Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
82


__ADS_3

Saat menjelang


Hari-hari bahagiamu


Aku memilih 'tuk diam dalam sepiku


Saat mereka tertawa diatas pedihku


Tentang, tentang cintaku


Yang telah pergi tinggalkanku


Aku tak peduli


Sungguh tak peduli


Inilah jalan hidupku


Ini aku, kau genggam hatiku


Simpan didalam lubuk hatimu


Tak tersisa untuk diriku


Habis semua rasa didada


S'lamat tinggal, kisah tak berujung


Kini ku kan berhenti berharap


Perpisahan kali ini untukku


Akan menjadi kisah sedih yang tak berujung


***


"Maafkan, Aku. Maaf Bumi." Ucap Zahra masih memeluk Bumi.


"Iya, Kak." Jawab Bumi seraya menepuk-nepuk punggung Zahra.


Zahra meredakan tangisnya, mengurai pelukan agar bertatapan dengan Bumi.


"Maafkan, Kakak ya." Sekali lagi Zahra berucap yang sama.


"Sudah ya kak, Aku baik-baik aja koq." Bumi manmpakan senyum lebar, lagi-lagi gigi kelincinya terlihat.


"Kamu jangan pernah menganggap kami orang lain setelah ini."


"Ummah napa nanis?" tanya Alisha yang sedari tadi Zahra dudukan di kursi.


Reflek Zahra dan Bumi menoleh ke arah gadis kecil yang matanya mulai meredup itu.


"Enggak koq, Kakak mau bobok?" tanya Zahra berjongkok di hadapan Alisha. Alisha mengangguk seraya menepuk-nepuk bibirnya, tanda ia minta susu dalam botol.

__ADS_1


"Alisha sama Aunty Natnat ya? Ummah mau main sebentar sama Aunty Bumi."


"Iya, tapi mimi cucu nah yang buanak." Jawab Alisha seraya mengembungkan pipinya.


Zahra hanya tersenyum seraya menelpon Nadia. Tak lama Nadia datang dan langsung membawa Alisha ke tempat yang lebih sepi.


"Bicara sebentar bisa kan?" Zahra menoleh kembali ke arah Bumi seraya menarik sebuah kursi dan mempersilahkan Bumi duduk.


"Kata Nadia kamu resign?" tanya Zahra.


"Hem, iya, Kak. hehehe."


"Bukan gara-gara ini kan?" selidik Zahra.


"Bukan, Kak." Bumi menggeleng, tentu saja dirinya berbohong.


"Kamu mau pulang lagi ke kampung?"


Kali ini Bumi hanya mengangguk, mengepalkan tangannya kuat-kuat. Tiba-tiba matanya terasa panas, terasa ada buncahan dalam hati yang ingin menerobos keluar lewat mata. Bumi mendongakan matanya, melawan buncahan itu agar tak lolos. Setidaknya jangan sekarang.


"Akash tahu?"


"Jangan beritahu dia apapun tentangku, Kak." Ucap Bumi penuh permohonan. "Akupun nggak mau lagi tahu tentangnya." Ucap Bumi selain memohon kali ini mengiba pula.


Terasa disayat hati Zahra mendengarnya. Perasaan bersalahnya akan ia tanggung seumur hidup jika Akash ataupun Bumi sama-sama tak bisa saling melupakan.


"Tapi bagaimana dengan aku, Nadia, Ummi juga Alisha?"


"Hem, Kak Zha tenang saja. Aku hanya nggak mau tahu kabar tentangnya," ucap Bumi lagi-lagi menerbitkan senyuman.


"Semoga Allah memudahkannya, Insya Allah, Kak."


Keduanya saling menggenggam jemari, dan melempar senyum. Sampai akhirnya Bumi teringat sesuatu yang harus hari ini juga ia katakan.


"Kak, jangan lakukan hal yang sama pada Nadia ya!?"


"Maksud Kamu?"


"Biarkan Nadia bahagia dengan pilihannya," ucap Bumi jemari semakin kuat ia tautkan dijemari Zahra.


"Nadia punya kekasih?"


"Hanya sedang menyukai seseorang, Kak Zha bisa tanya langsung pada Nadia."


Zahra tak menjawab, sekali lagi menyesali perbuatannya. Dia tahu betul karena apa Bumi bicara seperti itu. Tentu karena tak ingin membuat Nadia merasakan nestapa yang sedang dirasakannya. Hanya Bumi pintar bersembunyi.


Setelah perbincangan itu Bumi permisi pulang, awalnya ingin sekalian pamit pada Ummi karena besok pagi sudah harus berangkat ke kampung. Tapi, dia urungkan demi melihat Ummi yang sedang bercengkrama dengan besannya. Besan?


Sementara itu di sisi lain rumah besar itu tampak Rere sedang menangis dalam pelukan Guntur, ditemani Ida dan juga Akash.


"Aku mau mati aja," Rere terus merutuk dalam dekapan Guntur. Tangannya tak henti ia pukulkan ke dada Guntur.


"Semuanya sudah terjadi, kita nggak bisa berbuat apa-apa." Guntur berupaya menenangkan dengan cara terus mengusap punggung Rere.

__ADS_1


Kebaya dan kain batiknya sudah tak beraturan. Air mata membuat riasan di wajahnya semakin berantakan. Bahkan tadi dirinya sempat menarik paksa bungan melati yang dihiaskan di kepalanya. Hancur tak bersisa.


"Aku nggak bisa hidup sama dia," ucap Rere.


Dia yang dimaksud adalah Akash yang tengah berdiri memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ida yang juga berdiri di sana berharap-harap cemas. Menantikan amarah Rere padanya, pasrah.


Benar saja, setelah puas menangis di pelukan Guntur. Rere menarik dirinya, mencak-mencak memarahi Ida. Ida hanya tertunduk, meremas jemari dan menahan tangis.


"Re, udahlah. Kasihan Bi Ida." Lerai Akash, berusaha memangkas amarah Rere.


Alih-alih berhenti mengumpat Ida, kini Rere mendekat pada Akash. Telunjuknya terangkat tepat ke hadapan wajah Akash.


"Nggak usah ngatur-ngatur Gue!"


Akash dibuatnya terperangah, dirinya yang sedari tadi bersandar pada pilar berdiri tegak dan mengangkat kedua tangannya dari saku.


"Gue suami lo, ingat itu!" seru Akash dengan suara pelan namun penuh penekanan.


"Beresin urusan kalian, gue mau balik." Ucapnya lalu beranjak meninggalkan tempat itu.


Guntur melakukan hal yang sama. Sudah tidak ada hak dia menemui seorang wanita yang sudah menjadi istri lelaki lain. Kedatangannya untuk meminta maaf sudah tercapai. Meski berat akhirnya Rere membiarkan Guntur pulang.


Ida kembali menjadi sasaran, tak puas mengumpat Rere bahkan menyiram wajah Ida dengan minuman. Anggara sebenarnya melihat kejadian itu dari kejauhan. Di samping Anggara Karina duduk di kursi rodanya.


"Kamu bukan hanya menghancurkan hati anakmu saja," ucap Karina.


"Aku hanya ingin yang terbaik untuk Andrea, Ma." Elak Anggara.


"Harusnya kamu tanya bagaimana perasaannya,"


"Lama-lama Akash pasti bisa mencintainya," masih saja berkilah lelaki paruh baya itu.


"Aku khawatir Rere akan tertekan dan nekad, kamu harusnya tahu seperti apa watak anakmu." Karina memberi peringatan.


"Mertuanya seorang Ustadzah, semoga Rere bisa dibimbing dengan baik."


"Aku tidak yakin," Karina pergi meninggalkan anaknya yang keras kepala itu untuk menemui Rere.


******


Malamnya Bumi tidak ikut bersama Laut menghadiri resepsi pernikahan Akash dan Rere. Dia memilih sendiri di rumah. Paham dengan keadaan hatinya, Ayesha dan Laut tak memaksakan mengajak Bumi.


Bumi mulai memasukkan barang-barang kecil yang akan dibawanya pulang kampung, Seulas senyum terbit di bibirnya saat potret masa kecil bersama Papanya ia masukan ke dalam tas. Jemarinya sempat mengusap potrer lama itu.


Kini semuanya tinggal kenangan. Hari-hari penuh tawa di rumah besar itu tinggal kenangan. Kenangan indah dengan kemelut nestapa di hati Bumi. Selesai memasukkan barang-barangnya Bumi segera meringkuk di balik selimut.


Diputarnya lantunan ayat suci dari ponselnya. Akhir-akhir ini dirinya sedang menyukai surah An-nisa, beserta artinya dia pelajari surah yang memiliki 176 ayat itu. Biasanya selalu diskusi bersama Nadia lewat berbalas pesan.


Lama-lama matanya mulai terpejam, membiarkan ponsel tetap mengalun membersamainya yang tidur memeluk nestapa tanpa meratap.


.


.

__ADS_1


Kasih dukungan aku berupa like, komen dan vote kakak.


__ADS_2