
Semalaman Bumi memikirkan kata-kata Nadia. Nadia saja yang sudah hafal 15 juz dengan shalat tahajud dan dhuha yang continue mengatai dirinya sendiri sebagai anak yang jauh dari kata sholehah. Nadia masih merasa terlalu banyak dosa. Apa kabar dengan Bumi. Gamis dan hijabnya belum Dia lepas semenjak magrib tadi pulang dari rumah Ummi.
Bumi meringkuk di kasurnya memeluk bingkai foto Papanya. Telinganya seperti mendengar kembali kalimat Nadia.
Kata Ummi pacaran itu tidak mencerminkan seorang muslim yang baik. Nadia sih takut jika berbuat sesuatu yang dibenci Allah, takut dosanya datang pada Abah. Nadia lebih baik dijodohkan saat menikah nanti. Kakak tahu kan, sekali Kita berbuat dosa di dunia maka orangtua Kita yang telah tiada akan mendapatkan siksaannya juga. Abah Nadia dan Papanya Kak Bumi kan telah tiada, jadi lebih baik sebagai anak Kita selalu berusaha menjadi muslimah yang baik agar yang datang pada Mereka juga kebaikan.
Apa Papa di sana menderita karena kesalahan yang selalu Bumi buat?
**********
Pagi itu Bumi bangun lebih awal. Posisinya masih meringkuk dengan bingkai foto dalam pelukkannga. Dia menggeliat merasakan tubuhnya yang terasa sakit semua. Samar-samae terdengar suara mengobrol dari bawah. Karena merasa penasaran dan perut yang mulai lapar Bumi lekas turun ke bawah.
Sampai di bawah dilihatnya Laut, Akash dan Ayas yang sedang sarapan di ruang makan.
"Masyaallah, Dek. Kamu semalaman tidur pakai baju itu? Udah taubat Kamu?" Laut merasa lucu melihat hijab Bumi yang letaknya sudah tak karuan.
Bumi tidak menjawab hanya menatao kesal Kakaknya. Dia segera menarik salah satu kursi dan segera mendudukan dirinya. Baru mengambil piring, Laut sudah kembali bicara.
"Dek, cuci muka dulu. Jorok!"
Awalnya Bumi tetap tak menjawab. Mood nya memang selalu jelek saat bangun tidur.
"Sayang, cuci muka dulu!." Kali ini Ayas yang angkat bicara.
Demi mendengar suara lembut Ibunya, Bumi berusaha tersenyum lalu beranjak menuju kamar mandi Ibunya. Dilepaskan hijabnya dan ditaruh sembarangan di sofa ruang tamu.
"Iiih tuh lihat, Mam! Masa anak gadis jorok gitu." Laut mencibir kelakuan Bumi.
"Jangan bicara seperti itu. Itu semua salah Mama yang tidak menemani masa-masa sulitnya. Jangan bicara yang bisa menyakiti hatinya". Ayas menjawab dengan nada penuh penekanan. Laut diam, sudah tidak bisa menjawab lagi.
Tak lama Bumi kembali dengan wajah segar, baju gamisnya sudah Dia lepas. Dia santai saja mengenakan legging dan kaos singlet.
"Dek, kalau ada tamu tuh pakai bajunya yang benar!"
Bumi tidak menjawab protes sang Kakak. Dia menyendokkan nasi goreng ke piringnya. Akash yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknyapun Dia acuhkan.
"Dek, risih tahu kalau lihat dandanan Kamu yang selalu terbuka gitu!" lagi-lagi sang Kakak protes.
Bumi tidak menjawab, Dia segera berdiri dan membawa makanannya lalu meninggalkan ruang makan.
"Dek, mau ke mana?"
"Kakak risih kan lihat Aku? memang seharusnya Aku tidak pernah kembali ke rumah ini!"
Bumi kembali menaikki tangga hendak kembalu ke kamarnya. Kakinya sengaja Dia hentak-hentakkan saat berjalan agar Langit tahu bahwa dirinya marah.
__ADS_1
"Lo keterlaluan!" Akash menyelesaikan makannya lalu menyusul Bumi.
Ternyata Bumi memang makan di kamarnya, pintunya tidak ditutup dan terbuka lebar.
"Bumi, boleh Aku masuk?" Akas berdiri di bibir pintu menunggu Bumi mengiyakan.
"Masuk aja, Kak!"
Akash masuk dan duduk di kursi kecil yang sering Bumi gunakan untuk duduk saat merias diri. Bumi duduk di lantai dan bersandar pada tempat tidurnya. Rambutnya kini terikat rapi. Dia sudah mengenakan cardigan.
"Aku bicara setelah Kamu selesai makan."
Bumi tak menjawab, entah mengapa perasaannya kacau. Dengan susah Dia menelan makanannya, namun tetap dihabiskan. Melihat piring yang sudah kosong Akash mulai membuka suaranya.
"Kamu tahu kan semua yang dikatakan oleh Laut tadi itu bentuk perhatiannya ke kamu?"
Bumi hanya mengangguk.
"Kamu marah? kesal?"
Bumi menggeleng.
"Kamu bisa cerita sama Aku."
"Aku mandi dulu, kalau Kakak mau denger Aku cerita Kakak bisa tunggu. Kebetulan Aku juga hari ini masuk siang," Bumi mulai berani mengarahkan pandangannya pada Akash.
Akash mengangguk lalu meninggalkan kamar Bumi seraya menutup pintu kamar itu.
****
Rooftop restoran Akash sepertinga telah menjadi tempat favorit Bumi. Setelah meminta izin pada Ayas, Akash dan Bumi segera berangkat. Bumi tidak bertemu dengan Laut saat berpamitan dengan Mamanya.
Berdiri bersandar pada pagar tembok menjadi pilihan Bumi saat bercerita dengan Akash.
"Aku bingung Kak mau cerita apa," Bumi tertawa kecil.
"Ceritakan apa yang sedang Kamu rasakan!"
"Aku kepikiran perkataan Nadia kemarin, Kak."
Bumi kemudian menceritakan ucapan Nadia padanya saat berada di kamar Nadia.
"Apa yang membuat Kamu bingung?" Akash mengubah posisi berdirinya, tubuhnya kini menghadap ke arah Bumi yang sedang memainkan kuku-kukunya.
"Aku merasa malu Kak. Aku gak pernah sholat, gak pernah ngaji, selalu buka aurat. Aku sudah banyak mengirimi Papa dengan amalan buruk," Bumi meluapkan apa yang dirasakannya.
__ADS_1
"Sudah tahu ingin melakukan apa selanjutnya?"
Bumi mengangguk, Dia mendongakan kepalanya agar air matanya tak jatuh.
"Aku ingin memperbaiki semuanya, Kak. Tapi bingung harus mulai dari mana?"
"Mulailah dari memperbaiki shalatmu, Bumi!"
"Aku lupa bacaannya."
"Aku akan membantumu."
Bumi sudah tidak tahan dengan air matanya. Dia menjatuhkan dirinya di atas lantai. Dia memeluk kedua kakinya dan menyembunyikan kepalanya di sana.
"Menangislah, Bumi!"
Perkataan Akash seperti menyemangati Bumu untuk menumpahkan segala tangisannya hari itu. Bumi menangis lama sekali. Hingga Akas ikut duduk di sampingnya. Hari ini ternyata Bumi mengenakan celana panjang dan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. Akash tersenyum menyadari hal itu.
Semakin lama tangis Bumi semakin reda namun Dia masih sesenggukan.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Akas saat Bumi mulai menaikkan kepalanya dan menselonjorkan kakinya. Bumi hanya mengangguk. Akas melakukan panggilan telpon, entah pada siapa.
"Bawakan air putih hangat dan coklat dingin ke rooftop. Oh ya, sendok yang tadi Saya suruh masukkan ke dalam frezzer sekalian dibawakan," Akash mengakhiri sambungan telponnya. Dia berdiri lalu mengambil tisu yang ada di meja dan segera menyodorkannya pada langit.
"Jangan minta Aku yang menghapusnya, belum muhrim."
Deg.
Debaran jantung Bumi tidak bisa dikondisikan demi mendengar kata belum muhrim. Belum berarti akan kan?.
Tak lama datanglah seorang pelayan wanita membawa pesanan yang Akash minta tadi. Pelayan itu segera pergi setelah Akash mengucapkan terimakasih.
"Minun dulu air hangatnya, baru boleh minum coklat dingin," Akas memberikan gelas pada Bumi yang sudah menghapus jejak air matanya. Matanya sangat merah dan sembab. Bumi segera meminum habis air hangat itu.
"Bissmillah dulu, Bumi!"
Bumi hanya tersenyum malu.
"Sekarang tempelkan sendok ini di kedua mata Kamu, biar bengkaknya hilang. Kamu gak mau kan kerja dengan kondisi mata yang sembab?"
Bumi tidak banyak protes, Dia segera melakukan apa yang dikatakan Akash. Rasanya segar sekali saat sendok dingin itu menyentuh matanya. Setelah beberapa menit dilakukan ternyata membuat mata menjadi ringan dan tidsk perih.
"Terimakasih ya, Kak. Aku akan lebih sering datang ke pengajian Ummi dan bertanya pada Nadia."
Bumi meletakkan kembali kedua sendok itu dan beralih mengambil coklat dingin. Sesekali Dia tempelkan gelas itu pada pipinya yang terasa panas.
__ADS_1