
Aku bingung, Aku sayang banget sama Damar. Padahal keluarga Damar juga nggak mempermasalahkan semua ini. Itu kan hanya masa lalu. Dan tante Nuri juga orangnya baik." Lila mulai terisak. Mengingat bagaimana cara Mamanya itu mengusir keluarga Damar.
Bumi mengusap-usap punggung Lila, berharap bisa memberikan ketenangan untuknya. Lila menangis tanpa suara. Tangannya mencengkram selimut yang masih membungkus kakinya. Bumi melirik jam di dinding, sudah hampir pukul 00:00.
"Kak Lila udah sempet tidur belum?"
Lila hanya mengangguk sebagai jawaban. Bibirnya dia lipat ke dalam. Nafasnya naik turun.
"Shalat tahajud, yuk?"
Lila kembali mengangguk. Diusapnya air mata yang sebagian mulai mengering di pipinya kemudian katanya, "Tapi Aku nggak hafal do'anya."
"Bukan masalah, lihat tepat di dinding itu ada bacaan do'anya. Aku sengaja buat di sana karena Aku juga baru belajar." Bumi menunjuk pada kertas yang Dia tempel di dinding di sudut ruangan, tepat arah kiblat.
"Iya, Aku lihat."
"Ketuk hati Mamanya Kak Lila dalam sujud, semoga Allah segera menyampaikannya."
Bumi menuntun langkah Lila, Dia meraih pergelangan tangan gadis yang memiliki tinggi badan lebih pendek beberapa senti darinya. Bumi menyilahkan Lila terlebih dulu mengambil wudhu sementara dirinya segera mengambil mukena untuk Lila. Dibentangkan dua sajadah berbeda warna ke arah kiblat. Tak lama Lila sudah kembali, wajahnya lebih segar dan bibirnya sudah mengulas senyum. Bumi membalas senyum itu lalu segera mengambil wudhu setelah berkata "Kak Lila duluan aja, minta sama Allah apa yang ingin Kak Lila raih. Sesungguhnya Allah itu adalah sebagaimana hati hambanya."
Bumi sedikit banyak memang sudah mulai mendalami ilmu agamanya. Awalnya memang karena Akash, tapi lama kelamaan Dia malah merasa menemukan ketenangan lewat ilmu yang Dia dapat. Bacaannya sudah berganti dari novel menjadi tafsir Al-qur'an. Bahkan Dia sudah memiliki banyak catatan kecil pada buku hariannya setiap kali menemukan terjemahan surah yang sangat sesuai dengan isi hatinya.
Lila sedang melakukan rakaat kedua saat Bumi kembali dari berwudhu. Langsung saja Bumi mengenakan mukena berwarna putih itu. Melafadzkan ta'awudz sebelum mengucap bismillah dan akhirnya sampailah pada niat shalat thahajud dua rakaatnya. Bumi hanya mampu di dua rakaat saja, itupun masih bolong-bolong Dia lakukan.
Gerakannya sangat tumaninah, sedikit mengeraskan suara agar bisa terdengar oleh telinga sendiri. Sebab, menurutnya dengan begitu bisa membuatnya khusu dalam shalatnya.
Sementara Lila sudah pada bagian membaca do'a. Dia sedikit mendekati kertas yang ditempel di dinding sesuai yang Bumi tunjukkan nanti. Selesai membaca do'a, Lila tertarik membaca tulisan di bawahnya yang berisi perbanyak baca istighfar, 100 kali minimalnya. Lila melakukan hal itu, Dia melafadzak istighfar dengan ruas jari sebagai alat hitungnya.
Bumi pun selesai dengan shalatnya, Dia tidak perlu mendekati tulisan pada dinding sebab sudah hafal dengan do'anya. Dia berlama-lama saat melafadzan istighfar. Kali ini disusul dengan membaca shalawat semampu yang Dia lafadzkan.
Lila menyelesaikan seratus istighfarnya. Dia mulai kembali menengadahkan kedua tangan dan mulai menggumamkan do'a
Ya Rabb, permudahlah urusanku dengan Damar. Buka lah hati Mama hamba agar memangkas dendamnya dan merestui hubungan Kami. Selamatkanlah hamba dan Damar dari api dosa yang sudah terlalu lama kami pantikan. Tuntun langkah kami hingga menuju halal, aamiin.
Seperti halnya Lila, Bumi setelah menyelesaikan seratus istighfar dan shalawatnya juga mengangkat kedua tangan dengan penub kerendahan hati. Pikirannya mengingat Akash yang sore tadi diam-diam dia rekam dengan sorot matanya.
Ya Allah, jika memang Aku berjodoh dengannya maka berikanlah Aku kekuatan hati dan kesabaran dalam menunggunya menjemputku dalam keadaan halal. Namun jika memang bukan Dia jodohku, maka permudahlah hati kami menghapus dan meredam perasaan yang terlanjur mendalam. Tuntun Kami agar tak tersesat Ya Allah. Hanya Engkau maha membolak-balikkan hati Kami maka hanya pada-Mu lah Aku kembalikan segalanya. Jika getaran itu nyatanya hanya memantik api dosa di antara Kami, maka berikanlah Kami rasa ikhlas tanpa memelas. Aamiin.
Di belahan langit yang lain, Do'a pun sedang dilantunkan oleh seorang pemilik wajah tampan yang Bumi bawa dalam do'anya. Dialah Akash, si pria yang mendadak labil sebab perjodohan yang membuatnya harus berkali-kali menyakiti hati Bumi. Gadis yang sedari kecil sudah mencuri hatinya.
Perjanjian konyol yang Dia lakukan dengan Bumi saat kecil nyatanya memang memantikan api cinta itu berkobar di hati keduanya hingga dewasa. Terpisah dalam waktu yang lama tidak membuat keduanya mengubur perasaan itu. Bahkan kesalahan kedua insan itu adalah memupuk terlalu subur cinta yang akhirnya menyulitkan keduanya untuk lepas dari jerat rasa yang tak berkesudahan.
Akash dengan kepala batunya tidak pernah berniat melepaskan Bumi meski kenyataan di hadapannya adalah jalan yang harus dia tapaki. Terlebih saat Rere malah mendukung aksi untuk mengagalkan pernikahan itu. Niatnya mempertahankan Bumi semakin memiliki alasan yang kuat.
Namun kelecewaan Bumi yang sudah berkali-kali terjadi membuat gadis itupun ragu untuk meneruskan jeratan rasa yang sepertinya mengakar. Ingin sekali berharap tapi pernah sekali waktu Dia melakukannya nyatanya hanya kekecewaan yang Dia dapat.
__ADS_1
Akash meraih ponselnya setelah memanjatkan do'a dalam hatinya. Nomornga masih diblokir oleh Bumi. Entah sampai kapan. Hatinya begitu merindukan sosok gadis mungil itu. Dia kembali membuka story chatnya bersama Bumi sebelum nomornya diblokir. Bibirnya mengulas senyum saat membaca satu persatu rangkaian kalimat yang Bumi kirim lewat pesan itu.
Akash iseng membuka bagian status dalam whatsappnya itu meski jarang sekali melakukannya. Dia hanya akan melihat status orang-orang terdekatnya saja. Salah satunya biasanya Bumi, kesenangan gadis itu adalah berkali-kali membuat status dengan caption delete soon. Jangan harap 30 menit kemudian status itu masih ada. Setelah menyadari status yang di upnya memalukan, Bumi akan langsung menghapusnya seraya meruruki dirinya sendiri.
Mata Akash tertarik membuka status Lila dan pandangannya langsung tertuju pada poto Lila dan Bumi yang memakai mukena, saling menempelkan pipi dengan mata terpejam dan bibir mengulas senyum tipis. Unggahan tersebut Lila buat dengan caption mau ditikung gak?
Tanpa pikir panjang, Akash langsung melakukan panggilan terhadap nomor Akash. Setidaknya Dia ingin mendengar suara Bumi walau yang akan keluar dari mulut gadis itu adalah perkataan pedas.
Dua kali nada tunggu terdengar sebelum akhirnya suara Lila menjawab panggilan itu. Setelah berbalas salam, tanpa basa-basi yang lain Akash langsung saja menanyakan keberadaan Bumi. Bumi menggeleng dengan wajah memelas agar Lila tidak memberikan sambungan telpon lewat ponsel itu padanya.
"Bumi nya tidur, Kash."
"Bohong, bilang sama Dia gue cuma ngomong bentar doang."
Lila tak langsung menjawab, Dia mengucapkan kalimat "gimana?" tanpa suara. Bumi menggeleng, Dia mengibaskan tangannya sebagai penolakan.
"Serius Kash, Dia udah tidur."
"Gue nggak percaya, suruh Dia ngomong sekarang juga atau Gue samperin ke situ sekarang?!"
Bumi benar-benar geram dengan ancaman Akash, Lila sengaja meloudspeak agar Bumi bisa mendengarnya. Bumi meraih ponsel itu dari tangan Lila.
"Apa.... "
"Nggak usah basa-basi. Mau apa?"
"Mau Kamu.... "
"Ngaco, udah ya Aku sama Kak Lila mau tidur."
"Ya udah, selamat tidur. Baca do'a dulu. Buka pesan terakhirku yang belum Kamu baca."
"Males...."
Bumi menyerahkan kembali ponsel pada pemiliknya. Lila melihat panggilan itu masih terhubung, Dia mematikan mode loudspeak tapi sebelum mematikan panggilan itu Dia berinisiatif mengucap salam terlebih dahulu dan meletakannga sembarang di atas kasur.
"Kamu blokir nomor Akash?" tanya Lila.
"Itu langkah awal buat lupain Dia, Aku nggak mau memperumit keadaan Kak."
"Perasaanmu?"
Bumi yang sedang duduk memilih merebahkan tubuh seperti yang sudah dilakukan Lila. Dia menarik selimut hingga menutupi dadanya.
"Perasaanku nggak ada artinha Kak. Kita berdua hanya akan saling menyakiti jika masih keukeuh mempertahankan hubungan ini."
__ADS_1
"Kalian tuh sebenarnya pacaran atau gimana sih?" Lila mulai tertarik dengan kisah cinta Bumi dan Akash yang menurutnya memiliki tingkat kerumitan yang sama seperti kisah cintanya.
"Kita nggak pacaran Kak. Aku tahu Kak Akash juga sayang sama Aku, Aku apalagi." Bumi tertawa kecil, menyelipkan rambut ke belakang telinganya dan katanya lagi, "tapi semua itu akan sulit jika benteng penghalang cinta Kami adalah Keluarg besar Kak Akash."
"Kamu nggak mau berjuang?"
"Aku sempat berjuang dan berharap namun nyatanya hanya berakhir kecewa, walaupun.... "
"Walaupun apa?"
Lila penasaran dengan kalimat yang digantung Bumi.
"Kak Rerw sebenarnya juga ingin mengagalkan rencana pernikahan Mereka."
"Koq bisa?"
"Rere sama dokter Guntur itu pacaran, Kak."
Lila membekap mulutnya sendiri, kaget dengan kenyataan yang dipaparkan Bumi. Dokter Guntur memang tampan, tapi tidak memyangka saja bahwa yang dicintainya adalah Rere. Si gadis arogan yang sombong.
"Koq bisa? dokter Guntur kan baik, ramah, kalem juga."
"Rere juga baik,"
"Harusnya itu bisa dijadikan genjatan senjata buat menyatukan hubungan kalian."
Bumi hanya tertawa, andai semudah itu sudah pasti Bumi dan Akash tidak harus saling berjauhan seperti saat ini.
"Yang menentukan kan Keluaga besar Kak Akash, bukan sekedar Rere dan Kak Akash."
"Yang menentukan bukannya Allah, ya?"
Bumi berfikir sejenak lalu menertawai kalimatnya tadi.
"Udahlah Kak ayok tidur. Udah jam setengah dua tuh. Aku ngantuk," ucap Bumi seraya memejamkan mata dan di menit selanjutnya Dia sudah berada di alam mimpi.
Akhirnya Lila mengikuti jejak Bumi, Dia mulai memejamkan mata. Pikirannya sedikit tenang. Apalagi setelah bertukar cerita dengan Bumi. Lila merasa nasibnya lebih baik dari Bumi. Setidaknya Dia hanya oerlu meluluhkan hati Mamanya.
Sementara Bumi tandingannya adalah Keluarg besar Akash. Terkadang bertukar cerita memang perlu dilakukan. Bukan untuk membandingkan hanya sebagai penawar luka sekaligus ajang bersyukur bahwasanya selalu ada orang-orang yang bernasib tidak lebih baik dari kita.
Sementara di seberang sana Akash benar-benar memutus panggilannya setelah dipastikan kedua gadis yang obrolannya sengaja Dia dengar sudah tidur.
Hati Akash merasakan kepiluan yang dirasa oleh Bumi. Posisi Bumi memang sulit. Cibiran bahwa Bumi hanya seorang anak supir memang sudah Dia dengar dari keluargnya. Memang bukan keluarga dekat yang sering mencibir. Hanya istri dari pamannya yang notabene adalah menantu di Keluarga besar itu yang seringkali mencibir Bumi.
Akash merebahkan tubuh, matanya mulai dipaksa terpejam kembali. Dia membawa luka pada hati yang selalu tercabik-cabik saat mengingat kenyataan bahwa akan sulit menyatukan cintanya bersama Bumi. Dia berharap ada do'a nya ataupun do'a Bumi yang akan diijabah Allah.
__ADS_1