
Bumi berusaha bersikap biasa saja, walaupun sedikit ketakutan saat bertemu pandang dengan Ilham. Dia memilih ikut bersama Nadia membawa Alisha ke dalam rumah.
"Kak Bumi pakai hijab sekarang?" tanya Nadia
"Do'ain ya biar istiqomah," ucap Bumi mengusap punggung Nadia.
"Aamiin,"
"Aamiin,"
Alisha ikut mengaminkan, membuat Bumu dan Nadia bergantian menciumi pipinya. Ketiganya memilih menyalakan tv, mencari acara kartun untuk Alisha.
"Aku punya beberapa hijab kaya gini yang masih baru," menunjuk dengan dagu hijab yang dipakainya. Kemudian katanya lagi, "aku kasih buat kakak. Mau nggak?"
"Mau lah, rezeki mana boleh ditolak." Jawab Bumi bersemangat.
Sementara itu di halaman belakang perbincangan didominasi oleh acara pernikahan Akash dan Rere.
"Kurang dari sebulan pokoknya ya, Kash." Ilham mengingatkan, "mulai hafalin ijab kabulnya."
Akash hanya mengangguk, tak ingin berdebat. Pikirannya terus terpusat pada Bumi.
"Bumi ngapain ke sini Mi?" tanya Nadia.
"Dia bawa ayam serundeng titipan Mamanya," jelas Ummi.
"Kak Zha nggak usah ngomong yang aneh-aneh ya!" ancam Akash.
"Tergantung kamu segimana bisa jaga sikap," Zahra balas mengancam.
"Aku udah janji sama Bumi mau pergi habis ini,"
"Nggak boleh!" teriak Zahra
Ummi berdehem, memangkas perdebatan kedua anaknya. Akash dan Zahra segera diam, hanya bicara lewat tatap yang saling menajam.
"Kash, lagian nggak baik pergi berdua dengan anak gadis." Bujuk umi, "kalian bukan muhrim, jangan sekali-kali mendekati perkara yang disukai setan." Kembali Ummi mengingatkan.
Akash menghela nafas panjang, mengambil ponsel dari dalam saku celananya. Mengetikan pesan pada nomor Nadia.
Meminta Nadia agar memberitahu Bumi bahwa tidak jadi mengajak Bumi pergi.
Akash masih menatap layar ponsel, Nadia sedang dalam mode mengetik pesan. Lama, namun yang masuk adalah voice note. Akash langsung membukanya dan yang ada di balik voice note itu adalah suara Bumi.
__ADS_1
Memang kemarin aku bilang mau jalan sama kamu? Hehehe, jagain restoran yang bener. Jangan kelayapan mulu.
Hal itu didengar oleh Ummi, Zahra dan juga Ilham. Akash cepat-cepat memasukan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Akash jadi salah tingkah dan malu sendiri.
"Ketahuan kan siapa yang terus mepet?" sindir Zahra. "Kamu tuh kalo kayak gini terus cuma nyakitin Bumi tau nggak?" tambah Zahra memojokkan posisi Akash.
Akash sudah ingin kembali menyerang Zahra tapi keberadaan Ummi membuatnya urung melakukan hal tersebut. Hanya bisa mengepalkan tangan di bawah meja sebagai pelampiasan amarah.
"Kedatangan kami kemari mau menanyakan pada Ummi, apa ada tambahan nama-nama yang akan diundang?" adalah suara Ilham bertanya pada Ummi.
"Nggak ada, buat Ummi yang penting sah nya sudah cukup." Ucap Ummi, seperti tahu Akash menahan amarah. Ummi mengusap punggung tangan Akash di bawah meja.
Akash reflek bersitatap dengan Ummi, sorot matanya mengiba meminta pertolongan, Ummi hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Tangan Ummi menggenggam tangan Akash, Akash ikut tersenyum. Ummi mengangguk sekilas lalu menarik tangannya kembali.
Setelah menerima telpon, Ilham pamit undur diri sedangkan Zahra memilih tetap tinggal. Dia mengantar suaminya sampai teras rumah. Setelah mobil suaminya menghilang dari pandangan dan gerbang kembali di tutup, Zahra segera masuk ke dalam rumah.
Ditemuinya Nadia, Bumi dan Alisha di ruang tamu. Ketiganya sedang asyik bersanda gurau seraya menikmati cracker keju kesukaan Alisha.
"Wah seru bangr nih," ucap Zahra mendudukan diri di samping Nadia. "Ngobrolin apa sih?" tanyanya penasaran.
Nyali Bumi sedikit menciut dengan kedatangan Zahra. Hatinya masih terasa berdenyut. Perkataan yang dirinya dengar tempo hari masih saja terngiang di telinga.
"Ini Alisha bilang katanya Ummah boboknya suka ileran," beritahu Nadia.
"No Ummah, cuma belcanda." Jawab Alisha dengan suara khas dan cadelnya. Tangan dan mulutnya belepotan dengan remahan cracker.
"Cuci gih tangan dan mulutnya!"
"Kakak minta tolong Onti Natnat cuciin tangan dan mulut Alis ya?!" harap Zahra pada Nadia.
Nadia mengangguk, seraya mengajak ponakannya menuju dapur. Tinggalah kini Zahra berdua Bumi di ruangan itu. Sepersekian detik suasana menjadi hening. Bumi tak berani bersuara.
Dinding pemisah itu terasa semakin kokoh, baik Zahra dan Bumi belum ada yang berani merobohkannya. Bumi berka-kali memainkan kuku mengusir rasa gugup dalam dirinya.
Zahra yang melihat kegugupan Bumi merasa sangat bersalah. Bumi biasanya banyak bicara, kali ini hanya tertunduk tanpa suara.
"Kak"
"Bumi"
Keduanya kompak memanggil satu sama lain. Bersitatap untuk sepersekian detik kemudian tertawa. kegugupan sedikit menguap dalam diri Bumi.
"Kamu apa kabar?" adalah Zahra yang lebih dulu bertanya.
__ADS_1
"Alhamdullillah, Kak. Kakak gimana?" Bumi balik bertanya.
"Alhamdullillah juga, lama nggak ketemu. Sibuk di rumah sakit?"
"Ya gitulah kak, lagi shift pagi sekarang." Jelas Bumi.
"Kamu berhijab?" tanya Zahra menelisik ke wajah Bumi.
"Do'akan istiqomah ya, kak." Pinta Bumi wajahnya penuh harap.
"In Shaa Allah, banyakin terus ilmu agamanya." Saran Zahra seraya tersenyum, "yang rajin ngaji ke sini." Lanjut Zahra mengingatkan.
Bumi mengangguk, merasa tersindir juga. Pasalnya sudah sejak Ayas tinggal di kampung dirinya tidak pernah ikut pengajian.
"Bumi, kakak minta maaf ya atas omongan kakak waktu itu." Ujar Zahra, matanya menyimpan penyesalan.
"Iya kak, lupain aja ya kak." Ucap Bumi penuh ketulusan. Perasaan kesal yang sempat hinggap dalam hati seketika menguap.
"Kamu masih jadi adik bagi kakak meski Akash sudah menikah nantinya," ucap Nadia. Kini tangannya menggenggam tangan Bumi.
"Makasih kak," hanya itu yang dapat Bumi ucapkan.
Mengetahui begitu besar harapan keluarga pada pernikahan Akash dan Rere membuat hati Bumi terasa hampa. Sejujurnya dirinya bahagia dengan rencana Rere, namun tidakkah itu akan melukai kedua belah pihak keluarga besar mereka?
Sementara itu di halaman belakang Akash dan Ummi masih enggan beranjak. Saling bertukar cerita tentang kejadian yang dialami masing-masing setelah beberapa hari tak bertemu.
"Ummi kalau badannya ada yang terasa kurang enak harus langsung bilang Akash ya!" pinta Akash dan diangguki Ummi.
"Porsi makannya dijaga ya, nanti Akash ingatkan pada Nadia."
"Kamu nyuruh Ummi diet?" Ummi pura-pura murung.
"Hahaha, bukan menyuruh diet. Hanya jaga pola makan." Akash mencium sayang pipi Umminya.
Ummi membalas mengusap sayang kepala Akash, rasanya baru kemarin melahirkan anaknya ke dunia ini. Kini tumbuh menjadi sosok tampan dan mandiri. Keras kepalanya memang tak terkalahkan, tapi kasih sayang terhadap keluarga tak dapat diragukan.
"Mumpung masih diberi umur, sudah meninggal nggak bisa lagi makan enak." Seloroh Ummi yang langsung mendapat cubitan kecil di pipinya oleh tangan Akash.
"Akash nggak suka kalau Ummi bicara gitu. Akash mau Ummi tetap sehat panjang umur hingga Akash punya anak nanti."
"Serahkan segalanya pada Allah," ucap Ummi.
Di saat seperti itu Bumi datang menghampiri. Dirinya pamit pulang, sudah terlalu sore. Setelah menyalami Ummi dan berpelukan singkat serta minta dido'akan agar istiqomah Bumi segera berlalu tanpa mengiyakan tawaran Akash yang ingin mengantarnya.
__ADS_1
Akash akhirnya hanya pasrah menatap punggung Bumi yang mulai menghilang.