Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
78


__ADS_3

Setelah resmi jadi pengangguran, hari itu Bumi menemani Ayesha mencari kado untuk Akash dan Rere. Keduanya sudah berada di dalam sebuah mall, namun masih bingung kado apa yang akan dibeli.


"Aku bingung, dek." Keluh Ayesha yang setelah masuk ke beberapa toko pakaian dan aksesoris tetap tak menemukan ide.


"Beli sandal couple aja kak," usul Bumi. "Tadi aku lihat sepasang sandal mickey dan minnie di toko aksesoris."


Seketika senyum Ayesha mengembang, keduanya kembali ke toko aksesoris yang tadi sempat didatangi. Setelah meminta dibungkuskan oleh penjaga toko mereka memutuskan pulang.


****


Perkataan Akash nyatanya bukan isapan jempol semata. Nyatanya selepas isya dirinya kembali datang menagih janji.


"Baksonya yang banyak ya!" begitu pinta Akash saat Bumi mulai memasakkan mie pesanannya. "Sayurnya setengah mateng aja, telurnya usahakan jangan hancur." Masih ucap Akash, "cukup hati aku aja yang hancur." Selorohnya seraya berdiri di samping Bumi yang sedang mengiris sayuran.


"Bawel, udah sana duduk aja!" seru Bumi dengan nada ketus.


"Siapa yang bisa jamin kamu nggak kasih racun ke dalam sana," ucap Akash menunjuk dengan dagu panci yang di dalamnya sudah dimasukki dengan beberapa butir bakso.


Terlihat di mangkuk telur sudah direbus terlebih dahulu, tidak hancur seperti yang diinginkan Akash. Tentu saja utuh, Bumi sudah tahu cara merebusnya agar tidak hancur berkat sering melihat video tutorialnya yang diperagakan oleh chef kenamaan.


"Bajunya digulung dulu, kan basah tuh kena air." Ujar Akash saat ujung gamis bagian tangan Bumi basah saat mencuci air.


"Kalau kena api ya panas," jawab Bumi masih ketus. Risih rasanya terus dibuntuti begitu oleh Akash.


Setelah beberapa saat, Bumi mulai memasukan tiga keping mie ke dalam panci yang airnya tengah meletup-letup itu.


"Tiga memangnya cukup?" tanya Akash tak yakin.


"Kalo nggak cukup tinggal tambah nasi," jawab Bumi yang kini mulai memasukkan irisan sayuran dan cabe rawit.


"Jangan terlalu pedas," ujar Akash saat Bumi baru setengahnya memasukan irisan cabe. "Cukup bicara kamu saja yang pedas, mienya jangan." Imbuhnya reflek membuat Bumi menoleh ke arahnya dan membuat pandangan keduanya bertemu.


Sepersekian detik keduanya bersitatap, cinta masih terasa kuat. Namun, dengan cepat Bumi mengerjap. Kembali melihat panci dan mengaduk sebentar mie yang mulai matang. Setelah mematikan api barulah bumbu-bumbu dimasukkan. Tak lupa menambahkan sedikit saus juga kecap manis.


"Aku panggil dulu kak Laut," ucap Bumi setelah memasukan telur yang sudah direbus.


"Aku bawa pancinya ke bawah," ujar Akash. "Kamu kasih lap atau apa dulu keq buat alasnya." Pinta Akash.


Bumi menurut, dia melipat serbet kering dan meletakannya di atas lantai yang terbuat dari keramik berwarna putih itu.


"Aku ke atas dulu," ucapnya seraya pergi menaiki anak tangga.

__ADS_1


Sebelum benar-benar pergi sempat sekilas melihat ke Arah Akash yang sedang membawa panci berisi mie itu. Seulas senyum tersungging di bibir, hatinya berdesir seraya berkata lalu, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan. Tapi dengan cepat kembali beristighfar, shalat taubatnya harus setiap hari dilakukan setiap hari setelah ino sepertinya.


****


Kini ketiganya sudah duduk menghadap mie dalam panci yang siap disantap. Ayesha tidak diizinkan ikut serta.


"Kasihan Dedeknya, ini bukan makanan sehat yang bisa dikonsumsi Ibu hamil." Begitu kata Laut.


Jadilah Ayesha hanya menonton kegiatan itu, tangannya tergerak untuk merekam keseruan tiga orang yang mulai menyuapkan sendokan pertama ke dalam mulut masing. Ketiganya tak bicara, hanya sibuk saling sikut. Tidak membiarkan kecolongan start. Bumi selalu jadi yang pertama saat menusukan garpu pada bakso sapi yang selalu menjadi kesukaannya.


Akash tak mau kalah, dirinya sempat mencuri kesempatan dengan sengaja melahap bakso dari tangan Bumi yang siap Bumi masukan ke dalam mulut. Bumi serta merta membulatkam mata, dengan sengajanya juga dirinya menyenggol lengan Akash yang akan menyuap, membuat sendoknya bahkan terjatuh ke dalam panci.


Laut memang tidak terlibat interaksi semacam itu, posisinya hanya sebagai wasit di sana. Meski terlihat berada dalam mode jutek, nyatanya perhatian Bumi masih tertuju pada Akash. Sigap mengambilkannya minum saat Akaah tersedak, bahkan mengelapkan punggung tangan Akash dengan tisu saat kuah mie berjatuhan di sana.


Selesai sudah acara makan mie dalam panci itu dengan Akash yang bertugas mencuci panci juga sendok bekas dan Laut yang membersihkan lantai sebab banyak sekali terkena tumpahan kuah dari mie.


Tepat pukul 21:00 Akash pamit pulang, Bumi mengantarnya hingga ke depan rumah.


"Makasih ya, dek." Ucap Akash tulus dan hanya diangguki Bumi.


"Seandainya saja dulu kamu nggak tinggal di kampung, mungkin.... " belum sempat Akash melanjutkan bicaranya, Bumi memotong perkataannya.


"Jangan suka bicara seandainya, semua yang terjadi adalah qadarullah. Allah tidak akan menimpakan suatu kejadian pada manusia tanpa ada hikmah di dalamnya."


"Ya masa hidup mau terus gini-gini aja sih, kak." Jawab Bumi, "ajal kan nggak kenal umur," imbuhnya. "Kan nggak lucu kalau aku meninggal dalam keadaan masih seperti dulu. Masih meninggalkan shalat dan mengumbar aurat." Tambahan kalimat Bumi semakin membuat Akash memuji gadis itu dalam hati.


Apa aku sedang melihat bidadari?


"Kamu masih mau nunggu kan?" lagi-lagi mengulang pertanyaan bodoh.


"Aku sedang berusaha ikhlas dan melepaskan," jawaban Bumi membuat kening Akash mengkerut. "Kita lihat besok apa yang akan terjadi? aku harap kamu juga bisa ikhlas apapun yang terjadi."


"Aku harap sesuai keinginanku."


"Manusia hanya bisa berencana, ketetapan hanya milik Allah."


"Kamu sudah persis Ummi," entah itu pujian atau sindiran.


"Sudah sana pulang, kalu terus mengobrol bisa sampai pagi nggak selesai-selesai." Ujar Bumi seraya mengibaskan tangannya.


Akash menurut, setelah mengucao salam dirinya segera memaki helm dan melajukan motornya.

__ADS_1


Bumi dengan perasaan lebih lega memandang kepergian Akash. Ikhlas adalah perasaan menerima ataupun melepaskan sesuatu dengan lapang. Begitulah cara Bumi mengartikan keihklasannya.


Bumi berusaha tetap menerima dengan lapang apapun yang akan terjadi besok. Jikapun harus patah sepatah-patahnya dan membuatnya hancur, biarlah Allah menjadi satu-satunya penolong. Tidak akan Allah timpakan suatu kesedihan tanpa hikmah yang bisa diambil di dalamnya.


Bumi menutup pinti pagar besi bercat putih itu, setelah mengemboknya Bumi melenggang ke dalam rumah. Membawa segenap buncahan dan desiran dalam dada yang membuatnya ingin meratap namun seketika malu pada Sang pemilik kehidupannya.


*****


Akash malam itu tiba di rumah Umminya yang langsung mendapatkan bombardir dari Zahra.


"Kamu dari mana saja sih?"


"Ingat, Kash. Kamu itu besok mau menikah."


"Malah keluyuran sampai malam begini."


Bertubi-tubi suara Zahra memekikan telinganya, membuatnya terpaksa mengusapnya berkali-kali. Sampai merah telinga itu dibuatnya.


"Sudah sana istirahat, kamu besok harus fit."


Tentu saja tanpa disuruh dua kali Akash segera meninggalkan ruang tamu, menyisakan Zahra yang memijit keningnya sendiri. Dibuat pusing oleh tingkah adiknya yang selalu susah diatur.


Alih-alih menuju kamarnya, Akash memilih memasuki kamar Ummi. Didapatinya Ummi sudah berbaring lengkap dengan selimut yang menutupi tubuhnya sebatas dada.


Dari pergerakan tangan yang masih memegang tasbih dan mata yang belum terpejam terbukti Umminya belum tidur.


"Mi...." ucap Akash dengan suara lembut, tanpa permisi berbaring memeluk Umminya.


"Kamu dari mana?" tanya Umi mengusap pipi halus dan putih bak pualam itu.


"Makan mie dalam panci bareng Bumi dan Laut." Jawab Akash jujur.


"Semoga Bumi selalu bahagia," ucap Ummi. "Ummi sayang sekali dengan anak itu," ucap Ummi membuat Akash ikut berkata dalam hati, aku jangan sangat menyayanginya.


"Apa memang Bumi bukan jodohku mi?"


"Serahkan pada Allah, biar Allah yang mengaturnya. Cukuplah dirimu menerimanya, ikhlas dengan ketetapan-Nya."


Detik berikutnya Akash terlelap di samping Umminya. Baginya saat ini tidak ada tempat lain yang lebih nyaman selain pelukan Ummi.


.

__ADS_1


.


. Coba mana nih yang masih mau lanjut. Otor minta like dan komennya dong.


__ADS_2