
"Salasika Arabella, wanita tangguh yang cantik." Jawab Bumi cepat seraya meraih bayi itu dari pengkuan Akash.
"Assallamuallaikum, Ara ...." Sapanya dengan senyum riang.
Sementara itu, Vanya sudah berusaha beranjak dari berbaringnya. Vanya mulai merasa tubuhnya lengket juga kepanasan.
Melihat Vanya turun dari tempat tidur, membuat Bumi segera mencegahnya. Bumi tahu bagaimana rasanya baru melahirkan. Pasti sakit dan perih pada daerah inti kewanitaan. Vanya harus dibantu jika ingin melakukan sesuatu.
"Mau ke mana?" tanya Bumi, tetap menggendong Ara yang tampak nyaman di pangkuannya.
"Mandi, Kak." Jawab Vanya tanpa berani menoleh pada Bumi. Ia tak ingin melihat wajah bayi itu.
"Tunggu dulu! nanti dibantu teh Lina." Cegah Bumi dan membuat Vanya kembali duduk.
"Iya, benar kata Kak Bumi. Kamu mandinya harus dibantu." Celin setuju dengan pendapat Bumi.
"Aku harap setelah ini kamu bisa lebih memperbaiki diri ya, Nya." Ucap Bumi serius. "Cukup sekali kamu melakukan kesalahan." Lanjut Bumi seraya menyentuh pundak Vanya.
"Bersyukurlah sebab masih diberi kesempatan meraih cita-cita, jangan sia-siakan lagi." Perkataan Bumi membuat Vanya menangis sekaligus menyesali perbuatannya.
"Makasih ya, Kak. Aku yakin, bayi ini berada di tempat yang tepat." Kali ini Vanya berani menoleh pada Bumi. Menatap bayi perempuan yang baru saja ia lahirkan.
"Namanya Ara, Salasika Arabella." Ujar Bumi.
"Hai, Ara. Maafkan Mami, ya. Jadi anak baik sama ...."
"Bunda, sekarang Ara anak Ayah dan Bunda." Akash menyahuti perkataan Vanya dengan nada ketus. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Vanya dan kekasihnya. Berani menebar tak berani menuai.
Vanya dibuat menunduk oleh Akash, dia merasa tak enak hati oleh perkataan Akash. Vanya benar-benar menyesali perbuatannya. Ia merutuki kebodohannya.
Beruntung Lina segera kembali, ia membawa satu botol kecil susu di tangannya. Kedatangan Lina cukup bisa memangkas ketegangan yang terjadi gara-gara ucapan Akash.
"Teh Lina bantu Vanya mandi, biar aku yang kasih Ara mimi." Ujar Bumi seraya mengambil botol dari tangan Lina.
"Widih udah ada namanya nih bayi?"
"Namanya Salasika Arabella, putri Akash dan Bumi." Sahut Akash penuh penekanan membuat Vanya lagi-lagi menunduk bahkan menelan salivanya. Takut.
__ADS_1
"Kaak, jangan gitu dong. Kasihan Vanya." Bisik Bumi seraya menyikut perut suaminya.
"Udah, sana mandi. Jangan lupa cuci kainnya." Akash memang tak pernah bisa basa-basi kalau tidak menyukai sesuatu.
"Teh Lina, tolong ajak Vanya mandi. Bantu juga bersihkan kainnya." Bumi mengedipkan mata agar Lina segera membawa Vanya dari ruangan.
Lina mengangguk mengerti. Ara dalam pangkuan Bumi menggeliat, mulai merengek mencari sesuatu dengan menggerakan mulutnya.
"Aduh ... aduh ... Sayang, mau mimi?" Bumi duduk di sofa seraya segera memasukan botol ke dalam mulut Ara. Ara melahapnya rakus. Akash ikut mendekat, ia usap pipi Ara yang sedang kembang kempis menyedot susunya.
"Cantik kan?" tanya Bumi, Ara masih bayi namun kecantikannya sudah sangat terlihat.
"Iya, Bundanya nanti kalah." Seloroh Akash membuat Bumi berdecak kesal.
"Kakak tuh nggak bisa deh kalau nggak bikin aku kesel."
"Abis kamu kalau lagi kesel tambah cantik." Akash mencium pipi Bumi tanpa malu dilihat Celin yang sedari tadi hanya mematung karena merasa takut akan perkataan Akash pada Vanya,
Pintu yang sudah tertutup kembali terbuka. Adalah Ayas pelakunya, ia datang seraya menggendong Aro yang sudah mulai merajuk. Apalagi ketika melihat Bundanya memangku bayi lain, seketika Aro memukul-mukulkan tangannya ke udara.
Tangannya meronta hendak menarik Babby Ara dari pangkuan Bundanya. Bumi segera menyerahkan Ara ke pangkuan Akash. Dia bisa kewalahan jika Aro sudah sampai di titik amarahnya.
Aro masih belum menghentikan amukannya, matanya kembali mendelik saat melihat Ayahnya memangku Ara.
"Kak, bawa keluar saja. Aro kalau udah nggak suka nggak bisa dibujuk." Ujar Bumi seraya membuka kancing depan gamisnya. Dengan cepat mengeluarkan bagian tubuh yang akan dihisap Aro.
"Bissmillahirahmanirrahiim"
Aro berhasil ditaklukan, Bumi menghela nafas sebab putranya kini sudah dengan rakus menghisap ASInya.
Ayas ikut duduk di samping Bumi seraya melambaikan tangan pada Celin yang masih memasang wajah takut.
"Kamu takut sama suamiku?" tebak Bumi seraya terkekeh.
"Aku nggak nyangka, Bang Akash pedes juga bicaranya." Ujar Celin malu-malu.
"Dia itu manisnya cuma sama istrinya." Beritahu Ayas dan diangguki oleh Bumi.
__ADS_1
"Jadi gimana?" tanya Ayas pada Bumi. Bumi yang mengerti maksud pertanyaan Ayas langsung menjelaskan bahwa Ara sudah sepenuhnya diberikan padanya dan Akash.
"Apa nggak perlu pakai surat-surat agar lebih kuat?" Saran Ayas membuat Bumi sejenak berfikir. Sesekali meringis sebab Aro sering tiba-tiba menggigit bagian tubuhnya yang sedang dihisap.
"Nanti aku bicarakan sama Kakak." Sahut Bumi seraya mengaduh karena gigitan Aro kali ini lebih kuat.
"Mas Ar, jangan gitu, Sayang. Bundanya kesakitan." Ayas mengusap kepala cucunya. Perkataan Ayas sontak membuat Aro melepaskan mulutnya dari tempatnya menghisap.
Bayi itu memandang Bumi dengan binar mata yang teduh. Kemudian tersenyum menampakan giginya yang masih kecil-kecil.
"Iya, Bunda maafkan. Tapi, jangan diulang. Ok?"
Aro kembali menghisap kesukaannya itu. Dia menuruti Bundanya, meski masih dengan rakus tapi tanpa ada adegan gigit mengigit yang membuat Bumi kesakitan.
"Eh iya, Cil. Pacarnya Vanya kemana?" Bumi teringat dengan bocah tengik itu. Bisa-bisanya dia biarkan Vanya melahirkan sendirian.
"Kakak belum tahu ya?" ujar Celin seraya berdehem. "Dia meninggal karena jadi korban tawuran di Sukabumi, Kak. Tubuhnya hanyut terbawa arus sungai saat lari dari kejaran musuh."
"Innallillahi ...."
"Makanya, kasihan Vanya harus nanggung ini sendirian." Beber Celin dengan wajah sendu.
"Cel, kamu baik banget sih mau nemenin Vanya sampai di titik ini." Puji Bumi pada Celin yang memang selalu jadi motivator untuk teman-temannya.
"Aku anak yang broken home, Kak. Daripada kesepian di rumah lebih baik melakukan hal-hal yang bermanfaat." Jawab Celin dengan tawa riang.
"Semoga kebaikan selalu menyertaimu, sekecil apapun kebaikan. Allah akan membalasnya." Ayas menyentuh punggung tangan Celin penuh sayang.
"Makasih, Bu." Ujar Celin dengan mata berkaca-kaca. Ia yang tak memiliki sosok Ibu merasa tersentuh diperlakukan semanis itu oleh Ayas.
"Udah jangan drama, Celin itu gadis yang kuat. Semoga nanti dapat jodoh yang baik." Hibur Bumi seraya kembali meringis sebab Aro tak menepati janjinya.
"Aamiin." Sahut Celin dan Ayas bersamaan.
Ketiganya fokus memperhatikan Aro yang terus saja dengan rakus menghisap kesukaannya itu. Tangannya sesekali ia sentuhkan ke wajah Bundanya. Kakinya tak bisa diam dengan menendang-nendang ke udara.
Sesekali ia lepaskan hisapannya saat Bumi mengobrol dengan Ayas. Namun begitu Bumi kembali memperhatikannya Aro pun kembali menghisap ASInya. Bayi itu benar-benar tak ingin diacuhkan.
__ADS_1
. sudah tekan like? komennya nggak pernah muncul nih. Otor jadi sedih