
"Kangen banget sama Kamu, Kamu kangen nggak?"
Bumi tak langsung menjawab, Dia mengusap dahinya yang basah. Akash duduk di sampinynya menyisakan ruang kosong di tengah sebagai jarak pemisah.
"Maaf" kembali akas membuka suara, Lalu katanya lagi, "kupikir kita tidak perlu ikatan untuk membuatmu menungguku."
Bumi masih enggan menjawab. Dia hanya menunduk memainkan kukunya mengusir kecanggungan yang ada.
"Kupikir pernyataan cintaku tempo hari sudah cukup membuatmu percaya, tapi.... "
"Ini bukan masalah percaya atau tidak," Bumi memotong kalimat Akash. "Cinta saja tidak cukup untuk membuat Kita bisa bersama. Aku harap Kakak juga berhenti saja memupuk cinta itu," lanjut Bumi.
"Kenapa Kamu malah mempersulit keadaan Bumi?" tanya Akash seraya mengusap wajahnya kasar, "sudah kubilang diam di tempatmu dan tunggu Aku, selangkah lagi kita akan bersama." tatapan penuh permohonan itu tak sedikitpun Bumi balas.
"Kak Aku nggak mau hubungan Kita didasari dengan kebohongan," ucap Bumi.
"Aku dan Rere tidak saling mencintai. Pernikahan itu hanya akan menyakiti Kami."
"Belajarlah untuk saling mencintai, hari ini pakaian yang serasi bisa jadi besok lusa hati kalian juga punya chemistry." Bumi dengan hati penuh sesak mengatakan kalimat itu. Ada luka di hatinya yang seperti ditaburi garam. Sangat perih, berdenyut dan tersulut.
"Ini Aku dapatkan dari orangtua Rere beberapa waktu lalu, Kita nggak janjian buat pakai pakaian yang sama," Akash membela diri. Memang begitu adanya, hanya kebetulan yang tak disengaja.
"Datang barengan juga, masih mau bilang nggak janjian?" cibir Bumi, memalingkan wajahnya. Kesal pada diri sendiri yang tak bisa menahan cemburu.
"Masih berani bilang kangen setelahnya lagi," ujar Bumi bersungut-sungut.
"Maaf, tadi nggak sengaja ketemu di depan," ucap Akash berusaha menjelaskan. Lalu kembali berkata, "datang pakai kendaraan masing-masinh, nggak barengan."
Bumi tak tertarik menjawab.
Mau bareng atau nggak apa urusannya sama Aku?
Jelas ada alasannya, hatinya masih merasakan cemburu yang teramat. Meski telah tahu Rere sendiri tidak menginginkan pernikahan ini bahkan memiliki rencana yang cukup licik, dirinya tak berani kembali menggantungkan harapan.
"Anggap aja kemarin itu kita pacaran, dan sekarang.... " Bumi menghela nafas panjang. Kemudian katanya lagi, "mari Kita putus."
Perkataan Bumi sontak membuat Akash membelalakan mata seraya menggeleng. Tidak setuju.
"Mana bisa seperti itu, kan sudah kubilang tunggu. Diam di tempatmu.... "
__ADS_1
Namun belum sampai kalimat itu terucap sempurna Bumi sudah menyela, "pergi, Kamu bisa pergi. Kita, pu tus."
Akash tak dapat berkata-kata lagi, kedua tangannya mengepal keras. Jelas tersirat amarah yang Dia tahan. Rahangnya mengeras dengan gigi gemelutuk.
"Bersikaplah layaknya seorang mantan, nggak usah terlalu peduli sama Aku." Kata Bumi lagi semakin membuat Akash kesal. "Aku nggak bisa menunggumu. Ada langkah yang harus dijalani. Lihat saja, Kalian nggak akan bisa mengubah apapun. Jadi, lebih baik diterima saja," imbuhnya lagi.
Bumi berdiri dari duduknya, kemudian beranjak kembali masuk ke dalam rumah Damar. Meninggalkan Akash dalam kebisuan dan amarah.
Tidak bisakah Kamu menunggu lebih lama lagi, Bumi?
Jawabannya tentu tidak. Tekad Bumi sudah bulat dan tak bisa lagi berubah. Sudah banyak rencana yang Dia susun dalam pemikirannya. Tentang apa yang akan Dia lakukan setelah ini. Setelah pernikahan Akash lebih tepatnya.
******
"Ya udah, Aku bantu bawa keranjangnya," ucap Bumi seraya melepas pelukannya terhadap Wati dan mulai mengangkat keranjang yang lumayan berat itu. Namun, gerakannua tertahan manakala ternyata tenaganya tidak sekuay itu. Masalahnya piring kotor ini bukan hanya berasal dari satu meja saja.
"Biar Aku yang bawakan," tawaran menggiurkan dari Akash. Entah kapan Dia beranjak dari duduk tiba-tiba sudah berdiri tepat di samping Bumi.
Bumi tak lekas menjawab, Dia tak ingin berbagi suara dengan pria jangkung itu saat ini. Tak ingin pula mengiyakan tawarannya. Namun, sayangnya si pemilik bahu lebar itu malah sudah memegangi sisian keranjang itu dan berkata, " dibawa langsung ke belakang, Bi?"
"Iya, ke tempat cucian piring di dapur." Jawab Bibi mengambil langkah terlebih dahulu baru disusul Akash yang tampak biasa saja mengangkat keranjang itu.
Mau tidak mau Bumi ikut mengekori langkah keduanya. Karena tujuannya dari awal memang benar-benar ingin membantu Wati. Sampai di dapur, Wati meminta Akash menaruh keranjang itu di bawah saja karena wastafle terlu sempit untuk ukuran keranjang besar itu.
Demi mengusir kecanggungan yang tersisa, Bumi secepatnya membantu Wati dengan menyabuni gelas dan piring yang sudah Wati letakan di atas wastafle.
Akash tak lekas pergi. Dia masih memandangi bahu Bumi bergerak turun naik. Pemandangan yang sungguh ingin dilihatnya setiap hari. Di mana dirinya akan melihat adegan seperti itu di rumahnya nanti setelah Bumi jadi istrinya. Namun, sayangnya keinginan tinggal keinginan. Bahkan berharappun kini dilarang keras.
Cucian piring sebanyak itu nyatanya tidak perlu waktu lama membereskannya apalagi dikerjakan berdua dengan Wati. Bumi mengibaskan sekali lagi tangannya sebelum akhirnya berbalik badan dan menangkap sosok Akash yang dipikirnya sudah pergi dari tadi.
Tatapan Bumi tidak menyiratkan ramah sedikitpun. Mereka berdua kini menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal. Hati Akash begitu perih menerima perlakuan dari Bumi.
Dirinya memang sangat acuh terhadap sikap seseorang. Tidak peduli apakah menyukainya atau tidak. Tapi, kali ini keadaannya berbeda. Sikap dingin itu datang dari Bumi. Gadis yang dicintainya. Entah mengapa rasa sakitnya bertubi-tubi. Mungkin memang benar, orang yang paling mendalam kita cintai adalah orang yang paling besar pengaruhnya untuk menyakiti.
"Eeh Eneng ada di sini, Abang cari kemana-mana." Suara seseorang yang adalah Sandi memecah keheningan antara Bumi dan Akash.
"Eneng abis nyuci piring?" tanya Sandi.
Mata Akash langsung memandang tak suka pada sosok pria yang kini berdiri di samping Bumi. Membawa secup puding coklat dengan fla putih di atasnya.
__ADS_1
"Abis konser," jawaban asal Bumi malah menggelakan tawa Sandi.
"Kamu tuh lucu, walaupun jutek. Pantas diperjuangkan." Seloroh Sandi yang justru membuat mata Akash membulat.
"Ini siapa? bukan saingan Aku kan?" Sandi mempertanyakan keberadaan Akash yang sedari tadi memang berdiam diri di antara dirinya dan Bumi.
"Bukan, Dia temannya Kak Damar dan Kak Lila. Ke sini cuma mau tanya di mana toilet," jelas Bumi berbohong.
Akash mengerenyitkan dahi, matanya membulat tajam pada Bumi.
Kenapa harus berbohong?
"Baguslah kalau bukan rival," ucap Sandi, niat memberikan puding pada Bumi terlupa sejenak. Kemudian kembali berkata, "jadi gimana proposal pengajuan diri ku diterima?"
"Hah, pengajuan diri apa?" Bumi balik bertanya.
"Ini buat Kamu, tahu dari Lila Kamu suka puding." Sandi menyodorkan cup puding pada Bumi yang tentu diterima oleh Bumi dengan senang hati.
Akash mulai gerah melihat pemandangan yang disuguhkan. Melihat cara Bumi tersenyum meski kentara sekali hanya seulas. Mendengar cara Bumi berucap meski kentara sekali nada juteknya. Membuat sesuatu gejolak bergemuruh dalam dada Akash.
Membuat dirinya jengah berada di sana, ruangan yang cukup besar itu tiba-tiba terasa pengap.
"Saya permisi," Akash izin meninggalkan tempat walau tak rela melihat Bumi berduaan dengan lelaki lain. Tapi, bukankah keberadaannya memang tak diinginkan.
"Toiletnya di sana!" Sandi menunjuk pintu fiber berwarna biru langit.
"Nggak jadi," jawab Akash membalikan tubuhnya setelah mengangguk hormat. Bagaimanapun pria yang di samping Bumi itu terlihat lebih tua dari umurnya. Setidaknya itu alasannya mengangguk hormat.
Namun baru membalikkan badan dan melangkah untuk yang kedua, langkahnya terhenti bersamaan dengan suara Sandi yang kembali terucap.
"Gimana pengajuanku, jawab dulu!?"
"Iya pengajuan apa?"
"Pengajuan untuk meminangmu," jawab Sandi. Suaranya berar dan parau saat mengucapkan hal itu.
Akash semakin berat melangkah. Ingin menengok kembali dan menghantam wajah Sandi dengan tinju rasanya. Tangannya mengepal di samping celana bahan berwarna hitam yang Dia kenakan.
.
__ADS_1
.
. Like Komen dan Votenya Kakak.