Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
125


__ADS_3

Tak ada kata lelah jika untuk mempersiapkan kebutuhan sang calon buah hati. Baru saja sampai rumah Bumi langsung menata barang-barang yang dibelinya di kamar yang ia siapkan khusus untuk kedua buah hatinya nanti.


Merasa kegerahan ia membuka jilbab besarnya, juga menanggalkan gamisnya. Pandangannya ia sapukan ke seluruh ruangan mencari sesuatu yang masih kurang.


"Apa ya yang kurang?" gumamnya, "kasur udah ada, buat mandi udah, perlengkapan mandi udah, perawatan udah, apa ya?"


Suara pintu yang dibuka membuyarkan lamunannya, ia menoleh dan mendapati suaminya datang membawa nampan berisi air putih dan segelas susu.


"Kok minum susu lagi?" rengeknya. seingatnya tadi pagi dirinya sudah meminum susu.


"Tadi pagi kan cuma sedikit, sekarang juga sedikit." Sahut Akash segera memberikan gelas berisi susu yang sengaja ia buat dengan air hangat kuku.


"Minumlah, aku susah payah membuatnya." Suruh Akash, mau tidak mau Bumi meminumnya hingga tandas. Dia menyerahkan kembali gelas kosong itu pada suaminya.


"Kak, kira-kira apa yang kurang ya buat perlengkapan Dedek?" Bumi bergelayut di lengan suaminya itu.


Akash menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. "Sepertinya kurang lemari, deh. Anak bayi udah butuh lemari belum?"


"Oh iya lemari, aku dari tadi mikir yang kurangnya apa, tapi nggak kepikiran sama lemari." Ungkapnya begitu kegirangan setelah diingatkan Akash.


"Nanti lemarinya pesan saja biar pakai kayu yang berkualitas, seperti di kamar kita." Usul Akash dan diangguki Bumi.


"Kamu kenapa buka baju?" Akas menunjuk pakaian Bumi yang tergeletak di atas lantai.


"Gerah Kak, lihat nih. Sampai lengket semua badanku." Bumi menampakkan lehernya yang mengkilap karena keringat yang ditimpa cahaya lampu.


Akash hanya menggeleng, mengambil pakaian Bumi yang tergeletak di lantai lalu memasukkannya ke dalam keranjang yang ada di pojokkan dekat pintu kamar mandi.


Bumi masih terus memperbaiki tatanan perlengkapan calon kedua buah hatinya. Tidak ada kata yang dapat menggambarkam seberapa bahagia perasaannya saat ini. Ia menyusuri sekeliling ruangan, benar apa kata Akash hanya kurang lemari di ruangan itu.


Bumi kembali pada box bayi berukuran besar. Dirinya sudah membayangkan bagaimana jadinya bila box itu diisi oleh dua makhluk kecil nantinya. Hari-harinya akan lebih berwarna. Janjinya dalam hati, akan mencurahkan segala kasih sayang untuk kedua buah hatinya kelak.


Tiba-tiba tangan Akash melingkar di perutnya. Suaminya itu memeluknya dari belakang. Mengusap lembut perut yang kini terlihat jelas tanpa penghalang itu.


"Mereka sedang apa? tidur?" tebak Akash karena tak mendapati jabang bayi itu bergerak.


"Kalau sudah malam memang begini, mungkin lagi mager." Seloroh Bumi membuat Akash tertawa.


"Sekarang yuk?" bisiknya dan langsung diangguki Bumi. Anggap saja ini hadiah.

__ADS_1


***


Pagi menyapa dengan langit yang dibalut mendung. Tak ada kicau burung seperti biasanya. Bumi duduk di teras belakang rumahnya pada sebuah kursi kayu yang menghadap meja bundar. Di atas meja sudah tersedia segelas susu yang masih mengepul serta semangkuk sayur bayam juga nasi di atas piring kecil.


Belum Bumi sentuh sebab dirinya masih menunggu suaminya yang sedang menjemur sprei dan pakaian. Bila biasanya Bumi yang melakukannya, sudah semenjak masuk usia 8 bulan kehamilan ini kegiatannya diambil alih oleh suaminya.


Selesai menjemur Akash kembali menghampiri istrinya yang sedang memandanginya dengan tatapan hangat. Senyumnya sama dengan tatapannya.


"Kenapa? mau minta dibelikan apalagi?" tebak Akash. Ia tahu istrinya itu akan berubah sangat manis jika menginginkan sesuatu.


"Kucing, mau pelihara kucing, ya?" rengeknya seraya memperlihatkan gambar kucing dari ponselnya.


"Nggak boleh, kamu lagi hamil. Jangan aneh-aneh!"


Akash menepis tangan istrinya yang memegangi lengannya. Selama ini dirinya cukup bersabar dan mengabulkan apapun keinginanya. Tapi, kali ini permintaan istrinya itu sangatlah berat untuk ia kabulkan.


Memelihara kucing bukan saja harus memberinya makan. Itu artinya juga harus memandikannya, membersihkan kotorannya.


"Kak, aku janji cuma lihat aja. Nanti kan Kakak yang urus." Tutur Bumi, dengan santainya ia berkata seperti itu.


"Dek, kerjaan aku tuh banyak bukan cuma ngurus kucing. Aku harus jaga kamu, ngurusin rumah, ngurusin kafe juga. Belum harus selalu komunikasi sama orang-orang kepercayaan aku. Kamu jangam aneh-aneh permintaannya." Ungkap Akash panjang lebar, dia merasa perlu sedikit lebih tegas dengan sikap manja istrinya itu.


"Ayok, makan!" tangannya sudah terangkat dengan satu sendok nasi ke depan mulut istrinya.


Dengan perasaan hancur Bumi berupaya menerima suapan itu. Tenggorokannya terasa sangat sulit saat menelan. Bibirnya pun berat saat menerima suapan demi suapan dari tangan suaminya.


Entah mengapa hatinya mendadak sakit saat mendengar Akash menolak keinginannya. Selesai menyuapi istrinya, Akash pamit untuk mandi. Dia tahu istrinya itu sedang merajuk. Tapi, kali ini Akash tidak akan terbujuk oleh drama yang akan dilakoni istrinya itu.


Selesai mandi ia sudah mendapati istrinya rapi memakai pakaian senam. Wajahnya terlihat murung dengan tangan yang dilipat di dada. Kakinya yang terbungkus sneaker putih ia ketuk-ketukan ke atas lantai.


"Ayok berangkat!" ajak Akash membuat Bumi segera berdiri dan berjalan terlebih dahulu tanpa menjawab perkataan suaminya.


"Lewat sini, Dek!" Akash menunjuk jalan yang terhubung ke lantai atas lewat pinggir rumahnya.


"Nggak mau!" sahut Bumi, ketus. Ia berjalan menaiki undakan tangga dengan terus menghentakkan kakinya. Akash segera berlari unyuk berjalan di belakang tubuh istrinya. Bagaimanapun, ia khawatir jika istrinya itu terluka atau sekedar terpeleset.


"Teh Lin, antar istri ke sanggar dulu, ya!" teriak Akash pada Lina yang sedang berada di meja kasir, namun dapat terlihat oleh jangkauannya.


"Siip, Bang. Santai saja." Sahut Lina.

__ADS_1


Bumi terus saja berjalan seraya menghemtak-hentakan kakinya. Ia bahkan membuka sendiri pintu mobil setelah Akash membukanya otomatis lewat kontak.


Tak segan Bumi membanting dengan keras pintu mobilnya. Inilah bagian dari diri Bumi yang Akash tidak sukai. Ia senang sekali marah dan merajuk untuk hal-hal yang menurut Akash sepele.


Namun, biar bagaimana ia tak pernah membahasnya. Akash sadar kekurangan yang ada pada istrinya adalah hal yang harus ia sukai bahkan harus ia cintai pula.


Sebelum melajukan mobilnya, Akash berusaha menghirup udara dalam-dalam berharap dia mendapatkan ketenangan dan kekuatan untuk bersabar menghadapi tingkah istrinya.


"Buruan jalan, senamnya udah mau dimulai." Cicit Bumi tanpa menoleh pada suaminya.


Kali ini Akash enggan menjawabnya. Lidahnya kelu harus berkata apa lagi.


Setelah melafalkan do'a dalam hati, Akash mulai memutar kemudi. Dengan gerakan lembut ia tinggalkan halaman kafe menuju sanggar senam yang jaraknya hanya 15 menit dari kafenya.


"Aku nggak bisa nung-"


Belum sempat Akash menyelesaikan kalimatnya, Bumi sudah beranjak dari duduknya dan membuka pintu mobil dengan kasar. Sama seperti sebelumnya, ia kembali menutup pintu mobil dengan kasar.


Akash segera keluar dari mobil begitu Bumi sudah berada di luar.


"Pulangnya nanti kujemput,"


"Hmm."


Hanya gumaman sebagai jawabannya. Bumi masuk ke dalam sanggar tanpa bicara apa-apalagi. Meninggalkan suaminya yang terpaku melihat kepergiannya.


"Bahkan dia kasar gitu juga gue nggak bisa marah. Shit!" Umpatnya pelan seraya kembali masuk ke dalam mobil.


Cukup lama ia berdiam diri di dalam mobil. Mencari celah di mana kesalahannya. Namun ia tidak menemukannya. Ia hanya ingin melindungi istrinya dari bahaya. Apalagi sekarang ia sedang mengandung.


Kucing memang merupakan binatang kesayangan Rasullullah, tapi jika harus setiap hari merawatnya maka pekerjaannya akan banyak yang terbengkalai.


Setelah merasa tenang dengan mengucap istighfar berkali-kali, barulah ia memutar setir mobil dan meninggalkan halaman sanggar senam itu.


Tugasnya mengurusi kafe masih banyak, Akash berusaha mengesampikan pikiran yang tidak-tidak.


Tiba di kafe, ia mendapati mobil Ummi terparkir rapi di halaman. Keningnya mengerenyit, tak yakin jika Ummi yang datang. Namun saat mendengar celotehan Alisha dari dalam kafe, barulah ia yakin kalau keluarganya datang berkunjung.


Sebelum masuk, ia sempatkan mengirimkan voice note pada istrinya. Sayang, ada Ummi di rumah. Nanti pulangnya aku jemput. Selesai urusan sama Teh Lina aku balik lagi ke sanggar. Semangat senamnya, love you.

__ADS_1


Seulas senyim ia tampilkan di bibirnya. Berharap Bumi akan sedikit luluh setelah mendengar voice note darinya. Langkahnya ia bawa ke dalam kafe. Hatinya sudah sangat rindu pada Ummi.


__ADS_2