Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
Draft


__ADS_3

Masa lalu Aro


"Panas, Ar. Mau sampe kapan, sih, kita jadi bego kayak gini?" tanya Omar yang berdiri di belakang tubuh jangkung Aro. Mereka sedang mengintip sebuah rumah di balik tembok.


"Gue enggak bego," sahut Aro yang masih fokus memindai ke sebuah rumah bercat putih itu.


Biasanya jam 07.00 Ara akan keluar dari sana. Gadis itu selalu tepat waktu pergi ke kampus.


"Cuma orang bego, Ar, yang tiap bulan bolak balik Jakarta Surabaya cuma buat ngintip kayak gini, Ar. Bucin, lu, nguras dompet, Ar!" gerutu Omar lagi, lalu melepas topi dan mengibaskan ke wajahnya yang terasa panas.


"Orang enggak pernah jatuh cinta dilarang komen," kata Aro sambil menurunkan kaca mata hitamnya.


Ya, itulah kelakuan Aro selama satu tahun terkahir ini. Dia dengan segala keras kepalanya tak mau seratus persen mendengarkan kata Ara dalam surat tempo hari. Gadis itu sudah jelas melarang Aro menemuinya selama ia melanjutkan studi di Surabaya. Aro malah diam-diam bolak-balik ke sana tanpa sepengetahuan Ara. Kadang Bumi dan Akash sebagai orang tua pun Aro kelabui.


"Kalau Ara tau, dia pasti marah, Ar!" geram Omar. Sumpah, ya, ini baru jam tujuh pagi tetapi hawa panas tak bisa dielakkan lagi.


"Ya jangan sampe kesayangan gue tau, lah. Kalau dia tau, pasti elu biang onarnya."


Aro lalu merapatkan jaket, menegakkan badan dan membetulkan letak topi yang dipakai. Lihat itu, gadis berwajah manis nan menyenangkan keluar dari rumah yang sedari tadi Aro pindai.


Ya, Ara. Gadis dengan gamis hitam serta hijab pink nude itu berjalan anggun menenteng sebuah buku dengan ransel hitam di punggung. Bagaimana bisa Aro sabar menunggu tiga tahun, sedangkan Ara makin hari makin membuatnya menawan.

__ADS_1


"Yuk, balik." Aro balik badan setelah puas memandangi Ara yang juga telah hilang dari pandangan.


"Selain bego elu juga udah gila, kita ke sini cuma buat liatin si Upil keluar dari kontrakan. Terus balik lagi. Gimana kalo duitnya elu sedekahin aja ke anak yatim. Lebih berguna itu," cecar Omar.


"Sedekah gue biar jadi urusan gue. Lu cukup tau keburukan gue aja." Aro tersenyum samar lalu melangkah. "Buruan, gue lapar!"


***


Sider story Attar


"Padahal Bu Aminah itu baik, Pak. Kenapa Bapak enggak pepet aja saat itu?" Attar bicara sambil melepas arlojinya.


Kedua pria beda usia itu baru saja tiba di rumah Pak Darya setelah menghadiri acara resepsi pernikahan putri Bu Maryam, tetangga Pak Darya saat tinggal di Jakarta.


"Kalau saya, pantas enggak mengejar anak Bapak?" canda Attar sambil menggulung lengan jaket. Ia hendak wudhu untuk salat Ashar yang waktunya sudah hampir habis.


"Anak Bapak yang ndak tau diri, ya. Bisa-bisanya jual mahal," sesal Pak Darya.


"Orin, kan, bunga daisy Bapak. Dia sangat berharga untuk Bapak juga untuk saya," sanggah Attar lalu segera masuk ke kamar mandi untuk berwudhu.


Selesai wudhu, Attar salat di sebuah ruangan kecil yang berfungsi sebagai musola di rumah itu. Sudah dua tahun ia datang ke sini seperti pencuri saja. Tiba bila Orin sedang memotret di luar dan pergi andai gadis itu kembali ke rumah.

__ADS_1


"Nak Attar, mau menginap di mana?" tanya Pak Darya yang tahu-tahu sudah ada di samping Attar.


"Di rumah uyut, Pak." Attar melepas peci dan menaruhya pada meja di sana. "Oh, iya. Orin bisanya pulang jam berapa?" tanya pria itu kemudian.


"Sebelum magrib biasanya. Bapak selalu tekankan agar dia sudah di rumah sebelum gelap," jelas Pak Darya.


"Alhamdulilah, customernya makin banyak ya, Pak?" Attar tersenyum lebar. Ia sudah rindu ingin melihat Ori dalam balutan hijabnya.


"Alhamdulillah, Allah baik pada kami."


"Itu karena Bapak dan Orin juga baik."


Keduanya lalu sama-sama tertawa, tetapi tak lama sebab setelah itu terdengar suara salam menyusul panggilan Orin terhadap Pak Darya.


"Bapak, Bapak di mana? Orin bawa sesuatu, nih!"


"Pak, gimana, ini?" Attar bingung.


"Keluar lewat sini, ya. Bisa, kan?" Pak Darya membuka jendela yang ada di sana.


Attar mengangguk, meski sedikit sulit saat tubuh jangkungnya keluar dari jendela ia tetap berhasil melakukannya. Walau saat sadar setelah berlari hingga mulut gang, jam tangan dan sepatunya tertinggal di rumah Pak Darya.

__ADS_1


"Astaghfirullah, adek. Cinta memang serumit ini, Dek," gumam Attar kemudian menertawakan dirinya sendiri.


__ADS_2