
Laut mendapati kenyataan Ayesha -sang calon istri- marah padanya ketika sebuah kabar mengatakan bahwa Laut selain kunjungan kerja ke luar kota beberapa hari lalu, juga menemui mantan pacarnya. Gadis itu uring-uringan hingga melayangkan pesan yang berbuntut kekacauan. Laut dibuat kelimpungan dengan kalimat Ayesha dalam pesannya.
[Kita nggak usah jadi nikah, kalo kamu keras kepala gitu. Urusin aja terus kerjaan, enak kan sambil menyelam minum air. Ngurus kerjaan sambil ketemu mantan]
Apa ini yang disebut cobaan pranikah? Begitu pikir Laut. Pria itu sudah berkali-kali meyakinkan Ayesha bahwa dirinya bisa berubah lebih perhatian pada gadis itu setelah menikah nanti.
Gara-gara lebih sering mengurusi kerjaan bersama Rere, bahkan melupakan menemani Ayesha yang hendak periksa kesehatan dua hari lalu. Itulah masalah yang akhirnya berbuntut panjang.
Semua sudah Laut jelaskan pada Ayesha, tetapi tetap saja tak membuat merajuknya reda. Hingga akhirnya, Laut terpikir untuk menyuruh Bumi saja yang menemui Ayesha dan membujuk adiknya itu agar memintakan maaf Laut padanya. Laut masuk ke kamar Bumi yang pintunya tak ditutup.
Gadis itu sedang asyik me time, earphone terpasang di kedua telinganya. Sampai kedatangan Laut pun tak disadari olehnya.
"Bumi, kakak mau bicara," ucap Laut, tetapi Bumi yang sedang tiduran di lantai dengan kaki yang ditempelkan ke dinding tak mendengar.
Matanya sedang terpejam, masker berwarna hitam menutupi permukaan wajahnya. Dia sedang rileks dengan me time-nya.
Laut terpaksa berjongkok dan mencabut salah satu earphone pada telinga Bumi. Sontak hal itu membuat Bumi merubah posisi jadi duduk dan langsung menarik earphone satunya dari telinga.
"Kakak, apaan sih! Masuk kamar orang tuh ketuk dulu!" bentak Bumi kemudian melepaskan masker dari wajahnya. Ia lekas berdiri dan membuang bekas maskernya ke tempat sampah di pojok kamar.
"Kakak mau minta tolong, Bumi mau 'kan nolongin?" Laut mendekati Bumi. Gadis itu tak lekas menjawab, masih kesal karena sedang enak-enaknya dengar suara record panggilan Akash dari ponsel, malah diganggu.
"Bumi, cantik, mirip Park Shin Hye ... Kakak minta tolong, mau ya nolongin?" pinta Laut sambil mengatupkan kedua tangan.
"Ish, aku nggak mirip PSH ... Jangan fitnah. Lagian emang tahu siapa PSH? Kaya yang suka aja nonton drakor," cecar Bumi beranjak menuju tempat tidur dan malah berbaring dan tak lupa menutup tubuh dengan selimut.
"Asal sebut aja, itu PSH yang maen di drama apa nggak tahu. Heh! Bangun!" Laut menarik paksa selimut adiknya membuat gadis itu kembali duduk dengan wajah masam.
"Kakak, bujuk sendiri sana. Belajar jadi cowok gentle." Bumi akhirnya turun dari tempat tidur dan berjalan menuju meja rias.
"Kalo Akash yang anter, kamu mau pergi?" Laut sepertinya memberikan penawaran menggiurkan.
Namun, Bumi tak serta-merta mengiyakan, bahkan bibir yang hampir melengkung itu ia tahan. Jaim dong.
"Ayo, dandan. Kakak telepon Akash biar nganter kamu ke rumah Ayesha." Laut mengambil sembarang botol skin care dan memaksa Bumi memakainya.
"Paan sih, ini masker bukan make up!" tolak Bumi.
"Ya udah, sana dandan. Nih ...." Laut merogoh ponsel dari saku celananya. "Kakak telepon Akash sekarang," lanjut Laut benar-benar melakukan panggilan pada kontak yang ia beri nama si batu.
Sementara di tempat lain, yakni di rumah sang ibu, Akash sedang menemani keponakannya yang merajuk karena ditinggal pergi oleh orang tuanya.
"Lica ndak mau tulun!" teriak bocah dengan hijab yang sudah berantakan itu. Ia duduk di atas lemari, naik ke sana menggunakan tangga bekas Nadia mengambil koper di atas lemari.
"Turun, Lica. Di situ banyak kecoa!" Nadia menakut-nakuti.
"Nggak gitu caranya, Nad. Anak kecil jangan suka ditakut-takuti," tegur Akash sehalus mungkin agar adiknya itu tak tersinggung.
"Alisha, turun yuk! Om kasih es krim sama permen yupi kalo kamu mau turun," bujuk Akash.
"Kakak! Nanti Kak Zha marah anaknya dikasih es krim sama permen!" sentak Nadia sambil memukul bahu Akash.
"Biar saja, suruh siapa anak ditinggal-tinggal. Sudah enak kita jagain, kalau mau nyalahin juga awas saja. Aku larang titip Alisha lagi!" ancam Akash membuat Nadia tak berani lagi menimpali ucapan pria itu.
"Ouuum, es klimnya mau cepuluh!" Alisha mulai luluh.
"Ok, tuan putri!" sahut Akash.
"Cama loti topi yang om buat." Alisha mengajukan lagi syarat.
"Beres!" janji Akash.
Alisha akhirnya merangkak menuju tangga, pelan ia susuri tiap undakan benda itu tanpa rasa takut hingga akhirnya sampai di hadapan Akash.
"Lica hebat tan bica naik tanda?" Mata gadis kecil itu berbinar.
"Iya Lica hebat, sekarang cuci muka biar seger. Gih!" komando Akash membuat bocah itu lekas keluar kamar.
"Cuci muta di dapuuul!" teriak Alisha sambil berlari.
"Beresin tuh tangga, makanya bekas pakai tuh taruh lagi!" Akas mengusap pucuk kepala adiknya lalu pergi hendak menyusul Alisha.
Hingga tiba di dapur, gadis kecil itu kembali berulah dengan menumpahkan sabun cuci piring yang baru dibuka oleh Bi Diah. Belum sempat wanita itu memasukan ke dalam botol, Alisha sudah keburu datang.
"Alisha, kok gitu sih?" tegur Akash.
"Ndak syengaja, cenggol ditit." Alisha tersenyum membuat amarah Akash rontok.
"Tunggu di kursi, cepat!" titah Akash membuat Alisha berlari menuruti perintah omnya itu.
__ADS_1
"Saya saja yang bereskan, Bi," ucap Akash mengambil alih lap dari tangan asisten rumah tangganya.
Lepas membersihkan sabun dari lantai, pria itu gegas mengambil es krim dari kulkas dan roti yang ia bawa dari restorannya untuk Alisha. Gadis kecil itu jelas senang, melahap roti dan es krim bersamaan.
Saat seperti itu, ponsel Akash dalam saku jaketnya berdering. Ia lekas menerima panggilan dari sahabatnya, Laut.
"Sibuk nggak, lo?" Laut bertanya di seberang sana.
"Sibuk, ada apa?" Akash balik tanya
"Tolong anter ade gue ke rumah Ayesha, sekarang!" pinta Akash.
"Oh, sibuknya ditunda, deh. Meluncur ke sana sekarang." Akash mematikan panggilan, lekas ia memanggil Nadia dan meminta adiknya itu menjaga Alisha.
Pria itu setelah menemui umi di kamar segera pergi ke rumah Laut. Ia tahu, hubungannya dengan adik Laut ditentang oleh Zahra dan suaminya. Namun, peduli apa? Perasaannya pada Bumi, yang ia rawat baik sedari kecil tak bisa dilenyapkan begitu saja.
Menjelang siang itu, Akash dengan motornya membelah jalanan dengan hati riang. Memang sudah beberapa hari tak bertemu dengan Bumi, seperti mendapat undian berhadiah saja rasanya saat menerima permintaan Laut tadi.
Tiba di rumah Laut, pria itu gegas masuk dan mendapati Laut sudah menungguinya dengan wajah cemas. Pria itu duduk di kursi yang terdapat di teras.
"Kenapa sih?" Akash membaca gelagat tak baik dari raut sahabatnya.
"Ayesha minta pernikahan dibatalkan," bisik Laut takut didengar mama.
"Kok bisa? Dia tau kali elo nemuin si mantan," tebak Akash dan Laut mengangguk.
"Gua udah ingetin masih aja elo nemuin dia." Akash ikut duduk di kursi yang lain.
"Dia kesulitan, masa harus gue diemin?" Laut membuat pembelaan.
"Elo masih ada rasa sama dia?" selidik Akash. Dia tahu, dulu saat SMA Laut dan mantannya berpisah bukan karena sudah saling tak suka. Bahkan bisa dibilang, kehadiran Ayesha justru menjadi duri dalam hubungan keduanya.
"Gue cuma kasian," elak Laut.
"Sama saja, main api sih lo! Siap-siap saja terbakar," cibir Akash.
"Gue minta elo tenangin, bukan malah nyalah-nyalahin," keluh Laut merajuk.
"Udah buruan panggil ade, gue bawa dia main setelah dari rumah Ayesha, ya?" pinta Akash. Dia sudah lama ingin mengajak Bumi ke suatu tempat.
"Kagak, kalau mau ngobrol sama dia di rumah aja. Enak aja!" larang Laut.
"Nanti kalian khilaf, elo tahu dia ngebet banget sama elo."
"Gue bisa nahan diri," tangkas Akash.
"Ade nggak bisa," sergah Laut.
Percakapan keduanya terpangkas oleh kedatangan Bumi yang sudah siap pergi. Dia kini sudah bisa lebih rapi dan tertutup dalam berpakaian. Blus broken white serta celana denim panjang yang dikenakan mengesankan wanita dewasa pada diri Bumi yang membuat Akash makin jatuh mendamba gadis itu.
"Kakak, dari kapan? Lama ya nunggu aku?" tanya Bumi dengan netra memendarkan kebahagiaan. Melihat sosok Akash di hadapan selalu membuat hatinya menghangat selain bergetar.
"Baru kok, De." Seulas senyum dari bibir pria itu membuat Bumi tersipu.
"Inget ya, pergi ke rumah Ayesha. Bukan ke tempat lain!" tegas Laut sambil berdiri dan mendekat ke arah Bumi.
"Kakak ngandelin kamu banget buat bujuk Ayesha, de," mohon Laut pada Bumi.
Bumi mengangguk dan segera mengajak Akash untuk pergi. Dia berjalan lebih dulu ke motor Akash. Mengambil helm yang menggantung di bagian belakang motor kemudian memakainya. Bumi tahu, Akash bukan tokoh dalam drama korea favoritnya. Dia tak akan memakaikan helm pada dirinya.
"Harusnya pakai jaket, De," tegur Akash.
"Kan bajunya nggak pendek, Kak. Nggak nerawang juga." Bumi menyodorkan lengannya. "Bagian tangannya juga panjang," tambah Bumi.
"Bukan itu masalahnya, angin, de." Akash menurunkan ransel yang sedari tadi ia cangklong di pundak.
"Pakai punyaku saja, ya?" tawar Akash mengeluarkan jaket semi denim dari dalam ransel.
"Wangi, kok," ucap Akash menyuruh Bumi mencium benda itu.
Bumi mengangguk, ia menerima jaket itu dan segera memakainya. Akash juga bersiap memakai helm dan memutar motornya agar bisa segera pergi. Setelah dipastikan Bumi naik ke motor dan duduk dengan nyaman, Akash melajukan motornya.
Menjelang siang itu, meski langit tak cerah kedua hati pasangan yang tak tahu akan membawa hubungan mereka ke mana itu sama-sama merasa bahagia. Bumi tak berani memeluk Akash, pria itu pasti protes. Namun, bisa memandang punggung berbalut jaket hitam itu saja sudah cukup bagi Bumi.
Banyak yang Bumi pikirkan tentang hubungan dirinya dan Akash. Saling mencintai saja nyatanya tak cukup untuk bisa bersama. Bumi memang sering mengakui bahwa oppa oppa Korea dalam drama yang ia tonton itu adalah suaminya. Namun, kiblat cintanya tetap tertuju pada Akash.
Hingga tak disadari, keduanya telah sampai di pelataran rumah Ayesha.
"Kamu ngelamun, De?" tegur Akash saat Bumi tak lekas turun dari motornya.
__ADS_1
"Eh, enggak, kok. Aku mau turun ini," ucap Bumi sambil turun dari motor.
"Kakak nggak mau bukain helm aku?" goda Bumi, sudah tahu Akash pasti menolak.
Namun, di luar dugaan. Pria itu membukakan pengait helm. Membuat Bumi membulatkan mata.
"Nggak usah melotot juga itu mata udah bulet, De," ucap Akash sambil menarik perlahan helm dari kepala Bumi.
"Coba kalau pakai hijab, pasti rambutnya nggak berantakan gitu," sindir Akash saat Bumi sibuk merapikan rambutnya.
Deg!
Bumi jadi berpikir, apa Akash akan lebih suka pada perempuan berhijab? Apa Akash tak suka dirinya? Tetapi, perlakuannya selama ini, Bumi tangkap sebagai bentuk perasaannya.
"Aku tunggu di luar aja ya, kamu ngobrol empat mata saja sama Ayesha."
Setelah menjumpai kedua orang tua Ayesha, Akash memilih menunggu di teras rumah. Bumi sendiri menemui Ayesha di dalam kamarnya.
"Kamu disuruh Abang 'kan ke sini?"
Belum apa-apa, Ayesha sudah sinis. Begitu pelik kah masalah yang sedang dihadapi?
"Mantan Abang emang cantik. Aku emang nggak ada apa-apanya." Ayesha yang tadinya sedang duduk di tepi ranjang, pindah berdiri menghadap jendela kamar.
"Aku nggak yakin Abang bisa lupain dia," keluh Ayesha.
"Kenapa harus sekarang Abang balik komunikasi sama cewek itu?" sentak Ayesha.
"Aku udah sembuhin luka Abang, tapi dia gini ke aku, Bumi? Aku bahkan ninggalin Abimanyu demi abang. Tapi, tetep aja Abang selalu cuek, lupa sama janji, bahkan kali ini sampe nemuin mantannya," gerutu Ayesha.
Bumi menghela napas panjang, cemburu, mungkin itu yang menguasai diri Ayesha.
"Kak Laut cuma bantu sedikit kesulitan temennya itu, Kak." Bumi mulai buka suara.
"Tapi kenapa harus jadi nyebar beritanya sih, Bumi?" bentak Ayesha. "Aku seolah cewek nggak ada harganya gitu, seolah aku tuh pelarian Abang aja," geram Ayesha.
"Kak Laut sama dia udah berakhir lama, 'kan? Dia juga udah nikah. Apa yang buat Kakak risau?" Bumi mendekat ke arah Ayesha. Dipeluknya bahu sang calon kakak ipar itu.
"Dia kemarin butuh uang, dan kebetulan Kak Laut ada rezeki. Nggak ada niatan lain," jelas Bumi sedikit menggerus risau dalam Ayesha.
"Kalian udah jalan sejauh ini, Kak. Semua udah siap, masa harus batal?" bujuk Bumi.
"Soal sikap Kak Laut yang cuek dan gila kerja, itu juga demi masa depan kalian 'kan? Dan ketemunya Kak Laut sama cewek itu juga ditemenin Rere, kok," terang Bumi.
Ayesha jadi berpikir sejenak, dulu semasa SMA dirinya sempat berpacaran dengan lelaki lain. Namanya Abimanyu, seorang anak ibu kantin. Dia lelaki sederhana namun hangat dan penuh perhatian. Sampai akhirnya, Ayesha masuk ke dalam circle pertemanan dengan Laut, Akash, Damar, dan Rere. Orang-orang yang memiliki level ekonomi di atasnya. Pesona Laut mampu membuat Ayesha berpaling dari Abimanyu, hingga akhirnya hubungan Ayesha dengan kekasihnya itu kandas dan digantikan dengan masuknya Laut ke dalam hidupnya.
Bersama Laut, Ayesha memang tak menemukan kehangatan seperti yang diberikan seorang Abimanyu. Pria itu terlampau datar. Mungkin terlalu lekat bergaul dengan Akash yang juga sangat pendiam. Begitu pikir Ayesha, tetapi seluruh keluarga besar sudah terlanjur kagum dengan Laut yang pekerja keras.
Mapan di usia muda karena bisa bekerja di perusahaan besar milik orang tua Rere makin buat ayah dan ibu Ayesha mendesak keduanya untuk segera menikah. Laut bahkan sudah banyak mengalah, tetapi ada saja ganjalan di hati Ayesha.
"Kak, Kak Laut sayang loh sama Kakak. Ya, mungkin dia orangnya datar, tapi di hatinya cuma ada Kakak," kata Bumi setelah membiarkan Ayesha merenung.
Ayesha malah terisak, dia sadar terlalu menuntut banyak hal pada Laut. Harusnya Ayesha bisa menerima kekurangan Laut dan melengkapinya menjadi satu kesatuan utuh. Bukan malah selalu mencokel kelemahan pria itu.
"Baikan ya, sama Kak Laut?" pinta Bumi lagi.
Ayesha mengangguk, setelah dirasa urusannya selesai Bumi izin pulang. Ia tak ingin membuang waktu Akash lebih banyak. Kasihan pria itu, takut banyak kerjaan.
"Kita ke restoran bentar ya, De?" ajak Akash saat Bumi hendak naik ke atas motor.
"Kata Kak Laut tadi suruh langsung pulang, Kak," tolak Bumi.
"Sebentar doang, cuma mau ngasih kamu icip menu baru."
Bumi berpikir sebentar, sebenarnya lama juga tak masalah. Toh menghabiskan waktu bersama Akash rasanya selalu menyenangkan.
"Aku nanti izin ke Laut," ucap Akash meyakinkan. "Nih aku kirim pesan ke dia sekarang," lanjut Akash mengambil ponsel dari dalam tasnya.
"Ya udah deh, kalo Kakak maksa," kata Bumi dengan melipat bibir ke dalam menyembunyikan senyum.
"Suka banget dipaksa, kamu diapain aja kayanya suka ya?" goda Akash.
"Daripada Kakak, aku ajak nonton Drakor bilangnya nggak suka. Aku ajak ujanan bilangnya nggak suka, aku ajak naik gunung bilangnya nggak suka. Sukanya apa coba?" ledek Bumi.
"Kamu, aku sukanya kamu," jawab Akash cepat membuat Bumi seketika rasanya ingin guling-guling saja di tanah.
***
Udah ya, segitu saja dulu. Nanti kalo ada kesempatan kukasih lagi bonus chapter episode yang hilang.
__ADS_1