Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
114


__ADS_3

Guntur berjalan mendekati Rere dan Bumi.


"Re, maafkan aku." Lirih suara Guntur didengar Rere.


"Nggak apa, aku juga minta maaf." Di sela isak tangis Rere berusaha bicara senormal mungkin.


"Aku nggak mau dilihat dalam keadaan seperti ini," Rere semakin sesenggukkan. Wajahnya ia tutup dengan kedua telapak tangan. Tak ingin dilihat Guntur.


"Re, boleh aku bicara berdua?" pinta Guntur.


"Enggak, kamu calon suami orang. Aku nggak mau ada fitnah." Rere menolak, kepalanya ia tudukkan untuk menyembunyikan tangisan.


"Re, lebih baik bicara dulu. Setelah kamu melepaskan, nanti akan terasa lebih mudah." Usul Bumi.


Tempat itu bisa menjadi tempat yang pas untuk keduanya saling berbicara, melepaskan satu sama lain sebelum akhirnya Guntur menikah. Sebab orang-orang lebih sibuk di luar rumah. Sehingga, tak ada kegiatan di dalam rumah.


Rere merasa menyesal hari itu mendatangi Guntur. Harusnya dirinya diam saja tanpa tahu kabar Guntur. Mungkin tidak akan sesakit ini.


Tepat waktu, Akash datang dengan beberapa gelas minuman pada nampan yang ia bawa. Dengan isyarat mata Bumi meminta dibawa pergi dari tempat itu. Akash mengerti, setelah menaruh nampan di atas meja keduanya pamit. Beralasan untuk segera kembali ke pelaminan.


Tinggalah kini Rere dan Guntur berdua. Rere masih menangis tanpa suara.


"Re, aku ingin menjelaskan sesuatu." Ucap Guntur, berharap Rere mau mendengarnya.


"Nggak ada yang perlu dijelaskan, aku udah paham." Timpal Rere, masih terus menunduk dan menutupi wajahnya.


"Aku baru tahu setelah beberapa hari kedatangan kamu bahwa kamu sudah bercerai dengan Akash." Ungkap Guntur, terselip sesal dalam nada bicaranya.


"Aku nggak mau dikasihani, simpan saja empatimu itu." Rere tetaplah Rere yang angkuh.


"Maaf aku udah bohong sama kamu." Laut kini berjongkok di hadapan Rere. Tangannya ia gerakkan untuk menarik tangan Rere yang sedang menutupi wajahnya.


"Jangan macam-macam!" Rere membuat pertahanan agar Guntur kesulitan meraih tangannya.


"Dia bukan calon istriku, Re." Guntur kembali bicara.


Kali ini Rere menurunkan sendiri kedua telapak tangan dari wajahnya.


"Maksud kamu?" seketika tangisan itu terhenti.


"Dia sepupuku, aku menyuruhnya untuk berpura-pura menjadi calon istriku kalau kamu datang mencariku." Ungkapan Guntur, membulatkan mata Rere. Keningnya ia lipat dalam-dalam berusaha berusaha mencerna kalimat Guntur.


"Untuk apa kamu membohongiku?" tanya Rere, tangisnya mulai reda.


"Aku pikir pernikahan kamu bahagia, bahkan aku pikir saat kamu hari itu datang kamu masih istri Akash." Tangan Guntur tergerak untuk meraih jemari Rere. Namun, Rere menpisnya.

__ADS_1


"Aku baru tahu dua hari setelahnya saat dapat undangan dari WAG (WhatsApp Group) yang dikirim oleh Ayesha." Tutur Guntur kembali berusaha meraih kedua tangan Rere.


"Maafkan aku, Re. Maaf." Kali ini tangannya berhasil menggenggam jemari Rere.


"Kenapa kamu waktu itu pergi?" todong Rere air matanya kembali mengurai, ia biarkan sesak di dadanya berbondong-bondong keluar. "Kenapa kamu sepengecut itu?" desak Rere.


Guntur mengeratkan genggaman di jemari Rere. Dirinya mulai bercerita. Sehari setelah pernikahan Rere Guntur mulai mengatur siasat. Dia ingin keberadaannya di rumah sakit tidak diketahui oleh Rere ataupun keluarganya lagi.


Saat itu dia berfikir menjauh lebih baik daripada harus berurusan kembali dengan keluarga Pak Anggara.


Dia buat seolah-olah dirinya pindah dari rumah sakit itu. Dia juga berpesan agar tak ada satupun dari mereka yang memberitahunya apapun kabar tentang Rere termasuk Nenek Karina.


"Tapi waktu itu Bumi dapat kabar kalau kamu pindah tugas," tukas Rere di sela Guntur bercerita.


"Sofi? sengaja aku menyuruh Sofi untuk berbohong." Ungkap Guntur membuat Rere reflek menarik tangannya lalu mendorong bahu depan Guntur.


"Jahat banget!"


Guntur hanya terkekeh, tangannya kembali meraih tangan Rere. Digenggam kembali dengan erat tangan itu.


"Tapi masa' kamu nggak denger berita perceraian aku?"


"Nggak tahu, karena kan sudah kubilang, aku tutup telinga dan tutup mata tentang kondisi kamu."


"Jahat, kamu melupakanku?"


Rere berdecak sebal, hatinya tidak bisa dipungkiri amatlah bahagia. Guntur memang tidak datak di waktu yang cepat tapi mungkin Allah mengirimnya di waktu yang tepat.


"Gimana rasanya kehilangan aku?" selidik Guntur dengan memicingkan mata.


Ditanyai seperti itu Rere tersenyum simpul. Dia kemudian menceritakan keadaannya yang hampir meninggal karena bunuh diri.


"Loh, kenapa nggak ada yang kasih tahu soal ini ya?" Untuk berita satu ini Guntur lumayan terkejut. Apalagi saat itu Rere dirawat di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Itulah akibatnya jadi dokter nggak profesional," cibir Rere. "Urusan pribadi jangan disangkutkan dengan urusan kerjaan." Imbuhnya seraya kembali berdecak.


"Maaf ya, Re. Aku pikir kamu akan baik-baik saja jika aku menjauh dan menghilang." Sesal Guntur, tak melepaskan genggaman tangannya.


"Aku tanpamu butiran debu." Rere menjawab dengan melantunkan sebait lagu milik Chakra Khan.


"Bisa aja kamu tuh," tangan Guntur terangkat mengacak rambut Rere.


Keduanya kembali banyak bercerita tentang hari-hari yang mereka lewati selama ini. Betapa keduanya saling disiksa rindu tanpa bisa bertemu. Guntur tersiksa dengan persembunyiannya dan Rere terluka mencari keberadaannya.


Pak Anggara dan Bu Yona ikut bergabung berbincang dengan keduanya. Bahkan Guntur masih ingat asisten rumah tangga yang mengerjainya. Dia sedikit terkejut saat Anggara bilang bahwa Ida sudah dipecat.

__ADS_1


Obrolan mereka usai bersamaan dengan resepsi yang usai juga. Hampir menjelang ashar tamu mulai sepi. Hal itu tentu sangat melegakan bagi Bumi. Dia bisa melepas sepatu dan pakaian yang terasa berat di badannya.


Dia sengaja berlama-lama saat mandi dan berendam di air hangat. Bahkan suaminya sudah selesai shalat ashar dan merapikan gaun untuk dibawa kembali oleh tim perias.


"Lama banget sih mandinya?" protes Akash saat hampir jam 17.00 Bumi baru keluar dari kamar mandi. " Asharnya keburu lewat waktu."


Bumi segera berlari menyambar mukenanya demi mendengar suaminya bicara sepertu itu. Akash tak main-main jika Bumi masih saja membawa kebiasaan buruknya menunda-nunda shalat.


Selesai shalat Bumi kembali melipat mukena beringsut mengambil sisir di meja rias.


"Kak, sisirin rambutnya." Dia merengek pada suaminya yang sedang fokus di depan layar laptop mengecek sesuatu.


"Kak, rambutnya kusut. Tolong sisirin," Bumi mendekat ke arahnya. Memeluk leher suaminya dari arah belakang.


"Kak, dengar nggak?" tangannya beralih mencubiti pipi suaminya.


"Sebentar, ini dikit lagi beres." Jawab suaminya. "Jadi ini minggu depan bisa mulai beroperasi nih," gumamnya kemudian mematikan laptop lalu membalikkan badan agar dapat menatap istrinya.


"Kamu kalau rambutnya disisirin suka tidur, ini udah mau maghrib." Ujarnya seraya mengambil sisir dari tangan istrinya.


"Nggak tidur, nanti kalau ketiduran tinggal bangunin." Jawab Bumi segera menarik pergelangan tangan suaminya agar segera melakukan hal yang dimintanya.


"Di kursi aja, kamu nanti beneran tidur kalau di kasur." Protes Akash namun tak diindahkan Bumi. Dirinya malah mengambil posisi tidur miring dan mulai membuka ikatan rambutnya.


"Ayok sisir rambut aku." Ujarnya seraya menepuk-nepuk kepalanya. Akash tak bisa menolak. Dia merangkak ke tengah kasur duduk di belakang punggung Bumi dan mulai menyisir rambut hitam legam itu dengan gerakan perlahan.


"Jangan tidur!"


"Enggak!"


Namun bohong, matanya semakin berat seiring sisiran halus yang dilakukan suaminya.


"Dek, jangan tidur!"


Suara Akash mengganggu sekali, padahal matanya semakin berat dan hampir saja terpejam.


"Dek, kita punya anaknya yang banyak, ya!" Akash bicara lagi. meminimalisir keadaan agar Bumi tak ketiduran.


"Heem," jawab Bumi yang matanya mulai terpejam.


"Kamu mau dipanggil apa sama anak kita nantinya?" Akash terus saja mengganggu agar Bumi tak terlelap.


"Heem," jawab Bumi dan matanya sudah terpejam.


Akash menggeleng, ditengoknya wajah istrinya. Matanya sudah terpejam sempurna dengan mulut yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Kamu tuh kadang polos banget, kadang berisik banget kaya Ibu-ibu komplek." Gumam Akash mencium lama kening istrinya yang benar-benar lelap. Diusapnya pipi sehalus sutra itu.


"Tidur yang nyenyak," gumamnya seraya beranjak untuk menemui Ummi yang tadi meminta bicara empat mata dengannya. Entah hendak membicarakan apa.


__ADS_2