Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
69


__ADS_3

Like, komen dan vote. Kasih Aku hadiah juga yaa. Makasih. Datang ke ig juga @Anisa_Harir.


******


Pagi hari kesibukan menyapa di rumah besar Uti. Seluruh keluarga nampak riang menyiapkan diri masing-masing untuk menghadiri acara pernikahan Yudis. Bumi dan Ayesha masih di kamar, keduanya masih merias diri.


Semalaman Bumi tidak keluar kamar. Hatinya gamang dengan ulah Uti yang seenaknya saja mau menjodohkan dirinya dengan Hafidz.


"Kak Ayesha udah dicoba belum tespacknya?" tanya Bumi yang sedang menyapukan make up tipis ke wajahnya.


"Udah, tapi belum lihat hasilnya. Tadi, langsung dikasihkan ke mama." Jawab Ayesha yang juga sedang melakukan hal sama dengan Bumi.


"Aku nanti mau dipanggilnya onti ya," tawar Bumi, sudah membayangkan jika ada anak kecil di tengah keluarga mereka.


"Iya,"


"Kamu serius dijodohin sama siapa tuh namanya?" tanya Ayesha.


Air muka Bumi langsung berubah mendengar hal itu. Gerakan tangannya yang sedang memegang aplikator lip matte menggantung di udara, urung disapukan pada bibir ranumnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, aku pengen kamu bahagia."


Kini tangan Ayesha mengambil aplikator lip matte dan dengan gerakan halus menyapukanna di bibir Bumi.


"Pantas Akash belasan tahun nggak tergoda dengan yang lain," gumam Ayesha. "Kamu cantik," ayesha menjawil jahil dagu adik iparnya itu.


"Iih kakak, bikin aku geer aja."


"Benar lho, Akash tuh cuma sama kamu doang ramahnya." Adu Ayesha


"Sama Aku aja jarang senyum," keluh Ayesha.


"Kita tuh dari kecil udah deket," kenang Bumi. Bibirnya senyum lebar menampakan dua gigi kelincinya.


"Tapi aku nggak berani mengharapkan lebih sih sekarang," ratap Bumi. Dipakainya inner bahan rajut berwarna mocca membungkus kepalanya.


"Aku hanya ingin menperbaiki diri, menjalin hubungan baik dengan Sang Pemilik kehidupanku."


"Maksud kamu?" selidik Ayesha.


"Aku pengen pakai jilbab Kak, pengen kembali belajar ngaji lagi." Beritahu Bumi.


"In Shaa Allah, semoga istiqomah." Ayesha memberi semangat.


"Aku mau resign dulu kak,"


Kalimat itu membuat Ayesha membulatkan mata. Sebegitu besarnyakah tekad untuk memperbaiki diri hingga ingin mengorbankan pekerjaannya?


"Kita bicarakan nanti saja, kamu pakai hijabnya!" titah Ayesha dan diangguki Bumi.


Setelah dirasa cukup bersolek, walaupun hanya riasan tipis. Keduanya memutuskan keluar dari kamar. Sudah ada Ayas juga Akash dan Laut di ruang tamu.

__ADS_1


"Kamu lama banget dandannya," protes Laut dengan sepotong brownies di tangannya. Kemudian lahap menyuapkan ke dalam mulut.


Bumi dan Ayesha hanya saling lempar pandang. Akash tak lekas membuang pandangan dari arah Bumi hingga Bumi ikut duduk di sebelah Ayas.


"Sarapannya kue saja, ya. Mama nggak masak." Beritahu Ayas seraya mengusap punggung tangan Bumi yang bergelayut di lengannya.


"Nanti pulangnya mau bawa ayam serundeng," rengen Bumi. Rencananya mereka akan kembali ke Jakarta sore ini.


"Iya, mama udah siapkan." Jawab Ayas dan langsung menerbitkan senyum Bumi.


"Kamu mau tahu nggak hasil tespacknya?" Tanya Laut pada Ayesha.


Ayesha mengangguk, jelas sekali wajahnya gugup. Takut mengecewakan Laut jika hasilnya negatif.


"Mau lihat sendiri atau aku yang kasih tahu?" Tawar Laut.


"Kasih tahu aja," pilih Ayesha.


"Ehmm, hasilnya...." Laut menggantung kata-katanya. Kali ini Bumi yang penasaran.


"Apa hasilnya? Nggak usah drama gitu deh!" Seru Bumi ikut gugup.


"Selamat kamu akan jadi Ibu." Ucap Damar berhasil membuat Ayesha tersenyum serta meluruhkan air mata di pipinya. Reflek Dia mengusap perutnya lembut.


"Koq malah nangis?" Tanya Laut menyentuh punggung tangan Ayesha.


"Itu tangisan bahagia, gitu aja nggak ngerti." Cibir Bumi segera berpindah ke samping Ayesha dan merangkul kakak iparnya itu seraya membisik, "selamat ya, kak. Semoga bisa amanah menjaga titipan-Nya," Bumi ikut mengusap perut Ayesha.


"Makasih, dek. Selamat juga kamu bakal jadi onti." Ucap Ayesha.


"Selamat ya sayang, terimakasih sudah melengkapi kebahagiaan kami." Ayas ikut beranjak dari duduk dan menghampiri Ayesha.


"Kalian ini mendahuluiku, harusnya aku yang pertama kasih selamat." Gerutu Laut yang disambut tawa oleh Bumi dan Ayas.


Bumi melerai rangkulannga lalu kembali ke kursinya tadi diikuti Ayas.


"Selamat ya sayang, jaga diri baik-baik." Ucap Laut berkaca-kaca. Tangannya tergerak mengelus perut yang masih rata itu. Ayesha kembali menangis dibuatnya. Laut segera membawanya ke pelukan.


"Kalau mau apa-apa bilang, ya!" Ujar Laut melepas kembali pelukannya.


Tiba-tiba dari arah dapur Uti datang. Sudah rapi memakai gamis dan hijab berwarna senada dengan Ayas, Bumi dan Ayesha.


"Sudah pada siap?" Tanya Uti, wajahnya dirias sedikit oleh keponakannya.


"Sudah, bu." Ayas menjawabbnya.


"Eh cucu Uti cantik sekali," puji uti pada Bumi.


Berhubung kesalnya masih di ubun-ubun, Bumi hanya tersenyum. Sifatnya memang begitu, jika tak suka sesuatu pasti tidak bisa menyembunyikannya.


"Masih marah sama Uti?" Tanya Uti kini sudah duduk bersama mereka.

__ADS_1


"Enggak koq, kesal aja dikit. Dikit banget tapi." Jawab Bumi.


"Uti hanya ingin yang terbaik buat Kamu," ucap wanita yang sudah terlihat memiliki kulit keriput di mana-mana itu.


"Iya, makasih Uti."


Entah tatapan mengandung apa yang Uti berikan untuk Bumi, rasa kesal menguap begitu saja dalam diri Bumi. Tubuhnya kini sudah berada di pelukan wanita tua itu. Pagi itu haru menyelimuti suasana keluarga mereka.


Yudis yang baru datang dari arah luar dengan memakai sarung san koko tak lupa peci hitam heran sendiri melihat Ayesha dan Bumi terisak.


"Kalian nggak usah sedih karena akan melepas masa lajang paman," ucap Yudis dipikir keduanya menangisi pernikahannya.


"Paman bukan anak gadis yang mesti ditangisi pernikahannya." Masih ucap Yudis.


"Siapa juga yang sedih paman mau menikah," protes Bumi.


"Justru kita bahagia melepas paman." Kata Bumi lagi, sudah mereda tangisannya.


"Bumi, jangan ketus dong. Uti tuh yang ngerencanain," adu Yudis.


Bumi dan yang lain hanya tertawa melihat tampang iba Yudis. Sejujurnya dalam hati tersimpan perasaan haru untuk pernikahan pamannya itu.


Sedari kecil Bumi sudah dekat dengan Yudis. Pamannya itu sangat menjaganya. Setiap hari mengantar jemput sekolahnya. Setia sampai Bumi SMA pun tetap sering mengantar jemput.


Jika ada yang bertanya Bumi siapa, maka jawabannya adalah, "anakku," seraya membusungkan dada dan menepuk-nepuknya.


Akhirnya Bumi tak kuasa membendung kesedihannya. Dia beranjak lalu berhambur ke pelukan pamannya yang sedari tadi berdiri.


"Makasih ya, dulu sudah menjagaku. Semoga paman bahagia," ucap Bumi di dalam pelukan dan isak tangisnya.


Yudis ikut terharu, ditepuk-tepuknya punggung Bumi. Persis yang sering ia lakukan saat Bumi menangis waktu kecil.


Bumi mengurai pelukannya, menatap lamat-lamat wajah yang memang sangat mirip dengan Papanya itu.


"Semoga paman bahagia dan menjadi orang yang lebih sholeh lagi." Harap Bumi.


Yudis menangkup kedua pipi keponakannga dengan kedua tangan kekarya. diusapnya sisa-sisa air mata itu dengan ibu jarinya.


"Kamu juga harus bahagia,"


Bumi mengangguk seraya tersenyum, lagi-lagi gigi kelinci itu tersembul di balik bibir ranumnya.


Kesemua orang yang melihat interaksi paman dan keponakan itu ikut terharu. Akash sendiri harus sedikit Menyeka ujung matanya karena terbawa suasana.


Akhirnya selesai berharu-haru ria, Bumi dan Ayesha kembali merapikan riasan mereka yang terhapus oleh air mata.


Tak lupa Uti dan Yudis juga memberikan selamat atas kehamilan Ayesha, ikut bahagia.


Ayesha sempat menelpon kedua orangtuanya. Memberi tahu akan kehamilannya. Kedua orangtuanya bahagia bukan main. Meminta nanti segera bertemu, tentu saja Ayesha mengiyakan.


Setelah seluruh keluarga selesai bersiap diri dan barang bawaan disusuk rapi ke atas bak mobil pick up Yudis, tepat pukul 09:00 mereka semua meninggalkan rumah Uti.

__ADS_1


Mengantar sang anak bungsu uti menuju biduk rumah tangga. Kehidupan baru yang sesungguhnya akan dijalaninya.


__ADS_2