
Bumi masih mencak-mencak saat Yudis yang baru selesai membersihkan diri kembali menemuinya yang sedang duduk di kursi bambu, masih di belakang rumah.
Bumi melepas sepatunya yang kotor, beruntung hanya sebelah.
"Salim dulu nih!" seru Yudis menyodorkan tangannya pada Bumi. Tentu Bumi meraih dan mencium punggung tangan yang kini sudah wangi itu.
"Jangan suka bicara kasar," ucap Yudis seraya menelisik ke wajah keponakannya yang masih memasang tampang kesal. "Nggak baik mengatai orang dengan kata-kata kotor."
"Apasih maksudnya?"
"Kamu tadi bilang Hafidz santri edan?"
Bumi mengingat kembali kalimat yang beberapa lalu ia ucapkan. Kepalanya mengangguk.
"Reflek, habis dia menyebalkan." Bumi berkilah.
"Tetap saja nggak boleh, hargai ini." Ujar Yudis menyentuh ujung phasmina yang dikenakan Bumi.
"Iya, nanti aku minta maaf." Ucap Bumi seraya membuka sebelah sepatunya yang tak kotor.
Sementara itu di dapur, Lili menjawil lengan adik sepupunya itu dengan sengaja.
"Apa-apan sih, Mbak?" protes Hafidz.
"Kamu apa-apaan godain Bumi?" Lili balik bertanya, kejadian tadi rupanya diketahui sepasang suami istri itu.
"Becanda Mbak, kayak nggak tahu siapa aku?!" Hafidz membela diri.
Dialah Hafidz, penuh canda hari-harinya. Sebagai seorang pengajar, sifatnya yang mudah bergaul dan ramah memang cocok karena membuat setiap murid sangat nyaman ketika berinteraksi dengannya.
Namun, Hafidz lupa pada siapa kali ini candaanya dia layangkan. Bumi bukanlah seorang yang mudah didekati lelaki yang baru dikenalnya. Jika itu wanita mudah saja, tapi ini lain ceritanya.
"Minta maaf sana!" seru Lili.
"Salahnya di mana?"
"Kamu itu santri, guru malah. Jaga bicaramu!" Lili kali ini menaikkan nada bicaranya, tangannya sudah berkacak pinggang.
Hafidz mengingat potongan kejadian barusan, dia tersenyum sendiri manakala kata sayang yang dia temukan pada ingatannya.
"Aku sudah biasa berkata begitu pada murid-muridku," ucap Hafidz seraya mengusap rambut depannya.
"Kecuali kalau dia baper, hahahah." Tawanya pecah tapi malah membuat Lili semakin marah.
Dicubitinya perut adik sepupunya itu tanpa ampun, sampai akhirnya sang korban mengaduh minta dilepaskan. Lili menghentikan aksinya manakala Yudis menghampiri keduanya.
Yudis memandangi satu persatu kedua saudara sepupu itu seraya menggeleng. Tangannya tergerak ke arah rak sepatu, mencari sandal jepit yang diminta Bumi.
"Cari apa?" tanya Lili.
"Sandal buat Bumi, sepatu kotornya mau dicuci." Ucap Yudis sengaja menekan kalimatnya dan menoleh pada Hafidz seolah ingin memberi tahu kesalahannya yang menginjak sepatu Bumi hingga kotor.
"Biar saya saja yang berikan," ucap Hafidz merebut sepasang sandal jepit smallow dengan tali berwarna biru itu.
Bumi masih duduk saat Hafidz datang memberikannya sandal. Diambil oleh Hafidz sepatu Bumi yang kotor. Bumi kaget melihat tingkah Hafidz, dirinya reflek berdiri hendak mengambil kembali sepatunya. Namun gagal, tubuh tinggi Hafidz dengan tangan mengangkat ke udara semakin menjauhkan Bumi menjangkau sepatunya.
"Saya bantu bersihkan," ucap Hafidz kali ini tak berani menatap apalagi melirik Bumi.
Bumi baru saja akan berucap namun Hafidz kembali berkata, "anggap saja sebagai permintaan maaf."
Detik berikutnya Hafidz sudah melangkah membawa sepatu Bumi ke dalam, ke kamar mandi yang ada di dapur. Bumi melongo saat melihat punggung pria itu masuk ke bibir pintu. Diliriknya sepatunya yang sebelah lagi, tidak kotor.
Bumi duduk kembali, merogoh ponsel pada tasnya. Sedari tadi getarannya bertubi-tubi, panggilan tak terjawab dari Laut, beruntut pesan dari Ayesha.
Bumi mengulum senyum, saat akan mengetik balasan tangannya terhenti sebab Lili sayup-sayup memanggil namanya. Akhirnya Bumi urung membalas pesan. Kembali memasukkan ponsel ke dalam tas.
Tak didapati Lili di dapur, hanya ada suara kesrekan sikat dari kamar mandi dengan pintu yang tak tertutup. Sekilas terlihat punggung Hafidz, peduli apa Bumi, dirinya mendengus kecil.
Kakinya terus melangkah menuju ruang tamu, dan di sanalah Lili dan Yudis berada. Empat cangkir teh manis terhidang di meja. Batagor dari Ayas tertata cantik dalam empat piring berbeda. Sudah lengkap dengan sambal kacang, kecap juga saus.
"Ayok, minum!" seru Lili saat Bumi mulai duduk.
__ADS_1
"Makanannya dibagi buat santri juga, Bi?" tanya Bumi memastikan amanah Ayas tersampaikan.
"Sudah, Bibi hafal maksud Mamamu." Jawab Lili menyodorkan batagor ke hadapan Bumi.
Ayas memang sering mengirimi makanan dalam porsi banyak, untuk santri laki-laki katanya. Mengingat santri yang jumlahnya tidak terlalu banyak itu merupakan berasal dari luar desa membuat Ayas tergerak untuk sering mengirimi mereka makanan.
Baru akan mengambil tehnya, tangan Bumi yang sudah menyentuh cangkir reflek terlepas kembali saat suara salam seseorang terdengar dari luar. Adalah Ibu Haji Endah, sang Bibi dari Lili sekaligus Ibu dari Hafidz yang datang membawa salam itu.
Dirinya masuk dengan seulas senyum tipis di wajahnya.
"Ada tamu rupanya, eh ini Bumi, ya?" tanya sekaligus sapa itu membuat Bumi cepat-cepat berdiri seraya meraih tangan Haji Endah.
"Apa kabar, ehm.... " Bumi bingung harus menyapanya dengan sebutan apa.
"Panggil saja, Ibu." Kata Haji Endah memberikan solusi.
"Apa kabar, Bu?" Bumi mengulang pertanyaannya.
"Baik, Bumi juga baik dong? kalau sakit pasti tidak di sini sekarang." Ucap Haji Endah, bertanya sekaligus menjawab sendiri. apa seperti itu kebiasannya?
Bumi hanya mengangguk tersenyum lalu menyilahkan Haji Endah duduk.
"Di mana Mas Hafidz?" tanya Haji Endah, menyapukan pandangan.
Nampaklah Hafidz dari arah dapur membawa sepasang sneaker putih milik Bumi yang baru selesai dia bersihkan.
"Mas, sepatu siapa itu? koq kecil?" tanya Haji Endah saat Hafidz melintas di ruang tamu.
"Ada tukang kredit nyasar ke sini, terus tadi hampir jatuh di halaman belakang. Sepatunya kotor semua," jawab Hafidz seraya menaruh sepatu di luar kemudian kembali ke dalam.
"Tukang kredit apa?" tanya Haji Endah memandang Lili dan Yudis bergantian.
Lili dan Yudis tak bisa memberikan jawaban, setahu mereka sepatu itu milik Bumi dan tidak ada tukang kredit datang ke rumah mereka.
"Tanya sama Bumi deh, Bu. Dia kenal sama tukang kreditnya." Ujar hafidz sengaja menyudutkan Bumi
"Tukang kredit apa Bumi?"
"Mas Hafidz becanda. Itu tadi sepatu Bumi yang sengaja Mas Hafidz kotori, dia yang memantik api memang dia juga yang harus mematikannya." Lili menyengaja mengadu dan menyindir Hafidz
Hafidz membulatkan matanya, detik berikutnya kupingnya sudah jadi sasaran jeweran oleh Haji Endah. Mengaduh minta ampun tiada ampuh membuat Sang Ibu melepaskan jewerannya itu.
Telinganya merah, barulah Haji Endah puas. Hafidz mengaduh memegangi telinga yang terasa panas. Rasa iba terselip di hati Bumi, kasihan juga melihat Hafidz mendapat serangan seperti itu.
Setelah reda amukan Haji Endah, beliau pamit kembali ke kediamannya. Tujuannya mencari Hafidz hanya mengingatkan bahwa lepas isya nanti harus mengantar Ayahnya dan para santri untuk tahlil ke desa sebelah.
"Kamu kan kalau tidak diingatkan suka lupa," begitu kalimat terakhir dari Haji Endah saat hendak pergi.
Haji Endah sempat mengajak Bumi mampir ke rumahnya, Bumi tentu mengucapkan terimakasih tanpa benar-benar ikut ke sana. Keempatnya memakan hidangan yang telah disediakan Lili, tak ada percakapan. Suara piring dan sendok yang beradu menjadi bukti bahwa keempatnya larut dalam rasa sedap yang diberikan oleh makanan bernama batagor itu.
Lepas tandas piring masing-masing, Lili membawanya ke belakang untuk dicuci, Bumi ikut bersamanya. Namun, baru sampai dapur teriakan seseorang dari luar membuat Lili diharuskan keluar dan tak kembali lagi.
Bumi sendirian membersihkan piring kotornya, tak lama Hafidz menghampiri membawa cangkir yang tehnya sudah tandas.
"Maaf"
"Maaf"
Keduanya kompak mengatakan kata itu.
"Kamu dulu," ucap Hafidz.
"Maaf, maaf tadi ngatain kamu santri edan."
Hafidz tertawa sumbang. Dirinya yang sebelumnya tengah bersandar pada meja makan, menegakkan badannya seraya berkata.
"Maaf juga karena tadi udah so' kenal padahal kita nggak sedekat itu buat becanda." Kalimatnya diakhiri tawa, Hafidz memang penuh tawa sepertinya.
"Buat sepatu, terimakasih." Ucap Bumi seraya mengelap tangannya dengan kain yang terantung di hadapannya.
Hafidz hanya mengangguk, Bumi yang membelakanginya dapat menangkap anggukan itu dengan ujung netranya. Seketika kesalnya menguap manakala netranya kembali menangkap Hafidz yang sedang mengusap rambutnya, tersenyum kemudian pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Bumi baru berbalik saat yang terlihat punggung Hafidz yang mulai bergerak menjauh, Bumi mengikutinya. Punggung itu menghilang manakala Hafidz terus berjalan keluar dari rumah.
Tanpa sadar netra Bumi masih mengikuti arah kepergian Hafidz yang akhirnya menghilang masuk ke dalam sebuah rumah yang tak jauh dari rumah Pamannya.
Bumi juga melihat Paman dan Bibinya sedang berinteraksi dengan seorang gadis kecil yang nampak sedang menangis. Langkah Bumi tertarik untuk mendekati Paman dan Bibinya.
"Bi, ada apa?" tanya Bumi.
"Biasa anak-anak, becanda berujung petaka." Jawab Lili yang sedang mengusap punggung gadis di sampingnya yang menangis.
"Bertengkar? kerudungnya sampai kotor. Kasihan." Bumi mengiba, menelisik ke dalam wajah sang gadis yang terisak.
"Habis jatuh, tadi kejar-kejaran sama temannya." Yudis ikut menjelaskan.
"Kasihan, udah jangan nangis. Kak Bumi punya permen, mau nggak?"
Bumi tergerak berjongkok di hadapan gadis itu, mensejajarkan diri.
"Matanya jangan dikucek," Bumi dengan pergerakan lembut menjauhkan tangan gadis itu yang sedang mengucek matanya.
Senyuman terbit dari wajah Bumi manakala melihat wajah cantik sang gadis. Pipinya bulat kemerahan, hidung yang bangir dengan bulu-bulu halus di sekitaran pelipis. Manis sekali anak ini.
"Nangisnya udah ya!" hibur Bumi. "Anak cantik nggak boleh cengeng." Ucapnya seraya menangkup kedua pipi gadis itu dengan telapak tangannya.
Sontak gadis itu mendongak, tangisnya berhenti.
"Namamu siapa?" tanya Bumi.
"Vina, Kak." Jawab gadis bernama Vina itu, patah patah ucapannya.
"Vina jangan nangis lagi, nanti Allah nggak suka." Ucap Bumi membuat Vina mengangguk.
Yudis dan Lili saling melempar pandang, takjub melihat cara Bumi menenangkan gadis itu. Bumi melepaskan pipi Vina yang sudah mulai tenang. Dirogohnya tas rotan itu lalu mengeluarkan dua buah permen lolipop rasa buah dan diberikan pada Vina. Vina menerimanya dan mengucapkan terimakasih dengan riang.
Setelahnya Vina pamit untuk segera masuk ke dalam rumah Haji Endah, tempatnya mengaji. Seperginya Vina, Lili menceritakan kejadian yang menimpa gadis kecil itu. Awalnya Vina dan salah seorang temannya hanya becanda, berlari saling mengejar.
Lama-lama mulailah memanas manakala tak sengaja Vina tak sengaja terdorong oleh temannya itu hingga terjeremab mencium tanah dan mengakibatkan kerudungnya kotor.
Menangislah jadinya Vina, sementara temannya dibawa ke dalam rumah oleh haji Endah. Cerita Lili usai bersamaan dengan langit yang mulai menghitam. Lagi-lagi senja datang haja sebentar. Menawarkan keindahan walau sesaat namun cukup untuk memberikan senyum di bibir para penikmatnya.
Bumi, Lili dan Yudis kembali masuk ke dalam rumah, Magrib pertama di kampung Bumi lewatkan di rumah Yudis. Hatinya terasa hangat mendengar syairan yang dilantunkan oleh anak-anak kecil yang hendak shalat berjamaah di langgar yang tak jauh dari rumah Yudis.
Abdullah nama ayahnya
Aminah ibundanya
Abdul Muthallib kakeknya
Abu Thalib pamannya
Khadijah istri setia
Fathimah putri tercinta
Semua bernasab mulia
Dari Quraisy ternama..
Inilah Kisah Sang Rasul
yang penuh suka duka yang penuh Suka duka
Bumi larut dalam syair yang dilantunkan bersahut-sahutan oleh suara yang ditangkap pendengarannya. Bibirnya bahkan ikut bergumam.
Menyesal sekali waktu kecil nggak belajar ngaji dengan baik. Sudah terlambatkah jika sekarang memulainya kembali?
.
.
.
__ADS_1