
Waktu melesat bak anak panah, tiba harinya di mana pernikahan paman Yudis akan dilaksanakan dua hari lagi.
"Baksonya udah dibeli kan?" tanya Laut pagi itu saat sarapan. Mengingatkan kembali pesanan Ayas.
"Baru siang ini, kalau dibeli dari kemarin takut nggak cukup ditaruh di freezer." Jawab Bumi seraya menyuapkan nasi putih dan dadar telur ke dalam mulutnya.
"Kopinya habis, Bang. Teh manis aja ya?" adalah suara Ayesha yang membawa secangkir teh manis yang masih mengepulkan uap panas. Aromanya yang khas perpaduan antara pahit dan manis seperti kehidupan itu memenuhi rongga-rongga hidung sang penerimanya, Laut.
"Dikasih air kobokan juga mau dia, Kak." Canda Bumi dengan tatapan meledek.
"Air kobokan serasa sirup marjan kalau dihidangkan oleh istri tercinta," Laut membalas candaan Bumi.
Ayesha yang mendapat gombalan hanya tersipu malu seraya mengusap lembut pipi suaminya itu.
"Haduh pagi-pagi udah drama, mending ikut casting sana biar sekalian jadi pemain sinetron." Protes Bumi.
"Boleh juga idenya, siapa tahu ada yang tertarik." Lagi-lagi Laut menimpali candaan Bumi.
"Apa sih, Bang. Udah cepat sarapannya. Kita berangkat sama-sama!" Ayesha kembali beranjak untuk mengambilkan tas kerja suaminya yang masih tertinggal di kamar.
Sementara itu Bumi sudah selesai dengan sarapannya, meneguk air putih hangat yang disiapkan oleh Ayesha. Dalam tiga kali jeda air dalam gelas itu tandas. Menyisakan gelas kosong yang Dia letakan secara tertidur di atas piring kosong bekasnya makan.
"Aku cuci piring dulu, Kak Laut bekas teh manisnya cuci sendiri." Bumi beranjak. Sebelum melangkah dengan sebelah tangan memegang alat makan kotor, tangannya yang sebelah lagi menggeser kursi hingga dimasukkan ke bagian kolong meja.
"Kursinya dirapikan lagi, jangan nambah-nambah kerjaan istri." Bumi kembali mengingatkan apa yang harus dilakukan Laut selain mencuci cangkir bekas tehnya.
"Bawel," Laut bersungut-sungut.
Bumi tak menghiraukan, melenggang ke dapur. Kebiasaan Ayesha yang selalu disiplin soal kebersihan diam-diam diikuti oleh Bumi. Melihat Ayesha yang selalu mengelap kering sisa-sisa air setelah mencuci piring misalnya. Bumi banyak belajar dari Ayesha. Pantas saja jika Laut sangat menyayangi istrinya itu, pembawaannya yang kalem dan tentu rela setiap dini hari keramas juga salah satunya.
*******
Matahari masih terik meski sudah lewat dari jam 2 siang. Bumi keluar dari rumah sakit beriringan dengan Lila dan juga Ayesha.
"Yang otw manten, kayanya diet ketat ya?" tanya Ayesha pada Lila. Pasalnya saat makan tadi di kantin rumah sakit Lila hanya memesan air mineral.
"Deg deg an sih lebih tepatnya," jawab Lila.
__ADS_1
"Jangan dibuay stress Kak, nanti malah kelihatan jelek pas resepsi. Tidurnya harus cukup." Bumi ikut bicara.
"Ngopi cantik dulu yuk!" ajak Lila. "udah lama nggak ke rooftop restoran Akash," tambahnya.
"Boleh deh," Ayesha mengiyakan. "Dari kemaren pengen banget makan roti fresh from the ovennya deh." Lanjut Ayesha seraya menelan salivanya.
"Gimana Bumi?" tanya Lila.
Bumi berfikir sejenak, menimang sesuatu. Setelah akhirnya mengangguk dan berkata iya.
Ketiganya mulai menyebrangi jalan, saling melempar canda dan tawa saat berjalan beriringan. Mobil yang terpakir di restoran membuat Ayesha sontak menyindir keras sang calon manten.
"Alasan ngajak ngopi, tahu nya janjian sama calon suami."
Lila hanya tersipu malu akal bulusnya terendus sang sahabat.
"Seminggu lagi nikah, harusnya dipingit."
"Mulai besok aja dipingitnya," Lila memberi alasan.
Ketiganya mulai memasuki restoran yang selalu ramai oleh pengunjung itu. Setelah memesan pilihan kopi masing-masing ketiganya langsung menuju rooftop. Damar sudah menunggu di sana bersama Akash tentunya.
"Udah pesen?" tanya Akash.
"Udah koq," jawab Ayesha. "Gratis atau bayar nih?" candanya.
"Gue nggak ngundang," timpal Akash dengan senyum miring. "Lo bisa tahu maksudnya apa?" tentu saja Akash juga becanda.
"Gue yang bayar, ribet amat." Kata Damar menepuk dadanya bangga.
"Juragan kontrakan." Seloroh Bumi yang langsung mendapat cebikan bibir dari Laut.
Yang lain malah tertawa bersamaan.Dalam tawa itu terselip Wajah cantik yang membuat Akash tak bisa memalingkan pandangan darinya Bukan Bumi tak tahu, Dia hanya berusaha tak menanggapi pandangan itu.
Sebisa mungkin lebih menyibukkan diri menimpali candaan Damar atau berbicara dengan Ayesha dan Lila. Sebisa mungkin tak melakukan eye contact dengan Akash. Berusaha bertukar suara pun enggan dilakukan Bumi.
Mereka berada di satu tempat yang sama namun terasa sekali Bumi membuat jurang pemisah yang sulit dilalui Akash.
__ADS_1
"Resep roti seenak ini dapet dari mana?" tanya Ayesha yang sedang menikmati pesanannya yang baru diantarkan. Sedikit terlambat karena sang chef harus meng oven terlebih dahulu rotinya.
"Yang jelas bukan dari chef Juna lah!" jawab Akash tak berniat membocorkan resepnya. Tentu saja resep itu hasil karya salah satu chef terbaik andalannya.
"Pelit banget, biar Gue bisa bikin di rumah Gue." Balas Ayesha.
"Udah dikasih enak masih milih yang ribet sih, Kak." Timpal Bumi seraya menyesap capuchinonya. Lalu masih katanya, "kan kalau pengen tinggal order."
"Gadis pintar," puji Akash.
Bumi reflek menoleh ke arah suara. Akhirnya kedua pandangan itu saling bertemu dengan bibir tertarik melengkungkan senyum tipis dari bibirnya.
Ini bibir senyum nggak sih sebenarnya?
"Senyumnya jangan ditahan," seloroh Akash dengan tetap memandang Bumi, "senyum itu sedekah paling mudah." Tambahnya dengan tatapan penuh arti. Arti cinta.
Interaksi keduanya membuat Ayesha, Damar dan Lila saling melempar pandang dan memberi kode. Sementara Bumi jadi salah tingkah. Melanjutkan senyum tidak mungkin karena sudah terlanjur ke dalam mode jutek.
"Lah ngapa jadi pada diem gini sih?" protes Damar. "Gue lebih seneng kalian bucin aja deh," tambahnya.
"Apaan sih Kak," Bumi mendengus kesal. "Biasa aja juga," kemudian memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan kembali memakai cardigan yang Dia sampirkan pada kursi.
"Duluan ya, mau beli bakso dulu." Pamit Bumi, mengikat rambutnya.
"Gue anterin," tawar Akash.
"Nggak usah, bisa naik taksi." Tolak Bumi.
"Mending sama Akash aja dek, Kakak kan nggak bisa nganter." Usulan dari Ayesha mengembangkan senyum Akash. Lalu Ayesha kembali berkata, "Abang juga nggak bisa jemput Kamu."
"Nggak apa Kak, banyak taksi." Bumi masih menolak.
Sret.
Akash menarik tas kecil yang Bumi sampirkan di pundaknya. Tentu saja Bumi tidak dapat pergi tanpa tas itu. Dompetnya ada di sana.
"Masih mau nolak?" tanya Akash dengan tas kini berada di genggamannya.
__ADS_1
"Ngeselin, nggak suka." Bumi menghentakkan kakinya meninggalkan rooftop.
"Gue duluan," ucap Akash lalu menyusul langkah gadis yang dipastikan mengumpat itu.