Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
116


__ADS_3

Bulan kedua bagi pernikahan Akash dan Bumi menjadi hari pernikahan Guntur dan Rere. Anggara menggelar pesta mewah di sebuah hotel yang megah.


Meski jalan keduanya untuk mencapai kebahagiaan tidak terlepas dari berbagai cobaan. Pada akhirnya jika berjodoh maka Allah akan memudahkan jalannya.


Rere yang cantik nampak jelita dengan gaun tanpa lengan yang membungkus tubuh indahnya. Berhiaskan mahkota kecil di kepala, tangannya tak lepas menggandeng Guntur yang nampak gagah malam itu.


"Jiwa misqueenku meronta-ronta ada di tengah-tengah orang-orang berdasi gini," celoteh Bumi yang langsung mendapat pukulan di keningnya oleh Akash.


"Kamu bicara apasih, aku nggak suka mendengarnya." Ujar Akash.


"Becanda Kakak, yaampun." Bumi bergelayut manja di lengan suaminya. Dia tahu bahwa suaminya tidak pernah suka bila dirinya merasa minder. Bagi Akash segala yang dia miliki adalah milik Bumi juga. Tapi, Bumi bukan wanita yang seenaknya saja membelanjakan harta suaminya secara berhamburan.


Terbiasa hidup sederhana membuatnya selalu perhitungan ketika akan belanja. Beda seperti Zahra ataupun Nadia. Bumi lebih membeli apa yang dia butuhkan daripada apa yang dia sukai.


Bahkan sneaker yang sudah mulai lusuhnya sering jadi bahan protes dari suaminya. Tapi, menurut Bumi jika masih nyaman dipakai untuk apa diganti.


"Kamu mau juga aku pakai dasi?" tanya Akash dengan senyum yang ditahan. Dirinya jarang sekali mengenakan pakaian formal. Tidak seperti Laut dan Damar. Selain karena tuntutan pekerjaan, keduanya juga sudah terbiasa memakainya saat acara formal seperti ini.


"Jangan, nanti dikira CEO. Repot kalau banyak yang naksir." Gerutu Bumi.


keduanya duduk terpisah dari yang lain, sebab Bumi merasa tidak nyaman jika berada di antara orang-orang yang tidak dikenalnya. Terlebih bahan obrolan yang mereka bicarakan tidak jauh dari saham dan jajarannya.


"Aku beruntung punya suami yang bukan kerja kantoran," tutur Bumi, matanya menyapu beberapa orang berdasi yang sedang berbincang hangat bersama wanita-wanita berpakaian minim.


"Kenapa?" selidik Akash seraya kembali menikmati pudingnya.


"Nanti jadinya kayak gitu tuh," ucapnya seraya menunjuk dengan dagu ke arah orang-orang yang diperhatikannya. " Bisa aja kan mereka bukan suami istri," imbuhnya dengan sedikit sesal pada nada bicaranya. "Kak Ayesha juga sering ngeluh, kadang Kak Laut suka ditelpon sama rekan kerjanya yang perempuan." Bumi jadi teringat curhatan Ayesha beberapa hari lalu.


"Nggak semuanya kayak gitu, Dek. Laut nggak mungkin kayak gitu." Akash menimpali kekhawatiran Bumi dengan santai. "Udah jangan bicarakan orang lain, nanti jatuhnya jadi fitnah." Dia mengingatkan istrinya yang sedang memperhatikan orang-orang di sekelilingnya.


"Kalau benar bagaimana?" Bumi menyelidik meminta penjelasan.


"Kalau benar juga jatuhnya jadi ghibah, kamu tetap dosa karena membicarakan keburukan orang lain." Penjelasan Akash membuatnya bergidig ngeri.


"Para tukang ghibah akan ditempatkan di neraka Hutamah, mulutnya akan dibakar dengan api yang panasnya beribu-ribu kali lipat dari panas api di dunia.***


Bumi semakin bergidig ngeri, dia merutuki kebodohannya karena baru saja membicarakan keburukan orang lain. Berkali-kali mulutnya bergumam melafadzkan istighfar.

__ADS_1


"Kamu jangan sekali-sekali bicarakan keburukan orang lagi. Ingat, setiap manusia itu punya aib dan mulut. Kalau hari ini aib mereka yang kamu bicarakan, besok bisa jadi mulut mereka yang membongkar aibmu." Akash semakin membuat Bumi takut hingga matanya berkaca-kaca.


"Kak, kamu sebenarnya Ustadz Abdullah atau suami aku sih?" rengek Bumi dengan mata yang berlinang. Dia merasa sangat sensitif akhir-akhir ini. Tak bisa sedikit saja hatinya tersentuh maka akan menangis.


"Ustad Abdullah siapa?" Akash balik bertanya, dia menyadari istrinya sudah terpengaruh oleh ucapannga. Tapi, biar saja. Biar Bumi takut dan tidak lagi suka mengurusi urusan orang. Sebab diam-diam istrinya itu masih sering melihat gosip-gosip artis meskipun tak pernah terlibat komentar di dalamnya.


"Ceramahnya suka aku lihat di televisi kalau shubuh," ungkap Bumi.


"Bukanlah, aku suamimu yang paling tampan. Tapi bisa juga jadi ustadz kalau istrinya ini masih suka melenceng dari aturan islam." Akash tertawa seraya mengusap linangan air mata istrinya.


"Aku nggak lagi deh nonton gosip, nonton acara ceramah aja kalau gitu." Ungkap Bumi dengan penyesalan mendalam.


"Aku saja yang ceramahin kamu. nggak perlu nonton." Ujar Akash diakhiri kerlingan mata.


"Nggak mau, nanti cermahnya cuma bahas bagaimana cara melayani suami yang baik dan benar. Itu namanya cari kesempatan dalam kesempitan." Protes Bumi seraya memukul lengan suaminya.


"Tapi kamu suka kan?" Akash menggoda Bumi, menatapnya penuh arti. Yang ditatap malah mendelik. Suaminya sudah kembali menjadi si mesum, sebentar sekali menjelma menjadi ustadznya.


***


Sepagian ini Bumi hanya meringkuk di tempat tidur. Bergelung dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Suara-suara gaduh dari arah dapur restoran tak menghiraukannya.


"Bangun dong tuan putri!" Akash membuka selimut yang menutup tubuh istrinya itu. Dilihatnya Bumi tidur meringkuk tanpa mengenakan hijab. Rambutnya yang hitam menutupi suluruh wajahnya.


"Kalau nggak bangun terus, wajib dicium biar sadar," seloroh Akash seraya merangkak ke tengah tempat tidur menyibak rambut istrinya.


"Enak aja, emang aku putri salju dicium sadar." Gerutu Bumi seraya mendudukan dirinya dengan mata yang masih terpejam.


"Buka matanya, benar-benar harus dicium nih." Goda Akash seraya meniup wajah itu.


Sontak Bumi membulatkan matanya, bibirnya mengerucut mendapati suaminya yang tersenyum jahil.


"Kita kan hari ini mau pindah, aku bukannya mengganggu tidur kamu." Ujar Akash merapikan rambut istrinya.


"Aku merasa ada yang aneh sama tubuhku, kok lemas terus ya. Dan....," Bumi tiba-tiba merasakan perutnya seperti diaduk, sesuatu di dalam sana meminta dikeluarkan.


Dia menutup mulutnya yang hampir muntah, segera beranjak menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa cairan. Sebab sedari tadi roti bakarnya masih belum ia sentuh. Padahal Akash sendiri yang membuatnya.

__ADS_1


Akash ikut panik dan menyusul langkah istrinya. Didapatinya Bumi sedang muntah dengan posisi menunduk. Akash membantu dengan memijat tengkuk dan memegangi rambutkanya yang tak diikat.


"Kamu makan apa sih sampai jadi begini?" Akash khawatir bila istrinya ini terkena maag.


"Apa jangan-jangan masuk angin karena semalam kamu maksa mandi jam dua?" tebak Akash, semalam setelah melakukan kegiatan mendayung di atas awan Bumi memaksa langsung mandi padahal sudah jam dua dini hari. Akash sudah melarangnya, tapi Bumi tetap ngotot untuk mandi.


Jika saja Bumi tidak sedang dalam keadaan mual dan pusing hebat, sudah sangat ingin suaminya itu dia pukuli karena bicara seperti itu. Tapi lagi-lagi sesuatu dalam perutnya minta untuk dikeluarkan.


Keringat sebiji jagung memenuhi keningnya. Perutnya sudah lebih baik, Bumi mengubah posisi badannya. Dia bergeser agar dapat bersandar pada dinding.


Akash panik melihat raut wajah istrinya dengan penuh peluh dan pucat.


"Kita ke dokter ya, kita ke rumah sakit sekarang!" panik Akash, tangannya tanpa jijik mengelap peluh yang terus bercucuran.


"Kak, aku baru ingat kalau datang bulanku sudah terlewat lama. Kita nikah udah dua bulan kan?" Bumi sepertinya menyadari sesuatu.


"Iya, kita udah dua bulan lalu kenapa?"


"Kak, Kakak mending sekarang ke apotik beli alat tes kehamilan." Suruh Bumi, ia ingat betul bagaimana kondisi Ayesha saat ketahuan hamil untuk pertama kalinya.


"Kamu hamil, serius kamu hamil?" Akash sekonyong-konyung membungkukan badan dan menyingkap kaos yang dipakai istrinya lalu menghujani perut rata itu dengan ciuman.


"Kak, ayok belikan dulu tespack mumpung masih pagi. Kita akan tahu hasilnya setelah dites." Bumi menangkup wajah suaminya agar berhenti menciumi perutnya.


Akash mengangguk, raut wajah bahagianya tak dapat ia sembunyikan.


"Tunggu ya, Sayang. Aku nggak lama." Ucapnya seraya berlari ke arah meja rias untuk mengambil dompet. Namun segera kembali lagi ke kamar mandi.


"Kenapa lagi?" tanya Bumi yang masih bersandar di dinding merasakan perutnya yang kembali diserang mual.


Tanpa menjawab Akas meyentuhkan wajahnya ke wajah istrinya. Lama dia bermain di sana membuat Bumi terpaksa harus mendorong bahunya karena kehabisan oksigen untuk bernafas.


"Kakak....," rengek Bumi.


"Maaf Sayang, aku terlalu bahagia." Ujarnya seraya mencium kening istrinya dalam dan lama.


"Aku segera kembali," tuturnya seraya benar-benar pergi dengan senyuman mengembang.

__ADS_1


Baca Kumparan.com


Like dan komen kakak.


__ADS_2