
Sambil berjongkok di hadapan suaminya yang sedang duduk di tepian tempat tidur Bumi terus memohon.
"Kasihan, Kak. Bayi itu nggak bersalah." Rengek Bumi. Tangannya sampai mengatup di dada agar Akash memberinya izin untuk mengangkat bayi Vanya sebagai anak.
"Segitu kasihannya kamu sama bayi itu?" tanya Akash seraya merengkuh kedua bahu istrinya.
"Iya, tadi dia terlihat kecil. Tangannya terangkat seolah ingin disayang. Wajahnya cantik, Kak. Aku bahkan sempat berharap memiliki anak perempuan saat pertama kali tahu sedang hamil." Papar Bumi panjang lebar.
"Tapi kita harus datangkan saksi, aku hubungi Pak Rt dulu." Sahut Akash seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
"Itu artinya boleh?" desak Bumi. Akash hanya meletakkan telunjuk di bibir Bumi. Matanya mendelik seraya mengucap salam.
Berbicara sebentar lewat sambungan telepon meminta pak Rt untuk datanh ke rumahnya. Bumi tentu tersenyum riang. Ia segera berhamburan ke pelukkan suaminya.
"Satu lagi, aku nggak mau kamu menyusui bayi itu. Biar saja dikasih suau formula."
Bumi mengangguk mendengar ucapan suaminya, ia mengerti.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih, aku tahu si batu yang diberi nyawa ini adalah orang baik." Ujar Bumi membuat Akash tertawa, ia selalu merasa lucu saat istrinya mengatai dirinya si batu yang diberi nyawa.
"Tapi, kamu harus mau punya asisten." Akash mendorong pelan tubuh Bumi. Diraihnya dagu Bumi dan kembali berkata. "Aku nggak mau kamu kelelahan, minggu depan aku pasti sibuk lagi di restoran baru. Aku nggak bisa banyak bantu kamu jaga anak-anak. Kamu mengerti, hmm?"
"Iya, aku mengerti ... terima kasih ...." Ujarnya seraya menyentuhkan wajahnya ke wajah Akash. Biar, itu bonus karena Akash sudah membuatnya bahagia.
Akash tentu menyambutnya senang hati. Bahkan dia tak melepaskan saat Bumi mulai merenggangkan tubuhnya. Akash kembali mendekap tubuh Bumi. Dia tak ingin melakukannya sebentar. Bahkan kalau bisa, ia ingin lebih dari ini.
Demi menyenangkan hati Akash, Bumi mengalah. Dia turut dalam permainan suaminya. Membiarkan Akash melakukannya lebih dari yang akan ia berikan. Bahkan ketukan di pintu tak mereka hiraukan.
Biar saja, biar nanti mencari alasan. Bilang saja ketiduran atau apa saja asal mereka semua percaya.
***
Pak Rt bahkan hampir kembali pulang bila satu menit saja Akash tak keluar kamar. Dia harus mengeringkan rambutnya dahulu agar tak terlalu mencolok dan menimbulkan rasa curiga. Bagaimanapun, mereka melakukannya di saat orang-orang sedang sibuk dengan kelahiran Vanya.
"Maaf, menunggu lama, Pak." Ujar Akash seraya menyalami pak Rt dan dua orang tetangganya yang lain.
"Iya, saya kira Bang Akash cuma mau ngerjain saya." Seloroh pak Rt dan diangguki kedua rekannya.
"Tadi ada sedikit kendala," elak Akash seraya mengusap tengkuknya.
__ADS_1
Tak lama Bumi keluar dari kamar. Ia bahkan harus beradaptasi dahulu dengan rasa sakit di bawah perutnya sebab Akash tak main-main saat melakukannya tadi. Bumi sampai merasa lututnya masih gemetar.
Bumi menyapa ramah tamu-tamunya. Dia merasa malu sendiri karena bisa-bisanya melakukan hal itu dalam jangka waktu lama di saat rumahnya kedatangan banyak tamu.
"Jadi ada apa ya, Bang?" selidik Pak Rt, sudah tak sabar ingin segera pulang.
"Saya ingin bapak-bapak menjadi saksi untuk kami, karena kami akan mengangkat seorang bayi perempuan menjadi anak kami." Papar Akash membuat tamunya saling melempar pandang.
"Maksudnya Bang Akash ingin mengadopsi bayi?" pak Rt meyakinkan pernyataan Akash.
"Iya, Pak. Kira-kira begitu." Ungkap Akash.
"Kalau tidak keberatan, Bapak bisa ikut kami untuk melihat si bayi." Ajak Bumi seraya beranjak dari duduknya.
Pak Rt dan rekannya mengangguk setuju. Bersama Bumi dan Akash, ketiganya berjalan menuju kamar tempat Vanya melahirkan.
Bayi mungil itu kini sudah dipakaikan baju. Sayangnya, Vanya menolak saat Bidan menyuruhnya untuk IMD. Dia berkata, tak ingin ada ikatan batin antara dirinya dan bayi mungil itu.
Saat Bumi datang bersama Akash dan tamunya. Sontak Vanya langsung menutup wajahnya dengan selimut. Ia tak ingin siapapun melihat wajahnya.
Celin cepat-cepat berbisik pada Bumi.
Bumi mengangguk mengerti, kemudian ia membisikan hal hal yang sama pada suaminya. Akash pun mengangguk.
"Pak, itu bayinya. Saya hanya ingin jika nanti ada tetangga yang lain bertanya tentang keberadaan bayi itu di rumah kami, Bapak bisa bantu jelaskan." Pinta Akash pada pak Rt.
"Jadi nanti kalau ada yang tanya, kami jawab saja bahwa bayi itu anak angkat Bang Akash?" seorang tetangga uanh bernama Hanafi bertanya.
"Iya, Pak. Takutnya nanti berita simpang siur kalau tak dijelaskan terlebih dahulu." Jawab Akash membuat ketiganya mengangguk mengerti.
Setelah dirasa cukup, pak Rt dan yang lainnya pamit pulang. Begitupun dengan teman-teman Celin yang lain. Bahkan Bidan Wiwit dan asistennya ikut berpamitan setelah melihat kondisi bayi sudah tenang.
"Kalau ada apa-apa bisa langsung hubungi saya." Pesan Bidan Wiwit.
"Terim kasih, Bu." Ujar Bumi seraya mengantar Bidan Wiwit sampai depan rumah.
Bumi sempat bertanya susu formula merk apa yang cocok untuk bayi baru lahir. Dengan sangat sabar Bidan Wiwit menjelaskan secara rinci. Bahkan merekomendasikan merk dot yang cocok.
Setelah mengantongi informasi dari Bidan Wiwit, Bumi meminta Lina untuk segera membeli susu dan dot. Karena bayi Vanya terus saja menangis. Sementara Vanya tak ingin barang sekalipun menenangkan putrinya.
__ADS_1
"Aku nggak mau dia sampai tahu kalau aku ibunya." Elak Vanya saat Bumi membujuk Vanya untuk sebentar saja menggendong bayi itu.
"Kamu benar-benar nggak mau tahu keadaan dia saat sudah besar nanti?" todong Bumi.
Vanua menggeleng. Baginya bayi itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ia hanya ingin melupakannya. Mengingatnya sama saja dengan membuka lukanya.
"Aku nggak mau ya, nanti tiba-tiba kamu kembali dan mengambil dia dariku." Ancam Bumi.
"Iya, jangan sampai kamu baru mengakuinya anak setelah kami benar-benar menyayanginya." Akash ikut menimpali perkataan istrinya.
Vanya terlihat sejenak berpikir. Dia ragu untuk mengiyakan pernyataan Bumi dan Akash.
"Aku nggak akan ambil dia dari kalian, selama kalian bisa merawatnya dengan baik."
"Kamu yakin?" todong Bumi lagi.
"Tapi boleh kan bila suatu hari beritahu dia kalau aku ibunya?" Pint Vanya.
Bumi memicingkan mata, ia menggeleng.
"Hanya supaya dia tahu saja, tak perlu ikut denganku." Imbuh Vanya, meyakinkan Bumi.
"Boleh saja, namun hanya kami yang berhak mengatur agama dan kepercayaannya." Akash menyahuti perkataan Vanya.
"Iya, aku bebaskan kalian mengajarinya ilmu agama islam." Jawab Vanya mantap.
"Bukan hanya mengajari, tapi aku juga ingin anak itu hidup dan menganut agama islam." Ralat Bumi.
"Iya, aku setuju. Aku serahkan semuanya pada kalian berdua."
Ucapan Vanya membuat Akash dan Bumi saling berpandangan dan mengangguk lega.
Akash segera meraih bayi mungil itu dari keranjang, dia mulai mengadzaninya dengan khidmat.
"Selamat datang ke dunia, cantik. Kenalkan, ini Ayah dan Bunda." Ucap Bumi seraya mengelus halus kepala yang ditumbuhi rambut lebat itu.
"Siapa namanya?"
Pertanyaan Akash membuat Bumi senyum-senyum sendiri. Dia bahkan punya sebuah nama untuk anak perempuan. Diam-diam ternyata Bumi ingin memiliki anak perempuan.
__ADS_1