Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
86


__ADS_3

Akash masih enggan beranjak dari atas sajadah setelah melaksanakan shalat asharnya. Hari ketiga pernikahannya Rere masih enggan menampakan tanda-tanda perdamaian. Dirinya masih meledak-ledak, hanya saja sudah kembali merubah panggilannya dengan aku dan kamu saat terpaksa harus bicara dengan Akash.


"Kash, mau makan nggak?" tanya Rere yang tiba-tiba saja membuyarkan lamunannya.


Reflek Akash berdiri, menoleh pada sumber suara.


"Mau makan nggak?" Rere mengulang pertanyaannya.


"Nanti saja malam," jawab Akash seraya melipat sajadahnya.


Rere tak bicara lagi hanya ber oh ria seraya duduk di tepi tempat tidur. Dress selutut berwarna putih mempertegas kecantikannya. Harusnya Akash mengagumi itu, bahkan berhak atasnya.


"Kita ngobrol mau nggak?" tanya Akash, duduk di sebelah Rere.


Alih-alih menjawab Rere malah menggeser badannya menjauhi Akash.


"Takut banget sama aku?" tanya Akash, tangannya terangkat hendak menarik pergelangan tangan Rere.


Jangan salah paham, Akash melakukannya atas saran dari Ummi. Beliau mengatakan dirinya harus bisa bersikap baik pada Rere. Bagaimanapun Rere istrinya, dan pernikahan itu bukan ajang coba-coba. Pernikahan adalah ibadah yang prosesnya berjalan setiap hari.


Setiap pasangan yang menikah memerlukan sebuah keharmonisan untuk menjaga rumah tangganya tetap awet. Sebagai suami, Akash harus lebih dominan dalam membina hal-hal kecil yang dapat membawa pernikahan mereka pada kemaslahatan. Sebuah pelukan kecil atau genggaman tangan, misalnya.


Tapi lihatlah, Rere bahkan enggan saat didekati. Akash hanya sedang berusaha menerima Rere. Berusaha jadi suami baik dan menyenangkan hati istrinya.


"Kita bukan pasangan yang saling mencintai, nggak perlu ada hal-hal kayak gitu," ucap Rere.


"Mau sampai kapan, Re?"


"Sampai kita siap berpisah." Rere menyalak, Akash kaget dibuatnya.


"Istighfar kamu, Re. Pernikahan bukan seperti memakai baju yang bisa dilepaskan saat kita tidak nyaman lalu mengantinya dengan yang lain."


"Aku nggak bisa hidup sama lelaki yang bahkan hatinya saja digetarkan oleh nama wanita lain."


"Dan aku nggak sanggup hidup sama lelaki yang nggak bisa menggetaran hatiku."


"Dulu sekali mungkin iya aku pernah suka dan terobsesi sama kamu, tapi aku sadar ada lelaki yang lebih mencintaiku."


"Nggak mau dicoba, Re?" tanya Akash, meski dalam hati dirinyapun membenarkan perkataan Rere.


"Kita cerai saja, Kash!"seru Rere seraya pergi meninggalkan Akash.


Akash terpaku mendengarnya, dirinya butuh bicara dengan Umminya. Dia tahu Rere adalah orang yang sangat keras kepala dan tak bisa dibantah.


Akash beranjak melepas sarung dan menggantinya dengan celana panjang tak lupa memakai jaket. Tidak ditemuinya Rere di manapun di rumah itu saat Akash melintas di ruang tamu. Tentu saja karena Rere sedang berada di kamar Nenek Karina yang baru hari kemarin pulang dari rumah sakit.


Anggara terlihat sedang menyesap kopinya ditemani Yona di teras rumah. Dengan sopan Akash menyapa mertuanya itu.


"Saya mau ke rumah Ummi," jawab Akash saat Anggara bertanya Akash hendak ke mana.


"Rere tidak diajak, harusnya dia ke sana menemui Ummi juga." Ujar Anggara.


"Ada masalah, Kash?" selidik Yona.


Akash tak berani menjawab, ragu untuk menceritakannya. Menurutnya selama masih bisa diselesaikan berdua, dia tak perlu bercerita aib rumah tangga yang bahkan baru berusia tiga hari.


Kalau sudah begini siapa yang mau disalahkan? Anggara? Ilham?


Tidak ada yang bisa disalahkan, tunggu sampai semua kejadian ini memiliki titik yang bisa diterima sebagai hikmah.

__ADS_1


"Kash, ada masalah?" kembali Yona bertanya.


"Nggak ada, Mi. Saya hanya ingin bertemu Ummi." Bohong Akash.


"Kalau ada apa-apa langsung bilang!" peringatan dari Anggara.


Akash mengangguk patah-patah.


"Ya sudah silahkan kalau mau pergi, keburu sore." Ujar Anggara menunjuk pada langit yang mulai memerah.


***


Sementara itu di kamar Nenek Karina, Rere sedang berbaring memeluk wanita tua itu. Keadaannya semakin payah sekarang. Lebih sering merasa dadanya sesak.


"Nek, aku mau cerai." Beritahu Rere.


Karina sejujurnya kaget, ingin melarang. Namun, Rere tetaplah Rere. Tidak bisa dia dinasihati saat kondisinya seperti itu.


"Iya, lakukan yang kamu inginkan."


"Cuma Nenek dan Guntur yang mengerti aku."


Karina hanya mengangguk, cucunya itu tak bisa dibantah. Sama saja kerasnya dengan putranya. Karina kembali merasakan sesak di dadanya, namun berusaha disembunyikannya.


***


Semenjak pulang dari rumah pamannya beberapa hari lalu, Bumi merasa tertarik untuk belajar ilmu agama dan sekedar mengaji di bersama Ibu Haji Endah.


Keinginaannya itu dia sampaikan pada Ayas dan tentu saja Ayas menyetujuinya. Daripada mencari pekerjaan, Ayas lebih rela Bumi memperdalam ilmu agamanya.


Sore itu Bumi pergi ke kediaman pamannya, menggunakan ojeg yang tempo hari pernah mengantarnya. Seperti biasa, Ayas menitipkan makanan untuk diberikan pada Lili.


"Sebenarnya ada niat lain sih, Bi." Ucap Bumi, mengutarakan niatnya.


"Apa?"


"Aku pengen belajar ngaji sama Bu Haji, tapi malu bilangnya."


"Kenapa harus malu, nanti Bibi antar. Kan sama camer sendiri, jangan malu." Seloroh Lili.


"Camer? calon mertua?" tanya Bumi meyakinkan dugaannya.


"Iya, hehehe." Jawab Lili tertawa kecil.


"Bi Lili ngaco, nih. Sama kayak Uti," Bumi mendengus kesal, melipat wajahnya.


Pasalnya dia sungguh tak suka jika dijodohkan diam-diam begitu. Apalagi dengan Hafidz yang kesan pertama saat bertemunya saja sudah membuat kesal.


"Ya sudah, nanti Bibi antar k rumah Bi Haji."


Bumi tak menjawab, hanya mengangguk. Mau bilang tidak jadi pun merasa tak enak pada Bi Lili. Lagipula mau kapan lagi belajar mengaji yang lebih baik. Bukan hanya soal mempelajari Al-qur'an tapi juga ilmu agama lainnya.


Memang pada dasarnya pesantren yang dimiliki Haji Ma'sum hanyalah sebuah pesantren salafiyah. Salafiyah adalah sebutan bagi pondok pesantren yang mengkaji "kitab-kitab kuning" (kitab kuno). Pesantren salaf identik dengan pesantren tradisional (klasik) yang berbeda dengan pesantren modern dalam hal metode pengajaran dan infrastrukturnya. Di pesantren salaf, hubungan antara Kyai dengan santri cukup dekat secara emosional. Kyai terjun langsung dalam menangani para santrinya.


Pada dasarnya, pesantren salaf adalah bentuk asli dari lembaga pesantren itu sendiri. Sejak munculnya pesantren, format pendidikan pesantren adalah bersistem salaf. Kata salaf merupakan bahasa Arab yang berarti terdahulu, klasik, kuno atau tradisional. Seiring berkembangan zaman, tidak sedikit pesantren salaf yang beradapasi dan mengkombinasikan sistem pembelajaran modern. (sumber wikipedia. com)


Para santri yang mengaji di sana pun disebutnya santri kalong. Sebab sebagian dari mereka tidak benar-benar diam di pondok. Mereka masih sering bolak balik ke rumah masing-masing dikarenakan masih usia sekolah.


Adapun yang tinggal di pondok adalah mereka yang sekolahnya mengambil jalur sekolah terbuka. Di mana hanya seminggu sekali pembelajaran tatap muka dengan gurunya dilakukan.

__ADS_1


Setelah merapikan makanan yang dibawa Bumi, Lili mengantar Bumi menuju kediaman Haji Endah. Sudah banyak anak-anak remaja putri di sana. Mereka memang mengaji pada malam hari selepas magrib, dan biasanya lepas ashar sudah datang. Sekedar untuk bermain di halaman rumah Haji Endah.


Senyum di wajah Haji Endah terbit riang manakala Bumi menyalaminya. Sepertinya Haji Endah sudah sangat suka dengan Bumi. Diam-diam Uti memang telah banyak menceritakan perihal Bumi padanya.


"Bumi mau minum apa, Nak?" tawar Haji Endah.


"Nggak usah, Bu. Nanti Bumi bisa ambil sendiri." Jawab Bumi sopan.


"Wah bagus itu, kamu memang harus menganggap rumah ini seperti rumahmu." Ujar Haji Endah membuat Bumi mengkerutkan kening.


Sementara Lili hanya tersenyum-senyum saling melempar pandang dengan Haji Endah. Bermain kode lewat tatapan yang sulit Bumi artikan.


Pintu yang tak ditutup itu diketuk dari luar bersamaan dengan suara salam setelahnya. Adalah Hafidz pelakunya, pria itu terlihat berbeda saat memakai kemeja dan celana bahan. Terlihat dewasa dan berwibawa.


Hafidz masuk menyalami Haji Endah, pada Lili dia hanya meninjukan kepalan tangannya di lengan Lili. Unik memang kedua saudara sepupu ini.


Sedangkan pada Bumi, Hafidz mengatupkan kedua tangannya di dada dan membuat Bumi reflek melakukan hal yang sama.


"Aku bawa ini, baksonya gang senggol. Tapi cuma tiga bungkus. Kirain nggak ada tamu." Ujarnya seraya menyimpan bungkusan plastik berwarna putih di meja.


"Ini juga cukup, Ibu nggak usah." Sahut Haji Endah.


"Bumi mau?" Tawar Haji Endah.


"Tapi pakai bihun sayur, bukan baksonya doang tapi dua porsi." Cepat-cepat Hafidz menjawab perkataan Ibunya, padahal bibir Bumi sudah hampir berkata-kata.


"Memangnya kenapa?" tanya Haji Endah.


"Hansa sukanya bakso tanpa bihun ataupun mi, tapi baksonya harus dua porsi." Jawab Hafidz, dan itu benar adanya.


"Benar begitu?" Haji Endah meyakinkan jawaban putranya.


"Betul, Bu Haji." Jawab Bumi mengangguk malu.


"Koq kamu tahu?" Tanya Haji Endah.


"Kan pernah makan bareng tempo hari."


Haji Endah menganguk mengerti. Bumi malah malu bukan kepalang karena diingatkan pada kejadian itu lagi.


"Kalau aku sukanya pakai mi dan sayuran, sambalnya yang banyak." Ujar Hafidz sengaja memberi tahu Bumi.


Bumi hanya mengangguk. Apalagi yang harus dia lakukan selain daripada mengangguk. Dalam hati Bumi mengumpat kelakuan Hafidz. Dirinya yang sempat sesaat memuji Hafidz yang terlihat dewasa saat pertama masuk tadi, langsung menyesal karena nyatanya Hafidz tetaplah Hafidz yang menyebalkan.


"Aku mandi dulu ya, Bu." Akhirnya pamit juga manusia menyebalkan itu. Namun belum juga beranjak bibirnya sudah kembali berucap, "dimakan ya Hansa baksonya, untuk saya sisakan mi dan sayurnya saja." Lengkap dengan kerlingan mata di akhir kalimatnya.


Membuat Bumi bergidig ngeri. Jika saja tidak ada Bu Haji Endah, sudah ingin rasanya Bumi menendang kaki pemuda menyebalkan itu.


Bumi hanya diam tanpa ekspresi, tangannya yang bersembunyi di balik cardigan mengepal kuat. Amarah dalam dadanya memuncak. Bumi berjanji pada dirinya sendiri, jika ada kesempatan dia akan menghajar habis-habisan pria yang kini sudah pergi meninggalkan ruangan itu.


"Maaf ya, Bumi. Hafidz sukanya becanda." Ucap Bu Haji Endah.


"Nggak apa-apa, bu Haji." Jawab Bumi dengan senyum dipaksakan.


Lili yang menyadarinya tak kuasa menahan tawa. Dengan berdalih mengambil mangkuk dan sendok, Lili pergi ke dapur. Di dapur dia mengeluarkan tawanya. Sudah bisa dipastikan setelah ini Bumi akan menyimpan dendam kesumat pada Hafidz.



Yang mau berangkat ngaji ke tempat Bu Haji dan malah diledek soal bakso dua porsi. Hehehe. Gambar hanyalah ilustrasi.

__ADS_1


Like, komen dan vote kak.


__ADS_2