
Pagi menyapa dengan rintik gerimis sisa hujan tadi malam. Bumi masih duduk di balkon enggan turun padahal mama sudah memanggilnya sedari tadi untuk sarapan.
Dirinya malu atas kelakuannya tadi malam. Mengapa tak bisa setegar dulu?
Lagi-lagi mama memanggil, bahkan kali ini sampai menghampirinya di balkon.
"Kamu ganti baju, ada Akash. Mau Mama suruh pulang lagi, atau...."
"Suruh tunggu, dong!" Bumi memangkas kalimat mama, segera menuju kamar dan memakai baju terbaiknya.
Mama keluar terlebih dahulu, manik matanya sempat menangkap Bumi yang kegirangan. Setelah melihat siapa yang menungguinya, apa masih bisa girang seperti itu.
***
Baru menuruni satu anak tangga, langkahnya sudah terhenti sebab mendengar begitu banyak suara orang yang berbincang. Sepertinya bukan hanya satu. Dan dia juga mendengar suara, Alisha.
Perlahan dia selesaikan langkahnya sampai habis ditapakinya anak tangga itu. Matanya langsung menangkap beberapa orang yang kini duduk memenuhi ruang tamu yang tidak terlalu luas itu.
Perlahan namun pasti Bumi membawa langkahnya dan memberanikan diri mengucap salam. Bukan hanya Akash di sana. Ada Ummi, Zahra, Nadia, Ilham bahkan tiga orang yang tidak Bumi kenali.
"Duduk, Sayang!" suruh mama, seluruh sofa sudah tak ada di ruang tamu. Entah dikemanakan.
Mereka duduk beralaskan karpet, sangat santai. Bumi mengingat-ingat siapa saja tiga orang yang kini berada di antara mereka. Namun, tak dapat ia mengingatnya.
"Bumi bingung kenapa banyak orang?" adalah suara Ummi yang bertanya, di sampingnya duduk Akash memakai kemeja putih seperti hendak, sudahlah.
"Iya, Ummi. Tadi Mama bilang cuma Kakak yang datang." Bumi tak dapat menyembunyikan keheranannya.
"Ini kenalkan dulu, saudara Ummi sama adiknya Abi." Ummi mengalihkan pandangan pada tiga orang yang sedari tadi membuat Bumi bertanya tentang identitasnya.
Bumi ikut memandangi mereka. Tiga orang pria memakai pakaian yang sama. Baju muslim, seperti seorang ustaz. Ummi mengenalkan satu persatu di antara ketiganya.
Ketiganya memiliki perawakan yang sama. Tinggi dan berkulit putih. Hanya usia yang membedakannya. Yang Ummi perkenalkan pertama adalah adik Abah, bernama Paman Samosir. Lalu di sampingnya lebih muda, seusia Laut namanya Daud, putra Paman Samosir. Dan satu lagi yang terlihat lebih sepuh bernama Wak Haji Dahlan, Kakak Ummi.
"Bumi mau Ummi yang bicara, atau Paman, atau...."
"Aku mau Kakak yang bicara," jawab Bumi cepat, dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini ujungnya.
Dia hanya ingin mendengar lelaki yang dicintainya itu yang bicara.
Akash tercekat, dia tak pandai merangkai kata. Apalagi harus bicara di hadapan banyak orang.
"Kash, ayok bicara!" suruh Ummi, jemarinya menggenggam jemari Akash. Ummi tahu ini tak mudah, mengingat anaknya bukan seseorang yang ahli bicara.
"Bissmillahirahmanirrahim."
__ADS_1
"Mama, hari ini dengan segala kerendahan hati, dengan segala kekurangan yang saya miliki, saya meminta izin pada Mama untuk menjadikan putri Mama sebagai istri saya. Bolehkah, Mah?"
Akash bertanya pada mama yang diam-diam sudah memupuk air mata sejak kalimat pertama Akash terlontar.
"Iya, Mama izinkan. Mama serahkan keputusan pada putri Mama." Hanya itu yang jadi jawaban mama.
Kali ini Akash mengawali kalimat dengan tertawa, kemudian menatap Laut dengan wajah serius.
"Gue males banget nih sebenernya ngomong sama lo," Akash tertawa lagi, Laut juga. Membuat suasana sedikit mencair.
"Sialnya lo adalah kakak dari cewek yang gue cinta banget, mau nggak mau gue juga harus izin sama lo. Laut, gue minta lo izinin Bumi buat nerima gue. Lo bisa kan?"
Alih-alih menjawab, Laut beranjak dari duduknya. Berhamburan memeluk Sang sahabat.
"B*ngsat lo, mana ada orang ngelamar ngomongnya kayak gitu!" Laut melerai pelukannya.
"Sayangnya adik gue juga bakal ngamuk kalau gak gue izinin."
"Kash, mulai hari ini lo harus manggil gue kakak, man." Laut memukul bahu depan Akash.
"Gak ada, apaan males gue," canda Akash.
"Oh ya udah Gue nggak restuin, gue loh walinya. Nggak ada gue nggak bisa kalian nikah," ancam Laut. pura-pura marah.
Keduanya saling bertatapan, kemudian tertawa bersama dan kembali berpelukan.
"Jangan gitulah ngomongnya, 13 tahun gue jomlo buat siapa?"
"Lo duda man,"
"Pake diingetin,"
Suara deheman Ilham memangkas obrolan asyik Laut dan Akash.
"Kasihan tuh yang bersangkutan udah nungguin," sindir Laut dan disambut gelak tawa.
Laut kembali ke tempat duduknya semula, membiarkan Akash bicara pada Bumi.
"Bumi, aku tepati janjiku. Aku datang menjemputmu. Maukah kamu berjalan bersamaku? melewati hari-hari hingga hanya maut yang akan memisahkan kita? aku tak janjikan setiap harinya akan indah, tapi kupastikan aku akan selalu ada saat kamu butuhkan."
Akash sepanjang itu merangkai kalimat, Bumi masih diam. Menunduk, menggenggam erat tangan mama.
"Jadilah istriku, Bumi. Jadilah teman hidupku, jangan lagi membuatku merasakan hancur."
Itu menjadi kalimat terakhir Akash, karena setelahnya dia memilih menyembunyikan wajahnya di belakang pundak Ummi seraya berbisik, "aku takut ditolak."
__ADS_1
Bissmillah
"Aku bersedia jadi istri Kakak."
Jawabannya singkat namun membuat lafadz Allhamdullillah menggema memenuhi ruangan itu. Akash seketika memeluk Umminya, memeluknya erat tanpa rasa malu dilihat banyak orang.
Setelahnya, masuklah seseorang yang sudah sedari tadi menunggu di luar.
"Maaf, ini akadnya jadi nggak ya? saya sudah terlalu lama menunggu."
"Hah, akad?" Hanya Bumi yang kaget.
"Siapa yang mau menikah?" todong Bumi pada seseorang yang ternyata penghulu itu.
Sang penghulu membaca sebuah nama salam kertas, "Asyam Al-Akash dan Bumi Hansa."
Bumi membelalakan mata, apa ini tidak terlalu mendadak.
"Mam, harus sekarang?" Bumi merajuk, bukan tak ingin tapi aneh saja.
"Bumi, aku nggak mau lagi kita terpisah kalau harus mengulur waktu," bujuk Akash.
"Sesuatu yang baik harus disegerakan, untuk itulah kami berada di sini. Menjadi saksi pernikahan kalian." Paman Samosir ikut bicara.
"Kamu sudah siap 'kan, Nak?" Wak Haji Dahlan ikut bicara.
"Iya Bumi siap dan ikhlas."
"Allhamdullillah."
Semua segera bersiap pada posisi. Mama ternyata sudah mengundang ketua RW dan Rt yang akan menjadi saksi pernikahan dari pihak wanita.
Semua memang dadakan sesuai keinginan Akash. Dia tak ingin lagi bermain-main dengan waktu. Tak ingin lagi kalah oleh keadaan.
Kemarin shubuh dia salah strategi. Setelah malamnya mendengar percakapan antara Zahra dan Bumi yang membahas masalah Nadia Dan Hafidz, tanpa pikir panjang dirinya menelepon Paman Samosir dan Wak Haji untuk menemaninya ke rumah Uti guna melamar Bumi.
Namun, sampai di sana yang ia dapati nyatanya hanya rumah kosong, Bumi tidak ada. Saat membuka ponsel dan blokirannya sudah Bumi buka secepat kilat dia menelpon Bumi. Dan betapa kaget saat yang ia dapati justru suara Alisha yang berkata Bumi ada di rumah Umminya.
Lihatlah, betapa dirinya merasa bodoh. Saat itu juga langsung kembali ke Jakarta, tentunya dengan Daud dan Paman Samosir yang habis-habisan meledeknya.
Tiba di rumah Ummi kembali diledek oleh Ilham, Zahra dan juga Nadia. Menyalahkannya kenapa sangat gegabah. Tidak bertanya dahulu.
Sebagai gantinya, acara dadakan inilah yang bisa keluarganya siapkan untuk dirinya dan Bumi.
Semalaman dia sudah menghafal ijab kabul yang akan dia ucapkan. Semoga lancar.
__ADS_1
.
.