
Akash kembali mendatangi Laut malam itu.
"Kasih informasi dikit aja lah soal Bumi." Pinta Akash malam itu.
"Yang jelas Bumi baik-baik aja," jawab Laut.
"Telpon dia dong, gue kangen suaranya." Ucap Akash menyodorkan ponsel ke wajah Laut, Itu ponsel Laut.
"Jam segini dia lagi belajar ngaji," tolak Laut namun membuat Akash tersenyum sebab jadi tahu apa yang Bumi lakukan.
"Coba dulu, siapa tahu udah beres." Desak Akash.
"Tunggu sebentar sampai dia selesai deh!" Laut kembali menolak.
"Memang jauh dari rumah Uti tempat ngajinya?" selidik Akash.
"Dekat, lima belas menitan." Jawab Laut.
"Udah lama dia ngaji?" Akash terus bertanya, Laut tanpa sadar menjawab juga.
"Beberapa hari sejak tiba di sana."
"Pakai hijab terus dong sekarang?" Akash tersenyum, Laut tak menyadari jika bibirnya terus memberi informasi tentang Bumi.
"Iyalah, terakhir pakai baju syar'i dia kirim potonya." Ujar Laut, seraya meraih ponsel dan melihat kembali poto kiriman Bumi.
Akash tentu saja mendekati Laut, matanya ikut memandangi layar ponsel. Bumi nampak cantik di poto itu. Mengenakan pakaian syar'i. Berfoto dengan sebelah tangan memangku kucing kuning dan matanya terpejam, Poto itu diambil di halaman rumah, tepat di bawah pohon mangga yang sedang berbuah.
Alih-alih mengobati rindu, Akash malah merasakan rindunya bertambah. Ingin rasanya melihat sosok itu dengan nyata, bukan hanya potrer. telunjuk Akash terangkat, menyentuh layar ponsel dan mengusapnya seolah yang diusap adalah pipi Bumi.
Laut segera tersadar, dia menjauhkan diri dari Akash.
"Eh, ******. Ngomong apa tadi gue?" umpatnya seraya menendang dengkul Akash.
"Sakit, bege! Lo sendiri yang jawab pertanyaan gue." Jawab Akash, balas menendang betis Laut.
Laut menutup bibirnya, mengingat apa saja yang dia ucapkan. Merutuki kebodohannya sendiri.
"Udahlah, nggak dosa juga kan kalau gue tahu tentang Bumi." Kata Akash seraya meninju bahu Laut.
__ADS_1
"Masalahnya gue udah janji sama Bumi," elak Laut. "Lagian lo kepo terus sih!" kembali menyalahkan Akash.
Akash hanya tertawa, senang berhasil mengerjai Laut. Dia juga lega mendengar penuturan Laut tentang Bumi. Buminya baik-baik saja.
Getaran ponsel Laut membuatnya yang hendak menendang kembali Akash urung. Panggilan dari Bumi.
"Bumi," gumam Laut segera menerima panggilan itu.
"Kak, Uti kak. Uti.....huaaaa"
Terdengar suara Bumi menangis. Akash ikut memasang telinga. Suara yang paling ingin ia dengar kini bisa ditangkap telinganya. Namun, kenapa menangis.
"Kenapa Uti?"
"Uti baru saja menghembuskan nafas terakhirnya."
Bagai petir di siang bolong kabar yang diberikan Bumi. Ponsel Laut terjatuh dari genggamannya bersamaan dengan Bumi yang mematikan panggilannya.
"Kash, Uti Kash."
"Iya, Gue denger. Sekarang lo bangunin Ayesha." Akash membantu Laut berdiri, "gue siapin mobil. Lo nggak mungkin nyetir dengan keadaan kayak gini."
*******
Tepat pukul 20:30 Uti menghembuskan nafas terakhir di rumahnya. Asthma yang dideritanya sejak kecil adalah penyebabnya, tapi tentu itu sudah kuasa Allah. Bumi sempat bertemu dahulu dengan Uti. Saat sampai, Uti masih bernyawa dengan Ayas yang duduk di sebelahnya berbaring.
Saat itu mata Uti masih terbuka sedikit, nafasnya semakin berat. Tangannya digenggam erat oleh Ayas, tetangga yang datang mengalunkan surah Yasin, suara mereka bersahutan memenuhi kamar kecil uti.
Saat ashar tadi Uti masih bisa berjalan, bahkan mengantar Bumi yang hendak pergi mengaji sampai depan rumah. Tangannya bahkan melambai saat Bumi menaiki ojeg langgananannya. Tidak ada tanda-tanda Uti akan pergi selamanya.
Menurut penuturan Ayas pada Haji Endah, selesai shalat isya tiba-tiba saja Uti memegangi dada. Mengeluh sesak dan buru-buru Ayas memanggil beberapa tetangga juga menelpon Yudis. Kejadiannya begitu cepat, bahkan Uti masih mengenakan mukena saat malaikat Izrail mencabut nyawanya.
Uti berkali-kali melafalkan dzikir sebelum ajal menjemputnya. Seperti sengaja menunggu kedatangan Bumi, setelah Bumi datang dan sempat berbisik di telinga Uti "Uti, pergilah jika memang dengan begitu Uti nggak sakit lagi. Semoga khusnul khatimah. Bumi ikhlas."
Uti menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Bumi. Wajahnya berseri, matanya menutup sempurna. Bumi tak berani menangis, terisak juga tidak. Pelan meletakkan kepala Uti kembali ke kasur. Kemudian meninggalkan kamar, melakukan panggilan terhadap Laut.
Tangisannya pecah saat nada tunggu di ponselnya terdengar.
"Kak, Uti kak. Uti.....huaaaa". Tangisnya semakin pecah.
__ADS_1
"Kenapa, Uti?"
"Uti baru saja menghembuskan nafas terakhirnya."
Tak terdengar jawaban dari Laut, Bumi mematikan panggilannya. Di sampingnya sudah berdiri Hafidz.
"Jangan berlebihan ya nangisnya," ujar Hafidz seraya memberikan sehelai tisu dan Bumi mengambilnya.
"Ambil wudhu, segera mengaji." Kemudian kata Hafidz seraya berlalu membantu tetangga menyiapkan apa saja yang dibutuhkan untuk mengurusi jenazah Uti.
Seluruh santri Haji Ma'sum datang ke rumah Uti. Sebagian Mengaji sebagian lagi membantu persiapan yang lain. Yudis sibuk menelpon beberapa kerabat jauh sedangkan yang dekat sudah berdatangan dari tadi.
Air hangat disiapkan untuk memandikan Uti, diberi tumbukan daun pandan untuk memberi aroma harum pada air yang akan dibilas ke tubuh Uti untuk terakhir kalinya.
Sebagian tetangga juga mulai menyiapkan kapas dan kain kapan, dilakukan di ruang tengah agar leluasa. Kursi sengaja dipindahkan ke depan rumah.
Tak lupa bendera kuning dikibarkan di depan rumah uti. Banyak sekali pelayat yang datang. Mengingat Uti adalah orang yang sangat baik dan merupakan tukang urut bayi.
Bumi dan Ayas masih mengaji, sementara Lili dibantu kerabat yang lainikut memasak di rumah tetangga untuk orang-orang yang sedang membantu semua proses pemakaman Uti.
Tempat pemandian sudah siap, jenazah dibawa ke halaman belakang untuk dimandikan. Ayas dan Bumi turut serta. Keduanya menahan tangis memandikan jenazah uti untuk terakhir kalinya. Kulit yang bersih itu menguning, wajahnya berseri dengan bibir yang seolah tersenyum.
Bumi meminta izin pada Haji Endah untuk mencium wajah Uti, diizinkan Haji Endah dengan catatan jangan sampai ada air mata mengenai tubuh Uti.
Semua dilakukan secara khidmat, mulai dari memandikan sampai mengkafani tubuh Uti. Setelah jenazah kembali dibaringkan di tengah rumah, Bumi dan Ayas kembalu mengaji, membaca surah Al-Mulk sesuai anjuran Haji Endah.
Wajah Uti belum dibungkus, hanya ditutup kain kebat panjang. Sengaja bila kerabat ingin melihat untuk terakhir kalinya.
Laut, Ayesha dan Akash tiba saat Bumi menyelesaikan mengajinya. Laut yang pertama berhamburan di depan jenazah Uti.
"Jangan ada air mata yang mengenai tubuh jenazah," Haji Endah memperingati. Langsung Laut mengusap wajahnya yang sudah bercucuran air mata sejak tadi.
Segera dibuka kain penutup wajah Uti, Ayesha dan Laut menatap lamat-lamat wajah itu untuk terakhir kalinya. Akash ikut menatapnya. Sedihnya mungkin tidak sedalam Laut, tapi tetap iapun merasakan hatinya teriris.
Pandangan Akash kini beralih pada sosok yang dirindukannya. Sedang memeluk mushaf di dadanya. Wajahnya penuh dengan air mata, dengan bibir yang bergetar.
Pandangan keduanya bertubrukan, Akash mengulas senyum berharap Bumi membalasnya. Namun baru Bumi akan menarik kedua bibirnya ke atas, tiba-tiba tangan seseorang menyodorkan segelas teh ke hadapan Bumi.
"Teh manis gula batu, minumlah! kamu sudah terlalu lama menangis."
__ADS_1