Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
59


__ADS_3

curhat bentar ya otornya.


Otor amburadul: 😊😊😁😁


Netizen cantik: ngapa dah ketawa bukan lanjut cerita.


otor amburadul: Akash berhasil dikontrak


Netizen cantik: syukur Alhamdullillah


otor amburadul: tolong dong LIKE dan KOMEN nya. Lihat di statistik yang baca ada ratusan tapi yang komen paling satu dua. Yang Like juga dikit. Semangatin otor dong Net 🙏


Netizen cantik: iyalah Nanti Gue bilangin ke para reader.


author amburadul: maacih Net 😍


Netizen cantik: Gak usah so imut!! sono lanjut cerita.


*******


Seminggu berlalu tanpa arti antara Akash dan Bumi. Kabar baiknya datang dari Lila dan Damar. Hubungan keduanya sudah mendapat restu orangtua Lila. Acara lamaran secara resmi pun akan digelar minggu depan.


Beberapa hari lalu Seto sang Papa Lila berhasil meluluhkan hati Siwi, istrinya. Seto akhirnya menceritakan kejadian masa lalu yang sesungguhnya. Menurut cerita Seto yang juga dibenarkan oleh orangtua Seto, di masa lalu itu justru Siwi yang hadir di antara hubungan Nuri dan Seto.


Kedekatan Seto dan Siwi memang atas perjodohan kedua orangtua Mereka. Padahal kala itu Seto dan Nuri sedang menjalin kasih. Nuri akhirnya berbesar hati melepaskan Seto dan melarang Seto menceritakan kejadian sesungguhnya pada Siwi.


Kemarahan Siwi seketika menguap setelah mengetahui kejadian yang sesungguhnya. Bahkan hari itu juga Siwi mendatangi kediaman keluarga Damar dan meminta maaf atas sikapnya. Damar dan Lila tentu saja bahagia. Hari itu juga Lila menelpon Bumi dan mengucapkan terimakasih pada Bumi yang sempat mengajaknya salat tahajud malam itu.


"Makasihnya jangan ke Aku, Kak. Sama Allah saja Sang maha membolak-balikan hati hambanya." Ucap Bumi kala itu. Menurutnya Dia tidak melakukan apa-apa.


Berkaca dari pengalaman masa lalu orangtua Lila dan Damar justru membuat Bumi merasa sangat bersalah pada hubungan Akash dan Rere. Pernah berfikir untuk meneruskan perasaannya dan bersikap egois dengan terus berdekatan dengan Akash membuat Bumi merasa jadi manusia yang sangat rendah.


Hal itu membuat dirinya semakin menjauh dari Akash yang justru semakin mencari kesempatan mendekatinya. Jarak yang Bumi ciptakan memang tak mudah dipangkas oleh Akash. Sekedar sapa saja tak pernah Bumi hadirkan saat bertemu dengan Akash. Jangan tanyakan bagaimana perasaannya saat melakukan semua itu. Tentu saja sakit. Kepura-puraan yang Dia bangun selalu berusaha Akash hancurkan. Namun, Bumi tak goyah. Sedikitpun tidak tergiur dengan rencana Rere. Cinta Akash terhadapnya memang besar dan dapat Bumi rasakan itu. Namun, kekuatan cinta itu nyatanya tidak dapat menembus jurang pemisah di antara keduanya.


******


Di rumah megah bercat putih Rere dengan tubuh tinggi semampai sedang bercengkrama dengan Sang Nenek di teras rumahnya. Tawanya sesekali pecah manakala sang Nenek menceritakan hal lucu saat Dia masih kecil. Kelahiran gadis itu menjadi pelengkap rumah tangga Anggara, putranya.


Meski seringnya ditinggal untuk urusan bisnis nyatanya tetap membuat Rere tumbuh menjadi gadis riang namun manja dan penuh kearoganan. Nenek Karina sedang menceritakan bagaimana kelakuan Rere saat kecil. Waktu itu usia Rere tiga tahun. Pernah suatu hari Rere masuk ke dalam kamar khusus pakaian Mamanya dan memakai apa saja yang bisa ia jangkau. Mulai dari make up yang Dia poleskan pada wajah. Mini dress lengkap dengan topi dan syal juga high heels yang tentu saja kebesaran di badannya.


"Kenapa tidak ada yang poto Aku waktu itu? Aku juga ingin lihat bagaimana tampangku saat itu." Ucap Rere mengakhiri tawanya.


"Lihat saja nanti saat kamu memiliki anak perempuan, pasti anakmu juga akan begitu."


Raut wajah Rere tiba-tiba berubah demi mendengar perkataan Karina. Rencananya saja belum tentu berhasil untuk menggagalkan pernikahan. Bagaimana bisa Dia memiliki anak jika menikah dengan lelaki yang tidak mencintainya. Karina yang menyadari perubahan wajah Rere langsung meraih tangan Rere dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Nenek do'akan semoga rencana kalian berhasil. Meskipun dibangun di atas kebohongan. Tapi, Nenek juga tidak ingin cucu Nenek hidup dalam keterpaksaan."


Rere mengangguk menahan tangis. Hidup yang selalu disetir oleh kedua orangtuanya sedari kecil bukan tak Dia syukuri. Namun, membangun rumah tangga dengan lelaki yang tak mencintainya juga bukan hal yang menjadi impiannya.


"Bi, minta tolong ambilkan air dingin dong!" Teriak Rere memanggil salah satu asisten rumah tangga yang bernama Ida.


Sahutan iya dari dalam menandakan bahwa Bi Ida mendengar titahnya. Tak lama wanita paruh baya yang memiliki badan kurus sehingga menonjolkan urat-urat di tangannya itu datang membawa segelas besar air dingin yang terlihat sangat sejuk.


Saat meletakan gelas di atas meja tak sengaja tangan Ida menyenggol toplea keripik kentang dan membuatnya tumpah berantakan ke lantai.


"Aduh maaf, Non." Ucapnya penuh penyesalan dan langsung berjongkok memunguti keripik renyah rasa sapi panggang itu. Rere hanya menjawab iya dengan nada ketus.


"Nenek makanya doakan supaya rencana ini berjalan lancar, Guntur sudah setuju. Jadi saat akad nanti Dia akan datang membawa tespek dan menggagalkan pernikahanku. Nggak apa mama papa marah asal Aku tidak jadi menikah dengannya." Ucap Rere setelah meneguk minumannya.


"Iya, orangtua ini hanya bisa mendo'akan."


Ida sudah selesai memunguti keripik kentang itu.


"Buang saja Bi, udah kotor." Kata Rere saat Ida meninggalkan tempat itu seraya membawa toples berwarna hijau dengan merk tupperw*re itu. Ida hanya menganguk seraya berlalu setelah sebelumnya sempat mengambil tutup toples di atas meja. Toples keramat itu tidak boleh berjauhan dengan tutupnya sebab jika hilang majikannya akan sangat marah.


*****


Sepagian hari minggu itu Bumi, Ayesha dan Laut sudah menyambangi rumah Damar. Rumah bergaya betawi tanpa mengubah sedikitpun dekorasinya itu adalah warisan dari Engkong Damar yang kini telah meninggal. Keadaan di rumah bercat hijau dan kuning seperti warna burung kenari itu sudah tampak ramai saat Bumi, Laut dan Damar sampai.


Apa kisah cintaku juga akan berakhir tragis. Tapi, Ibunya Kak Damae juga terlihat bahagia.


Dalam hati Bumi bermonolog saat Nuri mempersilahkan mereka masuk dan menjumpai Damar yang sedang memilih model kartu undangan bersama Lila. Keduanya tampak bahagia dan saling melempar canda.


"Semuanya bagus Aku jadi bingung," ucap Lila masih belum bisa memutuskan akan menggunakan desain yang mana untuk undangannya.


"Pilih saja warna kesukaan Kakak," usul Bumi.


"Pilih desain yang sederhana," tambah Ayesha.


"Yang paling mahal La, camer Lo juragan kontrakan ini." Kelakar Laut mendapat sambutan tawa dar semua yang ada di sana.


"Yang ini bagus, Kak." Bumi mengambil sebuah kartu undangan. Ukurannya sebesar buku yang biasa digunakan pelajar mencatat pelajaran. Berwarna merah maroon. Dalam contoh desain, isi undangan ditulis dengan tinta warna emas.


"Jangan pasang poto, ntar disantet." Ucap Laut serius dan mendapat cubitan di perutnya dari Ayesha.


"Abang, bicaranya aneh-aneh aja deh."


"Becanda Sayang," bela Laut seraya menangkap tangan Ayesha dan mencium punggung tangan itu.


Bumi yang melihatnya langsung memukul lengan Laut dengan surat undangan yang masih dipeganginya.

__ADS_1


"Jangan tebar kemesraan di hadapan jomblo, berat adek Kak."


Kelakar tawa kembali memenuhi ruangan itu. Memang ramai jadinya kalau semua sudah berkumpul begini. Tak lama personilpun bertambah. Rere datang bersama Akash. Terlihat serasi dengan memakai outfit yang sama. Entah memang janjian atau tak sengaja. Hari itu keduanya sama-sama mengenakan jeans hitam dengan hoodie berwarna navy dan sneaker hitam.


Pemandangan itu membuat Bumi jengah. Dia yang sedari tadi ikut berkomentar tiba-tiba menjadi tidak selera bicara. Pembicaraan masih seputar memilib desain surat undangan. Akhirnya Lila dan Damar Menerima usulan Rere dengan memilih desain kartu undangan Berwarna putih. Rere tidak setuju saat Lila memilih desain yang tadi Bumi tunjukan sebab desain itu sudah Dia pakai untuk surat undangan pernikahannya dengan Akash.


"Jadi samaan gitu tanggal pernikahan Kita?" Tanya Damar baru menyadari.


"Beda seminggu, itupun kalau jadi." Ujar Rere.


"Maksudnya apa Re?" Laut mulai penasaran.


"Lo pikir Gue mau nikah sama cowok yang jelas-jelas udah cinta sama cewek lain. Gue nggak sebego itu!" Seru Rere memandang Akash dan Bumi bergantian. Tatapannya terhadap Bumi masih sama, tajam.


"Gimana sih Gue nggak ngerti?" Laut masih belum mendapat jawaban.


"Lagian kayaknya kalian baik-baik aja deh. Lihat tuh pake baju aja bisa samaan gitu." Damar berkata tanpa memperdulikan perasaan Bumi yang saat itu sudah sangat panas. Mungkin sepanas setrikaan yang lupa dimatikan.


"Gue sebenernya udah balikan sama Guntur, buat kalian semua tahu aja sih. Gue udah punya rencana." Papar Rere kemudian lanjut bicara, "Lo nggak usah khawatir, Gue pastiin Akash nikahin Lo koq. Tegang amat muka Lo!"


Sadar diajak bicara oleh Rere Bumi hanya tersenyum kecut. Bukan tegang lagi tapi antara menahan cemburu dan kesal menjadi satu. Dia tak dapat menyembunyikan pipi merahnya yang memanas. Beruntung Ponselnya berdering. Saat dilihat ada panggilan masuk dari Ayas.


Bumi pergi menjauh dari ruangan itu untuk menjawab panggilan Ayas. Dia pergi ke luar dan duduk di kursi kayu panjang di bawah pohon mangga yang berada di halaman rumah.


"Kamu lagi di mana?"


"Di rumah Kak Damar, Mam. Minggu depan ada acara lamaran dilanjut peenikahan sebulan setelahnya."


"Alhamdullillah kalau gitu. Eh Kamu jangan lupa nanti beli bakso langganan Kita buat prasmanan nikahan paman Yudis, ya?!


"Iya Mam, Aku nggak lupa. Pernikahannya dua minggu lagi kan?"


"Iya, jangan lupa datang dua hari sebelumnya!


Panggilan itu diakhiri dengan saling melempar dan menjawab salam. Setelah Ayas mematikan panggilannya Bumi tidak serta merta kembali ke dalam. Dia memilih menyandarkan punggung pada kursi.


Allah tidak suka hambanya yang bersedih hati karena putus cinta. Namun nyatanya tidak mudah untuk menepiman rasa yang terlanjur mengakar di hati. Matanya terpejam, hembusan angin terasa lembut menyapu pipinya.


Tangisannya memang sudah tidak pernah tumpah, Bumi berusaha merawat lukanya dengan telaten. Sisanya Dia serahkan pada waktu.


Tiba-tiba dahinya terasa dingin merasakan aliran air yang mengenainya. Bumi mengerjapkan mata sebelum membukanya. Penglihatannya langsung menangkap sosok Akash yang berdiri di hadapannya dengan senyuman.


Rupanya Akash sengaja menumpahkan sedikit air dengan sedotan pada dahi Bumi. Barang bukti berupa segelas air mineral dengan isinya yang tinggal setengah masih dipegang Akash.


"Kangen banget sama Kamu, Kamu kangen nggak?"

__ADS_1


__ADS_2