Kiblat Cinta Bumi

Kiblat Cinta Bumi
134


__ADS_3

Hari-hari mengurusi dua bayi kembar semakin seru bagi Bumi. Terlebih dua bayi itu nyatanya sangat bisa diajak kompromi. Mereka hanya bangun dan menangis jika lapar saja. Jika perutnya kenyang, mereka akan tidur atau sekedar bermain. Yang terpenting ditemani dan diajak bicara sudah anteng.


Seminggu setelah kelahiran keduanya, Akash dan Bumi menggelar acara aqiqah. Acara digelar sederhana, hanya mengundang ibu-ibu pengajian tanpa membuat tamu undangan khusus.


Dua bayi menggemaskan itu tumbuh lucu dan sehat. Pipi gembul keduanya selalu jadi sasaran kegemasan setiap orang yang melihatnya. Meski, kadang Bumi selalu kesal jika ada yang mencubiti pipi kedua putranya itu.


Hingga tak terasa usia keduanya kini sudah tiga bulan. Sudah bersuara dan bisa merespon saat diajak bicara. Keduanya sama-sama jago dalam hal menyesap ASI. Bisa menghabiskan waktu satu jam. Hal itu membuat Bumi selalu dilanda lapar.


Bumi sengaja tak memberikan susu formula, sebab produksi ASI nya melimpah. Kedua bayi itu seolah pengertian, selalu bergantian jika ingin menyusu pada bundanya.


Seperti sore itu, Bumi sedang menyusui Aro sementara Akhza masih lelap tertidur.


"Dia mirip banget sama kamu, Kak." Ujar Bumi seraya mengusap pipi putranya.


"Dua-duanya juga mirip." Jawab Akash seraya memainkan kaki putranya itu.


"Senyumnya susah banget nggak kayak abang, Mas Ar tuh tipe-tipe cowok cool nantinya." Seloroh Bumi kemudian mencubit gemas pipi putranya yang sedang rakus menyusu padanya.


"Bayi masih tiga bulan emang udah kelihatan cool atau enggaknya?" protes Akash tangannya jahil menyentuh tubuh Bumi yang sedang disesap putranya.


"Kaak .... " Bumi memukul lengan Akash dan membuatnya terkekeh.


"Kirain kepala Mas Ar." Akash beralasan, dia selalu senang menjahili istrinya seperti itu.


Mendengar Ayahnya terkekeh, Aro melepaskan bagian tubuh bundanya itu. Mata Aro mendelik pada Ayahnya. Seolah memberi tahu bahwa dirinya merasa terganggu.


"Sayang, sayang, kenapa? Ayah ganggu ya? ayo nen lagi, nen lagi." Ucap Akash kembali menyentuh tubuh istrinya dan langsung mendapat pukulan dari si pemilik tubuh.


"Kak, dia bisa sendiri." Bumi menepis tangan suaminya. Benar saja Aro kembali menyesap sumber kehidupannya itu dengan rakus tanpa harus dibantu.


"Masih kecil udah ngerti nggak mau diganggu." Cibir Akash.


"Lagian kamu tuh ganggu terus, Mas Ar paling nggak mau dengar suara berisik saat nen."


Kalimat Bumi membuat Akash memilih diam, dia tak ingin Aro kembali protes. Akash beranjak menuju tempat tidur di mana putranya satu lagi terlelap.

__ADS_1


"Jangan diganggu deh, ini Masnya belum selesai." Ujar Bumi ketus.


Aro masih sangat semangat dengan kegiatannya. Dia pasti marah jika dilepaskan secara paksa. Akash jadi serba salah. Menemani menyusui Aro tak boleh, ingin melihat Akhza dilarang.


"Aku ke atas dulu, nanti kalau butuh apa-apa tinggal telpon." Ujarnya seraya berlalu dan diangguki Bumi. Ia kembali fokus pada Aronya. Pipinya yang gembul kembang kempis menyesap ASI. Matanya yang bulat terpejam, namun hanya pura-pura. Bayi gembul itu tidak tidur, mungkin sedang menikmati kegiatannya.


***


Dibanding Akhza, Aro memang lebih sedikit rewel dan manja. Bayi itu sudah menunjukan kekuasaannya sedari dini. Jika sedang menyusu, ia tak ingin ada suara bising. Sebaliknya, jika sedang terjaga ia tak ingin orang-orang sekitar mendiamkannya.


Terkadang Bumi sampai kehilangan topik pembicaraan saat menemaninya di kala terjaga. Bahkan Ayaspun terkadang dibuat menyerah saat harus menunggui Aro. Bayi itu ingin selalu diperhatikan. Akash jangan ditanya, dia lebih banyak tertidurnya saat diminta menunggui Aro.


"Aku lebih suka menemai Abang daripada Mas Ar." Bisik Akash pada istrinya saat malam hari ketika hendak tidur.


"Kenapa memang?" Bumi balas membisik, takut kedua jagoannya terbangun.


"Mas Ar susah diajak kompromi, aku sampai lelah karena harus selalu mengoceh. Kalau tidak, dia akan menangis seperti aku mencubitnya saja." Akash masih memelankan suaranya.


Bumi tertawa tanpa suara setuju dengan apa yang dikatakan suaminya.


"Abang itu lebih santai, dia cukup dikasih muratal qur'an dari ponsel pasti anteng." Puji Akash untuk putra pertamanya.


"Jangan sampai Mas Ar tahu lah, makanya aku ngomongnya bisik-bisik biar mereka nggak ganggu kita juga." Ujar Akash seraya tersenyum jahil.


"Maksudnya apa?" Bumi mendelik, menyingkirkan tangan suaminya yang mulai memeluknya.


"Ini udah lewat dari tiga bulan, masa kamu nggak ngerti." Akash menaik turunkan kedua alisnya membuat Bumi menggeleng.


"Mau dilaknat Allah?" ancam Akash membuat Bumi berdecak kesal tapi juga menuruti permintaannya.


Namun waktu memang tak berpihak pada Akash. Baru saja keduana saling menyentuhkan wajah, suara tangis Aro sudah pecah. Bocah itu menangis dengan sangat kencang bahkan membua sang kakak ikut terbangun dan menangis.


Akash dan Bumi saling melepaskan. Keduanya tertawa oleh kelakuan anak mereka. Bumi swgera beranjak dari temapt tidur dan menghampiri bayi kembarnya.


Aro sudah meronta-ronta. Tangannya terangkat dengan kaki yang ia tendang-tendangkan ke udara. Akhza melakukan hal sama tapi tak sekuat Aro.

__ADS_1


"Abang sama Ayah ya, Bunda kasih nen Mas Ar dulu, Abang kan pinter ... harus mengalah." Bumi mengangkat Aro dan Akhza digendong oleh Akash.


"Abang sama Ayah dengar Jidda ngaji ya, telpon Jidda yuk .... "


Akash membawa Akhza keluar kamar, dia biasanya akan menelpon Ummi jika harus menenangkan Akhza. Bayi itu sungguh sangat senang bila mendengar suara neneknya membaca Al-qur'an.


Sementara di kamar, Aro sudah dengan rakus menghisap ASI bundanya. Baru tiga bulan, tapi Bumi sudah bisa membedakan sifat kedua anak kembarnya itu.


Lama Aro menyusu, Bumi sampai pegal dibuatnya.


"Mas Ar udah dulu ya, nennya?" ujar Bumi seraya menarik bagian tubuhnya yang sedang dihisap Aro. Namun, bayi itu menggeram seolah mengerti.


"Kasihan Abang, gantian dulu." Bujuk Bumi, namun tak berhasil.


Bumi memang tidak bisa menyusui secara bersamaan kedua buah hatinya. Ia sering mencoba namun hasilnya, Akhza akan habis ditendangi oleh Aro. Alhasil, Akhza harus selalu mendapat bagian terakhir jika menyusu.


Akash kembali masuk ke kamar dengan Akhza yang kembali terlelap. Sementara Aro baru saja melepaskan sumber kehidupannya itu.


"Dibangunin aja Abangnya, kasihan belum nen. Nanti tidurnya nggak nyenyak." Bisik Bumi pada Akash seraya menyimpan kembali Aro ke dalam box.


Setelah mengusao-usap bokong bayi gembul itu dan memastikan tidurnya sudah lelap, Bumi mengambil alih Akhza dari gendongan suaminya.


"Sayang, anak sholeh Bunda ... bangun, nak! ayok nen dulu .... " Bumi sengaja menyentuhkan telunjuknya pada pipi merah putranya. Bayi itu menggeliat dan membuka mata.


Bumi langaung mengeluarkan bagian tubuhnya yang akan memberikan ASI untuk Akhza.


"Bissmilah dulu sayang ... bissmillahirahmanirrahiim." Akash menuntun putranya membaca bassmallah.


Akhza mengisap ASInya lebih santai. Ia juga lebih kalem tidak seperti Aro yang kakinya selalu menendang-nendang ke udara bila sedang menyusu.


Bumi mengusap kepala plontos bayinya, ia bacakan shalawat serta dzikir tiap kali sedang menyusui buah hatinha.


"Jadi anak yang sholeh ya, nak!" gumamnya.


"Besok tinggal punya yang sholehahnya ya, Sayang." Seloroh Akash menimpali gumaman Bumi.

__ADS_1


"Kaak, dua saja sudah repot." Tolak Bumi seraya membulatkan mata.


Akash hanya terkekeh. Jangankan memikirkan anak lagi, proses menuju ke sana saja selalu terhalang oleh kerusuhan kedua putranya.


__ADS_2