
Beberapa waktu berlalu Bumi semakin bisa membawa diri mengikuti kebiasaan sang Mama dan Kakaknya. Kini hidupnya lebih teratur dan yang mengejutkan Dirinya sudah mulai menghafal beberapa surat pendek untuk dipersembahkan pada Sang pencipta.
Pagi yang cerah dengan matahari yang mulai menghangat. Bumi melangkah dengan senyum tipis di bibirnya menuju rumah sakit. Setelah beberapa menit menghabiskan waktu dalam angkot dengan berdesak-desakkan akhirnya sampailah Dia pada tujuannya.
Bumi merenggangkan tubuhnya, bajunya sekarang sudah sangat tertutup walau belum mengenakan hijab. Sebelum melangkah masuk, Bumi membelokkan langkahnya menuju ruko yang menjual bubur ayam. Seminggu yang lalu Bumi mengetahui bahwa ada penjual Bubur yang sangat enak. Jadilah sekarang Dia rela datang lebih pagi hanya untuk menikmati semangkuk bubur sebagai sarapan.
"Bu, biasa ya. Kacangnya dibanyakin ya!" pinta Bumi saat membuat pesanan.
"Beres Mbak!" sang penjual yang sudah hafal pesanan Bumi mengacungkan jempolnya.
Bumi duduk menunggu buburnya seraya mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Pesan baru dari Akash. Berbicara soal Akash Bumi sendiri merasa gamang. Tidak ada ikatan cinta seperti pacaran di antara keduanya. Bertemu pun jarang. Mengabari pun seperlunya. Bumi kadang berfikir sebenarnya Akash itu serius tidak sih mencintainya?
/Lagi apa?/
Pesan standar yang dikirim Akash namun mampu membuat Bumi menarik kedua ujung bibirnya, tersenyum kecil.
/Lagi makan bubur di deker rumah sakit, mau tidak?/
Bumi terus tersenyum melihat layar ponsel dan mengetahui Akash sedang typing membalas chatnya.
/Emang sekarang masih masuk pagi?/
Bumi dengan cepat mengetik balasan
/Iya, hari ini aja. Besok Aku libur/
Pesanan buburnya datang, Bumi bersorak dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada sang penjual. Sefelah menuang kecap manis dan sambal Bumi kembali fokus pada balasan chat Akash.
/Besok temani Aku ke suatu tempat, tapi berangkatnya setelah shubuh. Bisa?/
Bumi sejenak berfikir, tidak biasanya Akash mengajak pergi.
/Bisa deh, eh mau bubur nggak? nanti Aku antar ke restoran/
Bumi mulai menyuapkan bubur ke dalam mulutnya sambil terus melihat ponselnya.
/Boleh deh, jangan pakai bawang goreng ya. Kacangnya dibanyakin/
Bumi hanya tersenyum dan tidak membalas lagi. Dia segera menghabiskan buburnya sambil terus tersenyum.
Setelah bubur pesanan Akash selesai dibuat Bumi segera meninggalkan ruko itu menuju restoran Akash. Suasananya masih sepi, hanya ada beberapa karyawan yang sedang beberes merapikan restoran. Terlihat Akash sedang menunggu Bumi di lantai satu. Dia melambaikan tangannya saat Bumi celingukan mencarinya. Bumi berlari-lari kecil menghampiri Akash.
"Assallamuallaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalaam"
Bumi duduk dan segera memberikan bungkusan buburnya pada Akash.
"Sesuai pesanan, kan?" tanya Akash seraya membuka plastik pembungkusnya.
"Iya dong, Aku langsung ke rumah sakit ya. 10 menit lagi nih mulai masuk," Bumi memperlihatkan jam pada pergelangan tangannya.
"Iya, makasih ya!" Akash tanpa menoleh mulai mengaduk buburnya.
"Eeeh Kak, makan bubur jangan diaduk," seru Bumi membuat Akash terpaksa harua menoleh padanya dan keduanya saling berpandangan.
"Perasaan aja kalau diaduk terus nggak enak, Kak." Bumi segera lari setelah bicara seperti itu. Akas hanya geleng -geleng kepala, Dia sudah sangat serius mendengarkan pembicaraan Bumi. Bumi ternyata hanya mengeluarkan gombalan receh. Tapi, hal itu mampu menarik kedua sudut bibir Akash dan menampakkan deretan giginya yang putih.
"Kamu mungkin tidak bisa merasakannya, Aku yang selalu merasa perasaanku diaduk. Rasanya tidak enak. Berdenyut, sakit dan gamang. Aku seperti seorang wanita simpanan di antara Kamu dan Rere," Bumi terus berbicara sendiri sambil mempercepat langkahnya.
"Tapi kata orang simpanan itu lebih disayang, buktinya saja uang simpanan. Setiap orang menyimpannya hati-hati bahkan disediakan tempat khusus untuk sebuah simpanannya," Bumi masih terus menceracau.
"Aku anggap saja Aku ini simpanan khusus di hatimu," Bumi tertawa kecil dan semakin mempercepat langkahnya.
****
Kalau ingat tidak ada janji dengan Akash, rasanya Bumi lebih memilih tidur kembalu setelah shalat shubuh. Namun sebuah pesan dari Akash yang mengingatkan dan menyuruh Bumi bersiap karena 15 menit lagi Dia akan menjemput Bumi.
"Aku diajak Kak Akash menemaninya ke suatu tempat, Nggak tahu kemana sih," Bumi melipat jaketnya dan memasukkannya ke dalam ransel.
"Bawa mukena, nggak?" tanya Laut yang terus melompat mengikuti ayunan tali di tangannya.
"Bawa, Kak."
Bumi mengambil sebuah cermin kecil pada ranselnya, Dia memeriksa hasil riasannya. Entah kenapa hari ini rasanya ingin saja memoles tipis wajahnya dengan make up. Bibirnya yang mungil tak lupa ia poles dengan lipmatte warna pink muda.
"Assallamuallaikum"
"Waalaikumsalaam"
Bumi terperanjat dan cerminnya hampir saja terjatuh. Akash bersalaman dengan Laut dengan gaya ala-ala anak muda.
"Kalian mau ke mana sih? anak ustadz dilarang pacaran woy!" Laut menggoda Akash dengan menyikut perutnya.
"Mau tahu aja urusan orang," Akash balas menendang bokong Laut dengan pinggiran kakinya.
"Gue nggak izinin pergi kalau gitu, lo lupa wali Bumi siapa?" Laut mengeluarkan senjata ampuhnya untuk melumpuhkan Akash.
__ADS_1
"Gue lupa jadinya, takdir memang kejam dan mengharuskan Gue dengan sangat terpaksa manggil Lo Abang," Akash segera merangkul bahu sahabatnya itu.
"Iiih Aku nya dicuekin nih. Jadi jalan nggak," prote Bumi seraya melipat wajahnya.
"Jadi, ini mau minta izin dulu sama Abang ipar." Ucap Akash seraya menjabat tangan Laut.
"Saya terima nikah...." kalimat Akash menggantung karena kedatangan Ayas yang langsung menyambutnya.
"Eeeh ternyata beneran nih Bumi sepagi ini mau diajak jalan?" Semalam Akash sudah secara khusus menelpon Ayas minta diberikan izin mengajak Bumi pergi.
"Iya dong, Mam. Masa Akash bohong. Pamit sekarang deh kalau gitu," Akash menarik kembali tangannya dari jabatan Laut. Keduanya tidak sadar berjabat tangan cukup lama.
"Bumi pamit ya, Mam," ucap Bumi seraya berdiri dan mwncium punggung tangan Ayas.
"Hati-hati, pulangnya jangan terlalu sore," ujar Ayas seraya menangkup kedua pipi putrinya.
"Kalau pulangnya besok boleh?" canda Bumi.
"Kalau pulangnya besok, Mama seret kalian berdua ke KUA." Ujar Ayas menyentil hidung Bumi.
"Ngapain ke KUA Mam?" tanya Akash penasaran, dinikahkan kah?
"Bantuin bersih-bersih lah, emang mau ngapain?" kelakar Ayas disambut tawa dari Laut.
"Kirain mau dinikahin," Bumi kecewa. Akas hanya ber yaaah kecewa.
"Akash kan nikahnya sama Rere bukan sama Kamu," Ayas lagi-lagi menyentil hidung Bumi.
Entahlah hati Bumi terasa berdenyut mendengar kalimat Ayas. Dia seolah disadarkan dari tidurnya agar tidak terus-menerus bermimpi. Tiba-tiba pipi dan matanya sudah sangat panas dan perih.
"Udah sana deh berangkat!" Laut yang menyadari perubahan wajah Bumi segera menarik pergelangan tangan Bumi.
"Ya udah, Mam berangkat ya. Laut Gue jalan dulu," Akas kembali berpamitan.
"Ayok, Bumi!" Akash menoleh pada Bumi sebelum akhirnya melangkah lebih dulu menuju motornya.
"Aku sekarang sedang berusaha membujuk keluargaku buat membatalkan pernikahan ini. Aku tidak ingin melihat kesedihan di wajahmu. Tersenyumlah, itu bisa menjadi kekuatanku untuk melawan mereka," Akash berbisik pada Bumi yang sedang memakai helm.
Sesuatu yang hangat menjalari hatinya. Denyitan sakit yang tadi Dia rasakan seketika hilang. Lihat kan? Akash selalu mengaduk perasaannya.
"Aku akan selalu tersenyum," jawab Bumi seraya segera naik ke atas motor. Ransel Bumi yang dia letakkan di tengah dan ransel Akash yang tersampir di punggungnya cukup menjadi penghalang dan mengikis jarak keduanya.
Akash melajukan motornya dan meninggalkan pekarangan rumah Bumi. Dia akan mengajak Bumi ke suatu tempat yang cukup jauh. Semoga Bumi menyukainya, itu harapan Akash.
__ADS_1