Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
44


__ADS_3

Bumi masih enggan keluar dari mobil. Rumah besar itu tampak sepi. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam saat dirinya, Akash juga Laut sering bermain di halama luas tersebut.


*****


"Aku cantik nggak, Kak?" tanya Bumi seraya menggerak-gerakan alisnya.


"Cantik dong, apalagi kalau dikasih bunga." Jawab Akash seraya menyematkan bunga di telingan Bumi.


Bumi tertawa menyentuh bunga berwarna merah yang menempel di kupingnya. Saat itu usianya belum genap delapan tahun. Tepatnya beberapa hari sebelum kecelakaan merenggut nyawa Abah dan Papa.


"Heii ini berdua koq belum mandi, Laut sudah mandi dari tadi." Ummi datang seraya menggelitiki pinggang Mereka bergatian. Keduanya tertawa dan meminta ampun agar dilepaskan.


"Ayok mandi, ini pada bau asem." Ummi menyentil hidung keduanya bergantian.


"Ummi, kalau sudah besar Kita masih boleh bermain?" tanya Bumi. Ummi mengangguk seraya merapikan poni bumi yang basah terkena keringat.


"Masih boleh tidur bersama?" tanya Bumi lagi.


"Boleh, tapi harus menikah dulu." Jawab Ummi mencubit pipi gemas Bumi.


"Untuk menikah syaratnya harus apa?" Bumi yang terlampau cerewet kembali bertanya, Akash mulai kesal.


"Bumi, Kamu masih kecil sudah mikirin nikah." Akash menyenggol bahunya.


"Ummi, apa syaratnya?" Bumi merengek meminta penjelasan.


"Syaratnya cuma satu, Kalian saling mencintai." Jawab Ummi seraya beranjak meninggalkan keduanya.


"Mencintai itu seperti apa, Kak?"


"Ya seperti Ummi dan Abah atau Mama dan Papamu. Saling sayang mungkin?"


"Kita bisa saling mencintai, Kak? Aku kan sayang Kakak!"


"Iya, Aku juga."


******


Sayangnya ucapan yang asal dari bibir Ummi itu justru tertanam di hati keduanya. Meski Akash sempat marah karena kesalah pahaman dan menganggap Bumi yang menyebabkan kematian Abah dan Papa Mereka. Namun, ikatan cinta itu diam-diam keduanya jaga hingga dewasa. Ummi lupa, selain cinta pernikahan juga bisa terjadi karena jodoh.


Bumi melengkungkan senyum tipis, tidak ada lagi air mata. Dia sudah bertekad untuk tidak menangis setelah ucapan Akash tentang saling melepaskan.


Kaca mobil diketuk dari luar, Nadia pelakunya. Bumi tersadar dari lamunan segera membuka pintu mobil.


"Koq nggak langsung keluar sih Kak?"

__ADS_1


Bumi tak menjawab pertanyaan Nadia, Dia hanya menarik ujung jilbab gadis itu dengan sangat sengaja.


"Iih Kak Bumi...."


"Du mana Ummi?"


"Di kamar, ayok masuk!"


Nadia menggandeng Bumi. Keduanua saling bersenda gurau sepanjang perjalanan dari halaman rumah, hingga ke kamar Ummi. Namun, saat hendak mengetuk pintu terdengar percakapan antara Akash dan Ummi.


"Ummi seharusnya juga bilang pernikahan itu selain saling mencintai juga memang karena berjodoh."


"Ummi kira tidak akan hadir sosok Andrea di antara Kalian. Ummi kira perkataan Pak Anggara ingin menjadikanmu menantu hanya gurauan saja."


"Aku harus bagaimana?"


"Mencintai itu harus sewajarnya jangan sedalamnya. Pun membenci. Kita tidak akan bisa melihat kesalahan pada diri seseorang meskipun Ia salah sebab cinta yang terlalu besar itu. Dan, Kita tidak bisa melihat kebaikan pada diri seseorang akibat terlalu membencinya. Yang perlu Kamu lakukan sekarang adalah, kenali Andrea. Lihat sisi baiknya. Dan, untuk Bumi. Cobalah ikhlaskan. Anggap bukan jodoh. Percayakan pada Allah."


Deg.


Entah mengapa hati Bumi terasa sakit, nyeri sekali. Apa itu artinya memang sudah saatnya saling merelakan?.


"Kak, mau masuk sekarang?" Tanya Nadia seraya menyentuh pundak Bumi. Bumi hanya mengangguk. Nadia segera mengetuk pintu dan mengucap salam. Terdengar Akash dan Umminya menjawab salam dab menyuruh masuk, pintu tidak dikunci. Nadia membuka pintu, berjalanan beriringan dengan Bumi yang sudah memasang senyum dari hati. Ummi menyambutnya dengan merentangkan tangan. Bumi tentu saja segera berhamburan ke pelukan wanita yang memakai hijab besar berwarna hitam tersebut.


"Baik, Ummi. Bumi sibuk kerja jadi belum mengaji lagi." Jawab Bumi yang tengah dipeluk erat oleh Ummi. Ummi mengurai pelukannya, ditangkupnya kedua pipi Bumi. Mata sembab serta bekas air mata yang mengering di kedua pipinya pertanda bahwa gadis ini sedang tidak baik-baik saja. Hanya sedang berusaha baik-baik saja.


"Tadi pulang kerha langsung ke sini?" Ummi melihat penampilan Bumi yang masih mengenakan seragam perawatnya.


"Iya, kelihatan sekali ya? Bumi bau ya?" tanya Bumi mengendus dirinya sendiri.


"Gadis kecil yang dulu suka merengek minta digendong sekarang bahkan sudah pintar mengurus orang sakit." Ummi menjawil hidung Bumi gemas.


"Ummi, gendong!" Bumi pura-pura merengek, berhamburan kembali ke pelukan Ummi. Akash melihat interaksi keduanya dengan tatapan sedih. Bahagia rasanya kalai yang akan menjadi istrinya itu Bumi. Dia akan disuguhkan pemandangan seperti ini setiap hari. Tidak akan ada cerita tentang mertua dan menantu yang tidak akur atau sebaliknya.


"Haduuuh jadi nyamuk deh ini Aku, udah aah Aku ke kamar aja." Nadia menyindir Umminya lalu pergi meninggalkan kamar. Namun, sebelumnya masih sempat menarik jepit rambut Bumi dan membuat rambut hitam legam itu tergerai indah menyeruakkan wangi strawberry.


"Deek, jahil banget sih!" itu suara Akash. Nadia hanya tersenyum miring membawa jepit rambut Bumi dan melemparnya ke udara lalu kembali menangkapnya.


"Aku tunggu di kamarku ya, Kak Bumi." Suara Nadia hilang bersama dengan pintu yang ditutup.


"Sini, Kita ngobrol. Akash di sebelah kiri dan Bumi di kanan. Ingat tidak Kita sering seperti ini waktu kalian masih kecil?".


Setelah berada di posisi yang diinginkan Ummi, kedua mantan bocah cilik itu kommpak menyandarkan kepalanya di bahu Ummi.


"Kalian tahu, dalam surah An-Nisa ayat 40 yang artinya...." Ummi menggantung kalimatnya.

__ADS_1


"Artinya apa Kash?" Ummi menepuk pipi Akash.


"Mi, Aku...."


"Ingat-ingat"


Akash diam sesaat, memejamkan mata dan menghela nafas. Setelah membaca basmallah Akash berkata, "sungguh, Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sekecil zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannua dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya."


"Lalu kenapa kalian merasa risau dan takut seperti dunia akan runtuh menghadapi masalah ini?"


Keduanya masih terdiam, menunduk saling menggenggam tangan Ummi.


"Jangan pernah berfikir hidup akan berakhir hanya karena tidak ada Bumi di sampingmu, begitupun sebaliknya...."


"Pemilik kehidupan Kalian adalah Allah, berserahlah pada Allah. Mintalah kebaikan, jangan terus larut dalam kesedihan. Apalagi sampai hujan-hujanan seperti anak kecil saja. Malu sama nama, Assyam Al-akash. Sudah matahari langit pula. Tapi koq putus cinta saja sudah menyakiti diri sendiri." Ummi menepuk pipi Akash yang tersenyum malu.


"Dan, Bumi. Apapun yang terjadi Kamu tetap anak Ummi. Berdamailah dengan keadaan, dengan hati. Cobalah peluk setiap keadaan dengan hati yang ikhlas. Sampai kalian bisa bilang 'Ya sudah, Aku baik-baik saja."


"Ummi...." Bumi merengek dan memeluk Ummi dari samping, Ummi membalasnya dengan rangkulan. Akash bukan lagi, Dia sudah sejak tadi memeluk Umminya, Dibalas Ummi dengan menepuk pipinya.


Entah apa yang ada dalam otaknya, dengan sangat saja tangan Akash meraih tangan Bumi. Mengusapnya penuh sayang. Sementara tangan sebelahnya lagi sengaja Dia rentangkan di bahu Ummi sehingga mengenai kepala Bumi. Dia mengusapnya lembut, membuat Bumi mendongak dan tersenyum ke arahnya yang juga sedang tersenyu.


"Nggak harus sambil usap kepala dan pegang tangan Bumi juga, Akash." Ummi menyindir Akash. Akash yang ketahuan segera menarik diri, Dia beranjak dan berdiri di samping tempat tidur, "maaf, Mi." Umi hanya menggeleng dan memijat keningnya.


"Ya udah, Bumi ke kamar Nadia dulu ya." Pamit Bumi lalu turun dari tempat tidur dan segera berjalan meninggalkan ruangan dengan perasaan yang lebih lega. Meskipun belum sepenuhnya, hatinya sudah bisa sedikit menerima. Akash ikut pamit, Dia berlari kecil menyusul Bumi.


"Dek...." Akash sengaja mensejajarkan langkah, menaiki tangga bersama Bumi.


"Apasih Kak?"


"Ikhlas?"


"Ikhlas itu adanya di sini...." seraya menunjum dada, mungkin hati maksudnya.


"Kalau adanya di sini...." Bumi menunjuk bibirnya.


"Itu namanya iklan...."


"Itu sih kata-kata yang sering Aku baca di sosmed, nggak kreatif nih."


Bumi menghentikan langkahnya, lalu menyuruh Akash pergi.


"Koq diusir sih, dek?"


"Kak, baru aja diceramahin Ummi. Udah jangan bikin Aku kebawa suasana lagi. Aku mau ngobrol sama Nadia. Kakak mending sana deh, ngapain keq. Nguras lautan keq atau sana balik ke restoran." Bumi mengacungkan telunjuknya, mengancam agar Akash tak lagi mengikutinya. Dia menurut, diam saja melihat pungging Bumi menghilang ditelan bibir pintu kamar Nadia.

__ADS_1


__ADS_2