mau kasih Aku roti dan kopi. Aku belum sarapan, tapi sayang banget kalau harus ngopi di sini. Harganya mahal," ujar Bumi seraya tertawa kecil. Baginya patokan harga yang diberikan restoran Akash itu terlalu mahal. Restorannya memang memiliki menu bervarian. Berbagai jenis jajanan pun ditawarkan. Kopi dan berbagai jenis minumanpun tak luput dari daftar menu. Sehingga pengunjung dari berbagai kalangan setiap harinya selalu memenuhi restoran yang bangunannya sangat unik itu.
"Buat Mbak Bumi sih pasti gratis dong,"
"Ya udah, Aku tunggu di rooftop ya."
****
Sementara itu di dalam ruangan Akash sebelum kedatangan Ilham, keempat anak manusia yang sudah akrab sejak usia SMA itu sedang asyik bercengkrama. Damar selalu mendominasi percakapan.
"Pokoknya kalau Gue nikah, Gue nggak mau tuh ribet kayak acara Laut kemaren. Hari ini hantaran, besoknya akad. Laah males Gue, buang-buang waktu." Adalah suara Damar yang berbicara.
"Eeh Lo kan sama Lila sama-sama orang betawi, pasti nanti pakai adat buka palang pintu gitu ya?" tanya Laut.
"Aah nggak usah deh, kelamaan. Keburu laper Gue." Rere yang selalu tampak cantik ikut menimpali.
"Gue juga keburu lupa bacaan ijab kabulnya kalau pake adat-adat begitu. Pokoknya ntar Gue nego sama keluarga Lila buat ilangin adat-adat kayak gitu. Skip aja, langsung malam pertama."
"Lah Lo mah otaknya ke situ terus, Gue doain biar Lila malah datang bulan di hari pertamanya jadi istri Lo." Laut malah menyumpahi yang tidak-tidak. Perkataan itu justru mengingatkan akan keadaan dirinya sendiri saat ini.
"Duuh nggak sadar diri nih orang, Lo nuker jadwal libur karena istri Lo datang bulan di hari pertamanya jadi istri Lo kan?"
Akash hanya menggeleng mendengar ocehan teman-temannya itu. Dia malah asyik berbalas chat dengan teman lamanya yang juga memiliki restoran sepertinya. Bahkan catering untuk pernikahannya, Zahra sudah memesan dari rekannya itu.
"Lo chat sama siapa sih?" Laut menyenggol bahu Akash yang masih asyik melakukan obrolan lewat Whatsapp itu.
__ADS_1
"Ragga, Gue lagi tuker pengalaman. Dia sekarang buka restoran juga di Bandung." Jawab Akash tak memalingkan pandangannya dari ponsel.
"Ragga memangnya siapa sih?" tanya Damar. Dia rasanya tidak asing dengan namanya.
"Anaknya almarhum Pak Rakha, yang tempo hari pernah meeting sama Kita." Rere membantu menjawab.
"Ooh yang istrinya mungil kayak boneka india ya?" Damar masih mengingat wajah istri dari Ragga.
"Inget aja Lo kalau urusan cewek," timpal Laut.
"Eeh kemarin juga ada kan pas kita kondangan ke Pak Riko?" tanya Damar mengetuk dagunya dengan telunjuk berusaha mengingat kejadian kemarin.
"Iya ada, Kita kan sempet ngobrol pas Laut ke toilet. Dia udah punya anak. Dia tuh lulus SMA langsung nikah." Akash menjelaskan kebingungan Damar.
"Emang awalnya kenal di mana sih?" Rere kembali menanyakan hal itu padahal Dia sudah berkali-kali diberi tahu.
"Pas Kita mondok waktu SMP, Lo lupa terus sih udah kasih tahu berkali-kali juga." Laut menyentil dahi Rere. Di kantor memang Rere bosnya, tapi di luar jam kerja Rere tetaplah kawannya.
"Pantes mukanya alim gitu ya, istrinya juga kalem banget pas kemaren kenalan." Rere kembali mengingat wajah istri Ragga yang masih terekam di ingatannya.
"Kalau nggak salah namanya hujan kan?" tebak Damar.
"Namanya, Rain! " Teriak Rere sengaja teriak di telinga Damar.
"Laah apa bedanya hujan sama Rain, susah Gue kalau bilang Rain takut meleset salah sebut." Damar mengusap telinganya yang panas akibat teriakan Rere.
"Terseraaah," ucap ketiga temannya yang merasa jengkel. Damar malah tertawa seraya melempar dasi yang sudah Ia lepas sejak tadi. Niat hati ingin melempar pada Laut karena yang paling keras bilang terserah, tapi justru malah mengenai wajah Rere.
"Sialan, Gue nggak jadi kasih Lo 30 juta ya berani Lo lempar-lempar barang murahan ke muka Gue," Rere kambali menggumpalkan dasi merah maroon tersebut dan melemparnya. Bukan pada sang pemilik namun justru ke atas lemari Akash. Membuat Damar berdecak kesal.
"Kalau Lo bukan Bos udah Gue pecat deh, Re. Nyebelin!"
Di saat seperti itu tiba-tiba pintu dibuka dari luar. Seseorang yang membuka pintu secara kasar dan menutupnya dengan melakukan hal yang sama membuat keempat manusia itu membeku. Akash menajamkan pandangannya. Entah efek terlalu rindu atau apa, ia melihat sosok Bumi walau hanya sekilas.
"Kita baru beres meeting, Bang. Kebetulan kliennya ngajak di sini. Ngopi cantik dulu deh jadinya." Rere memberikan penjelasan.
"Saya sebenarnya mau bicara empat mata dengan Akash, tapi sepertinya Kalian juga perlu tahu. Terutama Laut." Wajah Ilham berubah serius.
"Orang tua Rere minta pernikahan Kalian diundur sebulan kemudian dari jadwal yang sudah ditentukan, tapi awas ya Kash...." Ilham mejeda kalimatnya.
"Jangan sampai Kamu menggunakan kesempatan ini buat deketin Bumi. Kalau terjadi, karir Laut bisa terancam." Ilham tanpa ampun bicara dengan suaranga yang berat itu.
"Bang Ilham nggak usah ngamcem gitu, deh. Nggak usah bawa-bawa urusan pribadi ke dalan kerjaa. Kerja Laut bagus, Bang." Rere membela Laut.
"Terserah, yang penting kalian bisa memahaminya," ucap Ilham seraya pergi meninggalkan Mereka yang membisu seketika. Rere hanya mengumpat kesal.
"Udah, nggak usah didengerin. Lo kerja sama Gue. Cuma Gue yang berhak mecat Lo." Rere membesarkan hati Laut.
Akash hanya memandang kesal kepergian punggung Kakak iparnya. Dia tak habis pikir mengapa Kakaknya mau saat dijodohkan oleh pamannya dengan Ilham.
Setelah keadaan Laut stabil, ketiga manusia itu memilih kembali ke kantor. Akash mengantar Mereka hingga ke depan pintu ruangannya. Namun, saat akan kembali ke kamarnya matanya menangkap sosok Nina yang turun dari tangga membawa nampan kosong. Akash segera memanggilnya.
"Tadi saya kayak lihat Bumi, apa Dia dateng ke sini?"
"Iya Bang, Dia lagi di rooftop. Kasihan tadi mau masuk ke ruangan Bang Akash. Tapi....
Belum sempat Nina meneruskan kalimatnya, Akash malah segera pergi dengan langkah terburu-buru menuju rooftop. Di atap gedung restorannya Akash langsung mendapati sosok cantik yang sedang memakan roti yang masih hangat itu. Langkahnya melambat saat Bumi tiba-tiba bermonolog.
"Aku sempat menggantungkan harapan besar pada hubungan ini, tapi berharap pada manusia itu emang selalu mengecewakan ya. Kasihan banget sih Aku," ucap Bumi seraya menyesap kembali capuccino yang masih mengepul itu.
__ADS_1
Akash berdiam diri di tempatnya, Bumi yang duduk membelakanginya tentu saja tidak tahu keberadaannya.
Bumi kembali menaruh cangkir berwarna putih itu ke atas meja. Dia membuka ponsel dan kembali memutar lagu surrender yang akhir-akhir ini selalu jadi track favoritnya.
"Memangnya punya duit ngopi dan makan roti di restoran yang kata Kamu mahal ini," Akash melanjutkan langkahnya dan duduk di hadapan Bumi. Sedikit perasaan bersalah karena kemarin sempat mendiamkan Bumi bahkan memilih pergi bersama Rere.
"Gratis koq kata Mbak Nina," ucap Bumi, ponselnya masih memutar lagu mendayu itu.
"Emang yang punya restorannya Mbak Nina?" Akash tersenyum menggoda Bumi. Tadi saat Laut datang, Dirinya diberi tahu bahwa tangan Bumi terluka kena minyak panas sebab melihat postingan dirinya di Instagram. Laut juga sempat meminta Akash untuk memberi penjelasan mengapa Dia tiba-tiba mengacuhkan Bumi.
"Pelit banget sih kak, lagian Aku juga punya uang koq, nanti Aku bayar."
Mendengar perkataan Bumi, Akash hanya tertawa, merasa lucu telah mengerjai Bumi. Matanya menangkap telapak tangan Bumi yang memang merah dan membengkak.
"Kamu kenapa nggak bisa jaga diri sih Dek, itu tangan bisa kayak gitu sih?" wajah Akash jelas menyiratkan kekhawatiran. Bumi segera menarik tangannya dari atas meja hendak menyembunyikannya di bawah meja namun karena tidak hati-hati malah membentur ujung meja. Membuatnya meringis, jika bukan Akash di hadapannya pasti ia sudah mengaduh kesakitan.
"Kita obatin, ya?" Akash memberi penawaran.
"Ntar Aku obatin di rumah sakit," jawab Bumi, menolak.
"Sekarang aja, ya. Itu pasti sakit banget kan?" Akash berusaha membujuk.
"Nggak usah, Kak. Lagipula Kakak tuh nggak usah bersikap kayak gini. Bikin hati Aku berantakan aja deh. Cape tahu beresinnya." Bumi bersungut-sungut.
Akash malah tertawa, tangannya gatal jika tak mengacak rambut gadis itu.
"Kak, jangan kayak gini deh." Bumi merapikan poni yang menutup matanya akibat diacak Akash.
"Maaf ya, Aku harusnya nggak bersikap kayak gitu kemarin. Tapi, Aku punya alasan."
"Nggak usah dijelasin Kak, Aku takut makin nggak bisa lupain Kamu kalau setiap sakit hatiku selalu kamu kasih penawar."
"Orang tua Rere ngancam akan pecat Laut kalau Aku masih berhubungan denganmu," ucap Akash tetap memberi penjelasan.
Bumi membulatkan matanya, ia meneguk cappuccino sampai habis untuk membunuh keterkejutannya.
"Maaf, Aku selalu membuatmu berada dalam situasi sulit." Akash berdiri, menengadahkan tangannya katanya, "Aku obati lukamu, anggap saja Aku membayar hutangku karena Kamu juga sempat Kamu rawat saat sakit."
"Kak Laut yang ngasih tahu?"
"Iya, maaf untuk postingan itu. Aku hanya sedang berusaha membawa Rere ke dalam hidupku,"
"Iya, Aku ngerti koq. Aku tahu Kakak juga pasti sulit menjalani ini. Aku nggak akan bikin Kakak tambah kesusahan, Aku cuma ingin dengar sesuatu dari mulut Kakak."
"Dengar apa?"
Bumi tak menjawab, Dia merutuki kebodohannya. Tujuannya kemari hanya ingin mendengar Akash menyatakan cinta untuknya. Setidaknya pernyataan Akash akan membuat hatinya lebih baik walau pada akhirnya harus berpisah. Tapi, nyatanya Bumi malu sendiri jika harus meminta Akash mengucapkan kalimat itu. Dia ikut berdiri, tangannya ia sembunyikan di balik cardigan.
"Aku pamit Kak, Aku bisa obati lukaku sendiri. Jangan pernah merasa punya hutang. Aku ikhlas," ucapnya dengan suara bergetar. Keduanya sempat beradu pandang, lalu Bumi membalikkan badan. Namun, baru beberapa langkah panggilan Akash kembali menghentikannya.
"Bumi Hansa, dari berjuta kata yang ada di dunia ini Aku hanya bisa mengatakan satu kata untuk menggambarkan perasaanku padamu, cinta." Akash berjalan mendekat.
Bumi masih bergeming di tempatnya berhenti melangkah, masih membelakangi Akash.
"Aku mencintaimu," Bisikan tepat di telinga Bumi dari Akash yang kini sudah berdiri di belakangnya. Menjatuhkan kepalanya di bahu Bumi yang mulai naik turun, gadis itu menangis.
"Aku mencintaimu, Bumi Hansa. Tapi, takdir kali ini tidak bisa kukendalikan. Aku kali ini kalah." Gemetaran suara Akash semakin membuat Bumi sakit hati. Dia mengangkat tangan dan meraba pipi Akash yang sudah basah.
"Aku mencintaimu, itu yang ingin Kamu dengar?"
__ADS_1
Bumi hanya mengangguk, Dia tak ingin tangisnya pecah jika harus mengeluarkan suara.
"Katakan Kamu juga mencintaiku, katakan Aku harus bisa kembali melawan takdir."